
Satu jam yang Dannis janjikan untuk kembali dari meeting ternyata lewat dari itu, bahkan sekarang sudah hampir dua jam berlalu. Aline yang lelah menunggu kini sudah tertidur lelap diatas sofa.
"Sayang." panggil Dannis ketika baru masuk kedalam ruangannya, matanya menjelajahi seluruh ruangan kerjanya untuk mencari keberadaan gadisnya.
Melihat Aline yang tertidur dengan lelap, ia segera membopong gadis itu kedalam kamar rahasia yang ada didalam ruangan tersebut.
Dannis membaringkannya diatas ranjang dan segera menyelimutinya. "Tidur nyenyak sayang." gumam Dannis kemudian ia berlalu keluar dari ruangan tersebut.
Dannis yang sedang berada di meja kerjanya tampak mengerutkan dahinya ketika melihat bingkai foto Aline yang sudah berada di tong sampah.
"Astaga, apa dia melihatnya." gumam Dannis sambil memungut bingkai tersebut dan mengelapnya dengan tisu meski tidak ada kotoran yang menempel.
Dua jam kemudian Aline tampak mengerjapkan matanya, ia merasa nyenyak sekali tidurnya. Entah kenapa rasanya nyaman sekali berasa di peluk oleh ibunya.
Ketika membuka matanya, ia langsung terbelalak kaget ketika melihat Dannis sedang tidur disampingnya dan tangan laki - laki itu begitu erat memeluknya.
Akhhhhhh
Aline menjerit sekuat tenaga hingga Dannis yang tadi tertidur lelap disisihnya kini segera membuka matanya.
"Ada apa sayang ?" Dannis segera bangun dan duduk ketika mendengar gadis di sisihnya itu berteriak.
"Kamu sudah apakan aku ?" Aline membuka selimutnya yang kini menutup tubuhnya.
"Ah syukurlah." ucap Aline lagi ketika melihat pakaiannya masih utuh menempel di badannya. Begitu juga dengan Dannis, ia masih mengenakan kemejanya.
"Memang apa yang sedang kamu pikirkan sayang ?" Dannis menyentil pelan dahi Aline.
"Lalu kenapa kamu membawaku ke hotel ?" tanya Aline matanya menjelajah keseluruh ruangan yang sangat mewah seperti ruangan presidential suite di sebuah hotel.
"Sayang, ini di kantorku. Lagi pula kamu jangan berpikir yang aneh - anah, aku tidak akan macam - macam sebelum kita menikah." ujar Dannis.
"Apa ini ruangan yang biasa kamu pakai buat tidur dengan wanita - wanitamu." ujar Aline dengan sinis.
"Ck. Astaga sayang, kenapa sih pikiranmu selalu buruk terhadapku." Dannis berdecak dengan kesal lalu ia menyentil lagi dahi gadisnya itu.
"Sakit tahu." sahut Aline. Ia mengusap - usap dahinya yang terasa panas.
"Kamu tahu, wanita yang pernah masuk kesini hanya dua orang salah satunya kamu." tutur Dannis.
"Siapa satunya, mantan kekasihmu ?" tanya Aline penasaran.
__ADS_1
"Ibuku." ucap Dannis.
"Apa aku harus percaya ?" tanya Aline lagi dengan nada mengejek.
"Tentu saja, karena ruangan ini terhubung dengan cctv di ruangan kerja Papa di rumah." tutur Dannis.
"Astaga." Aline beranjak dari ranjang tersebut dan langsung berdiri menjauh.
"Kenapa sayang ?" tanya Dannis ketika gadisnya itu tiba - tiba menjauh dari ranjangnya.
"Bagaimana kalau Ayahmu melihat aku berada disini, apalagi kita tadi sudah tidur bersama." tutur Aline dengan lirih ia merasa seperti ada yang mengawasi.
"Paling juga kita langsung dinikahkan." sahut Dannis enteng.
"Enak saja." seru Aline.
"Ya memang enak sayang." goda Dannis dengan senyum menyeringai.
"Enak di kamu bukan di aku." ucap Aline dengan mencebikkan bibirnya.
"Apa kamu mau mencobanya ?" Tanya Dannis dengan usil lalu ia meraih tangan Aline dan segera menariknya hingga gadis itu jatuh tepat diatas dada Dannis.
"Dannis lepaskan !!" teriak Aline sambil memberontak.
"Enggak mau. Lepaskan !!" teriak Aline lagi, kini ia berusaha memukul - mukul dada Dannis yang masih di balut dengan kemeja kerjanya.
"Bercanda sayang, becanda." ujar Dannis terkekeh lalu menggeser badannya.
"Huh, ini terakhir kali aku datang ke kantormu." ucap Aline lalu ia beranjak dari ranjang dan berlalu pergi, tapi ketika akan keluar dari ruangan tersebut matanya nampak terbelalak ketika melihat beberapa bingkai foto yang ada di dinding.
"Dannis !!" pekik Aline.
"Kenapa lagi sayang, berubah pikiran. Ayo sini ?" tanya Dannis lalu tangannya menepuk - nepuk kasur di sebelahnya bermaksud untuk menggoda gadisnya itu.
"Ini kenapa ada yang lebih besar lagi ?" Aline melotot melihat foto dirinya yang sama persis di meja kerja Dannis tapi ini ukurannya lebih besar dan sudah terpatri di dinding.
Entah kenapa sedari tadi dia tidak menyadari kalau ada foto dirinya yang terpampang nyata di tembok ruangan tersebut.
Dannis nampak terkekeh ketika melihat tingkah gadisnya itu yang mencoba untuk meraih bingkai foto tersebut.
"Kamu sengaja menertawakan aku ?" protes Aline.
__ADS_1
"Bukan begitu, foto itu sangat lucu. Kamu tahu ketika aku sedang jenuh dengan pekerjaan, dengan melihat foto kamu saja itu sudah membuat moodku langsung membaik lagi." tutur Dannis.
"Kamu pikir lucu, aku tidak mau tahu ayo turunkan sekarang juga !!" perintah Aline.
"Enggak mau." ujar Dannis keukeh.
"Dannis !!" pekik Aline seraya melangkahkan kakinya kearah Dannis yang masih tampak tiduran di ranjangnya.
"Ayo bangun, turunkan bingkai itu sekarang juga !!" perintah Aline dengan menarik lengan Dannis agar bangun.
"Enggak mau sayang, itu obat kalau aku lagi moody." sahut Dannis masih keukeh.
"Kecuali kamu yang mau mengobatinya secara langsung." ujar Dannis seraya menarik tangan Aline hingga gadis itu jatuh keatas ranjangnya dan ia langsung mengungkungnya.
Lalu kedua mata mereka saling menatap, terkunci beberapa saat sampai Dannis membuka mulutnya untuk berkata - kata.
"Aku mencintaimu." ucap Dannis seraya menatap manik gadisnya itu.
Lalu dengan pelan ia mengecup bibir mungil itu yang selalu membuatnya candu, karena tidak ada penolakan yang tadinya yang hanya sebuah kecupan kini berubah menjadi ******* dan hisapan.
"Dannis." teriak Aline dengan napas tersengal.
"Maaf sayang, habis bibirmu sangat manis." ucap Dannis.
"Aku mau pulang !!" sahut Aline seraya beranjak dari ranjang kemudian berlalu keluar dari ruangan tersebut.
Kini Aline sudah keluar dari ruangan kerja Dannis, ia melangkahkan kakinya menuju lift. "Al !!" teriak Sam ketika melihat Aline melewati ruangannya.
Aline berbalik badan dan melihat siapa yang memanggilnya. "Sam ?" sahut Aline dengan senyum merekah.
"Kamu mau pulang ?" tanya Sam ia menatap intens gadis di depannya itu dengan dahi yang sedikit mengerut karena melihat penampilan Aline dengan rambut yang acak - acakan.
"Iya." sahut Aline masih dengan senyum manisnya.
"Sayang." panggil Dannis yang sedang berjalan kearah Aline dan Sam, hingga keduanya juga melihatnya.
"Ayo aku antar pulang, astaga sayang ini rambut kamu kenapa berantakan seperti ini." ujar Dannis lagi sambil merapikan rambut Aline.
"Ck. Ini juga gara - gara kamu." Aline berdecak kesal sambil berjalan menuju lift.
Sam yang melihat keakraban boss dan sahabatnya itu hanya bisa tersenyum masam, kemudian ia kembali masuk kedalam ruangannya.
__ADS_1
Di tempat lain, di sebuah Mansion mewah tampak seorang laki - laki tua sedang duduk di belakang meja kerjanya. Dari tadi senyumnya terus mengembang ketika mengamati sebuah layar cctv di salah satu ruangan di kantornya. "Aku percaya padamu Nak." gumamnya.