Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Liburan ke Pulau K


__ADS_3

Pagi ini Dannis bangun tidur dengan kepala sedikit pusing, ia terkejut ketika sudah berada di kamarnya. Karena seingatnya semalam dia berada di Bar dan merasa sangat mabuk.


Diambilnya ponsel di atas nakas, berharap ada sebuah pesan dari gadisnya itu. Wajahnya seketika suram ketika tak ada satu pesan pun yang masuk bahkan nomor ponsel Aline tidak aktif ketika ia mencoba menghubunginya.


Kemudian dia beranjak dari kasurnya dan berlalu ke kamar mandi, setelah selesai membersihkan dirinya dan bersiap siap ke kantor ia melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.


"Sudah bangun boss ?" tanya Sam ketika melihat Dannis berjalan ke arahnya di meja makan.


"Kamu tidur disini ?" tanya Dannis balik.


"Aku baru datang, minum lah !!" Sam menyerahkan secangkir kopi hangat pada Dannis.


"Apa kamu yang membawaku pulang ?" tanya Dannis dengan menyesap kopinya.


"Tentu saja, kalau tidak kamu sudah tidur seranjang dengan wanita licik itu." sahut Sam penuh sindiran.


"Maksud kamu ?" Dannis memutar bola matanya tidak mengerti.


"Kamu mabuk parah semalam dan Cleo berusaha membawamu ke Apartemennya." ucap Sam kesal ketika mengingat kejadian kemarin.


"Shit." teriak Dannis, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Apa kamu tidak berniat untuk mengejar Aline lagi ?" tanya Sam, berharap sahabatnya itu tidak menyerah begitu saja.


"Entahlah, aku sudah berusaha sangat keras tapi tetap saja dia menolakku. Aku merasa tidak pantas untuknya dan dia terlalu berharga untukku yang kotor ini." Dannis merasa sangat putus asa dengan keadaannya saat ini.


"Bodoh, asal kamu tahu beberapa hari yang lalu dia mengutarakan niatnya padaku kalau mau menikah denganmu." ujar Sam mencoba memberi harapan pada Dannis.


"Mungkin waktu itu dia mengatakannya disaat hatinya belum yakin." sahut Dannis pesimis.


"Apa mungkin kepergiannya ada hubungannya dengan Cleo ?"


"Astaga, mereka tidak saling mengenal jadi jangan berpikir yang macam-macam. Kamu tahu sendiri kan kalau Cleo sudah mengikhlaskan ku untuk menikah." ujar Dannis.


"Setelah kepergian Aline, kamu tidak berpikir untuk kembali dengan wanita itu kan ?" tanya Sam memastikan.


"Tentu saja tidak, mungkin aku akan membujang sampai tua." suara Dannis terdengar nanar.


"Baguslah kalau seperti itu, kalau sampai kamu berhubungan kembali dengan perempuan licik itu. Aku akan mengundurkan diri dari kantor, juga sebagai sahabatmu." Ucap Sam penuh ancaman.


"Dasar teman laknat. Coba saja kalau kamu berani, akan ku gali lubang dan ku timbun kamu hidup-hidup." ujar Dannis terkekeh.


Kemudian mereka beranjak dari duduknya dan berlalu pergi ke kantornya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Kala ku pandang kerlip bintang nun jauh di sana.


Sayup kudengar melodi cinta yang menggema.


Terasa kembali gelora jiwa mudaku.


Karena tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut.


Sebait lirik lagu kopi dangdut yang Aline dengar pagi ini, membuatnya sedikit ceria setelah semalaman memikirkan betapa ironisnya kisah cintanya.


"Tarikkk sissss." seru Aline yang baru menuruni anak tangga dengan tas ransel di punggungnya, nampak berjoget joged ketika mendengar lagu yang di putar oleh ART nya di dapurnya pagi itu.


"Semongko, Eh ada mbak Aline toh." ujar seorang wanita setengah baya dengan memegang sutil di tangannya.


"Bik, Aline pamit ya." ucap Aline seraya mengambil tempe mendoan diatas meja makan yang terlihat sangat menggoda.


"Memang mbak Aline mau kemana ?"


"Mau nyusul Papa sama Mami."


"Yo wes, hati-hati. Mbak Aline enggak sarapan dulu apa ?"


"Enggak bik, terima kasih." ucap Aline sambil berlalu pergi.


Setelah menempuh penerbangan satu jam tiga puluh menit, ia sampai di salah satu bandara internasional di kota tersebut. "Akhhh bau pantai." gumam Aline ketika baru menginjakkan kakinya di bandara.


Setelah itu ia memesan taksi online melalui aplikasi di ponselnya dan segera pergi ke rumahnya yang ada di kota tersebut.


"Mami." teriak Aline ketika melihat Ibunya sedang menyiram bunga di halaman rumah.


"Astaga sayang kapan kamu balik, Papa lihat nih anakmu !!" Nisa segera memeluk anak kesayangannya itu.


"Sayang, kok tidak kabari Papa kalau kamu pulang ?" Austin yang keluar dari dalam rumah segera memeluk anaknya juga.


"Aku kangen kalian."


"Sejak kapan kamu manja begini, belum juga sebulan kita tidak ketemu ?" ujar Nisa.


"Tuan Nicholas sudah telepon Papa mengenai keputusanmu, apa kamu sudah yakin ?" tanya Austin dengan melihat raut wajah anak gadisnya itu.


"Tentu saja, dia tidak cukup baik untuk menjadi suamiku." sahut Aline dengan nada kecewa.


"Kamu sedang tidak ada masalah kan Nak ?" tanya Nisa memastikan karena ia merasa anak gadisnya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Enggak Mi." sahut Aline berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan tersenyum manis pada kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Ya sudah Ayo kita makan siang, kamu belum makan kan !!" Nisa menggandeng tangan anaknya itu untuk masuk kedalam rumahnya.


"Berarti kamu sudah siapkan untuk menggantikan posisi Papa di Perusahaan ?" tanya Austin ketika melihat Aline baru mendudukkan dirinya di meja makan.


"Memang Papa berencana pensiun dini ?" tanya Aline.


"Tentu saja, Papa mau menikmati hari tua Papa dengan bulan madu keliling dunia bersama Mamimu. Ya kan sayang ?" ujar Austin seraya mencium istrinya sekilas dan itu tidak luput dari perhatian Aline.


"Astaga, bisa tidak menghargai anak Papa yang jomblo ini." Aline mencebikkan bibirnya melihat keromantisan kedua orang tuanya.


"Makanya segera nikah, biar bisa merasakan surga dunia." ucap Austin yang lolos begitu saja dari mulutnya dan itu membuat Aline dan Nisa istrinya menatap tajam padanya.


"Memang aku ada salah ngomong ?" tanya Austin ketika melihat kedua orang kesayangannya menatap tajam padanya.


"Tentu saja." ucap Aline dan ibunya bersamaan.


Keesokan harinya


Sore ini Aline sedang berjalan jalan di pantai dekat rumahnya, dengan kaki telanjangnya ia menyusuri pasir di pinggir pantai.


Matanya terus memandang ke tengah lautan yang begitu luas seakan ada seseorang yang jauh di seberang sana.


"Aku begitu merindukanmu, harusnya hari ini menjadi hari bahagia buat kita. Kenapa kamu tega Dannis. Tidak kah kamu tahu, bahkan sudah sejauh ini aku pergi. Aku masih saja sangat mencintaimu." gumam Aline, tak terasa air matanya sudah menganak sungai di pipi putihnya.


"Danniiiiiiiiiiiis aku membencimu." teriak Aline dengan kencang.


"Sangat membencimuuuuuuu."


"Kamu jahaaaaaaat."


"Brengseeeeeekkkkk."


"Tapi aku mencintaimu." kali ini ia berkata dengan lirih.


Tanpa ia sadari tingkah absurdnya itu menjadi perhatian pengunjung disana, sehingga ada beberapa orang yang meneriakinya karena terganggu dengan suaranya yang lumayan kencang. Sepertinya sore itu ia salah memilih Pantai untuk mengeluarkan uneg-unegnya.


"Sudah berteriaknya, mengganggu sekali !!" tegur seorang laki-laki.


Aline yang merasa di tegur segera berbalik badan, ia melihat seorang laki-laki sedang tiduran di atas pasir dengan menggunakan tangannya sebagai bantalan dan kaca mata hitam yang melekat di matanya.


"Aku ?" Aline menunjuk dirinya sendiri, memastikan kalau yang di maksud oleh laki-laki itu adalah dirinya.


Laki-laki itu segera beranjak dari duduknya ketika melihat sosok gadis di depannya itu. "Bocil ?"


NB : Gengs boleh promo ga sih, kalau ada waktu baca cerita terbaruku yang berjudul SENYUMAN FATIMAH sudah ada sepuluh bab. Di jamin pemeran prianya sangat setia, hanya saja cerita cinta mereka begitu rumit karena kisah masa lalu kedua orang tuanya.. Thanks gengs.

__ADS_1


__ADS_2