
"Sekarang aku sudah sampai di Apartemenku jadi kamu sudah bisa pergi dari sini !" ucap Aline ketika melihat Dannis masih berdiri di belakangnya.
"Apa kamu tidak ingin menawariku minum nona, aku sangat haus." Pinta Dannis sepertinya ia memang kelihatan haus.
"Apartement kamu di bawahkan ?" ucap Aline dengan ketus.
"Sepertinya air mineralku habis." Dannis tersenyum nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ck, masuklah !" Aline berdecak kesal kemudian ia menyuruh laki - laki itu masuk ke dalam Apartemennya.
Tanpa permisi Dannis langsung masuk dan duduk di sofa. "Ah nyamannya." celetuknya sambil bersandar di sandaran sofa.
Matanya menjelajahi seluruh ruangan tersebut yang di dominasi warna putih dan sedikit warna pink khas cewek banget, dari sofa itu ia juga bisa melihat langsung ke arah meja makan.
Ruangan itu terlihat sangat bersih dengan barang - barang yang tersusun rapi, tapi tak ada satupun foto yang terpatri di dinding ruangan tersebut. Padahal Dannis ingin memastikan apa benar kalau Aline adalah wanita yang selama ini ia cari.
"Nih minum dan cepatlah pergi dari sini !" Aline menyerahkan sebotol air mineral yang baru ia ambil dari dalam lemari pendingin.
"Nona apa ada makanan, aku sangat lapar ?" pinta Dannis ketika ia baru saja menghabiskan air minumnya.
"Ini bukan restoran tuan, jadi cepatlah pergi dari sini !" perintah Aline dengan kesal ia rasanya ingin sekali menendang laki - laki itu hingga ke Planet Pluto.
"Ayolah aku janji akan masak sendiri dan setelah itu aku akan pergi dari sini." Dannis tampak mengiba dan itu membuat Aline sedikit kasihan.
"Awas kalau mengotori dapurku !" ancam Aline lalu ia berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya.
"Yes." celetuk Dannis dalam hati, ia bukannya segera pergi ke dapur tapi justru memeriksa setiap barang yang ada di ruangan tersebut.
Ketika melihat boneka yang berjejer di dalam lemari kaca, dia melihat sebuah foto dengan bingkai kecil.
"Apa dari dulu dia sudah cupu seperti itu, tapi manis sih. Apa pria itu juga kekasihnya ?" Dannis bertanya - tanya dalam hati ketika melihat Foto Aline bersama Dewa dengan memakai seragam sekolah, raut wajahnya tampak tidak senang ketika melihat pria di dalam foto tersebut.
__ADS_1
Kemudian ia segera bergegas pergi ke dapur sebelum gadis jutek itu keluar kamar pikirnya.
Setelah selesai makan bukannya langsung pulang ia justru tiduran di sofa, entah kenapa ia merasa nyaman sekali berada di Apartemen tersebut padahal letak Apartemennya hanya satu lantai di bawahnya. Hingga akhirnya ia tertidur lelap disana.
Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, Aline mengerjapkan matanya ia merasa masih sangat mengantuk tapi perutnya terasa keroncongan. Sepertinya cacing di perutnya sudah meronta - ronta minta di kasihani.
Di lihatnya jam di atas nakas. " Astaga aku melewatkan makan malamku." gumam Aline, ia mengingat - ingat kejadian tadi sebelum ia tertidur.
"Semoga laki - laki itu sudah pulang."
Kemudian ia beranjak dari ranjangnya dan langsung keluar tanpa memperdulikan penampilannya yang hanya memakai celana pendek dan rambut yang ia biarkan berantakan.
Ia melihat lampu di seluruh ruangan sudah padam, mungkin Dannis sudah pulang pikirnya. Setelah itu ia langsung menuju dapur dan memasak sebungkus mie instan.
Dannis yang sedari tadi sudah tertidur pulas di sofa, tampak kaget ketika mendengar suara sendok yang terjatuh. Ia segera mengerjapkan matanya meski masih sangat mengantuk.
Ketika membuka matanya ia tampak kaget dengan apa yang sedang ia lihat, "Apa ini mimpi ?" tanyanya dalam hati.
Ia melihat gadis yang selama ini ia cari, tampak cantik dan seksi pikirnya tapi ia enggan untuk beranjak dari tidurnya. Jika ini mimpi, ia tidak mau cepat - cepat bangun.
"Sepertinya ini hanya mimpi." gumam Dannis karena merasa masih sangat mengantuk ia menutup matanya dan kembali tidur.
Keesokan harinya
Aline baru keluar dari kamar mandinya, ia hanya mengenakan bathrobe pendek di atas lutut dan membungkus rambutnya dengan handuk.
Diambilnya kacamata bacanya diatas nakas, kemudian ia membuka laptopnya untuk memeriksa beberapa pekerjaannya.
Setelah itu ia keluar kamar untuk membuat sarapan paginya, semangkok sereal kesukaannya. Ketika akan ke dapur ia di kejutkan oleh Dannis yang ternyata tidur di sofa Apartemennya dari semalam.
"Hey bangun !" pekik Aline ketika melihat Dannis masih terlelap di sofa.
__ADS_1
Dannis segera mengerjapkan matanya meski kantuk masih melandanya, mendengar suara nyaring Aline yang meneriakinya ia segera bangun dan duduk.
Rambutnya terlihat acak acakan dan kancing kemejanya sudah terlepas tiga biji hingga menampakkan bulu - bulu lebat di dada bidangnya.
Aline tampak menelan salivanya sendiri ketika melihat pria tampan dan seksi di depannya itu, meski baru bangun tidur kadar ketampanannya sedikitpun tidak berkurang.
"Astaga, semalam aku melihat bidadari tapi sekarang yang nongol malah penyihir." Dannis menggerutu ketika melihat Aline bersendekap dan menatap tajam dari balik kacamata tebalnya.
"Apa kamu bilang, sudah numpang di tempatku sekarang mengataiku penyihir ?" Aline mendengus kesal menatap Dannis.
Dannis melihat gadis di depannya itu dari atas hingga bawah, bathrobe pendek yang Aline kenakan membuat kaki jenjangnya yang putih mulus itu tampak menggodanya. Hingga ia menelan salivanya beberapa kali dan tanpa ia sadari sesuatu di bawah sana sudah menegang.
"Shit." gumam Dannis, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Baiklah aku segera pulang nona, terima kasih tumpangannya." Dannis beranjak dari duduknya lalu berlalu pergi meninggalkan Apartemen tersebut.
Setelah kepergian Dannis, Aline segera berganti baju lalu pergi bekerja. Ia terpaksa naik taksi pagi ini karena mobilnya masih berada di kantornya.
"Apa itu hanya mimpi, tapi tadi malam dengan jelas aku melihat gadis itu sedang makan disana." gumam Dannis yang sedari tadi berendam air dingin di bathtub untuk meredakan gairahnya.
🍁🍁🍁🍁
"Apaaaa ?" Pekik Sofia ketika mereka sedang nongkrong di Cafe favoritnya.
"Ya begitulah semalam dia tidur di Apartemenku." ucap Aline lagi lalu menyesap kopinya.
"Apa kalian sudah...." Sofia menghentikan ucapan tapi ia justru menautkan kedua telunjuknya di depan Aline.
"Jangan berpikiran macam - macam aku masih tersegel ya." Aline mendengus kesal menatap sahabatnya itu.
"Kali aja kamu tidak tahan dengan maha karya ciptaan Tuhan yang begitu sempurna, sayangkan kalau sudah di depan mata tapi di anggurkan." Sofia tersenyum meledek melihat Aline yang siap menoyornya.
__ADS_1
"Ck, susah kalau punya teman enggak ada akhlaknya." Aline berdecak kesal.
Tak lama kemudian seorang pria melangkahkan kakinya kearah Aline dan Sofia berada. "Nona cantik boleh aku duduk di sini ?" ujar pria itu yang seketika membuat Aline tercengang.