
Dua bulan berlalu setelah Aline keluar dari rumah sakit tersebut, ia sudah mulai lihai merawat bayinya bahkan sekarang dia sudah jago memandikan bayinya.
"Sayang sudah ku bilang, biar pengasuh saja yang melakukannya." tegur Dannis pagi itu ketika melihat istrinya sedang memandikan bayinya.
Rambutnya nampak acak-acakan, sepertinya ia baru bangun dan langsung mencari istrinya di kamar anaknya.
"Ini sangat mengasyikkan sayang dan aku tidak mau melewatkan moment ini." jawab Aline sembari memakaikan baju pada bayinya.
Sedangkan si bayi nampak tertawa, ketika mendengar perdebatan orang tuanya yang entah dia mengerti atau tidak.
"Sepertinya aku harus memberikan hukuman padamu karena selalu saja bandel." ujar Dannis sembari memeluk istrinya dari belakang dan mengusap rambut istrinya yang tergerai dengan kepalanya, tak perduli ada seorang pengasuh yang sudah menunduk malu-malu melihat kemesraan kedua bossnya itu.
"Sayang ikh, geli tau." protes Aline sembari melirik pengasuh anaknya yang sudah menunduk tak berani menatapnya.
"Makanya buruan, temani aku bersiap." perintah Dannis dengan semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku mau kasih asi baby dulu." tolak Aline.
"Stok asimu kan banyak di freezer, sayang." Dannis mengingatkan istrinya.
"Iya baiklah, bayi tua." akhirnya Aline pasrah mengikuti kemauan suaminya.
Sebelum meninggalkan kamar si kecil mereka berdua saling mengecup anaknya itu, kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar tersebut.
"Buruan mandi sayang, aku akan siapkan baju kerjamu !!" perintah Aline pada suaminya yang kini justru duduk di sofa kamarnya sembari bermain ponsel.
"Mandi bereng yuk." ajak Dannis dengan senyum penuh arti.
"Aku sudah mandi sayang." tolak Aline.
"Siapa tahu mau mandi lagi."
"Sayang pagii ini kamu ada meeting." Aline mengingatkan suaminya itu yang nampak enggan berdiri dari duduknya.
"Iya, iya." sahut Dannis, dengan malas ia melangkah menuju kamar mandi.
Lima belas menit kemudian, Dannis keluar dari kamar mandi. Aline yang sedang duduk di sofa nampak tertegun ketika melihat suaminya hanya memakai handuk yang ia lilitkan di pinggangnya.
Nampak perut rata, dada bidang yang di tumbuhi bulu-bulu dan sisa air yang menetes menambah keseksian tubuh suaminya itu. Membuat Aline sedikitpun tak berpaling menatapnya.
"Jangan ngiler gitu sayang, sudah nggak tahan ya mau menyentuh suamimu yang tampan ini." ledek Dannis ketika melihat istrinya memandanginya.
"Apaan sih kepedean." Aline mengerucutkan bibirnya, kemudian ia bangkit dari duduknya dan berdiri di depan meja rias untuk mengikat rambutnya yang sudah mulai kering.
"Masih sakit ya sayang ?" tanya Dannis sembari mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.
Rambut Aline yang di ikat ekor kuda membuat Dannis bebas mengecupi leher jenjang istrinya itu.
"Sayang ganti baju gih." ucap Aline sembari menahan rasa geli dari setiap kecupan bibir suaminya.
"Apa masih sakit bekas jahitannya ?" tanya Dannis lagi dengan suara serak.
__ADS_1
"Sedikit." sahut Aline.
"Apa kita ke dokter saja ?" tawar Dannis.
"Nggak sayang, dokter Sarah sudah memberikan obat yang bagus. Lagipula cuma sedikit saja nyerinya kalau kamu mau melakukannya nggak apa-apa asal pelan." ucap Aline, ia merasa kasihan melihat suaminya yang sudah hampir tiga bulan ini menahan hasratnya.
"Aku takut menyakitimu sayang." sahut Dannis dengan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya.
"Kamu yakin, aku sudah siap kok ?" Aline melihat suaminya dari pantulan cermin.
Dannis menghembuskan napas panjangnya, kemudian melepaskan pelukannya dan memutar tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya.
"Aku akan bersabar sampai kamu benar-benar sembuh." ucapnya sembari menatap lekat manik istrinya.
Kemudian Dannis segera memakai pakaian kerjanya, karena pagi ini dia ada meeting. Setelah menghabiskan sarapannya bersama istrinya ia segera pergi ke kantornya.
Selepas Dannis pergi Aline segera menemui bayinya karena waktunya memberikannya asi dan setelah itu ia habiskan waktunya hingga siang hari untuk bermain-main dengan bayinya.
"Pa, Aline titip King ya. Aline mau bawakan Dannis makan siang." ucap Aline siang itu sembari mendorong kereta bayi.
"Pergilah sayang, King aman bersama Papa lagipula ada pengasuh juga." ucap tuan Nicholas yang sedang duduk santai di depan televisi.
"Ada aku juga Al." ucap Leon yang baru masuk ke dalam rumah, ia langsung mengambil King di dalam keretanya dan langsung menggendongnya.
"Kamu nggak kerja ?" tanya Aline yang melihat Leon terlihat santai.
"Gampang itu, aku bisa kembali ke kantorku nanti sore." sahut Leon yang sudah menciumi King dengan gemas.
"Astaga, dia keponakan ku sama sekali nggak merepotkan." ucap Leon lagi.
"Berikan pada Papa, papa juga mau gendong." pinta tuan Nicholas.
"Papa ini, baru juga Leon gendong." gerutu Leon tak terima.
Aline nampak terkekeh ketika melihat Ayah mertua dan adik iparnya itu yang saling berebut untuk menggendong King. kemudian ia berpamitan dan setelah itu segera pergi. Ia berencana memberikan suaminya itu kejutan sekalian membawakannya makan siang.
Sesampainya di kantor suaminya, Aline bertemu Sam yang terlihat akan keluar kantor. "Kamu di sini Al ?" tanya Sam ketika berpapasan di lobby kantor.
"Iya aku membawakan Dannis makan siang."
"Apa buatku juga ada ?" goda Sam.
"Aku membawa banyak kalau kamu mau."
"Mau sih tapi suamimu pasti tak sudi membaginya denganku." ledeknya.
"Beneran kok banyak ini."
"Nggak deh terima kasih, selain malas berebut dengan Dannis aku juga sedang ada janji dengan Sofia untuk ke dokter."
"Baiklah, salam sama Sofia semoga kandungannya sehat."
__ADS_1
"Amiinnn, ya udah aku pergi ya." ucap Sam kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari kantor tersebut.
Setelah itu Aline segera memasuki lift khusus petinggi perusahaan menuju lantai paling atas di mana ruangan suaminya berada.
"Bapak ada ?" tanya Aline pada David sekretarisnya Dannis.
"Tuan Dannis lagi ada tamu bu." ucap laki-laki muda itu.
"Dari tadi ?" tanya Aline lagi.
"Sudah 30 menitan bu."
"Laki-laki atau perempuan ?"
"Eh, perempuan bu." jawab David dengan ragu.
"Koleganya ?"
"Iya bu."
"Masih muda ?"
David langsung gugup ketika istri bossnya itu menginterogasinya, karena wanita di depannya ini sedikitpun tak ada senyum dan terlihat serius.
"Mungkin sekitar 28an bu."
"Cantik ?"
"I-iya bu."
"Oke, aku masuk." ucap Aline sembari melangkahkan kakinya.
"Tunggu bu, tuan Dannis berpesan tidak boleh di ganggu."
"Kamu tahu siapa aku ?"
"Iya bu, anda istrinya tuan Dannis."
"Selain itu ?" tanya Aline geram.
"Anda pemilik 80% saham di sini."
"Jadi ?"
"Silakan masuk bu." David segera mengetuk pintu lalu membukanya dan mempersilakan pemilik 80% saham itu untuk masuk.
"Sayang, kamu di sini ?" Dannis yang sedang duduk di kursi kerjanya segera berdiri menghampiri istrinya.
"Aku membawakan mu makan siang, tapi sepertinya kamu sedang sibuk." sahut Aline sembari melirik wanita yang sedang duduk di sofa, wanita itu terlihat anggun dan nampak tersenyum ketika melihatnya.
.
__ADS_1
Bersambung.....