Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Menahan godaan


__ADS_3

"Apa kita akan melakukannya sekarang ?" tanya Dannis lagi yang semakin mengeratkan pelukannya hingga tidak ada celah di antara mereka.


"Sayang, malam pertama itukan harus di lakukan malam hari dan sekarang masih sore hari." sahut Aline dengan alasan konyolnya.


"Tapi aku menginginkanmu sekarang sayang, menolak kemauan suami itu dosa loh." ucap Dannis seraya menahan tawanya.


Sepertinya sangat menyenangkan baginya menggoda istri polosnya itu yang saat ini terlihat sangat gugup.


"Tapi Dannis...hmmmmp." belum juga menyelesaikan perkataannya Dannis sudah membungkam bibirnya dengan ciumannya.


"Sangat manis." ucap Dannis sembari mengusap bibir istrinya yang sudah basah itu dengan ibu jarinya.


"Baiklah, aku tidak akan memakan mu sekarang." ucapnya lagi.


"Jadi kita tidak akan melakukan itu ?" tanya Aline dengan ragu.


"Jadi kamu menginginkan itu sekarang ?" goda Dannis.


Aline segera menggeleng-gelengkan kepalanya dan itu membuat Dannis terkekeh. "Aku akan menunggu sampai kamu siap." ucap Dannis sembari memegang kedua bahu istrinya.


"Jadi kamu tidak akan memaksaku ?"


"Sayang, aku sangat bersyukur bisa menjadikan kamu istriku. Asal kamu selalu di sampingku aku sudah sangat bahagia. Meskipun sebagai laki-laki yang normal aku sangat menginginkan hal itu, tapi aku akan menunggu mu sampai siap."


"Terima kasih." sahut Aline yang langsung memeluk laki-laki yang sudah beberapa jam itu telah menjadi suaminya.


"Ya sudah aku mandi dulu ya." ucap Dannis setelah Aline melepaskan pelukannya.


"Iya buruan sana, aku juga mau mandi."


"Kenapa tidak barengan saja." celetuk Dannis.


"No." teriak Aline.


Dannis terkekeh, lalu segera pergi ke kamar mandi karena merasa badannya sudah sangat lengket.


Setelah membersihkan tubuhnya ia segera keluar dari kamar mandi dan hanya memakai handuk yang melilit di perutnya.


"Arghhhhhhhhh." Aline berteriak sekeras mungkin ketika melihat pemandangan di depan matanya itu, ia langsung berpaling dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Meski ini bukan pertama kali ia melihat Dannis bertelanjang dada, tapi kalau laki-laki itu hanya memakai handuk minim seperti itu ia baru melihatnya.


"Astaga sayang, kamu kenapa ?" tanya Dannis bingung bercampur khawatir lalu segera mendekati istrinya.


"Itu."

__ADS_1


"Itu apa ?"


"Itu." Aline menunjuk kearah handuk yang melingkar di perut suaminya.


"Ini ?" Dannis menunjuk handuknya dan nampak tercetak sesuatu yang menegang di balik handuk tersebut.


"Hmm." sahut Aline tanpa melihatnya.


"Sepertinya dia ingin pulang ke rumahnya sayang, tapi ternyata rumahnya belum siap." celetuk Dannis.


"Maaf." sepertinya Aline merasa sedikit bersalah.


"Nggak apa-apa sayang, aku akan menunggu hingga kamu siap. Sayangkan kalau calon presiden di buang-buang." ucap Dannis sambil terkekeh.


"Ya sudah mandi sana !!" ucapnya lagi yang mendapat anggukan dari istrinya.


Selang beberapa saat, Aline keluar kamar mandi dengan baju yang sudah menempel di badannya. Kaos rumahan di padukan dengan celana hot pants yang membuat kaki jenjangnya terlihat begitu mulus dan itu membuat Dannis yang sedari tadi berusaha meredakan gairahnya kini merasa lebih tersiksa lagi.


"Kalau saja Papa mu tidak mengancamku tadi, pasti aku sudah menerkammu sayang." batin Dannis ketika mengingat bagaimana ancaman Austin padanya.


Ayah mertuanya itu mengancam akan membawa Aline pergi jika ia menyentuhnya sebelum acara resepsi selesai.


"Aku sangat lelah, apa aku boleh tidur ?" tanya Aline yang masih berdiri mematung, sepertinya ia sangat canggung jika harus berbagi kasur dengan suaminya.


Dengan ragu Aline naik ke atas ranjang dan merebahkan badannya di sebelah suaminya itu.


"Kamu tidak istirahat ?" tanya Aline yang melihat Dannis masih fokus dengan layar monitornya.


"Asal kamu mau memelukku aku mau tidur." sahut Dannis menggoda.


"Kamu lanjutin saja kerjanya." sahut Aline lalu menarik selimut dan memunggunginya, ia merasa sangat canggung jangankan berpelukan berbagi tempat tidur saja membuatnya merasa sesak napas.


Selang beberapa saat terdengar hembusan napas teratur Aline yang menandakan ia sedang berada di alam lain. Dannis yang mendengar itu langsung menyimpan laptopnya di atas nakas dan segera merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


Ia kecupi puncak kepala istrinya itu, merasa tidurnya di ganggu Aline hanya melenguh kecil, kemudian ia berbalik badan dan tidur lagi sepertinya ia benar-benar capek.


Dannis yang melihat istrinya itu menghadap ke arahnya, ia langsung tersenyum jahil. Ia kecupi seluruh wajahnya tapi sedikitpun tak ada reaksi dari istrinya.


"Astaga sayang, kamu tidur seperti orang mati. Sepertinya aku harus memberimu sedikit kejutan." gumam Dannis dengan senyuman menyeringai.


Setelah melakukan sesuatu yang membuat istrinya itu beberapa kali melenguh, kini Dannis mulai memejamkan matanya karena rasa kantuk sudah melandanya.


Dua jam kemudian terdengar bel berbunyi, Aline yang setengah sadar langsung bergumam. "Iya Mi buka saja." ucapnya dengan mata masih tertutup.


Bel berbunyi lagi, Aline yang merasa masih mengantuk mau tidak mau mulai membuka matanya.

__ADS_1


"Arggggggh, Dannis kamu ngapain di kamarku." teriak Aline, ia langsung terduduk dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Apa sih sayang, kamu lihat ini di mana." ujar Dannis kesal karena istrinya membangunkannya dengan teriakan yang sangat memekikkan telinganya.


Aline mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, setelah itu ia baru mengingat kalau saat ini sedang berada di kamar hotel.


"Maaf aku lupa." ucap Aline nyengir.


"Hmm."


"Kamu marah ?"


"Nggak, hanya telinga ku hampir tuli." ucap Dannis.


"Bang bule maaf, aku lupa kalau kita sudah menikah."


"Hmm."


"Jangan marah ya."


"Hmm."


Melihat suaminya yang ngambek, Aline langsung mengecup bibirnya sekilas tapi itu justru di manfaatkan oleh Dannis.


Laki-laki itu langsung menahan tengkuk istrinya dan melahap bibirnya dengan rakus hingga terdengar suara decakan karena pertukaran lidah mereka.


"Sayang kita batalkan resepsinya ya ?" ujar Dannis dengan suara serak sepertinya aktivitasnya barusan membuat gairahnya naik dan ketika mengingat ancaman Ayah mertuanya ia langsung frustrasi.


Sepertinya ia harus kuat menahan godaan.


Lalu terdengar bel berbunyi lagi, dengan malas Dannis beranjak dari kasur. Mengambil bajunya dan segera memakainya lalu ia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


Aline segera bangkit lalu pergi ke kamar mandi sebelum suaminya itu berbuat lebih jauh lagi dan pasti akan mengacaukan resepsinya.


"Maaf tuan, kata ibu Nisa 30 menit lagi mbak Aline harus di rias." ucap seorang pegawai salon.


"kami siap-siap dulu." sahut Dannis lalu menutup pintunya.


Aline yang sedang berada di kamar mandi segera melepas bajunya dan menyisakan pakaian dalamnya, tapi ia begitu terkejut ketika melihat dadanya yang sudah penuh dengan tanda merah.


"Arghhhhhhhhhh." teriak Aline emosi, kemudian tanpa pikir panjang ia keluar dari kamar mandi untuk bertanya pada suaminya itu.


"Bang buleeeeeeee apa yang sudah kamu lakukan padaku ?"


Dannis yang baru menutup pintu, langsung melotot melihat istrinya yang hanya memakai dalaman."Ya Allah ini berkah atau musibah."

__ADS_1


__ADS_2