
Malam itu setelah keluar dari ruang kerja Ayahnya, Dannis segera masuk ke dalam kamarnya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamarnya tapi tak ada istrinya disana.
"Sayang." panggil Dannis tapi sama sekali tak ada sahutan.
Di ketuknya kamar mandi beberapa kali tapi tak ada sahutan juga, dengan pelan Dannis membuka pintu kamar mandi yang tak di kunci. Dilihatnya istrinya itu sedang berendam di dalam bathup dalam keadaan tidur.
"Bukannya di kantor tadi sudah tidur, kenapa tidur lagi." gumam Dannis, ia bersimpuh di lantai dan mengamati wajah pulas istrinya.
"Dalam tidurpun kamu sangat cantik sayang, bagaimana aku tidak tergila-gila padamu." Dannis mengecup bibir istrinya itu beberapa kali tapi sama sekali tak ada pergerakan.
Dannis tahu betul kalau istrinya sudah tidur susah sekali di bangunkan, seketika nampak senyum menyeringai di bibirnya.
Ia segera membuka pakaian yang melekat di badannya, kini ia nampak polos tanpa sehelai benang yang menutupi badannya.
Melangkahkan kakinya dan ikut masuk ke dalam bathup tersebut yang memang berukuran lumayan besar, ia mengganggu istrinya dengan beberapa kali mengecupinya tapi tak bangun juga hanya sesekali melenguh ketika suaminya memberikan kissmark di beberapa bagian tubuhnya.
"Astaga sayang kebo sekali tidurnya."
Tak patah arang, kini Dannis membangunkannya dengan cara lain. Seketika Aline membuka matanya ketika merasakan sesuatu menyentuh miliknya di bawah sana.
"Dannis, apa yang kamu lakukan ?" teriak Aline terkejut ketika melihat suaminya sudah berada di dalam bathup bersamanya.
"Tentu saja membangunkan mu sayang, kenapa kamu bisa tertidur di sini ?"
"Hmmm, Dannis tanganmu tolong kondisikan." protes Aline.
"Kamu susah sekali di bangunkan sayang." ucap Dannis seraya beranjak dari bathup tersebut.
Ia mengambil handuk dan menyuruh istrinya segera keluar dari bathup tersebut. " Kamu bisa masuk angin kalau kelamaan berendam." Dannis mengeringkan tubuh istrinya.
"Aku berasa seperti bayi yang baru selesai kamu mandiin." celetuk Aline ketika melihat suaminya dengan telaten mengeringkan badannya.
"Aku hanya tidak ingin istriku sakit karena kedinginan, lagipula apa aku setua itu, hingga mempunyai bayi sebesar ini ?" ucap Dannis sembari memakai kan bathrobe yang terlihat kedodoran itu pada istrinya.
"Kamu memang tua." sahut Aline sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.
"Dan si tua ini bisa membuat mu kelelahan sepanjang malam." ucap Dannis terkekeh.
"Jangan macam-macam Dannis, aku sangat lelah." Aline sudah menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"Makanya cepat pakai baju sayang !!"
Aline segera membuka lemari yang ada di sana, tapi hanya pakaian suaminya yang tersusun. Sepertinya ia lupa kalau sekarang sedang menginap di rumah mertuanya.
__ADS_1
"Aku nggak punya baju ganti."
"Nih, pakailah kemeja ini !!" Dannis menyerahkan kemeja miliknya yang baru ia ambil dari lemari.
Mau tidak mau Aline memakai kemeja tersebut, dari pada harus memakai bathrobe yang memudahkan suaminya itu untuk membukanya.
"Astaga, kemejamu seperti dress di badanku." Aline memperhatikan dirinya dari pantulan kaca.
"Siapa suruh kamu mungil." celetuk Dannis yang sudah duduk bersandar di headboard ranjang.
"Iya aku memang mungil,aku nggak tinggi seperti wanita-wanita mu sebelumnya." Aline mencebikkan bibirnya.
"Sayang, walaupun kamu mungil tapi kamu lebih cantik dari mereka. Wajah dan hatimu itu sangat cantik hingga membuatku tidak bisa berpaling pada yang lain." Dannis segera bangkit dari duduknya dan memeluk istrinya itu dari belakang.
"Manis sekali bibirmu." cibir Aline.
"Dan bibirmu ini lebih banyak pedasnya daripada manisnya." sindir Dannis.
Aline hanya terkekeh mendengar perkataan suaminya, karena memang ia lebih senang berdebat daripada berkata manis.
"Sayang, apa di sini sudah ada bayi kita ?" Dannis meraba perut rata Aline.
"Apa kamu sangat menginginkan seorang bayi ?" tanya balik Aline.
"Tentu saja sayang, aku mau rumah ini di penuhi banyak anak kecil."
"Aku maunya anak yang lahir dari rahim kamu, bukan anak orang lain."
"Kalau dalam waktu dekat Tuhan belum kasih bagaimana ?"
"Ya kita berusaha terus."
"Kalau sudah berusaha tapi belum di kasih bagaimana ?"
"Astaga sayang, jangan mendahului Tuhan."
"Ia maaf. Dannis aku lelah, bisakah aku tidur ?" Aline melihat suaminya dari pantulan cermin.
"Tentu saja sayang, malam ini aku akan membiarkan mu tidur nyenyak." Seketika Dannis merengkuh tubuh istrinya lalu merebahkannya di kasur dan menyelimutinya.
Kemudian ia ikut masuk ke dalam selimut dan membawa istrinya ke dalam pelukannya. "Tidurlah sayang !!"
"Hmmm."
__ADS_1
Dan tak menunggu lama, mereka sudah terlelap tidur.
.
.
Keesokan harinya, Aline tidur dengan badan yang sangat segar. Di lihatnya suaminya masih tertidur pulas. "Bahkan tidurpun kamu sangat tampan." gumam Aline tangannya mengusap lembut rahang Dannis yang kokoh, lalu beralih ke pipinya yang mulai di tumbuhi bulu-bulu tipis.
cup
Aline mengecup bibir suaminya itu, lalu dengan pelan ia mengangkat lengan Dannis yang melingkar di pinggangnya. Kemudian Ia beranjak dari ranjangnya dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dengan memakai kemeja Dannis, Aline turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Pagi nona." sapa seorang pelayan yang berada di dapur.
"Pagi bik, ada yang bisa ku bantu ?"
"Nona duduk saja akan saya buatkan teh herbal."
" Memang bibik sedang masak apa ?"
"Sup daging kacang merah, ini makanan favorit tuan Dannis. Semalam tuan besar menyuruh kami untuk memasak ini, sepertinya beliau sedang bahagia."
"Mungkin tuan besar bahagia karena tuan Dannis mau menginap lagi disini." ujar pelayan satunya lagi.
"Memang sejak kapan Dannis tidak pernah menginap di sini ?" Aline nampak penasaran.
"Sudah lama nona, sejak tuan Leon datang kemari. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, tapi beliau masih sering datang ketika tuan besar memanggilnya."
"Selama itu, bukannya waktu itu Dannis mengatakan baru sekitar lima tahunan ia meninggalkan rumah ini itupun karena sakit hati ditinggalkan oleh Cleo." batin Aline.
"Bik, apa memang dari dulu Dannis dan Leon tidak akur ?" tanya Aline lirih.
"Sepertinya tuan Dannis merasa cemburu ketika tuan Nicholas membawa tuan Leon kesini dan mengangkatnya sebagai anak." sahut pelayan tersebut yang sudah puluhan tahun mengabdi pada keluarga Bryan.
"Kekanak-kanakan sekali, bukannya punya adik angkat itu bagus jadi punya teman. Dasar bule arogan."
"Kakak ipar." panggil Leon yang sedang berdiri tak jauh dari meja makan tersebut, entah sejak kapan laki-laki itu berdiri disana.
"Leon, kemarilah. Apa kamu mau teh ?" Aline menuangkan teh ke dalam cangkir kosong kemudian memberikan pada Leon yang sedang duduk di depannya meski laki-laki itu belum memintanya.
"Terima kasih." ucap Leon lalu menyesap secangkir teh tersebut.
__ADS_1
Kemudian Aline dan Leon nampak mengobrol akrab dan sesekali terdengar gelak tawa.
Dannis yang melihat keakraban istri dan adik angkatnya itu nampak murka, dengan langkah cepat ia menuruni anak tangga.