Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Sang pewaris


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan siangnya, tuan Nicholas dan anak-anaknya berkumpul di ruang kerjanya.


Aline nampak terkesiap ketika melihat layar komputer Ayah mertuanya itu yang memperlihatkan salah satu ruangan di kantor Dannis.


"Apa Papa juga melihat waktu aku dan Dannis melakukan itu disana, akhhh bodohnya aku ?" Aline merutuki dirinya sendiri ketika mengingat ada cctv di ruangan kerja Dannis.


Tuan Nicholas yang memperhatikan menantunya menatap layar komputernya, beliau buru-buru mematikan dan menutup laptopnya.


"Kenapa wajahmu memerah sayang, apa kamu sakit ?" Dannis menangkup kedua pipi istrinya.


"Nggak, nggak apa-apa." Aline berusaha menghilangkan kegugupannya.


"Baiklah ayo duduk semua, ada yang mau Papa bicarakan !!" perintah tuan Nicholas yang sudah terlebih dulu duduk di sofa, begitu juga dengan Dannis, Aline dan juga Leon mulai duduk di sofa seberang Ayahnya.


"Sesuai dengan kesepakatan ku dengan Dannis beberapa waktu lalu, jika istrinya hamil maka Dannis akan memindahkan hak warisnya pada calon anaknya tapi karena anak itu belum lahir maka Ibunya yang akan menggantikannya." ujar tuan Nicholas yang seketika membuat Aline dan Leon tercengang.


Sedangkan Dannis hanya bisa tersenyum, karena itu memang rencananya dari awal. "Sekarang kamu tanda tangan disini dan juga Leon !!" perintah tuan Nicholas sembari menyodorkan dokumen pada Aline.


"Ini besar sekali, saya tidak bisa Pa." tolak Aline setelah membaca isi dokumen tersebut.


"Ini sesuai kesepakatan antara Papa dan Ibunya Dannis, delapan puluh persen saham adalah hak milik Dannis dan kamu sebagai calon ibu dari cucuku kamu berhak memilikinya."


"Lalu Leon ?" tanya Aline, meskipun Leon hanya anak angkat terlalu tidak adil padanya jika cuma mendapatkan saham dua puluh persennya saja.


"Ini sudah menjadi keputusan ku, tidak ada yang bisa membantahnya." sahut tuan Nicholas dengan tegas tanpa melihat sedikitpun ke arah Leon.


Leon diam mematung, pandangannya datar sulit untuk di baca. kemudian ia mengambil bolpoin dan menanda tangani dokumen tersebut tanpa membacanya. Setelah itu ia bangkit dari duduknya dan langsung melangkahkan kakinya keluar.


"Apa Leon marah ?" Aline nampak khawatir melihat kepergian Leon.


"Dia hanya anak angkat, sudah bersyukur dapat dua puluh persen saham lagipula setiap hari yang mati-matian kerja aku bukan dia." Dannis merasa cemburu ketika melihat istrinya mengkhawatirkan orang lain.


"Kamu jahat sekali sih." tegur Aline.


"Aku tidak suka kamu membelanya sayang." protes Dannis tapi masih dengan melembutkan suaranya.


"Sudah-sudah sekarang tanda tangan dulu." perintah tuan Nicholas lagi.


"Tapi Pa....."


"Ayolah sayang tinggal tanda tangan apa susahnya." Dannis memberikan bolpoin dan memaksa istrinya itu untuk tanda tangan.

__ADS_1


"Apa kamu tidak takut aku menipumu dan membawa semua hartamu ?" hardik Aline ketika baru selesai membubuhkan tanda tangannya pada dokumen tersebut yang berarti mulai sekarang dialah pemilik delapan puluh persen saham Bryan Corp.


"Ya mungkin aku akan menjadi gelandangan tampan." sahut Dannis enteng.


"Jika kamu selingkuh, aku benar-benar akan membawa kabur semua uangmu." ancam Aline.


Mendengar perdebatan antara anak dan menantunya itu, tuan Nicholas nampak terkekeh.


"Papa kenapa tertawa, apa Papa juga nggak takut kalau Aline akan membawa kabur semua uang Papa ?" Aline mencoba mengintervensi ayah mertuanya itu agar membatalkan niatnya


"Sesuatu yang sudah kamu terima tidak bisa di kembalikan Nak, Papa yakin kamu tidak akan tega membiarkan dua laki-laki tampan ini menjadi gelandangan." ujar tuan Nicholas seraya beranjak dari duduknya.


"Itu tidak mungkin Papa." Aline langsung berdiri dan memeluk ayah mertuanya. "Kalaupun suatu saat Aline harus berpisah dengan Dannis, masih ada anaknya Aline yang akan menjaga dan menyayangi Papa." ucapnya lagi.


"Jadi kamu sudah mempunyai pikiran mau berpisah dengan ku ?" Dannis nampak geram, ia langsung merengkuh lengan istrinya untuk meminta penjelasan.


"Aku tidak bisa menjamin kalau suatu saat kamu tidak akan selingkuh."


"Sayang, aku tidak mungkin melakukannya hal itu." Dannis mencoba meyakinkan istrinya.


"Papa mau istirahat dulu." sela tuan Nicholas lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya, ia tidak mau mengganggu perdebatan anak dan menantunya itu yang ia tahu akan berakhir dimana.


"Kalau aku berniat untuk selingkuh, mana mungkin aku menyerahkan semua harta warisan ku padamu sayang." ucapnya lagi dengan serius.


"Nggak akan." Dannis menangkup kedua pipi istrinya dan langsung melum😘t bibir tipis istrinya.


"Apa sudah tidak mual lagi ?"


Aline hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, "Jadi apa boleh melakukannya sekarang ?" goda Dannis.


Mendengar perkataan suaminya, Aline langsung mendorong tubuh kekar di depannya itu. "Kamu lupa apa kata dokter tadi siang ?" cebik Aline.


"Bercanda sayang. Aku juga tidak mau baby kita kenapa-kenapa, tapi memeluk boleh kan ?"


"Hmm."


"Baiklah, ayo kita istirahat di kamar." Ajak Dannis kemudian berlalu pergi dari ruangan tersebut.


Setelah memastikan istrinya tidur, Dannis segera beranjak dari ranjangnya lalu mengambil ponselnya di atas nakas kemudian melangkahkan kakinya ke balkon kamarnya.


"Ada apa Sam ?" tanya Dannis ketika menghubungi asistennya itu.

__ADS_1


"Ada Armand ingin bertemu dengan mu." sahut Sam dari ujung telepon.


"Apa tidak bisa besok pagi saja ?"


"Dia maunya sekarang."


"Baiklah tiga puluh menit lagi aku sampai." ujar Dannis lalu mematikan teleponnya.


Kemudian Dannis berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengganti kemejanya yang kusut dengan yang baru.


"Aku ke kantor dulu ya sayang." Dannis mengecup bibir istrinya yang masih tertidur pulas, lalu melangkahkan kakinya keluar kamar.


Beberapa saat kemudian Dannis tiba di kantornya sore itu, dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya ia terlihat sangat gagah hingga membuat kaum hawa yang melihatnya tidak akan bisa berpaling darinya.


"Ganteng banget sih si boss." ujar pegawai resepsionis pada temannya yang sedang duduk di sebelahnya, ketika Dannis baru saja melewati mejanya.


"Sayang beliau sudah sold out." sahut teman satunya lagi.


Sesampainya di ruangannya, Dannis melihat Armand sedang menunggunya bersama seorang wanita cantik yang duduk di sebelahnya.


"Hai bro dari tadi ?" sapa Dannis lalu melangkah ke meja kerjanya dan duduk di kursinya.


"Lumayan satu jam." sahut Armand sambil melihat Jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Siapa, calon istri kamu ?" tanya Dannis ketika melihat wanita tersebut tersenyum padanya, sosok wanita asia seperti Aline yang membedakan wanita itu berdandan sangat menor.


"Dia Angela asistenku, dia yang akan mengurus kerja sama kita." ujar Armand.


"Apa aku sudah menyetujui kerja sama kita, bukannya kemarin aku masih akan mempertimbangkanya ?"


"Ayolah bro, ini untungnya sangat besar. Tolong aku kali ini saja, aku tidak bisa kalau jalan sendiri kamu tahu sendiri kan perusahaan ku sedang ada masalah." Armand nampak memohon dan inilah yang Dannis inginkan untuk membalas perbuatan sahabatnya beberapa waktu yang lalu.


Dannis tersenyum menyeringai. "Akan aku kabari lagi nanti." ucap Dannis.


"Tapi bro...."


"Aku ada meeting sore ini." sela Dannis.


Armand terlihat sangat kesal, tapi ia mencoba untuk menahan kekesalannya. "Baiklah aku pergi dulu." ucap Armand sembari beranjak dari duduknya.


"Kami permisi tuan." ucap Angela dengan senyum menggoda kemudian mereka berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


"Sialan, berani-beraninya membawa perempuan murahan seperti itu. Apa peringatan ku di Club waktu itu belum cukup." gerutu Dannis kesal.


__ADS_2