Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Perasaan aneh


__ADS_3

"Dannis, apa kamu menyuruhku kesini hanya untuk mendiamkanku." ujar Stephanie ia tampak sedang duduk di sofa memainkan ponselnya.


"Tentu saja, aku cuma mau kau menemaniku disini." ujar Dannis ia masih fokus menatap layar komputernya.


"Apa kamu tidak menginginkanku, sudah lama kamu tidak menyentuhku."


"Diam lah, kenapa kamu cerewet sekali." Dannis mendengus kesal.


"Kamu membuang waktuku saja, aku juga harus mengurus perusahaanku." Stephanie merasa kesal karena semenjak dia datang, Dannis tidak menghiraukannya sama sekali.


Tak berapa lama kemudian Aline mengetuk pintu.


tokk


tokk


"Kamu ke sinilah !" perintah Dannis pada stephanie, ia menepuk pahanya agar wanita itu duduk disana.


Setelah mendapat sahutan dari Dannis, Aline segera masuk kedalam. Tetapi ketika baru masuk, ia melihat bossnya sedang bermesraan dengan wanita yang bernama Stephanie itu.


"Maaf tuan, ada berkas yang harus di tanda tangani sekarang." ucap Aline sambil menunduk, ia malas melihat adegan panas di depannya itu.


"Bawa sini !" ia menghentikan ciumannya dengan Stephanie, tapi posisinya tetap sama wanita itu masih berada diatas pangkuannya.


Aline membawa berkas itu ke meja Dannis, setelah selesai ditanda tangani ia segera pergi dari sana.


Melihat kepergian Aline, tampak seringai kecil di wajah Dannis. "Sekarang kamu pergilah !" Dannis mendorong Stephanie agar menjauh.


"Tapi aku menginginkanmu Dannis." Stephanie tampak enggan untuk beranjak dari pangkuan pria itu.


"Aku bilang pergi dari sini !" ucap Dannis dengan tegas.


Karena mendapat penolakan, akhirnya wanita itu berlalu pergi meninggalkan Dannis yang tampak kesal.


"Kenapa dengan wanita itu. Apa mereka bertengkar atau boss mesum itu mengajaknya bermain kasar, Ah bodo amat." gumam Aline ketika melihat wanita itu keluar dari ruangan Dannis dengan tampang jutek.


Berapa saat kemudian ponselnya berbunyi, sepertinya ada pesan email masuk di ponselnya.


"Cil, bocil apa kabar ?" terlihat pesan email dari dewa.


"Kung. Kamu kemana saja, aku kirim pesan tidak pernah dibalas." Aline membalas pesan dewa.


"Apa loe merindukanku ?" balas Dewa.

__ADS_1


"Tentu saja, kamu sahabat terbaikku." balas Aline.


"Gue dapat tugas di daerah pedalaman yang sedang konflik, jadi susah signal disana." balas Dewa.


"Kirain kamu sudah di telan bumi." Aline membalas.


"Loe nyumpahin gue ?" balas Dewa lagi.


"Hahahaha.. just kidding jangkung." Aline tampak cekikikan sendiri, tanpa ia sadari sepasang mata sedari tadi mengawasinya.


"Apa aku menggajimu hanya untuk bermain ponsel ?" suara bariton Dannis mengagetkan Aline yang sedang fokus sama ponselnya.


Seketika Aline terlonjak kaget karena ia merasa bossnya itu seperti jelangkung, tiba - tiba muncul di depannya.


"Maaf tuan..." Aline belum menyelesaikan perkataannya tapi Dannis sudah merebut ponsel di tangannya.


Pria itu membaca dengan teliti obrolan Aline dan Dewa di pesan email tersebut, setelah itu dia menyerahkan kembali ponselnya.


"Aku tidak suka jika karyawanku disini, sibuk pacaran disaat jam kerja." ujar Dannis ia tampak mendengus kesal ketika melihat Aline, Kemudian ia masuk ke dalam ruangannya kembali.


"Ada apa dengannya, aneh." gumam Aline merasa tidak mengerti dengan sifat bossnya itu yang tiba - tiba ikut campur masalah pribadinya.


Sampai didalam ruangannya Dannis tampak mengusap rambutnya dengan kasar, ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri kenapa tiba - tiba jadi emosi ketika melihat sekretaris cupunya itu asyik berchatting ria dengan pria lain.


"Boss ada masalah ?" tanya Sam ketika baru saja masuk.


"Boss nanti malam ada party di Club xx, banyak model kelas atas yang hadir. Apa boss berminat ?"


"Tentu saja, kamu selalu tahu apa yang ku mau." Dannis tampak tersenyum menyeringai.


Malam harinya


Di sebuah Club elit yang cukup terkenal di kota itu, kini sedang diadakan fashion show pakaian dalam untuk musim panas. Banyak model papan atas yang menjadi peraganya, tentunya yang hadir juga dari kalangan elit.


"Selamat datang Tuan Dannis." sapa seorang manager Club tersebut, ketika melihat Dannis dan Sam baru datang.


Mata Dannis mengawasi setiap model yang berlenggak lenggok di Hall Club tersebut.


"Aku mau yang itu ?" Dannis menunjuk seorang model berwajah asia dan lumayan cantik.


Kemudian Sam membisikkan sesuatu kepada manager Club itu. "Tenang saja tuan, bukan perkara sulit bagi saya. Apa lagi tuan Dannis sendiri yang meminta, dengan senang hati mereka akan datang." ucap Manager tersebut kemudian ia berlalu pergi.


Tak lama kemudian seorang wanita cantik yang Dannis mau sudah berjalan menghampirinya. "Selamat malam tuan Dannis, sebuah kehormatan bisa menemani anda." ujar wanita itu tampak menggoda.

__ADS_1


Kemudian Dannis menggandeng wanita tersebut dan mengajaknya ke VIP room, ia meninggalkan Sam yang masih melihat pertunjukan tersebut.


Mata Sam menjelajahi seluruh Hall tersebut dan ia melihat sosok wanita yang sepertinya ia kenal, dengan langkah cepat ia mendekati wanita tersebut.


"Hey nona ?" Sam tersenyum lebar pada wanita di hadapannya itu.


Sofia tampak memicingkan matanya. " Kita kenal ?" tanyanya.


"Nona apa kamu melupakanku, aku adalah tangan kanan Dannis Bryan sekaligus sahabatnya. Kita pernah bertemu sebelumnya, dimana Aline ?" ujar Sam ia melihat kesana kemari mencari Aline.


"Kamu tahu Aline ?" Sofia berbicara setengah berbisik serta matanya mengawasi sekitarnya.


"Tentu saja."


Kemudian Sofia menarik tangan Sam dan membawanya ke sudut ruangan yang tidak terlalu ramai orang. "Apa tuan Dannis juga mengetahui kalau Aline adalah..." Sofia belum menyelesaikan perkataannya tapi Sam sudah menyelanya.


"Tentu saja tidak, ini rahasia antara aku dan sahabatku Aline."


"Hey, sejak kapan kamu jadi sahabatnya Aline, sejak empat tahun yang lalu aku adalah sahabat satu satunya." Sofia menatap tajam laki - laki di depannya itu.


"Sejak aku mengetahui rahasianya." Sam mengatakan dengan percaya diri.


"Apa kamu bisa di percaya ?" Sofia masih merasa curiga dengan Sam.


"Tentu saja nona." Sam mengatakan dengan tegas.


"Baiklah aku percaya, btw dimana tuan Dannis ?" lagi - lagi Sofia mengawasi ke seluruh Hall.


"Tentu saja dengan para model itu. Dimana Aline, dari tadi aku tidak melihatnya ?"


"Sepertinya dia sedang sakit."


"Benarkah ?" Sam tampak khawatir.


"Iya aku tadi mau mengajaknya kemari tapi katanya lagi flu."


"Aku harus segera mengunjunginya ?" Sam segera bergegas meninggalkan Sofia.


"Hey, memangnya kamu tahu dimana dia tinggal ?" Sofia segera menarik tangan laki - laki itu untuk menghentikannya.


"Tentu saja, tapi aku belum pernah kesana. Apa kamu mau menemaniku ?" Sam tampak memohon pada gadis di depannya itu.


"Tentu saja, ayo." Sofia langsung menarik tangan Sam.

__ADS_1


"Sebentar aku ke ruangan Dannis dulu." ucap Sam kemudian ia berlalu pergi yang di ikuti oleh Sofia di belakangnya.


Setelah sampai didepan sebuah ruangan VIP, Sam tampak akan masuk. " Kamu mau ikut masuk kedalam ?" tanya Sam pada Sofia.


__ADS_2