
Sore itu Dannis baru beranjak dari tubuh istrinya, setelah merasa puas dengan aktivitas panasnya. Kemudian ia memunguti baju kerjanya yang tercecer di lantai, lalu segera memakainya kembali.
Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut dan membiarkan istrinya tidur karena kelelahan.
"Habis dari mana boss ?" tanya Sam yang sedari tadi menunggunya.
"Tidur." sahut Dannis santai.
"Bangun tidur tapi tuh muka seger amat boss." sindir Sam.
"Mau apa kamu kesini ?" Dannis sudah duduk di kursi kerjanya.
"Menyampaikan pesan dari Yang Mulia."
"Katakan !!"
"Katanya kalau boss malam ini tidak datang berkunjung maka..."
"....di coret dari daftar warisan." sela Dannis yang sudah sangat hafal dengan ancaman Ayahnya itu.
Lalu mereka berdua tertawa bersama, seakan-akan ancaman tersebut hanya sebuah lelucon belaka.
"Sepertinya aku harus segera mengalihkan warisanku, biar Papa tidak seenaknya sendiri mengancam."
"Memang mau di alihkan ke siapa boss, saya sangat siap kalau boss menunjuk saya." ucap Sam terkekeh.
"Mimpi, tentu saja ke anakku."
"Anak dari wanita mana lagi boss, bukannya kalian baru beberapa hari nikah ?" tanya Sam curiga.
"Sialan, kamu pikir aku selama ini tanam benih di mana-mana. Sorry ya, benihku bibit unggul hanya wanita suci dan nggak murahan yang pantas menerimanya." protes Dannis.
"Cih, nggak tanam benih tapi tanam batang dimana-mana." cibir Sam.
"Sialan, tapi nggak ada yang seenak istriku."
"Beneran boss ?"
"Iya bikin nagih."
"Jadi pengen nyoba."
"Berani ?" gertak Dannis sembari mengepalkan tangannya.
"Bercanda boss."
"Jadi bayi yang belum tentu ada itu, yang akan menggantikan nama boss di dalam daftar warisan ?" tanya Sam lagi.
"Aku sudah berusaha setiap saat menanam sahamku, nggak lama lagi pasti jadi bayi-bayi yang lucu." ucap Dannis penuh harap.
"Menanam saham." batin Sam, sepertinya ia baru mengerti maksud dari tuan Nicholas tadi.
"Jadi boss barusan tidak tidur, tapi habis menanam saham ?"
"Darimana kamu tahu ?"
"Yang Mulia." sahut Sam.
Seketika Dannis langsung tertawa nyaring yang membuat Sam nampak kebingungan. "Sepertinya pak tua itu habis menyaksikan proses pembuatan cucunya." ujar Dannis terkekeh.
__ADS_1
"Sumpah demi apapun, dirimu nggak ada akhlaknya boss." cibir Sam.
"Lagipula siapa yang suruh pasang cctv di sana."
"Lagian siapa suruh boss melakukannya di kantor, kayak nggak punya rumah aja." protes Sam.
"Nanti di rumah juga melakukannya lagi." sahut Dannis enteng.
"Boss melakukan itu sudah seperti minum obat saja, sehari 3x."
"Bahkan lebih kalau bisa."
"Astaga boss, niat banget mau nyiksa istri."
"Shit, memang ada orang tersiksa tapi mendesah." sahut Dannis tak mau kalah.
Sam hanya geleng-geleng kepala melihat kekonyolan bossnya itu, kemudian mereka kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
Hingga menjelang malam baru beberapa berkas yang Dannis selesaikan.
Malam itu Aline baru mengerjapkan mata, ia merasa badannya seperti remuk. "Sudah tidur tapi tetap saja masih lelah, Dannis kamu benar-benar keterlaluan." gerutu Aline dalam hati ketika mengingat kegiatan panas mereka tadi siang, suaminya itu seperti punya tenaga ekstra yang nggak ada capeknya.
Kemudian ia beranjak dari kasurnya, memunguti pakaiannya di lantai dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Bang bule, kenapa nggak bangunin aku ?" ucap Aline ketika baru keluar dari ruangan tersebut.
"Sudah bangun sayang, sini !!" Dannis menepuk pahanya agar istrinya duduk disana.
"Kamu belum selesai ?" Aline melihat tumpukan map yang masih menggunung.
"Aku akan menyelesaikannya besok saja."
"Tadi Papa menelepon, kita di suruh kesana." ucap Dannis.
"Benarkah, aku juga sangat merindukan Papa."
"Ya sudah ayo !!" ajak Dannis.
Kemudian Aline beranjak dari pangkuan suaminya dan bersiap untuk pulang.
Satu jam kemudian mereka sudah berada di Mansion tuan Nicholas.
"Anak kurang ajar, apa nunggu Papa ancam dulu baru mau menjenguk Papa ?" tegur tuan Nicholas ketika melihat anak sulungnya itu baru menginjakkan kaki di Mansionnya.
"Tenang saja Pa, sebentar lagi ancaman Papa tidak akan berlaku lagi." sahut Dannis santai.
"Apa maksud kamu ?"
"Nanti saja kita bahas Pa."
"Apa Papa tidak merindukan ku ?" tanya Aline yang sedari tadi menyaksikan perselisihan antara anak dan ayah itu.
"Tentu saja aku merindukan mu sayang." sahut tuan Nicholas seraya memeluk anak menantunya itu.
"Aline juga sangat merindukan Papa."
"Apa kamu sudah makan malam ?" tanya tuan Nicholas dengan melembutkan suaranya.
"Belum Pa, Aline sangat lapar."
__ADS_1
"Ya sudah, ayo !!" ajak tuan Nicholas lalu menggandeng anak menantunya itu ke arah meja makan.
"Disini siapa yang menjadi anaknya sih, giliran sama istriku saja lembut, sedangkan kalau sama aku berasa anak tiri." gerutu Dannis ketika melihat kemesraan dua orang beda generasi itu.
Di meja makan, sudah ada Leon yang sudah duduk di sana. "Kakak pulang ?" sapa Leon tapi Dannis sama sekali tak menganggapnya.
"Hallo Leon." sapa Aline yang mulai mendudukkan dirinya di kursi.
"Hallo Al, hmm maksudku kakak ipar." sahut Leon.
"Panggil Aline saja seperti sebelumnya."
"Kapan datang Al ?" tanya Leon lagi.
"Tadi siang."
Melihat keakraban istri dan adiknya itu membuat Dannis merasa jengah.
Ehhmmm
Suara deheman Dannis membuat mereka berdua menoleh padanya. "Bang bule, kamu tersedak ?" Aline meletakkan garpu dan pisaunya kemudian mengambil segelas air putih untuk suaminya.
"Terima kasih sayang." ucap Dannis.
Selanjutnya tidak ada obrolan lagi di meja makan tersebut hingga makan malam selesai.
"Sayang, malam ini nginap disini ya !!" pinta tuan Nicholas pada anak menantunya itu.
"Nggak bisa Pa, kita mau pulang ke Apartemen saja." kali ini Dannis yang menimpali.
"Aku mau nginap di sini Dannis, bolehkan ?" pinta Aline dengan memohon pada suaminya.
Melihat mimik istrinya itu Dannis sama sekali tidak bisa menolaknya. "Baiklah sayang, aku mana bisa menolakmu."
"yeeeey terima kasih." tanpa ragu Aline memeluk suaminya di depan ayah mertua dan adik iparnya itu.
Tuan Nicholas nampak terkekeh bahagia ketika melihat kemesraan mereka, berbeda dengan Leon raut wajahnya mengisyaratkan ketidaksukaan.
"Baiklah, ada masalah pekerjaan yang ingin ku bicarakan dengan Papa. Kamu ke kamarku duluan ya nanti ada pelayan yang akan mengantar mu ke atas !!" ujar Dannis ketika mereka baru beranjak dari duduknya.
Setelah suaminya pergi ke ruang kerja bersama Ayahnya, Aline segera naik ke atas dimana kamar Dannis berada.
Ini kali kedua Aline masuk ke dalam kamar tersebut, baru membuka pintu ia merasakan suasana kamar yang manly banget. Ia mengingat pertama kali datang kesini, suaminya itu membopongnya ke kamar ini dengan paksa.
"Astaga, bahkan bekas tendanganku dulu masih ada." gumam Aline ketika melihat pintu kamar mandi yang sedikit penyok.
Puas melihat-lihat kamar tersebut, Aline memutuskan berendam di bathup untuk menyegarkan badannya.
Sedangkan di tempat lain, tuan Nicholas nampak serius berbicara dengan anaknya itu. "Apa kamu sudah yakin dengan keputusan mu itu ?" tanya tuan Nicholas pada Dannis.
"Aku sudah memikirkannya Pa." sahut Dannis mantap.
"Waktu bisa saja berubah, Papa takut kamu akan menyesalinya."
"Apa Papa meragukan istriku ?" tanya Dannis.
"Papa hanya meragukan mu."
"Kalau itu terjadi, mungkin aku sudah tidak waras." sahut Dannis.
__ADS_1
Mendengar perkataan anaknya, tuan Nicholas nampak terkekeh. "Baiklah segera akan Papa urus."