
Setelah membersihkan dirinya, Aline segera keluar dari kamar mandi dengan bathrobe berwarna putih yang menutupi badannya.
Ia melihat kamar hotelnya sudah bersih, bahkan seprei yang terdapat noda merah bekas percintaan mereka semalam sudah di ganti dengan yang baru.
"Bang bule, kamu sudah mandi ?" tanya Aline yang melihat suaminya sedang duduk di sofa itu terlihat rapi dan segar.
"Aku mandi di kamar Sam."
"Aku kelamaan ya ?" Aline merasa bersalah karena suaminya harus numpang mandi di kamar asistennya.
"Harusnya kita mandi bersama tadi." celetuk Dannis penuh maksud.
"Tapi itu akan menjadi semakin lama, karena aku tidak menjamin kamu tidak hanya sekedar mandi." cibir Aline.
"Tahu aja." sahut Dannis terkekeh.
"Sayang, seprei yang tadi apa orang hotel yang menggantinya ?" Aline merasa malu jika orang lain melihat noda itu.
"Aku yang menggantinya sayang, tapi tentu saja mereka yang mencucinya."
"Syukurlah, aku pasti akan malu jika orang lain melihat itu." ucap Aline sembari berjalan ke arah suaminya.
"Astaga sayang, bahkan aku ingin memberitahukan pada seluruh dunia kalau istriku ini adalah gadis suci dan aku adalah pria yang paling beruntung karena memilikimu." Dannis meraih tangan istrinya itu agar duduk di pangkuannya.
"Terima kasih ya sudah menjaganya untuk pria brengsek ini, aku janji akan selalu membahagiakanmu, mencintaimu dan menyayangimu." ucapnya lagi sembari melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya dan menghirup aromanya yang memabukkan.
"Bang bule, aku tidak akan kenyang kalau harus makan gombalanmu, aku butuh makanan sekarang." sahut Aline sembari memainkan bulu-bulu dada suaminya.
"Astaga susah banget di ajak romantis, iya aku sudah memesannya, sebentar lagi pasti datang."
Tak berapa lama terdengar bel berbunyi, Aline yang masih berada di pangkuan suaminya langsung pindah ke sofa lalu Dannis bangkit dari duduknya untuk membuka pintu tersebut.
Terlihat dua karyawan hotel mendorong trolly saji yang berisi beberapa macam hidangan.
Setelah itu mereka memulai makan siangnya yang sudah terlambat. "Ah laparnya." ujar Aline yang memenuhi piringnya dengan berbagai menu makanan.
"Tumben sayang, makan banyak ?"
"Ini sarapan sekaligus makan siang yang ku rapel." sahut Aline dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Memang muat perutmu, kecil begitu ? "
"Tentu saja muat, elastis tahu. Lagipula jadi istrimu itu harus punya tenaga ekstra, kalau tidak aku bisa mati muda." sahut Aline penuh sindiran, membayangkan bagaimana suaminya semalam yang menggempurnya tanpa rasa capek.
"Mungkin karena kamu terlalu nikmat sayang jadi setiap kali berada di atasmu, tenagaku bertambah berkali-kali lipat." goda Dannis dengan senyuman mesum.
__ADS_1
Aline memutar bola matanya, menatap jengah suaminya yang terlalu bar-bar dalam bicara.
"Ayolah sayang jangan diam seperti itu, semalam kamu juga menikmatinya kan ?"
"Bang bule, please deh jangan di jelasin juga kali." cebik Aline yang masih merasa canggung jika harus membahas masalah ranjang, meski ibunya pernah menasehatinya agar selalu berkomunikasi dengan suaminya dalam hal itu.
"Baiklah maaf, suamimu ini lupa kalau istrinya sangat polos dan masih malu-malu, tapi percaya lah sayang tak lama lagi kamu pasti tidak tahu malu." ucap Dannis yang lolos begitu saja dari bibirnya.
"Bang buleeeeeee." teriak Aline dengan menjejalkan paha ayam dengan garpunya tepat di mulut suaminya.
"Astaga sayang, sepertinya aku harus menghukum mu deh." Dannis bangkit dari kursinya lalu menggendong istrinya dan merebahkannya di atas kasur.
"Dannis ampun, aku hanya bercanda." teriak Aline sembari tertawa ketika suaminya menggelitik seluruh badannya.
"Ayo katakan ampun !!"
"Ampun sayang, ampun."
"Kamu sudah membuatku tegang lagi sayang, kamu harus tanggung jawab." gerutu Dannis ketika bathrobe yang Aline pakaian sudah lepas ikatannya dan memperlihatkan pakaian dalamnya.
"Aku masih lapar Dannis." gerutu Aline ketika suaminya sudah mulai tak mengkondisikan tangannya.
"Tapi kamu harus bertanggung jawab sayang."
"Memangnya kamu hamil, aku harus tanggung jawab." Aline mendengus kesal.
"Bagaimana caranya ?" tanya Aline polos.
"Ya kita harus melakukannya lagi seperti semalam."
"Modus."
"Baiklah, kalau nggak mau. Mungkin kamu lebih senang melihat suamimu tersiksa." Dannis mengiba.
"Memang tidak ada cara lain untuk menidurkannya ?"
"Ada, tapi aku nggak yakin kamu mau mengijinkannya."
"Apa ?"
"Membiarkan wanita lain yang melakukannya." goda Dannis.
"Berani ?" Aline menatap tajam suaminya.
"Nggak sayang, bercanda. Kenapa kamu serius sekali sih."
__ADS_1
"Jadi kalau aku menolak, kamu akan melakukannya dengan wanita lain ?" Aline yang polos sudah mau menangis.
"Astaga sayang, hanya bercanda. Sebelum kita menikah, hampir satu tahun aku tidak pernah melakukan itu dengan wanita manapun."
"Beneran ?"
"Tentu saja, aku selalu bermain solo dan membuang-buang calon presiden di toilet." sahut Dannis absurd.
"Jadi bagaimana kalau kita membuat calon presiden sekarang ?" ucapnya lagi dengan tangannya yang sudah bergerilya kemana-mana hingga membuat istrinya beberapa kali mendesah.
"Jangan calon presiden, kasihan."
"Memang kenapa ?" tanya Dannis tak mengerti.
"Di bully terus."
"Bagaimana kalau kesebelasan sepak bola saja ?"
"Jadi kamu mau, kita punya banyak anak ?"
"Tentu saja sayang, aku sangat sanggup untuk membuatnya setiap hari." sahut Dannis dengan senyum liciknya.
Aline sudah bergidik ngeri, ketika membayangkan mempunyai sebelas anak. "No, aku tidak mau membuat kesebelasan sepakbola ?"
"Lalu ?"
"Bagaimana kalau tim Motogp aja ?"
Dannis mengerutkan dahinya, semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan istrinya.
"Ia tim motogp cukup dua saja, seperti Mark Marques dan Alex Marques atau Vallentino Rossy dan Luca Marini."
"Ya sudah terserah saja, jadi apa kita akan membuatnya sekarang ?" Dannis yang memang tidak terlalu suka dengan balapan kuda besi tersebut hanya mengiyakan saja.
Sekarang di pikirannya hanya memikirkan bagaimana cara meredakan gairahnya yang sudah membuat miliknya terasa sesak di bawah sana, sedangkan istrinya itu sama sekali tidak peka.
"Dannis, kenapa badan mu panas, apa kamu sakit ?"
Dannis yang mendapat sentuhan dari tangan lembut istrinya, sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Ia langsung mengungkung istrinya dan memberikan banyak kecupan di beberapa area sensitifnya hingga siang itu mereka melakukannya percintaannya lagi dan membiarkan makanan yang baru setengah habis itu menjadi dingin.
Menjelang sore hari, Dannis baru beranjak dari tubuh istrinya dan membiarkan wanita kesayangannya itu tidur terlelap karena kelelahan. Setelah membersihkan badannya, Dannis keluar dari kamarnya untuk menemui Sam yang juga menginap di hotel yang sama.
"Berapa ronde boss, seger amat tuh muka ?" celetuk Sam sore itu ketika sedang ngopi bareng di salah satu Cafe yang berada di lobby hotel bintang lima tersebut.
Dannis hanya menjawabnya dengan senyuman penuh arti dan Sam sudah bisa menebaknya bagaimana bahagianya boss sekaligus sahabatnya itu sekarang.
__ADS_1
.
Astaga gara-gara Othor nulis sambil nobar motogp jadi rada nggak nyambung 😁😅😅 masih suasana uwu ya gengs jadi belum tega kasih konflik.