
"Ya Allah ini berkah atau musibah." batin Dannis ketika melihat pemandangan di depan matanya itu.
Tanpa ia sadari sesuatu yang berada di bawah sana sudah menegang, ini akan menjadi berkah jika ia bisa menyalurkan hasratnya tapi sepertinya akan menjadi musibah sepanjang acara nanti.
"Sayang, apa kamu mau mengajakku mandi bareng ?" tanya Dannis dengan tatapan mesum.
Aline yang belum sadar dengan penampilannya, langsung melayangkan protes pada suaminya itu yang diam-diam menjamahnya saat tidur.
"Dannis apa yang sudah kamu perbuat.....Argghhh." Aline berteriak ketika sadar dengan penampilannya sendiri, ia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya dengan rapat.
"Sayang buka pintunya, katanya mau mandi bareng." goda Dannis sambil terkekeh.
Aline yang sedang berada di dalam kamar mandi, langsung merutuki dirinya sendiri. Meskipun mereka sudah menikah tapi ia masih begitu malu, kini wajahnya sudah merah merona seperti kepiting rebus.
Beberapa saat kemudian, Aline keluar dari kamar mandi. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamarnya tapi sama sekali tidak menemukan suaminya disana dan ia merasa lega.
Tak berapa lama terdengar bel berbunyi, Aline yang hanya memakai bathrobe langsung melangkah untuk membuka pintu tersebut.
"Sore mbak Aline, sudah waktunya untuk di rias." ucap salah satu pegawai salon tersebut.
"Baiklah, ayo masuk."
Aline segera duduk di depan cermin, membiarkan penata rias tersebut untuk bekerja.
Setelah selesai dengan riasannya, ia memakai gaun pengantin berwarna putih. Terlihat pas di badannya, apalagi bagian punggungnya yang terbuka membuatnya terlihat sangat anggun dan seksi malam itu.
"Hmmm, mbak ini bagaimana menutupinya ?" tanya Aline malu-malu ketika memperlihatkan tanda kemerahan di sekitar dadanya.
Kedua penata rias itu saling berpandangan lalu tersenyum. "Kita akan menutupinya dengan foundation mbak Aline."
"Oh baiklah, terima kasih." ucap Aline lega.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya kedua penata rias tersebut segera undur diri.
Aline yang masih berada di depan cermin, nampak mengagumi hasil riasan pegawai Ibunya itu.
"Dannis darimana saja ?" tanya Aline yang melihat suaminya baru masuk dan sudah berpakaian rapi dengan stelan tuxedo berwarna senada dengan gaunnya.
"Dari kamar Sam." sahut Dannis yang langsung memeluknya dari belakang dan membenamkan kepalanya di ceruk leher istrinya.
"Malam ini kamu cantik sekali sayang, aku tidak rela jika kamu di pandangi oleh para tamu undangan." ucapnya lagi.
"Bang bule geli nah." teriak Aline ketika merasa lehernya di kecupi oleh suaminya.
"Sayang kenapa pakaian mu sangat terbuka begini, apa kamu mau memamerkan tubuhmu ini pada Laki-laki lain." protes Dannis kesal.
"Ini gaun pilihan Papa dan Mami, bukannya mereka sudah memperlihatkan padamu sebelumnya."
"Aku tidak tahu sayang."
"Lalu bagaimana, sudah tidak ada waktu lagi untuk memesan gaun lain. Lagipula aku sangat menyukai ini sangat pas di badanku." ucap Aline dengan nada sedih.
__ADS_1
Dannis yang melihat wajah istrinya dari pantulan cermin, nampak tersenyum jahil. "Baiklah aku mengijinkan mu memakai ini." kata Dannis.
"Benarkah ?" tanya Aline girang.
"Tapi ada syaratnya."
"Apa ?"
"Janji dulu, tidak boleh protes."
"Kamu jangan macam-macam." Aline langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Sayang apanya yang mau kamu tutupi. Tadi waktu kamu tidur siang, aku sudah melihat semuanya. Hmmm, sangat pas di tangan ku." ucap Dannis dengan senyum menyeringai.
"Dasar bule mesum."
"Mesum sama istri sendiri halal sayang, lagipula sepertinya tadi siang kamu sangat menikmatinya."
"Mana ada, aku tidak ingat. Lagipula kamu lancang sekali melakukan itu tanpa seijinku." Aline mendengus kesal.
"Tidak ingat tapi mendesah terus, lagian ya kamu itu istriku jadi dari ujung kaki sampai rambut itu milikku." sindir Dannis.
"Iya aku tahu, jadi apa syaratnya ?"
"Tapi janji jangan protes."
"Iya janji." sahut Aline lirih.
"Kamu mau ngapain ?"
"Katanya janji nggak protes."
"Ya baiklah, aku selalu terlihat bodoh di depan mu." gerutu Aline yang membuat Dannis terkekeh.
"Apapun yang terjadi sebelum aku suruh buka mata, jangan buka ok ?"
"Hmm."
Setelah melihat istrinya itu memejamkan matanya. Dannis yang sedari tadi berdiri di belakang Aline, kini menurunkan wajahnya tepat di punggung istrinya yang terbuka.
Dannis memberikan beberapa kecupan atau lebih tepatnya hisapan hingga meninggal beberapa bekas kemerahan disana.
Aline tampak menggigit bibir bawahnya agar tidak ada lenguhan-lenguhan yang keluar dari sana, mendapat sentuhan seperti itu membuatnya merasa ada gelanyar aneh seperti sengatan listrik yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"Baiklah kamu bisa membuka mata sekarang." ucap Dannis dengan senyum puas di wajahnya ketika melihat hasil mahakaryanya.
"Kenapa kamu menciumiku ?" protes Aline.
"Ingat nggak boleh protes."
"Ya baiklah." cebik Aline tanpa ia sadari ada sesuatu di punggungnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari kamar hotel menuju Ballroom dimana akan di adakan resepsi pernikahan.
Mereka melangkahkan kakinya masuk ke dalam tempat tersebut bak seorang putri dan pangeran, banyak pasang mata yang merasa iri melihat keserasian mereka bahkan ada juga yang senyum-senyum sendiri ketika melihat punggung mempelai wanitanya.
"Dannis, apa yang kamu lakukan pada anakku. Sudah ku bilang jangan menyentuhnya." bisik Austin ketus pada anak menantunya itu.
"Saya belum menyentuhnya Pa, Papa lihat sendiri Aline masih bisa bebas bergerak." sahut Dannis dengan berbisik juga.
"Lalu itu apa di punggungnya, jangan bilang itu nyamuk berambut yang melakukannya." bisik Austin lagi dengan kesal.
"Dannis tidak suka Pa kalau Aline memakai baju terbuka seperti itu. Jadi Dannis beri tanda biar semua laki-laki yang hadir di sini tahu kalau dia hanya milikku."
"Baiklah terserah kamu." Austin tidak bisa berkata-kata lagi karena sifat posesif anak menantunya itu sama seperti dirinya dan ia bersyukur menantunya itu sangat mencintai putrinya.
"Baiklah, Papa menghampiri para tamu dulu." Austin menepuk punggung Dannis lalu pergi meninggalkannya.
"Hey boy." terlihat laki-laki paruh baya sedang menepuk punggung Dannis.
Merasakan punggungnya di sentuh, Dannis segera berbalik badan
"Papa ?" ucap Dannis terkejut.
"Apa kamu tidak suka Papa mu datang Nak ?" tanya tuan Nicholas.
"Tentu saja senang Pa." Dannis memeluk Ayahnya itu.
"Bukankah Papa sedang sakit ?"
"Jadi kamu nyumpahin Papa mu cepat mati ?"
"Jadi Papa sudah bohong kalau sakit ?"
"Tentu saja, sebagai laki-laki kamu terlalu lamban. Kalau Papa tidak pura-pura sakit mungkin kalian saat ini belum menikah ya meski ada campur tangan Tuhan juga." ujar Tuan Nicholas.
"Om." Aline yang baru datang langsung memeluk Ayah mertuanya itu.
"Apa kamu tidak mau memanggil ku Papa ?"
"Tentu saja Papa." sahut Aline.
"Kakak ipar selamat ya, kamu sangat cantik sekali." puji Leonel lalu mengulurkan tangannya, nampak raut kekecewaan di balik senyumnya itu.
"Terima kasih sudah jauh-jauh datang." sahut Aline yang juga menyambut uluran tangan adik iparnya itu.
"Sudah jangan terlalu lama." ucap Dannis posesif, lalu ia segera menggenggam tangan istrinya itu. Dannis sangat tahu kalau adik angkatnya itu dari dulu sangat tertarik pada istrinya.
Beberapa saat kemudian terlihat seorang laki-laki berparas tampan tegap dan tinggi melangkahkan kakinya menghampiri mereka.
"Cil, selamat ya." Dewa mengulurkan tangannya, bukannya menyambutnya justru Aline langsung memeluknya dan itu membuat Dannis sangat geram.
.
__ADS_1
"*Duh, Bli Dewa kenapa nongol lagi bikin ga bisa move on nih😊***🤣**