Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Bertanam saham


__ADS_3

Setelah menempuh 18 jam penerbangan, kini Dannis dan Aline telah sampai di Jerman. "Bang bule, bagaimana kalau kita tinggal rumah Papa saja ?" tanya Aline ketika baru keluar dari bandara.


"Nggak sayang, aku nggak mau bulan madu kita di ganggu sama pak tua itu."


"Beliau Ayahmu sayang, bisa nggak sih sopan sedikit meski hanya sekedar mengghibahnya."


"Memang kenyataannya dia sudah tua."


"Dan berterima kasih lah kamu sudah lahir di dunia ini, karena pria tua itu sudah menanam sahamnya."


"Iya cerewet, aku jadi tak sabar untuk menanam saham bersama mu." sahut Dannis sembari merayapkan tangannya kemana-mana.


"Bang bule, ih geli tahu." protes Aline.


"Sudah 18 jam aku menahannya sayang." sahut Dannis yang mulai mengecupi leher istrinya.


"Kalian berdua memang nggak ada akhlaknya." gerutu Sam dari balik kemudi ketika melihat tingkah bossnya dari balik kaca spion.


"Makanya nikah, biar bisa melakukannya dimanapun. Ya kan sayang ?" cibir Dannis.


Mendengar cibiran Dannis, Sam hanya tersenyum penuh arti.


"Sepertinya kita harus ke kantor dulu boss, ada beberapa berkas yang harus boss tanda tangani." ucap Sam dengan senyum jahilnya.


"Astaga Sam, kamu merusak suasana saja. Tidak bisa kah menunggu besok saja." protes Dannis kesal.


"Urgent boss."


"Ck." Dannis mendengus kesal, niat hati mau bertanam saham bersama istrinya harus tertunda.


"Nggak apa-apa, aku temani ke kantor." bujuk Aline.


"Terima kasih sayang, apa kamu tidak capek hmm ?" tanya Dannis pada istrinya.


"Nggak. Bang bule, apa nanti sore aku boleh main ke rumah Sofia ?" tanya Aline kemudian.


"Besok saja sayang, urusan kita belum selesai."


"Baiklah."


Setelah sampai, Dannis dan istrinya segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantornya.


"Apa seperti ini cara kalian bekerja, cepat bubar sebelum ku tendang keluar dari kantor ini ?" teriak Dannis murka ketika melihat beberapa karyawan saling ngobrol di lobby padahal jam makan siang sudah lewat sedari tadi.


"Shit." teriak Dannis lagi.


Aline yang berada di sisih suaminya seketika berangsur mundur. Meski dulu pernah menjadi sekretarisnya, tapi ia tidak pernah melihat kemarahan Dannis seperti saat ini.


Sepertinya kedatangan Dannis yang secara tiba-tiba, mengagetkan para karyawannya. Hingga mereka kalang kabut masuk ke dalam ruangannya masing-masing.


"Kenapa tangan mu tiba-tiba dingin sayang, apa kamu sakit ?" tanya Dannis dengan melembutkan suaranya, ia menggenggam tangan istrinya ketika berjalan menuju lift.


"Eh, nggak." sahut Aline yang masih shock dengan kemarahan suaminya tadi.


Meski bukan marah padanya, tapi siapapun yang mendengar teriakan Dannis dengan suara baritonnya yang menggelegar, pasti akan ketakutan dengan sendirinya.


Ketika sampai di dalam ruangannya, Dannis di suguhkan dengan tumpukan berkas yang menggunung. Sepertinya ia harus menunda bulan madunya kali ini.

__ADS_1


Selang berapa saat terdengar ketukan pintu dari luar, lalu David sekretarisnya itu masuk.


"Maaf tuan ada tamu."


"Siapa ?" tanya Dannis tapi matanya masih fokus dengan berkas di tangannya.


"Tuan Armand."


"Mau apa dia ?"


"Sejak kepergian anda, beliau sering mencari anda."


"Suruh masuk !!" perintah Dannis.


"Baik tuan, permisi."


"Bang bule, sepertinya kamu sangat sibuk. Apa lebih baik aku pulang duluan ?" tanya Aline yang sedang duduk di sofa sembari bermain ponsel.


"Tunggu sebentar ya sayang, aku bisa menyelesaikannya besok sisanya."


"Hmmm, baiklah."


Tak berapa lama pintu ruangannya terbuka, nampak seorang laki-laki tampan masuk ke dalam. "Hey bro, bagaimana kabarnya ?"


"Ya seperti yang kamu lihat." sahut Dannis sembari memeluk sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu.


"Apa masih sering main di club, aku dengar banyak barang baru disana ?" tanya Armand.


"Entahlah, aku sudah lama tidak berminat kesana."


"Wow, ternyata ada wanita cantik disini." Armand bermain mata dengan Dannis.


"Sudah tobat bro. Kapan nikah, kok nggak kasih kabar ?"


"Bukan urusanmu, sekarang katakan kamu mau ngapain kesini ?"


"Sabar bro, belum juga kenalan dengan nyonya Bryan. Halo, aku Armand sahabat sekaligus teman bisnisnya Dannis." Armand mengulurkan tangannya.


Melihat tangan Armand yang sedang menunggu sambutan dari istrinya, Dannis langsung menepisnya. "Nggak usah pegang-pegang tangan istriku, kalau tidak mau kehilangan satu tangan mu."


"Issshhh sadis, biasanya kita juga berbagi."


"Itu beda, ini adalah separuh nyawaku. Kalau kamu berani menyentuhnya, ku pastikan kamu pulang tinggal nama." ancam Dannis.


"Oke, oke bro. Tenang saja, ngomong-ngomong ada proyek nih kalau mau kita join." ujar Armand yang merasa ngeri dengan ancaman sahabatnya itu.


Sepanjang meeting, Armand sesekali melirik ke arah Aline yang masih sibuk dengan ponselnya. "Cantik, tapi kenapa sepertinya tidak asing. Aku harus cari tahu." gumam Armand.


Dannis merasa jengah ketika sahabatnya itu diam-diam memperhatikan istrinya, jadi ia segera mengakhiri meeting tersebut.


"Oke bro, jadi kita deal ya." ucap Armand yang masih tak beranjak dari duduknya.


"Baiklah, sekarang pergilah aku masih banyak pekerjaan."


"Astaga, kamu selalu mengusirku." Armand bangkit dari duduknya.


"Baiklah nyonya Bryan saya permisi, senang bertemu denganmu."

__ADS_1


"Sama-sama tuan." Aline yang masih duduk nampak tersenyum pada Armand.


"Cantik." batin Armand kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Sayang." panggil Dannis ketika baru mengantar sahabatnya itu keluar.


"Hmm."


"Aku nggak suka kamu tersenyum seperti tadi." ucap Dannis yang baru mendudukkan badannya di samping istrinya.


"Bukannya kita harus ramah sama tamu, apalagi dia rekan bisnismu kan." sahut Aline


"Tapi bukan sama Armand, dia itu brengsek."


"Lalu apa bedanya denganmu ?" sindir Aline.


"Ya, aku juga pria brengsek." Dannis nampak kecewa ketika istrinya masih saja menyinggung masa lalunya.


"Bercanda sayang, maaf ya."


Cup


Aline mendaratkan ciumannya di bibir suaminya, "Nggak marah lagi kan ?"


"Manis, apa aku boleh merasakannya lagi ?"


"Kebiasaan, cepatlah selesaikan pekerjaanmu biar cepat pulang."


"Sebentar saja sayang."


"Janji ?"


"Hmm, nggak janji." ucapnya lalu mulai mengecup bibir ranum istrinya, tidak puas hanya dengan mengecup, ia memperdalam ciumannya. Suara decakan karena pertukaran lidah mereka memenuhi ruang kerja tersebut.


"Sepertinya, kita harus lanjutin di dalam deh sayang." ucap Dannis dengan serak, ketika baru memberi beberapa kissmark di leher istrinya.


Aline yang sudah di buat kacau, hanya pasrah ketika suaminya itu membopongnya masuk ke dalam ruangan di balik lemari buku tersebut.


Dan siang itu terjadilah penanaman saham pertama mereka di kantor, berharap setelah itu akan tumbuh benih-benih bayi yang lucu.


Di tempat lain, di kediaman tuan Nicholas Bryan. Laki-laki paruh baya itu langsung menutup laptopnya dengan keras ketika tak sengaja melihat layar cctv di salah satu ruangan di kantornya.


"Anak brengsek, sudah kembali tapi sama sekali tak mengunjungiku." gerutu tuan Nicholas kemudian berlalu pergi dari ruangannya dan melangkahkan kakinya menuju taman belakang.


Sesampainya di taman, ia duduk sembari memberi makan ikan-ikannya di kolam. Kemudian mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.


"Siang, Om." sahut Sam dari seberang telepon.


"Beritahu anak kurang aja itu, kalau nanti malam tidak ke rumah jangan harap namanya ada di dalam daftar warisan." perintah tuan Nicholas.


"Baik Om, saya akan memberitahunya sekarang." jawab Sam lagi.


"Tunggu, jangan beritahu sekarang !!"


"Kenapa, Om ?"


"Anak brengsek itu sedang menanam saham, kalau sampai tidak jadi kamu yang akan saya salahkan." ancam tuan Nicholas.

__ADS_1


"Baik Om, nanti sore saja saya memberitahunya." sahut Sam lalu menutup teleponnya.


Sam yang sedang bingung, terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Perasaan boss tidak ada rencana menanam saham dimanapun, oh mungkin ini tentang kerja samanya dengan Armand." batin Sam lalu kembali fokus menatap layar komputernya.


__ADS_2