Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Menggoda


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju Apartemennya, Dannis nampak mengumpat beberapa kali ketika mengingat kejadian di Club tadi. Dia bukannya marah dengan Armand sahabatnya itu tapi melihat kedua wanita penggoda tadi membuatnya merasakan penyesalan akan hidupnya dulu.


Entah kenapa saat melihat para wanita-wanita ****** tersebut ia sangat membencinya, seperti mengorek lukanya kembali. Saat ini ia sangat bersyukur sudah menikah dan mempunyai istri yang sangat ia cintai.


Sesampainya di Apartemen Dannis segera naik lift, baru tadi siang ia meninggalkan istrinya ke kantor tapi malam ini ia sudah sangat merindukannya.


"Sayang." panggil Dannis ketika baru membuka pintu Apartemennya.


"Sudah pulang, katanya ada meeting ?" tanya Aline sembari menghampiri suaminya.


"Astaga sayang, apa kamu berniat untuk menggodaku ?" tanya Dannis ketika melihat istrinya itu memakai lingerie yang terlihat seksi.


"Menurutmu ?" goda Aline yang kini sudah mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.


Tak mau menyia-nyiakan kesempatan Dannis langsung melahap bibir istrinya dengan rakus, sepertinya istrinya itu juga sangat merindukan seperti dirinya.


"Dannis, kamu mandi dulu sana !!" ujar Aline ketika suaminya baru melepaskan panggutannya.


"Hmmm, baiklah. Tunggu ya jangan tidur dulu." sahut Dannis lalu bergegas ke kamar mandi.


Bayangan akan bercinta dengan panas bersama istrinya,membuat gairahnya langsung naik. Dia buru-buru membersihkan dirinya, setelah itu ia bergegas keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggulnya.


"Astaga sayang, kamu sengaja mengerjaiku ya." gerutunya ketika melihat istrinya sudah terlelap tidur dengan hembusan napas yang teratur.


Dannis segera memakai celana boxernya, dengan bertelanjang dada ia segera masuk ke dalam selimut dan merengkuh istrinya ke dalam pelukannya. Setelah meredakan tubuh bagian bawahnya baru ia bisa terlelap tidur.


Sedangkan ditempat lain nampak Armand dan Leon sedang menghabiskan malam di sebuah bar.


"Jadi kamu tadi ketemu dengan kak Dannis ?" tanya Leon sembari menyesap wine di gelasnya.


"Dia berencana membatalkan kerja samanya bersama ku." keluh Armand dengan senyum sinisnya.


"Kalian ada masalah ?" tanya Leon penasaran, karena yang ia tahu mereka bersahabatan dari dulu.


"Aku pikir dia masih seperti dulu, ternyata aku salah."


"Kenapa ?"


"Dia terlihat bodoh sejak menikah bahkan dia menolak model papan atas yang sudah ku booking." celetuk Armand.


"Aku juga pasti akan menjadi bodoh, jika kakak ipar yang menjadi istriku." sahut Leon.


"Whattt, jadi wanita itu adalah Aline ?"

__ADS_1


"Hmmm."


"Pantas wajahnya tidak asing, tapi dia terlihat sangat cantik tanpa kacamatanya." ucap Armand ketika mengingat sosok Aline waktu bertemu di kantor Dannis kemarin.


Meski Armand berteman dengan Dannis dari kecil, tapi ia lebih dekat dengan Leon. Karena memiliki hobby yang sama yaitu race hingga Leon pun sering curhat masalah pribadi dengannya.


"Aku sudah mencintainya bertahun-tahun tapi dalam sekejap kakakku yang mendapatkannya." ucap Leon dengan senyum sinisnya.


"Lupakan dia, kamu pasti akan mendapatkan yang lebih baik lagi !!" Armand memberikan semangat pada Leon dengan menepuk-nepuk bahunya.


"Akan ku coba." sahut Leon.


"Meski akan sangat sulit." batinnya lagi.


"Bagaimana kalau kita turun ke sana, pasti akan menyenangkan ?" Armand menunjuk lantai dansa, dimana terlihat penari striptis meliuk-liukkan badannya menggoda para pemburu napsu.


"Ayo." Leon bangkit dari duduknya dan di ikuti oleh Armand yang memang menggilai wanita-wanita cantik.


.


.


Keesokan harinya Aline mengerjapkan matanya ketika merasakan ada sentuhan di wajahnya. "Dannis kamu sudah bangun ?" Aline yang baru membuka matanya langsung melihat suaminya yang sedang memandanginya.


"Pagi sayang." ucap Dannis.


"Nggak apa-apa kita bisa melakukannya sekarang."


"Melakukan apa ?" Aline yang masih belum sepenuhnya sadar nampak tidak mengerti.


"Melakukan yang semalam tertunda."


"Apa ?" Aline bingung.


"Astaga sayang, semalam kamu memakai pakaian seksi seperti ini untuk apa kalau bukan mau menggoda ku ?"


"Ini Mami yang memberikannya, lalu semalam di suruh mencobanya setelah itu aku malas melepaskannya lagi." sahut Aline jujur.


Mendengar perkataan istrinya, Dannis terlihat kecewa. Ia berharap istrinya itu berinisiatif menggodanya, tapi sepertinya ia harus lebih sabar lagi karena istrinya itu benar-benar polos.


"Baiklah, aku akan bersiap-siap ke kantor." Dannis beranjak dari tidurnya, ia berharap bisa membuat Dannis junior pagi ini tapi sepertinya istrinya itu kurang peka.


"Bang bule ini masih pagi banget, apa kita tidak bisa ngobrol-ngobrol dulu di sini." ucap Aline sembari menahan tangan suaminya agar tidak pergi.

__ADS_1


Merasa mendapat lampu hijau, Dannis segera masuk kedalam selimut lagi. "Apa kamu begitu merindukan ku, hmm ?" tanya Dannis sembari mencubit pipi istrinya dengan gemas.


"Tentu saja dan aku merasa kesepian ketika berada di Apartemen ini sendirian." keluh Aline.


"Kamu bisa mengunjungi ku ke kantor." ucap Dannis.


"Apa aku boleh bekerja ?"


"No, tabunganku tidak akan habis tujuh turunan sayang jadi untuk apa kamu bekerja." protes Dannis.


"Tapi aku bosan ketika kamu tinggal kerja. Lagipula aku hanya bekerja di kantor Papa bersama Om Wira." bujuk Aline.


Dannis masih diam, ia sedang mempertimbangkannya tapi istrinya itu sudah naik ke atas tubuhnya. Meski dengan menahan rasa malu, Aline memberinya kecupan-kecupan pada dada bidang suaminya serta lehernya hingga meninggalkan tanda kemerahan di beberapa tempat.


"Apa aku harus menggodamu seperti ini dulu baru memberiku ijin ?" Aline masih melancarkan aksinya.


Dannis yang masih terkejut dengan ulah istrinya nampak tersenyum geli, ia tidak menyangka istrinya itu bisa senakal ini meski masih terlihat kaku.


"Astaga sayang, dengan memandangmu saja aku sudah menginginkan mu apalagi kamu seperti ini." Dannis segera membalikkan tubuh istrinya hingga ia yang sekarang berada di atas.


Dengan sekali tarikan, lingerie yang istrinya pakai langsung terlepas dan di lemparnya ke sembarangan arah.


Dan pagi itu mereka memulai paginya dengan percintaan panasnya hingga sang mentari mulai beranjak dari peraduannya.


"Sayang pagi ini aku ada meeting, kalau tidak aku akan membuat mu kelelahan hingga melupakan untuk pergi bekerja." gerutu Dannis sembari menyisir rambutnya di depan cermin.


"Aku sangat rindu bekerja." sahut Aline yang sedang duduk di tepi ranjang sembari memakai heelsnya.


"Sini biar ku pakai kan !!" Dannis duduk berjongkok dan mengambil sepatu di tangan istrinya lalu memakaikannya.


"Nanti siang kita makan bersama dan sorenya tunggu aku jemput." ucapnya lagi dengan tangannya masih sibuk mengaitkan tali heels tersebut.


"Kalau kamu sibuk nggak apa-apa aku bisa makan siang sendiri atau pulang sendiri, aku nggak mau mengganggu pekerjaanmu." ucap Aline.


"Aku sangat khawatir kalau kamu bekerja." ujar Dannis yang kini sudah duduk di sebelah istrinya.


"Aku cuma di kantor, nggak kemana-mana." Aline mencoba memberi pengertian pada suami posesifnya itu.


"Tetap saja khawatir, aku berharap kamu cepat hamil dan tidak kerja lagi." gerutu Dannis.


cup


Aline memberikan sebuah kecupan di bibir suaminya agar laki-laki itu tidak terus-terusan menggerutu.

__ADS_1


"Sayang kamu jangan memancingku lagi." Dannis menarik tangan istrinya dan meletakkannya di antara pahanya yang sudah menegang.


"Danniiiiiiisss." Aline berteriak ngeri lalu berlari keluar kamar dengan membawa tasnya, Dannis yang melihat tingkah istrinya langsung tertawa puas.


__ADS_2