
Sore itu Dannis memutuskan untuk menemui mantan kekasihnya Cleo di Apartemennya, banyak penjelasan yang ingin ia dengar dari wanita yang sudah menghancurkan hidupnya itu.
Ia sudah beberapa kali menghubungi Aline, tapi ponselnya selalu nonaktif. "Lebih baik aku menemui wanita itu dulu, Aline pasti akan cepat pulang jika aku tidak jadi datang lagi pula ini cuaca sangat mendung tidak akan bagus untuk melihat sunset." gumam Dannis sambil melajukan mobilnya menuju Apartemen Cleo.
Beberapa saat kemudian Dannis sudah berada tepat di depan pintu Apartemen mantan kekasihnya itu. Rahangnya tampak mengeras dan ada kilatan marah di matanya.
Beberapa kali ia memencet bel, tapi wanita itu tak kunjung membukakan pintu. Sebenarnya ia masih hafal passcode Apartemen tersebut tapi ia tidak mau lancang membukanya tanpa seijin yang punya tempat.
"Sayang." seru Cleo ketika baru membuka pintu Apartemennya. Sepertinya wanita itu baru selesai mandi, ia hanya memakai bathrobe dan rambut yang ia biarkan basah.
Dannis masih diam tak bergeming dari tempatnya berdiri, wanita yang berada di depannya kini sangat berbeda dengan wanita lima tahun yang lalu yang masih polos. Kini Cleo lebih dewasa dan anggun.
"Ayo masuk !!" ajak Cleo, ia menarik tangan Dannis agar mengikutinya masuk ke dalam Apartemennya.
"Aku merindukanmu sayang." ucap Cleo seraya memeluk Dannis tapi laki - laki itu segera menahan dengan tangannya.
"Jangan berani menyentuhku !!" ucap Dannis dingin.
"Sayang apa kamu tidak merindukanku ?" tanya Cleo, ia nampak kecewa dengan penolakan laki - laki yang dulu pernah mencintainya itu.
"Setelah lima tahun kamu pergi tanpa alasan yang jelas, sekarang kamu bertanya aku merindukan mu hah. Justru saat ini aku sangat membencimu." teriak Dannis meluapkan emosinya yang ia pendam selama bertahun - tahun.
"Sayang aku minta maaf." sahut Cleo dengan memohon ia memegang lengan Dannis berharap ada secercah kesempatan untuknya.
"Sekarang apa yang bisa kamu jadikan alasan hah ?" bentak Dannis penuh emosi.
"Aku, aku...." suara Cleo seakan tercekat ketika akan berbicara.
"Apa hah, apa. Kamu tidak bisa menjawabnya kan ?" tanya Dannis dengan nada tinggi hingga membuat wanita itu menunduk.
"Sekarang jangan pernah muncul di hadapan ku lagi, karena aku sangat membencimu !!" ujar Dannis kemudian ia berlalu meninggalkan wanita itu yang masih dengan isak tangisnya.
Namun baru beberapa langkah, Cleo memanggilnya kembali. "Dannis, sebenarnya aku dulu pergi karena ayahmu." ucap Cleo yang seketika membuat langkah Dannis langsung terhenti lalu ia berbalik badan lagi.
"Apa ?"
"Iya, ayah mu." sahut Cleo.
__ADS_1
"Apa ini sebuah lelucon hah ?" tanya Dannis dengan sinis.
"Ayahmu tuan Nicholas Bryan telah mengusirku dari negara ini, bahkan sebelum aku bisa bertemu denganmu." ujar Cleo menjelaskan.
"Ayahku tidak mungkin melakukannya." sentak Dannis menatap tajam pada wanita di depannya itu.
"Tuan Nicholas bilang kita tidak sepadan, aku terlalu miskin untuk bersanding denganmu. Beliau mengancam akan menghancurkan keluargaku jika aku tidak mengikuti kemauannya." tutur Cleo
"Lalu ?"
"Lalu beliau memberiku beberapa uang agar aku dan keluargaku meninggalkan negara ini." sahut Cleo dengan isak tangisnya.
Dannis nampak tidak mempercayai apa yang sudah dia dengar, tidak mungkin ayahnya melakukan hal itu. Disaat dia sedang berperang dengan pikirannya tiba - tiba Cleo sudah mendekat dan langsung memeluknya.
Ketika wanita itu memeluknya tiba - tiba terlintas bayangan Aline di pikirannya, seketika ia mendorong tubuh Cleo agar menjauh.
"Kenapa sayang, saat ini aku masih sangat mencintaimu seperti dulu ?" ujar Cleo dengan kecewa lagi - lagi ia mendapat penolakan dari Dannis.
"Sejak kamu pergi, aku anggap hubungan kita sudah berakhir." ucap Dannis.
"Apa yang kamu lakukan, kamu sudah gila ?" tanya Dannis sambil merebut benda tajam itu dari tangan Cleo.
"Aku mencintaimu Dannis, aku mencintaimu." ujar Cleo dan itu membuat Dannis merasa tidak tega dengan wanita tersebut.
Di tuntunnya Cleo kearah sofa dan mendudukkannya disana, wanita itu masih memeluknya dengan erat dan isak tangisnya masih sesekali terdengar.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku." ucap Cleo.
"Istirahatlah, aku akan menemanimu disini." sahut Dannis.
"Aku tahu sudah tidak ada cinta di hatimu buatku, tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu." batin Cleo dalam hati.
🍁🍁🍁
Sore itu hari mulai gelap. Karena cuaca mendung dan berkabut, sunset yang indah gagal Aline saksikan. Kini ia sedang duduk di pinggir pantai melihat deru ombak yang tak kunjung usai.
Meski hari mulai gelap ia masih tak bergeming dari tempat itu, ia masih berkeyakinan kalau Dannis akan datang. Karena selama ini Dannis selalu tepat waktu dan tidak pernah ingkar jika membuat janji. Justru dia menyalahkan kebodohannya yang melupakan untuk mencharge ponselnya dahulu sebelum pergi ke tempat ini.
__ADS_1
Malam semakin larut jarum jampun sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Aline belum juga beranjak dari duduknya. Matanya masih mengawasi deburan ombak, kini hatinya mulai bimbang. Apa dia sudah salah menjatuhkan hatinya pada Dannis, bahkan sampai sekarangpun laki - laki itu tak kunjung menemuinya padahal jarak dari kantor ke pantai ini tidaklah jauh.
Udara Malam yang semakin dingin bercampur angin laut membuat badannya sedikit menggigil. Entah karena kedinginan atau hatinya memang sedang kecewa, kini tak terasa air matanya sudah jatuh perlahan membasahi pipinya.
Disaat dia sedang meratapi perasaannya, ada seseorang yang sedang melangkah ke arahnya.
"Bodoh, kenapa sudah selarut ini masih disini ?" ujar Sam seraya menyelimuti Aline dengan jasnya.
Aline menengadahkan kepalanya berharap itu adalah Dannis. "Sam ?" sahut Aline nampak terkejut, bagaimana bisa laki - laki yang bukan ia harapkan justru muncul di hadapannya.
"Kamu ngapain disini ?" tanya Sam masih dengan posisi berdiri.
"Lagi ingin sendiri." ucap Aline beralasan.
"Kamu sedang tidak menunggunya kan ?" tanya Sam lagi.
"Tidak, aku hanya ingin sendiri. Lagipula dia sedang sibuk meeting kan." ujar Aline dengan sesekali melempar kerikil ke bibir pantai.
"Sudah dari sore dia pulang meeting." sahut Sam, kini ia duduk di sebelah Aline.
"Padahal dari sore dia sudah pulang, tapi kenapa tidak langsung kesini. Tidak tahukah dia aku menunggunya hingga selarut ini." gumam Aline.
"Kenapa kamu sedih, apa ada masalah ?" tanya Sam, ditatapnya gadis itu yang nampak berkaca - kaca dan wajahnya begitu pucat.
"Tidak, sepertinya angin terlalu kencang disini. Hingga pasirnya beterbangan mengenai mataku." sahut Aline beralasan.
"Dasar bodoh jika mau menangis, menangislah. Sahabatmu ini siap meminjamkan bahunya." ujar Sam.
"Siapa juga yang mau menangis." sahut Aline, ia memaksakan senyumannya.
"Gadis bodoh." ucap Sam lalu ia menyandarkan kepala Aline di bahunya.
Lagi - lagi Aline merasakan kenyamanan disamping laki - laki ini, seketika air matanya jatuh tanpa bisa ia bendung.
"Dasar bodoh kenapa aku begitu cepat percaya dengan laki - laki itu." gumam Aline.
"Menangislah jika itu akan membuatmu lebih baik." Sam menepuk - nepuk bahu Aline untuk menenangkannya.
__ADS_1