
Dua minggu sudah berlalu sejak waktu yang di berikan oleh Austin. Aline yang tadinya menolak keras untuk menikah dengan Dannis mantan bossnya yang terkenal playboy itu kini ia merasakan hatinya mulai bimbang.
Sikap lembut serta perhatian yang Dannis berikan padanya selama ini, sepertinya sudah mulai meruntuhkan pendiriannya. Ibarat peribahasa sekeras - kerasnya batu jika terus - menerus di tetesi air maka akan retak juga, begitu juga dengan Aline.
"Ada apa, masalah serius ?" tanya Sofia ketika mereka sedang ngopi di salah satu Coffee shop dekat kantornya, karena tak biasanya sahabatnya itu ngajak nongkrong di jam kerja apalagi di pagi hari.
"Lebih dari serius." sahut Aline dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Ck. Serius apanya wajah kamu saja lempeng kayak jalan tol gitu." Sofia berdecak kesal. Ia merasa di kerjai karena disaat dia masih enak tidur Aline menghubunginya karena ia bilang sedang ada masalah.
"Sepertinya aku mulai menyukainya." ucap Aline dengan lirih.
"Siapa ?" tanya Sofia ia nampak mengerutkan dahinya.
"Dannis." sahut Aline malu - malu.
"Makan tuh omongan sendiri, makanya kalau benci jangan keterlaluan sekarang kamu jadi cinta benerankan. Sudah ku bilang kamu tidak akan tahan dengan pesonanya." ucap Sofia dengan nada ejekan sekaligus menertawakan sahabatnya itu.
"Tapi aku bingung." ujar Aline, kali ini wajahnya terlihat sendu.
"Kenapa, kamu masih meragukan kesetiaannya ?" tanya Sofia.
"Bukan."
"Lalu ?"
"Aku masih kecewa kalau mengingat dia yang dahulu, meski sekarang dia sudah berubah tapi kejadian di kantor waktu itu akan selalu membekas di ingatanku." ucap Aline.
"Astaga sahabatku yang naif, sudah berapa kali ku bilang jaman sekarang tidak ada laki - laki perjaka kecuali tuh bayi yang baru lahir." jawab Sofia yang merasa gemas dengan kepolosan sahabatnya itu.
"Lalu aku harus bagaimana, waktuku tinggal sebentar untuk memutuskan menikah atau tidak." sahut Aline.
"Ikuti saja kata hatimu. Semua orang punya masa lalu kok, kalau dia berniat untuk berubah kenapa tidak kamu maafkan. Tuhan saja Maha Pemaaf." tutur Sofia.
"Cih tumben bijak." celetuk Aline dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Ck. Dasar teman ******, besok - besok jangan ganggu aku pagi - pagi lagi ya." Sofia berdecak kesal melihat kelakuan sahabatnya yang suka sekali menggodanya.
"Uh tayang Jangan marah - marah nanti cepat tua." seru Aline seraya memeluk sahabatnya itu.
Setelah mendapatkan keyakinan dari sahabatnya itu, kemudian Aline memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut karena matahari sudah mulai meninggi dan Sofia yang seorang designer dia pergi ke butiknya yang juga tak jauh dari tempat tersebut.
Kring
Kring
__ADS_1
Terdengar suara dering ponsel, Aline yang sedang sibuk di depan layar monitornya segera melihat siapa yang menghubunginya. Nampak senyumnya mengembang ketika melihat layar ponsel tersebut.
"Sayang, lagi sibuk." sapa Dannis dari ujung telepon.
"Lumayan." jawab Aline.
"Nanti makan siang bareng yuk !!" ajak Dannis.
"Sepertinya tidak bisa, nanti siang aku ada meeting di luar sekalian makan siang dengan klien." jawab Aline.
"Sayang sekali, padahal aku lagi kangen." ujar Dannis dengan nada memelas.
"Jangan gombal deh, bukannya semalam kita sudah ketemu." seru Aline.
"Bagaimana kalau nanti sore kita lihat sunset saja ?" ajak Dannis lagi.
"Boleh, dimana ?" tanya Aline tampak senang, karena ia sangat menyukai matahari dan laut seperti ibunya.
"Di pantai yang ada Cafenya waktu itu." ujar Dannis.
"Baiklah."
"Nanti kamu pergi duluan ya, setelah meeting aku langsung kesana." ucap Dannis.
"Baiklah, jangan macam - macam ya kalau sedang meeting dengan pria lain." ujar Dannis kemudian menutup panggilannya.
"Cih di kira aku cewek apaan." gerutu Aline lalu menaruh kembali ponselnya di atas meja.
Ehhmmm
Wira yang melihat Aline menggerutu tidak jelas ia langsung berdehem dengan nyaring.
"Om ikh, bikin kaget saja." seru Aline ketika Wira sudah berada di depan meja kerjanya.
"Makanya kalau lagi baca mantera itu di dalam hati, jangan komat kamit enggak jelas." ucap Wira.
"Siapa yang baca mantera." sahut Aline sambil mencebikkan bibirnya.
"Sudah siap untuk presentasi ?" tanya Wira.
"Sekarang ?" tanya balik Aline.
"Tahun depan." celetuk Wira, kemudian ia berlalu keluar dari ruangannya Aline.
"Om tunggu." teriak Aline sambil memakai high heelsnya, karena kebiasaannya kalau didalam kantor suka pakai sendal jepit.
__ADS_1
"Gini nih kalau punya Om enggak ada akhlaknya, main tinggal saja." gerutu Aline sambil setengah berlari dengan tumpukan berkas di tangannya.
Beberapa saat kemudian Aline sudah berada di sebuah restoran untuk meeting dengan klien. Setelah dua jam menyelesaikan meetingnya, ia bergegas untuk pulang karena sorenya dia ada janji melihat sunset bersama Dannis.
Sampai di Apartemen dia segera membersihkan dirinya dan berdandan dengan cantik. Ia terlihat sangat gugup meski ini bukan kencan pertamanya dengan laki - laki itu, tapi saat ini dia sangat senang karena ia sudah memutuskan untuk membalas cinta Dannis.
Setelah membersihkan dirinya dan bersiap - siap, dia segera melajukan kendaraannya karena hari sudah mulai sore.
Tiga puluh menit kemudian ia sudah sampai di Cafe dekat pantai tersebut, ia berencana menunggu Dannis di dalam Cafe sambil melihat pemandangan laut yang sangat indah menurutnya.
"Aku menyukai bau pasir dan suara ombak." gumam Aline seraya matanya melihat ke arah lautan.
Satu jam sudah berlalu ia menunggu Dannis, tapi laki - laki itu belum juga datang. Aline segera mengambil ponsel di dalam tasnya.
"Astaga ponselnya ku mati, pasti baterainya habis." gerutu Aline dalam hati lalu ia memasukkan lagi ponselnya kedalam tasnya.
"Baiklah, aku akan menunggunya dia pasti sebentar lagi datang." gumam Aline dengan senyum masih mengembang di bibirnya.
Sedangkan di tempat lain, Dannis yang baru selesai meeting dia bergegas keluar dari kantornya untuk menyusul gadis pujaannya yang pasti sudah menunggunya.
Kring
Kring
Terdengar dering ponselnya, sambil mengemudi ia melihat siapa yang sudah menghubunginya.
"Cleo ?" gumam Dannis, ia segera menepikan mobilnya dan langsung menjawab panggilan itu.
"Hallo." ucap Dannis dengan ekspresi yang susah untuk di tebak.
"Sayang, aku merindukanmu." ujar seorang wanita dari ujung telepon, wanita itu bernama Cleopatra cinta pertama Dannis yang sudah lima tahun meninggalkan Dannis tanpa alasan.
"Benarkah ini kamu Cleo, Cleopatra ?" tanya Dannis, ia masih tidak menyangka seseorang yang sudah ia benci sekaligus ia rindu selama bertahun - tahun kini menghubunginya kembali.
"Benar sayang ini aku, bisa kita bertemu ?" tanya Cleo dengan nada manja seperti dulu sewaktu mereka masih berhubungan.
"Kamu dimana sekarang ?" tanya Dannis balik.
"Aku di Apartemenku yang dulu sayang, kamu cepat kesini ya aku tunggu." jawab Cleo.
"Baiklah." sahut Dannis lalu mematikan teleponnya.
Dannis tampak mengusap wajahnya dengan kasar. Ia dilema antara pergi menemui Aline gadis yang ia cintai sekarang atau menemui Cleo wanita di masa lalunya yang ia sendiri bingung apa yang ia rasakan terhadap wanita itu sekarang.
__ADS_1