
"Leon kamu jangan bercanda dengan senjata itu ?" teriak Aline ketika Leon berjalan mendekatinya sembari memainkan senjata api di tangannya.
"Aku tidak akan melukai mu Al, mana mungkin aku melukai calon istriku."
"Leon, aku sudah menikah. Aku kakak iparmu."
"Sebentar lagi kamu pasti akan menikah dengan ku."
"Omong kosong." sentak Aline.
"Sudah bertahun-tahun aku mencintaimu Al, tapi kamu justru menikah dengan orang tak berperasaan itu."
"Dia kakakmu Leon, apa begini cara mu berterima kasih pada keluarga yang sudah merawat dan membesarkanmu ?"
"Sudah kewajiban seorang Ayah membesarkan anak kandungnya sendiri Al, jadi apa yang salah."
"Maksud kamu ?"
"Aku adalah anak kandung tuan Nicholas Bryan yang terhormat itu Al, demi menjaga reputasinya dia tidak pernah mengakuiku sebagai anak kandungnya di depan umum. Karena aku lahir dari wanita selingkuhannya." Leon tertawa sinis, kemudian tawa itu menjadi isak tangis.
"Leon....."
"Dari dulu aku selalu menjadi anak baik dan penurut tapi apa yang ku dapat, tidak ada Al. Bahkan sebagian besar saham kak Dannis yang mendapatkan, dimana keadilan itu ?" teriak Leon geram.
"Kalau kamu menginginkan semua saham itu, aku akan memberikan padamu semuanya Leon, tapi ku mohon lepaskan aku." Aline terlihat ketakutan karena laki-laki yang sedang berada tak jauh dari hadapannya itu, bukan seperti Leon yang ia kenal.
Leon yang biasanya bersikap pendiam dan ramah, kini terlihat menakutkan dengan emosi yang tak stabil kadang marah, kadang tertawa dan menangis secara bersamaan.
"Tapi aku juga menginginkan mu Al."
"Itu tidak mungkin Leon."
"Aku sudah lama mengalah Al, Jadi apa salahnya sekarang aku ingin egois. Kamu tidak akan bahagia dengan laki-laki tak berperasaan itu, cepat atau lambat dia pasti akan menghianatimu."
"Dannis mencintaiku, aku percaya padanya dan kami saling mempercayai."
__ADS_1
"Tapi setelah aku melakukan ini, apa mungkin dia masih mempercayaimu ?" Leon mengambil sebuah kamera di dalam lemari di kamar tersebut.
Ia memposisikan kamera tersebut tepat menghadap ranjang, setelah itu ia membuka kemejanya hingga kini ia sudah bertelanjang dada.
Nampak dada bidang dan perut kotak-kotak itu terpampang nyata di depan Aline, mungkin bagi wanita lain ini adalah anugerah tapi bagi Aline ini musibah karena Leon sepertinya akan berbuat sesuatu padanya.
"Le-Leon apa yang kamu lakukan ?" Aline sudah pasang kuda-kuda, ia sudah tak perduli dengan senjata api yang Leon pegang. Bagaimanapun juga ia tidak akan rela jika adik iparnya itu menodainya apalagi di rekam seperti itu.
"Tenang Al, menurutlah maka kamu dan bayimu itu akan aman !!"
"Kamu sudah gila Leon, sadarlah sampai kapanpun aku tidak akan mencintaimu." teriak Aline, ia berusaha menghindar ketika Leon berjalan mendekatinya.
Aline melempar segala benda di hadapannya agar laki-laki itu tidak bisa mendekatinya, bahkan lampu tidur pun tidak luput dari lemparannya hingga membuat kamar tersebut sudah seperti kapal pecah.
"Sudah ku duga calon istriku sangat ganas, aku menyukai itu." Leon tersenyum menyeringai kemudian ia menembakkan senjata apinya ke arah meja rias hingga cermin tersebut retak dan pecah.
Aline berjingkat ketakutan ketika mendengar suara tembakan beberapa kali itu, ia lebih baik berkelahi dengan tangan kosong dari pada harus mati konyol karena melawan senjata api. Apalagi sejak hamil , ia merasa tenaganya terkuras habis karena terlalu sering muntah.
"Apa kamu juga ingin hancur seperti kaca itu ?" Leon menodongkan senjatanya ke arah Aline berdiri.
"Oh atau bayi dari laki-laki tak berperasaan itu yang akan mati ?" Leon mengarahkan senjatanya ke arah perut Aline.
"Leon ku mohon jangan sakiti bayiku."
"Mendekat lah !!" perintah Leon.
Karena tidak mau mati konyol, Aline segera mendekat. Paling tidak senjata itu tidak akan mengarah lagi padanya. Jika memang Leon berniat memperkosanya dia masih mempunyai jurus-jurus ilmu mempertahankan diri yang sudah ia kuasai sebelumnya.
Ketika Aline sudah berada di dekatnya, Leon segera menariknya dan memeluknya dengan erat. Terdengar isak tangis Leon, Aline yang mendengarnya nampak terharu, ia membiarkan adik iparnya itu memeluknya.
Mungkin selama ini Leon sangat kesepian dan menyimpan kesakitan hatinya sendiri, hingga perasaan sakit hati yang ia pendam selama bertahun-tahun itu akhirnya meledak juga.
Leon melepaskan pelukannya, kemudian ia memegang kedua pundak Aline. "Aku mencintaimu Al." Leon mencium kening Aline.
Aline ingin memberontak tapi ia melirik ke arah senjata itu, Leon masih memegang senjatanya dengan erat.
__ADS_1
Kemudian Leon menurunkan ciumannya pada kedua pipi Aline, tapi ketika akan membenamkan bibirnya pada bibir Aline. Pintu ruangan tersebut langsung di dobrak.
Leon memutar kepalanya terkejut, seketika ia mencengkeram lengan Aline dan mengarahkan senjatanya tepat di kepala Aline.
"Jangan mendekat !!" perintah Leon ketika melihat Dannis, Armand, Sam, serta tuan Wira.
"Leon, berani kamu menyentuh istriku, akan ku habisi kamu." sentak Dannis murka.
"Sebelum kamu menghabisi ku, maka istri tercinta mu ini beserta bayi sialan kalian akan ku habisi duluan." Leon tersenyum menyeringai.
"Leon, hentikan sekarang juga !!" teriak tuan Nicholas yang tiba-tiba datang.
"Pa ?" Leon terkejut kemudian ia tersenyum menyeringai menatap Ayahnya itu.
"Kenapa Pa, apa Papa kaget melihatku seperti ini. Aku capek menjadi anak Papa yang penurut. Sekarang tidak akan ada yang bisa menghentikanku."
"Aku adalah Ayah mu sudah sewajarnya kamu menurut padaku." bentak tuan Nicholas.
"Sejak kapan Papa menganggap ku anak, apa Papa pernah memelukku seperti memeluk kak Dannis. Bahkan melihatku pun Papa jarang, yang aku tahu Papa selalu mengancamku. Kenapa Pa, aku juga anak kandungnya Papa ?" ucap Leon dengan terisak.
Mendengar perkataan Leon, seketika semua orang yang disana terkejut kecuali Dannis yang memang sudah tahu dari dulu kalau Leon adalah adik kandung satu Ayah.
Dannis teramat membenci Leon, terutama Ibunya Leon. Karena di saat mengetahui suaminya berselingkuh, Ibunya Dannis menyetir mobil dengan emosi kemudian terjadi kecelakaan dan meninggal.
Tak berapa lama Ibunya Leon juga meninggal karena sakit, sejak saat itu Leon di bawah ke rumahnya dan di kenalkan pada semua orang kalau Leon adalah anak angkat.
Karena pada waktu itu keluarga Bryan yang seorang bangsawan selalu menjaga dan menjunjung tinggi reputasi, hingga tidak boleh ada aib yang tersebar di kalangan umum terutama kalangan bangsawan.
Dan sejak kejadian itu Dannis sedikitpun tidak pernah mempercayai wanita lagi, baginya wanita hanya membawa kehancuran dalam hidupnya.
Bahkan saat berhubungan dengan Cleo pun, ia tak sungguh-sungguh mencintainya dan saat Cleo meninggalkannya pun ia tak begitu merasa kehilangan. Karena rasa cintanya pada wanita sudah hilang sejak kematian Ibunya.
"Berani kamu Leon ?" bentak tuan Nicholas lagi.
"Aku sudah cukup mengalah Pa, sekarang aku tidak akan melakukan itu lagi. Jika Aline tidak bisa hidup bersamaku maka ia akan mati bersamaku."
__ADS_1