Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Kebenaran yang ditutupi


__ADS_3

Sore itu Dannis nampak tak bersemangat. Sejak kepergian Aline yang meninggalkannya, ia merasa separuh jiwanya telah pergi. Entah sejak kapan, ia mulai menganggap Aline adalah pusat hidupnya.


Begitu lah pria ketika jatuh cinta, di mata dan hatinya hanya ada wanita yang dia cintai. Dia tidak akan sanggup melirik wanita lain, karena seluruh dunianya di penuhi oleh wanita tersebut. Begitu juga Dannis baginya Aline adalah separuh nyawanya, gadis itu sudah membawa dampak kebaikan baginya dan ia berjanji pada dirinya sendiri akan hidup lebih baik lagi.


"Boss ?" panggil Sam ketika baru masuk ke ruangannya.


"Hmmm."


"Apa boss tidak ingin memperjuangkan Aline sekali lagi ?" tanya Sam, entah kenapa ia merasa seperti Dannis sangat merindukan kehadiran sahabatnya itu. Hari-hari yang mereka lalui bersama, sikap absurdnya Aline, galaknya dan perhatian-perhatian kecil lainnya yang di berikan Aline membuat dua laki-laki itu seperti ada yang kurang di hatinya.


"Ingin, ingin sekali tapi aku tidak punya nyali untuk mendengarkan penolakan langsung darinya." Dannis mengusap wajahnya dengan kasar, seandainya waktu bisa di ulang dia tidak akan merusak dirinya sendiri dengan mengencani banyak wanita.


Tapi semua sudah terlambat, mungkin ini semua adalah hukuman baginya dan ke depannya dia akan hidup lebih baik lagi.


Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering dengan malas ia melihat siapa yang menghubunginya. Bahkan wallpaper ponselnya pun masih gambar wanita yang ia cintai sekaligus ia rindukan itu.


"Ya Pa." sahut Dannis ketika Ayahnya tiba-tiba menghubunginya.


"Hey anak bodoh, kalau kamu tidak kesini dalam satu jam. Aku akan mencoretmu dari dalam daftar warisan." teriak tuan Nicholas dari ujung telepon.


Dannis segera menjauhkan ponsel dari telinganya karena teriakan sekaligus sebuah perintah dari ayahnya itu begitu memekikkan telinganya.


"Baik, Pa." ucap Dannis singkat, mendengar perkataan Ayahnya yang menyangkut warisan ia sama sekali tidak bisa berkutik. Meski sejak kepemimpinannya, perusahaan semakin berkembang pesat tapi bagaimanapun juga yang berwenang adalah Ayahnya.


Setelah Ayahnya memutuskan teleponnya secara sepihak, ia segera beranjak dari duduknya. "Mau kemana Boss ?" tanya Sam ketika melihat Dannis mengambil kunci mobilnya.


"Bertemu dengan Pak Tua, entah apa yang dia inginkan." sahut Dannis singkat, seraya melangkahkan kakinya untuk keluar ruangannya.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang dari satu jam, Mobil Dannis berhenti tepat di depan gerbang Mansion Ayahnya. ia bergegas turun dan melempar kunci pada penjaga rumah tersebut.


Ia segera menyusuri taman mendiang Ibunya yang masih sangat terawat meski sudah berpuluh tahun di tinggal oleh sang pemiliknya. Mengingat Ibunya membuat hatinya terasa nyeri, ada sesuatu yang ia ketahui tapi malas untuk ia ungkapkan.

__ADS_1


Setelah mengetuk pintu ruang kerja sekaligus ruang baca milik Ayahnya, Dannis segera masuk ke dalam.


"Ada apa Pa, memanggilku ?" tanya Dannis ketika melihat Ayahnya tengah sibuk dengan berkas di tangannya.


"Apa seperti ini cara sopan santunmu pada orang tua ?" tanya balik tuan Nicholas datar tapi penuh sindiran.


"Aku lihat Papa baik-baik saja jadi buat apa aku tanya kabar." sahut Dannis enteng.


"Semakin lama, kamu semakin kurang ajar saja. Contoh adik kamu itu sedikitpun dia tidak pernah melawan Papa." kini suara laki-laki yang berumur lebih dari setengah abad itu mulai meninggi.


"Apa Papa menyuruhku ke sini cuma untuk membandingkan ku dengan anak pungut itu ?" tanya Dannis sinis.


"Jelaskan itu padaku !!" tuan Nicholas melempar beberapa lembar Foto dirinya bersama Cleo beberapa hari terakhir, ketika mulai di Bar, restoran hingga foto ketika Cleo beberapa kali masuk ke dalam kantor Dannis. Meski laki-laki itu enggan untuk menemuinya.


"Apa Papa mengintaiku ?" Dannis mulai emosi, ia paling tidak suka jika kehidupan pribadinya di usik meskipun oleh Ayahnya sendiri.


"Anak kurang ajar." ujar Tuan Nicholas lirih tapi seketika membuat Dannis meradang.


Ia sebenarnya malas membahas tentang Cleo bahkan dia tidak perduli apa yang sudah terjadi dengannya baik sekarang maupun lima tahun yang lalu. Karena sekarang yang memenuhi pikiran dan hatinya hanya Aline seorang.


Ia sengaja membalas Ayahnya dengan membahas Cleo, karena ia paling tidak menyukai orang lain ikut campur dengan urusannya.


"Kamu tidak hanya kurang ajar tapi juga bodoh, sudah membuang berlian lalu memungut batu kali." ujar Tuan Nicholas sinis.


"Apa maksud Papa ?" tanya Dannis tidak mengerti.


Tuan Nicholas nampak membuka laci meja kerjanya, kemudian ia mengambil beberapa foto usang yang sepertinya sudah beberapa tahun lalu foto itu diambil.


Dilemparnya lembaran foto itu kearah anaknya yang sedang berdiri di depannya hingga berhamburan ke lantai. Dannis segera memungut Foto satu persatu di lantai, lalu ia memperhatikan benar-benar gambar usang itu. Foto-foto vulgar Cleo bersama seorang pria yang Dannis amat kenal yaitu teman kuliahnya sendiri, Jordan yang entah berada di mana laki-laki itu sekarang karena kepergiannya hampir bersamaan dengan Cleo waktu itu.


"Ini semua apa Pa ?" tanya Dannis tidak mengerti lebih tepatnya ia tidak menyangka, kejadian lima tahun yang lalu dimana kekasih dan sahabatnya sendiri mengkhianatinya.

__ADS_1


"Mereka berdua bekerja sama ingin menghancurkan perusahaan kita, beruntung Papa cepat mengetahuinya dan mengusir mereka dari negara ini." tutur tuan Nicholas nampak geram ketika mengingat kejadian itu.


"Kenapa Papa tidak memberitahu ku waktu itu ?" tanya Dannis.


"Kalau Papa memberitahumu, apa kamu akan membiarkan mereka untuk hidup. Papa tidak mau kamu mengotori tanganmu karena kedua baji*g*n itu." ujar Tuan Nicholas.


"Tentu saja aku akan membunuh mereka berdua." Dannis nampak geram ketika mengingat bagaimana baiknya dia saat itu pada Jordan sahabatnya.


"Jadi apa kamu masih berniat untuk berhubungan lagi dengan wanita itu ?" tanya tuan Nicholas memastikan, matanya sekilas melirik foto Cleo yang berada diatas meja kerjanya.


"Tentu saja tidak Pa, aku sangat mencintai Aline." jawab Dannis dengan raut kesedihan di wajahnya dan itu tak luput dari penglihatan Ayahnya.


"Kalau kamu memang mencintainya, kejar Dia !!" perintah tuan Nicholas.


"Dia sudah menolakku Pa." sahut Dannis lirih.


"Dasar anak bodoh, ambil ini dan renungi kesalahanmu !!" tuan Nicholas menyerahkan sebuah flashdisk pada anaknya itu.


"Ini apa Pa ?"


"Pergilah anak bodoh, lama-lama bersamamu bikin tensiku naik saja."


"Papa yang menyuruhku kesini, Papa juga yang mengusirku." gerutu Dannis sambil berlalu meninggalkan ruangan kerja Ayahnya.


"Cepat bawa kembali putri kecilku, calon mantu Papa !!" teriak tuan Nicholas ketika melihat anaknya itu berada diambang pintu.


Dannis hanya berdecak kesal melihat Ayahnya lalu ia melangkahkan kakinya untuk pergi dari Mansion tersebut.


.


NB : Maaf ya gengs, ini part kusus membahas kesalahanpaham Dannis dan Ayahnya. Mungkin part selanjutnya akan menjadi ujian cinta bagi mereka bertiga. Thanks atas dukungannya jangan lupa mampir ke lapak SENYUMAN FATIMAH. 🙏🏻🙏🏻🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2