
Pagi itu Aline terbangun dalam pelukan suaminya. Hatinya langsung senang tapi ketika mengingat kejadian semalam yang menunggu suaminya hingga larut malam, senyum di wajahnya langsung menyurut.
Aline berusaha mengangkat lengan suaminya yang melingkar di pinggangnya, bukannya terangkat tapi Dannis semakin mengeratkan pelukannya.
Dannis sebenarnya sudah bangun sedari tadi, tapi ia tidak tega meninggalkan istrinya yang sedang nyenyak dalam pelukannya.
"Bang bull lepaskan, tangan mu sangat berat !!" pinta Aline sambil mencoba menjauhkan tangan suaminya.
"Baru tanganku saja sudah berat, belum juga badanku sayang." ucap Dannis yang masih enggan melepaskan pelukannya.
Sedangkan Aline masih mencoba terus untuk lepas dari pelukan suaminya.
"Jangan banyak gerak sayang, kamu akan membangunkan yang di bawah sana."
Benar saja, Aline merasakan sesuatu yang mengeras sedang menggesek pahanya.
"Bang bull, aku sedang marah nih."
Dannis menjauhkan badannya agar bisa melihat wajah istrinya tapi tangannya masih erat memeluknya. "Maaf ya, tapi hari ini aku akan menemani mu seharian." ucap Dannis.
"Beneran ?"
"Tentu saja sayang, sudah sebulan kamu menjauhiku dan hari ini aku nggak akan melepaskan mu sedikitpun."
"Itu bukan mau ku, tapi maunya baby." sahut Aline.
"Baiklah, sepertinya baby sudah kangen dengan Ayahnya dan minta di tengok." ucap Dannis dengan senyuman penuh maksud.
"Tapi sepertinya baby sangat lapar." ucap Aline beralasan, ia ingin sedikit mengerjai suaminya karena telah membuatnya menunggu semalam.
"Baiklah, aku akan suruh pelayan untuk membawakan makanan untukmu." Dannis mengambil gagang telepon di samping tempat tidurnya.
"Tapi baby maunya Ayahnya yang masak."
"Sayang, aku masih ngantuk." tolak Dannis.
"Kalau begitu baby nggak mau makan." Aline pura-pura ngambek dan segera memunggungi Dannis.
"Ya baiklah, baby mau makan apa ?" tanya Dannis.
"Terserah asal Ayahnya yang masak, baby pasti suka."
Dannis segera bangkit dari tidurnya, sepertinya ia harus menekan hasratnya lagi agar lebih bersabar. "Mau buka puasa aja, ribet amat yak." gerutunya sambil berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Setelah selesai, ia keluar dari kamar mandi dan mengambil kaos di dalam lemarinya dan langsung memakainya. "Sebentar ya sayang." ucap Dannis kemudian berlalu dari kamarnya.
__ADS_1
Aline yang melihat suaminya keluar dari kamarnya, ia segera beranjak dari tidurnya dan bergegas ke kamar mandi.
Di bukanya semua pakaian yang melekat di badannya, ketika bercermin ia terkesiap saat melihat dadanya yang di penuhi tanda kemerahan. Ternyata mimpi ena-enanya semalam adalah kenyataan meski hanya sebatas dada.
Aline terkikik sendiri bagaimanapun dia juga menginginkan sentuhan dari suaminya. Selepas mandi Aline mengenakan bathrobe dan membungkus rambutnya yang basah dengan handuk.
Kemudian ia keringkan rambutnya dengan hairdryer dan sedikit berdandan karena ia merasa wajahnya aneh sejak hamil.
"Sayang, ayo sarapan." Dannis membawa nampan yang berisi sepiring nasi goreng.
"Bule masak nasi goreng ?" Aline mengerutkan keningnya ketika melihat nasi goreng di atas meja.
"Ini beneran kamu yang buat lalu punyamu mana ?" tanya Aline tak percaya.
"Tentu saja aku yang buat sayang, aku sudah sarapan di bawah sama Papa.
"Kamu tahu ini namanya apa ?"
"Nasi goreng sayang, ayo di makan selagi panas dan setelah itu kamu harus menerima hukuman mu."
"Hukuman apa ?" tanya Aline tak mengerti.
"Hukuman karena membiarkan Leon mencium dan memelukmu."
Mendengar perkataan Dannis, Aline nampak menelan salivanya dengan susah payah. Dia pikir masalahnya sudah selesai, ternyata suaminya itu masih mempermasalahkan soal itu.
"Ah masa bodoh dengan hukuman." gumam Aline, lalu ia mulai memakan nasi goreng buatan suaminya karena cacing di perutnya sudah salto sana sini minta makan.
"Enak juga, nasi goreng buatan orang bule." gumam Aline.
Tak berapa lama sepiring nasi goreng tersebut langsung ludes, Dannis yang baru keluar dari kamar mandi nampak senyum mengembang di bibirnya ketika melihat piring di atas meja tersebut sudah kosong.
Tak sia-sia dia tadi menelepon Mama mertuanya untuk menanyakan makanan favorit istrinya dan langsung di ajarin juga cara membuatnya.
Setelah berganti pakaian, Dannis menghampiri istrinya yang sedang berada di balkon kamarnya.
"Apa enak nasi gorengnya ?" tanya Dannis sembari memeluk istrinya dari belakang.
"Lumayan, tapi ada yang kurang."
"Apa ?" Dannis memutar tubuh istrinya agar menghadap padanya.
"Pete, nasi goreng paling enak kalau di makan bersama pete."
"Itu makanan apa sayang ?" tanya Dannis tak mengerti.
__ADS_1
"Ku jelasin pun kamu pasti tidak akan tahu, karena hanya ada di negaraku." sahut Aline.
"Apa baby kita juga menginginkannya ?" Dannis mengusap perut istrinya yang masih terlihat rata.
"Nggak juga." sahut Aline, sebenarnya ia ingin sekali makan pete tapi ia tidak mau membuat susah suaminya, apalagi kalau tahu bagaimana baunya pete pasti suaminya itu akan protes habis-habisan.
"Sayang, apa sudah siap menerima hukuman ?" tanya Dannis sembari mengeratkan pelukannya di pinggang istrinya.
"Itu bukan salahku, Leon yang menciumku duluan. Lagipula siapa yang berani melawan jika di ancam dengan senjata api." cebik Aline.
"Apapun alasannya aku tidak suka istriku di sentuh oleh pria lain."
"Tapi dia adikmu, anggap aja seorang adik yang mencium kakaknya." protes Aline.
"Leon sudah menciummu di sini kan ?" Dannis menunjuk pipi istrinya dengan jarinya.
"Hmm."
"Baiklah, aku akan menghapusnya." ucap Dannis lalu menempelkan bibirnya ke pipi istrinya
"Bang bule sakit." teriak Aline, karena suaminya itu tidak menciumnya tapi menghisapnya dengan kuat. Aline meringis merasakan panas di pipinya.
"Itu hukuman mu sayang."
"Tapi ini sak......" Aline belum menyelesaikan perkataannya tapi Dannis sudah membungkam bibirnya dengan ciumannya.
Di lahapnya dengan rakus bibir ranum itu, tanpa memberi jeda istrinya untuk menghirup udara. Puas dengan bibirnya, kini bibir Dannis turun ke leher jenjang istrinya memberikan beberapa kissmark disana.
"Sayang, apa kamu mau menelanjangiku disini ?" Aline menahan tangan suaminya ketika akan menarik tali yang mengikat bathrobe yang ia kenakan.
"Apa kamu mau melakukannya di tempat ini ?" goda Dannis sembari melihat sekeliling balkon.
"No." teriak Aline dan Dannis langsung membopong istrinya itu untuk masuk ke dalam tanpa menutup pintu balkon tersebut.
Dan pagi itu terjadilah olahraga panas setelah sebulan mereka menahannya.
"Sayang pelan-pelan." teriak Aline.
"Bagaimana aku bisa pelan sayang, desahan mu membuatku gila." sahut Dannis.
"Ingat baby kita sayang."
"Baby kita pasti akan mengerti sayang."
"Akhhhhh lagi-lagi kamu menggigit ku." teriak Aline.
__ADS_1
Tuan Nicholas yang sedang berada di balkon kamarnya, nampak menggelengkan kepalanya ketika mendengar suara-suara tak beradab dari anak dan menantunya itu. Kebetulan kamar mereka bersebelahan dan balkonnya pun saling terhubung.