Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Menghindar


__ADS_3

"Astaga, kenapa dia ada disini ?" batin Aline ketika melihat Dannis sedang bercanda gurau dengan Ayahnya.


"Sayang, kamu mau kemana ?" tanya Austin ayahnya Aline ketika melihat anaknya sekelebat dari taman belakang.


"Mau jalan Pa." teriak Aline ketika sudah di ambang pintu.


"Sama siapa Sayang, ini ada Dannis kamu tidak sapa dulu." ujar Austin setengah berteriak.


"Sama Dewa, Pa." ucap Aline kemudian ia bergegas menuju mobilnya.


"Alineeeee." teriak Austin tapi anaknya itu tak juga mengindahkannya dan langsung melajukan mobilnya begitu saja.


Dannis yang merasa tak di hiraukan hanya bisa menarik napas panjang, mungkin ia harus lebih bersabar lagi. Bagaimanapun juga dari awal dia yang salah karena kurang tegas dan membiarkan wanita lain sesuka hati memeluknya.


Sedangkan Aline kini sedang menepikan mobilnya di pinggir jalan yang lumayan sepi. Dia bingung harus kemana, hanya demi menghindari Dannis dia rela berbohong pada Ayahnya.


Tak berapa lama, ia di kejutkan oleh beberapa orang yang mengetuk mobilnya. Aline yang sedari tadi nampak melamun seketika tersentak, ia bukannya takut menghadapi para preman itu tapi senjata api yang mereka bawa bisa saja mengenainya.


Bisa mati sia-sia dia sebelum nikah, pikirnya.


Semakin Aline diam, mereka semakin menggedor mobilnya. Mau tidak mau dia membuka pintu mobilnya lalu keluar.


"Ya Bang ada apa ?" tanya Aline dengan berusaha bersikap tenang.


"Serahkan barang berhargamu !!" ucap salah satu preman itu dengan menodongkan senjatanya, sehingga membuatnya reflek mengangkat kedua tangannya keatas.


"Saya tidak punya Bang." ucap Aline.


"Apa kamu mau mati ?" bentaknya lagi hingga membuat Aline sedikit terlonjak.


"Ya tidak mau bang, saya kan belum menikah." rengek Aline.


"Tidak usah ngelawak, cepat serahkan !!"


"Saya tidak punya apa-apa Bang." ucap Aline jujur karena memang dia tidak membawa apa-apa bahkan dompet dan ponselnya ia tinggalkan di rumah.


"Cepat geledah mobilnya !!" perintah preman yang sedang menodongkan senjatanya kepada kedua temannya.


Setelah memeriksa seluruh mobil Aline, mereka tidak menemukan apapun. "Tidak ada apapun Boss kecuali ini." salah satu preman itu membawa beberapa bungkus permen karet.


"Sialan, mobil saja yang bagus tapi kere. Jangan-Jangan mobil kamu juga kriditan." bentak Preman tersebut yang menodongkan senjata apinya.

__ADS_1


"Astaga abangnya kok tahu, ini mobil baru sebulan di kridit Bang. Kalau Abang mau ambil mobil ini, palingan Abang juga yang di kejar-kejar Leasing." jawab Aline sarkastik meski ia sangat takut, karena preman tersebut menodongkan senjatanya tepat dikepalanya.


"Ini akibatnya enggak nurut sama Bokap. Sial nih preman tidak tahu apa aku belum nikah, belum tahu juga rasanya ena-ena seperti apa. Dannis tolong aku. Kita nikah yuk." gumam Aline sembari memejamkan matanya ketika preman itu semakin menekankan senjata di kepalanya.


Tak berapa lama ada suara tembakan yang diarahkan ke atas, "Akh mati aku, Mami tolong anak perawanmu Mi ." Aline berteriak sekeras mungkin sambil memejamkan matanya, tapi setelah itu ia tidak merasakan kejadian apa-apa.


Kemudian ia membuka matanya perlahan-lahan, ternyata Dewa dan anak buahnya sudah melumpuhkan ketiga preman itu.


"Kung" teriak Aline ketika melihat Dewa berjalan ke arahnya.


"Sudah jangan takut." ujar Dewa, ia menenangkan sahabatnya itu dengan memeluknya.


"Aku masih hidup Kung ?"


"Ini senjata bohongan, Cil." Dewa memperlihatkan senjata api yang di bawa oleh ketiga preman tadi ternyata hanya sebuah korek api.


"Astaga, tahu gitu ku geprek tadi tuh preman" ujar Aline geram.


"Lagipula ngapain kamu disini. Kawasan ini lumayan rawan, apalagi dimasa pandemi seperti ini banyak orang nekat mendadak jadi penjahat. Untung saja kami kebetulan lewat sini." Dewa melihat keadaan sekitar yang terlihat sepi meski jalan besar tapi hanya ada beberapa rumah itupun dengan jarak berjauhan.


"Enggak apa-apa." Aline hanya tersenyum nyengir, tidak mungkin kan kalau dia harus cerita karena demi menghindari Dannis.


Setelah mereka meninggalkan tempat itu, terlihat Dannis sedang bersandar di kursi mobilnya. Sepertinya ia sedari tadi melihat interaksi yang menurutnya sedikit intim antara Aline dan Dewa.


Tadi ketika ia melintasi jalanan ini, dari kejauhan ia melihat beberapa anggota polisi sedang berkumpul di jalanan agak jauh di depannya. Setelah mobilnya semakin mendekat ia melihat seorang gadis yang ia kenal sedang berpelukan dengan salah satu anggota polisi tersebut, seketika ia menepikan mobilnya dan mengawasi mereka.


"Apa kamu begitu mencintainya, hingga menolakku berkali-kali." gumam Dannis, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Kali ini dia meyakinkan hatinya untuk berusaha lagi tapi jika terus-menerus di tolak karena alasan laki-laki lain mungkin dia bisa saja menyerah.


Malam harinya


Karena Aline yang berkali-kali menolak bertemu dengannya, kini Dannis hanya bisa memandangi rumahnya dari dalam mobilnya malam itu.


Kerinduan yang begitu dalam akan gadisnya itu, sehingga membuatnya tidak bisa tidur nyenyak di dalam hotel.


Matanya terus mengawasi kamar yang terletak di lantai dua itu, berharap Sang pemilik kamar mau sedikit menampakkan dirinya meski hanya sekilas.


Aline yang sedang berada di kamarnya, tahu betul itu mobil siapa yang sedari tadi parkir di depan rumahnya. Ingin sekali ia menemui laki-laki itu dan memeluknya tapi rasa takutnya akan penghianatan selalu menari-nari di pikirannya. Hingga ia urungkan niatnya itu dan berusaha untuk memejamkan matanya.


Hampir satu minggu sudah Dannis selalu tidur di dalam mobilnya lalu kembali ke hotel ketika matahari akan beranjak dari peraduannya, tapi malam ini Dannis tak terlihat lagi. Aline yang sudah terbiasa melihat Dannis memarkirkan mobilnya di depan rumahnya, ketika melihat tempat itu kosong perasaannya mulai bergejolak.


Hingga pagi hari ketika ia bangun, ia sama sekali tidak melihat mobil Dannis. Hatinya terasa kosong, mungkinkah ia begitu merindukan laki-laki itu. Pikirnya.

__ADS_1


Sore harinya Aline nampak duduk di pinggir pantai sendirian, ia terlihat melempar beberapa batu kerikil ke tengah laut.


"Loe kenapa Cil ?" tanya Dewa tiba-tiba hingga membuat Aline seketika menoleh ke belakang.


"Kamu kok bisa disini ?"


"Kamu lihat, disana itu kantorku. Kamu begitu terlihat jelas dari sana." Ujar Dewa, ia menunjuk kantornya yang bersebelahan dengan pantai ini.


"Benarkah ?"


"Tentu saja bahkan air mata yang sedari tadi kamu tahan itu juga terlihat." ledek Dewa.


"Apakah begitu kelihatan ?"


"Bodoh. Kenapa hatimu begitu egois, kalau kamu memang cinta katakan cinta."


"Tapi aku takut dia akan menghianatiku."


"Setidaknya dia sudah berusaha untuk memperjuangkanmu, kamu harus lihat itu. Tidak semuanya orang baik akan selamanya baik, suatu saat ia pasti akan berbuat kesalahan. Berbeda dengan orang yang pernah bersalah tapi segera bertobat, ia pasti akan berpikir ulang sebelum membuat kesalahan yang sama." tutur Dewa.


Aline hanya diam membisu mendengarkan penuturan sahabatnya itu. "Menangislah jika mau menangis, aku siap meminjamkan bahuku." ucap Dewa lagi.


"Terima kasih Kung." ucap Aline dengan menyandarkan kepalanya di bahu Dewa.


"Kamu tahu, kamu itu seperti Sam selalu ada di saat aku sedih."


"Siapa dia ?"


"Sahabatku di Jerman."


"Benarkah, aku kira kekasihmu yang lain."


"Kamu pikir aku playgirl."


"Kamu bukan Playgirl tapi duo gender." sahut Dewa terkekeh.


Tanpa mereka sadari sedari tadi Dannis mengawasinya dari kejauhan, sudah seminggu ini dia selalu mengikuti kemanapun gadisnya itu pergi. Ia selalu mengawasi bagaimana kedekatan Aline dengan Dewa yang hampir setiap hari bertemu dan setelah banyak berpikir mungkin saat ini dia memutuskan untuk menyerah.


.


NB : Yang pecinta babang berbulu ayo merapat gengs 🤣🤣 sekali lagi thanks buat readers kesayangan jangan lupa saran dan kritiknya. Othor suka sekali di kritik 😁😁

__ADS_1


__ADS_2