
"Ada apa ini ?" tanya Austin, laki-laki paruh baya itu terkejut ketika melihat anak gadisnya memasuki rumah dengan bergandengan tangan bersama Dannis.
"Pa, sebenarnya..." Aline terlihat gugup.
"Kami sudah menyelesaikan kesalahpahaman kami Om dan saya berencana untuk segera menikahi Aline." potong Dannis yang kini sudah duduk berhadapan dengan Austin.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan mu, dia anakku satu-satunya loh. Kamu tahukan akibatnya jika menyakitinya ?"
"Saya sangat mencintai Aline Om, saya janji akan selalu menjaganya." sahut Dannis dengan tegas.
"Baiklah, saya pegang perkataanmu."
"Jadi kamu sudah mempertimbangkannya sayang ?" Nisa yang baru bergabung langsung menimpali anak gadisnya itu.
"Iya Mi."
"Syukur lah, Mami harap kamu bahagia Nak." Nisa memeluk anaknya itu.
"Kamu lihatkan, kami memperlakukan anak kami seperti berlian. Saya harap kamu juga akan memperlakukannya sama seperti kami." pinta Austin sedikit ketus.
"Baik Om, saya janji."
"Jika dia membuat kesalahan kamu boleh menegurnya, tapi ingat jangan sekali-sekali memukulnya karena kamu akan berhadapan langsung dengan saya." ujar Austin dengan menekankan kata-katanya.
"Saya tidak akan tega melakukan itu Om."
"Baiklah, jadi kapan kamu akan menikahinya ?"
"Kalau bisa dalam minggu ini Om, karena Papa sedang sakit jadi saya harus secepatnya kembali." jawab Dannis ada raut kekhawatiran di wajahnya ketika mengingat Ayahnya itu.
"Meskipun dia nanti menjadi istrimu, dia tetap anakku. Kamu tidak berhak melarang dia bertemu dengan kami orang tuanya." ujar Austin posesif.
"Tentu saja Om, kapanpun Aline mau saya tidak akan melarangnya." Dannis sepertinya mati kutu kalau sudah berhadapan dengan Austin, laki-laki paruh baya itu begitu posesif terhadap anaknya.
"Ada satu hal pribadi yang ingin saya tanyakan padamu." ucap Austin serius dan itu membuat Dannis terlihat tidak nyaman, ia takut kalau calon mertuanya itu membahas masa lalunya yang suka berganti perempuan.
"I-iya Om tanya saja." sahut Dannis pasrah.
"Kamu masih satu keyakinan dengan mendiang Ibumu kan ?" tanya Austin penasaran, karena hal inilah yang selalu menjadi ganjalan di hatinya ketika pertama kali tuan Nicholas berniat menjodohkan mereka.
"Tentu saja Om, hanya itu kenangan satu-satunya dari Mama yang saya pertahankan sampai sekarang. Meski saya bukan orang yang taat." sahut Dannis jujur dan lega tentunya sembari menunjukkan kartu tanda pengenalnya.
"Baiklah semua sudah jelas jadi lebih baik kita segera bersiap untuk pulang." ujar Austin seraya beranjak dari duduknya dan berlalu pergi yang di ikuti oleh istrinya.
__ADS_1
"Jadi kita menikah sayang ?" tanya Dannis yang sekarang pindah tempat duduk di sebelahnya Aline.
"Apa setelah menikah nanti, kamu akan menggigitku seperti Fergusso ?" tanya Aline memastikan, sepertinya sedari tadi ia merasa gugup bukan karena takut Ayahnya tidak menyetujuinya tapi lebih ke kata-kata Dannis yang di perjalanan menuju rumahnya tadi.
"Astaga sayang, itu gigitan enak dan ku pastikan kamu akan memintanya lagi dan lagi." sahut Dannis menggoda.
"Memang ada gigitan enak, yang ada sakit."
"Beneran mau nyoba nih ?" Dannis sudah mendekatkan wajahnya seakan ingin menciumnya.
Aline langsung mendorong tubuh Dannis dan segera beranjak dari duduknya meninggalkan Dannis yang sedang tertawa meledeknya. "Dasar mesum." ucapnya sembari berlari menaiki anak tangga.
"Polos sekali istriku ini." gumam Dannis yang merasa gemas sendiri.
Sore harinya mereka terbang ke Surabaya untuk mengurus acara pernikahan, sepertinya Austin dan istrinya sangat bersemangat karena mereka berdua yang akan mempersiapkan segalanya.
Keesokan harinya
"Ini Apartemen kamu ?" tanya Aline ketika baru masuk ke dalam Apartemen yang Dannis tinggali selama berada di Surabaya.
"Bukan, itu Apartemennya Papa."
"Pantas mewah sekali." Aline mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang di dominasi warna putih dan kuning keemasan.
"Lalu seleramu seperti apa, Apartemenmu di Jerman ?" tanya Aline yang matanya masih menjelajahi setiap sudut Apartemen tersebut.
"Seleraku sekarang kamu sayang." jawabnya seraya menarik Aline yang sedang berdiri hingga jatuh ke pangkuannya.
"Setiap hari aku akan mengurungmu seperti ini, agar tidak bisa kabur." katanya lagi sembari membelit pinggang Aline dengan kedua tangannya.
"Dannis geli." teriak Aline ketika laki-laki itu membenamkan kepala di curuk lehernya.
"Setiap hari aku akan membuat mu geli sayang sampai kamu minta ampun."
"Bisa tidak kalau tidak mesum, kamu sudah mengotori otak suciku ini." cebik Aline, sepertinya ia harus menerima resiko jika menikah dengan pria yang lebih dewasa karena lebih agresif dan kata-katanya tidak jauh-jauh dari adegan 21+.
"Setelah menikah aku akan membuat otak kamu tidak suci lagi sayang." celetuknya.
"Kamu benar-benar mesum."
"Mesum sama istri sendiri enggak ada yang melarang, jadi bagaimana kalau kita lanjutin yang di mobil kemarin ?" tanya Dannis menggoda.
"Aku malu banget kalau ingat itu " sahut Aline ketika mengingat terpergok security bandara waktu itu ketika sedang berciuman dengan Dannis di dalam mobil.
__ADS_1
"Kalau aku rasanya ingin menendang mereka ke Mars, sangat mengganggu." ucap Dannis yang seketika membuat mereka tertawa bersama.
"Jadi apa kamu sudah siap untuk malam pertama kita ?"
"Dannis please jangan mesum, aku nggak mau memikirkan itu." Aline terlihat sangat malu karena wajahnya sudah merah merona.
Kemudian dia tiba-tiba membopong Aline dan membawanya masuk ke dalam kamar. "Dannis lepaskan ?" Aline meronta-ronta.
"Aku tidak keberatan menggendongmu sayang dan aku akan melakukannya setiap hari." Dannis bukannya menurunkan justru membawanya berputar-putar seperti bayi.
Setelah merasa dirinya lelah baru menurunkannya di atas ranjangnya yang berukuran king size itu dan ia ikut membaringkan dirinya juga di sebelah Alin dengan napas yang ngos-ngosan.
"Capekkan, makanya ingat umur." celetuk Aline yang lolos begitu saja dari mulutnya.
"Astaga sayang, kamu pikir aku sudah tua. Jadi kamu meragukan kemampuanku ?" ucap Dannis seraya mengungkung Aline yang sekarang sudah berada di bawahnya.
"Dannis kamu mau ngapain, beneran aku cuma bercanda tadi." Aline sepertinya menyesali perkataannya tadi yang tanpa ia saring langsung nyeplos begitu saja.
"Sepertinya kita perlu melakukan gladi resik deh sayang sebelum malam pertama." sahut Dannis menggoda.
"Gladi resik ap.... hmmmp." Aline belum menyelesaikan perkataannya tapi Dannis sudah membungkam bibirnya dengan ciumannya.
"Tunggu !!" teriak Aline dengan melepaskan ciumannya.
"Rileks sayang, jangan tegang."
"Bukan itu, hanya ciuman saja kan ?"
"Astaga sayang kamu mikir apa, aku tidak akan melakukan lebih dari itu sebelum kita menikah." sahut Dannis lalu mulai membenamkan bibirnya kembali pada bibir tipis Aline.
Ia melum*tnya dengan rakus tanpa memberi celah Aline untuk menghindar bahkan ia semakin memperdalam ciumannya meski gadis di bawahnya itu hampir kehabisan napas.
Kini tangan Dannis mulai menelusup kedalam baju Aline dan membelai lembut perut ratanya. Sedangkan bibirnya sudah berpindah ke lehernya yang terlihat putih mulus hingga membuat Dannis mengisapnya beberapa kali tapi tak sampai meninggalkan jejak karena itu akan sangat membahayakan dirinya jika Ayah calon istrinya itu melihat.
Kring
Kring
Terdengar ponsel Aline berdering nyaring hingga membuat mereka menghentikan aktivitas panasnya itu, Dannis segera bangun dan mengambil ponsel Aline di atas nakas.
"Mama." ucap Dannis setengah berbisik dan menyerahkan ponsel tersebut kepada Aline.
"Alineeeeee pulang sekarang, kamu harus di pingit Nak !!" teriak Nisa dari ujung telepon.
__ADS_1