Alya Love Story

Alya Love Story
Kabar baik


__ADS_3

Pagi hari,mitha dan milen sudah berdiri manis di depan pintu rumah menunggu alya dan bara.Sesuai rencana,hari ini bara dan alya akan mengantar milen dan mitha ke bandara.Sebenarnya milen masih kukuh tak ingin ikut bersama sang mamah.Tapi karena sudah di nasehati oleh alya tadi malam,akhirnya milen menurut dan mau untuk ikut bersama sang mamah keluar negeri.Sebenarnya untuk anak seusianya,milen harusnya senang karena dia ajak ke luar negri.Tapi entah terlalu sayang dengan alya mungkin,membuat nya tak mau pergi jauh dari nya.


Bara dan alya turun berjalan kearah sang mamah.Di simpan nya dua koper yang hendak di bawa oleh mereka itu.Memang hari ini,bara sendiri yang akan mengantar sang mamah dan adik nya ke bandara.Mereka masuk mobil karena tak mau ketinggalan pesawat.


30 menit berlalu,mereka sampai di bandara soekarno-hatta,dengan cekatan bara mengambil koper dari dalam bagasi mobil nya.Ia dan alya mengantar hingga di ruangan tunggu bagi para penumpang.


Milen masih terlihat cemberut pada sang kakak.Ia sama sekali menyapa bara sejak di mobil hingga beberapa saat ia akan masuk pesawat.


"Mamah masuk dulu ya,jaga alya baik-baik!"


"Iya mah....."


Milen masih diam membisu.Tiga orang dewasa itu memang tau,jika milen masih kesal akan keputusan yang sudah di buat itu.Tapi dengan sabar nya alya memeluk tubuh mungil milen dalam dekapannya.


"Kak alya pasti akan kangen banget deh sama milen"


"Uwa.....Kak alya,milen pasti ga betah deh di sana.Apalagi ga ada kak alya"


"Udah sayang,milen harus kuat,lagian hanya seminggu kok.Jangan lupa ibadah nya ya"


"Iya kak,milen sayang kak alya"


Bara cemberut,ia sungguh kesal.Kehadiran nya bagai tak di butuhkan lagi.Ia merasa jadi patung dari tadi.Tanpa di sapa atau di toleransi oleh adik nya sendiri.


'Emang nya siapa sih di sini yang kakak nya,kok malah gue yang di kacangin'Batin bara.


Sampai masuk ke dalam pesawat pun milen dengan tega nya tak menoleh pada sang kakak.Mitha mengerti itu harus menghela nafas panjang.Ia tidak dapat lagi membuat sang anak merubah sikap nya.Milen dan bara akan sama-sama keras kepala nya jika sudah bulat dalam buat suatu keputusan.

__ADS_1


Bara mengajak alya pulang kerumah karena memang pesawat itu sudah lepas landasan. Keadaan semakin menegangkan saat bara maupun alya tak berbicara ataupun menoleh.Masing-masing sibuk dengan urusan dan dunia nya masing-masing.


"Jadi....bagaimana jawaban mu??"Tanya Bara ragu-ragu, pasal nya ia sedikit takut jika alya mengatakan hal yang akan membuat hati nya kecewa.


"Bisa kah tuan jangan bertanya hal itu lebih dulu.Sungguh,sama masih belum memikirkan nya".


"Baiklah..."


Telpon bara seketika berdering,memecah keheningan yang kembali terulang setelah percakapan singkat tadi.Dengan susah bara mengambil ponsel nya di aku celana nya.Sebenar nya bara bisa mengangkat telpon itu,tapi karena memiliki rencana lain,ia meminta alya mengangkat telpon untuk nya.Di angkat nya telpon dari rian itu.


"Boss gue udah nemu paman nya nona alya!!"Ucap rian di sebrang telpon itu.


Ia sama sekali tak tau jika alya lah yang mengangkat nya.Seketika alya mendekatkan ponsel itu ke telinga bara.Agar bara dengan mudah menjawab nya.


"Loe udah tau di mana alamat nya?"


"Udah boss"


Sambungan terputus,tak taman ponsel bara kembali berdering menandakan sebuah notifikasi dari e-mail nya.


"Kau sudah dengar bukan,paman mu sudah ku temukan"


"Sungguh"


Alya seketika senang dan tanpa sadar memegang tangan bara pelan.Mendapat hal itu bara bukan main senang nya.Sedangkan alya yang baru sadar itu mencoba melepaskan nya.Tapi brapa dengan cepat menolak dan menggenggam tangan alya erat.


"Tuan jangan seperti ini,kita bukan muhrim"

__ADS_1


"Bukan kah saya sudah mengkhitbah mu,apa salah nya?"


"Tetap saja tuan,mengkhitbah belum tentu menuju pelayanan,dan saya tak menginginkan hal itu".


"Baiklah....."


Bara melepas genggaman tangan nya,sebenarnya rasa sedih kini mulai memasuki hati nya.Di tolak seperti itu saja membuat nya terluka.Apalagi jika alya menolak nya menikah.Sungguh bara bisa mati di buat nya.


"Terimakasih sudah membantu menemukan paman dan bibi saya tuan.Saya akan berusaha untuk membalas semua kebaikan tuan yang sudah di lakukan untuk saya"


"Benarkah?Kalau begitu terimalah untuk menikah dan menjadi istri ku!"


Alya diam,mendengar jawaban bara.Sebenaranya ia masih membutuhkan waktu untuk hal itu.


"Sudahlah....aku hanya bercanda,saya tau kau masih memikirkan nya bukan?"


"Saya terima tuan"


Kalimat itu berhasil membuat hati bara berbunga-bunga.Sontak saja,ia mengirim mendadak menghentikan mobil nya.Sungguh bara hanya bercanda barusan,tetapi alya menanggapi nya berbeda.Bara menatap wajah alya lekat mencari kejujuran.


"Apa kau yakin?Saya tidak akan membuat mu mengambil keputusan begitu cepat.Terlebih karena terpaksa"


"Tidak tuan,saya sudah hampir memikirkan nya.Mungkin ia jalan terbaik dan saya sudah matang memutuskan hal tersebut"


Rasa nya bara sangat puas mendengar jawaban bara.Ia sangat senang melebihi mendapat saham besar dari beberapa kolega nya.


Bara menyalakan kembali mesin mobil nya menuju rumah.Karena ia tau jika alya sudah lelah seharian.Memang sebelum pulang,mereka ke toko buku,lalu ke restoran untuk merayakan keputusan yang sudah di buat oleh alya.Terkesan lebay memang,tapi apa daya.Orang kaya mba bebas melakukan semua nya.

__ADS_1


Bara berencana mengajak alya menemui paman nya nanti malam,di restoran yang sudah di persiapkan oleh rian terlebih  dahulu.


Bersambung


__ADS_2