
~Ku titipkan cinta ini hanya pada-Mu, jagalah hatiku dan hatinya dari rasa kecewa,hingga waktu itu tiba. Persatukanlah kami dalam restu dan Ridho-Mu~
Sudah dua hari ini alya merasa khawatir.Hatinya risau,ia tak keluar kamar,makan,maupun menyiapkan sarapan.Allah adalah tempat terbaik saat seperti ini bagi alya.Sholat tak pernah ia tinggalkan,doa selalu ia panjatkan.Tapi rasa itu masih tetap melekat kuat seperti lem di hati alya.
Rasanya ia tak bisa berfikir jernih,mungkin hal itu terjadi karena rasa rindu pada sang abi atau pada milen semata?entah lah yang pasti alya pun tak mengetahui nya.
Bara yang baru pulang dari luar kota itu terlihat seperti biasanya.Tanpa ada rasa heran sekalipun.Wajar saja,dua hari ini jadwal meeting nya sangat padat,ia pun harus mengontrol sendiri perusahaan cabang di luar kota.
Memang saat memasuki rumah bara merasa ada yang kurang,tapi semua pikiran itu ia tepis jauh-jauh.Bara ingin sesegera mungkin membersihkan tubuhnya yang sudah lengket karena keringat.Ia lantas masuk ke kamar.
Beberapa saat bara turun kebawah untuk makan siang,matanya mencari sosok yang sedari tadi tak nampak batang hidungnya.Bara masih berfikir positif dan melanjutkan acara makan siang nya.Fikirnya alya mungkin tengah membaca buku di kamar atau tengah sholat.
Setelah selesai makan,seorang pembantu menghampiri bara.Wajahnya sedikit takut untuk mengatakan sesuatu hal.
"Ada apa Bi? "
"Begini tu....tuan"
Bara menatap lekat sang bibi yang ia rasakan tengah ketakutan pada nya.Membuat bara semakin heran dan penasaran pada pembantu tersebut.
"Bicara saja bi!"
"Tu....tuan,non alya dari kemarin belum makan tuan"
"Kok bisa....kenapa alya ga makan?"
"Saya ga tau tuan,yang pasti dari kemarin tuh non alya ga keluar dari kamar non milen tuan.Saya bawa makan pun ga di makan,pintu nya di buka pun engga"
__ADS_1
"Trus kenapa saya nga di kasih tau bi?"
"Kemarin saya coba hubungi tuan tapi nga aktif,tadi pas pulang tuan kelihatan lelah.Jadi saya takut untuk mengatakan nya"
"Sudah....kembali bekerja"
Bara tak habis fikir,bisa-bisanya alya tak makan dua hari dan ia sama sekali tak mengetahui nya.Dengan cepat bara bangkit dari posisi duduk nya,ia lantas menaiki anak tangga yang menuju langsung kekamarnya,milen,dan kamar pribadi lain nya.
Bara mengetuk pintu kamar milen pelan,seraya bertanya beberapa kali.Ia berharap alya membukakan pintu kamar milen.Tapi sayang seribu sayang,alya tak merespon membuat bara kehabisan cara di buat nya.
Akhirnya setelah lama,bara mengingat jika setiap kamar di rumah nya memiliki kunci cadangan yang langsung di pegang olehnya.Buru-buru ia mencari kunci cadangan kamar milen di laci meja kerja nya.Setelah mendapatkan yang sudah di inginkan,bara kembali kedepan kamar milen.Seraya membuka pintu kamar itu.
Di bukanya pintu kamar milen itu,agar orang yang ada di dalam tak terganggu.Bara sangat terkejut melihat alya yang duduk bersandar di bawah kasur milik adiknya.Gordeng yang masih tertutup itu membuat pencahayaan sangat minim di tambah lampu yang di matikan.Keadaan tersebut tentu membuat bara nanar melihat nya.
Ia mencoba mendekat kearah alya supaya mengetahui permasalahan yang tengah di alaminya itu.Samar-samar bara mendengar isak tangis alya.Membuat hatinya semakin bersalah,jelas sekali alya tengah terguncang berat kali ini.
Bara mencoba membuka gordeng kamar milen agar cahaya bisa masuk dan menerangi kamar tersebut.Di tatap nya kembali wajah alya membuat bara semakin bersalah.Tatapan nya kosong,air mata terus-menerus mengalir deras di pipi,tangan gemetar membuat bara ingin sekali memeluknya.Membagi rasa kesedihan yang ada.Tapi tentu saja,alya akan menolak ketika bara memeluknya.
"Ada apa?"
Tak ada respon yang terlihat dari alya.Ia masih menangis tanpa menghiraukan pertanyaan bara padanya.
"Hei....Tatap mataku dan katakan ada apa?"
"Saya....Saya tidak tau tuan,rasanya saya sangat khawatir akan sesuatu hal yang dalam waktu dekat ini akan terjadi"
"Semua itu tidak akan terjadi,percaya padaku.Mungkin kau terlalu khawatir pada milen saja"
__ADS_1
"Tidak mungkin tuan,ini berbeda....Saya sungguh takut,bagaimana jika terjadi sesuatu pada hubungan kita sekarang?atau hubungan saya dan milen?bagaimana hiks..."
"Jangan mengatakan hal seperti itu,tenang saja.Selama saya disini kau akan aman,saya pastikan kita selalu bersama"
"Tapi...."
"Tak ada tapi-tapian,lebih baik sekarang kamu duduk bareng aku.Sebentar....aku panggil bibi buat bawa makanan kesini dulu!"
Bara pergi memanggil seorang pembantu untuk membawa nasi dan lauk untuk di makan alya.Bara kembali duduk berdampingan dengan alya yang masih murung itu.Tak lama pembantu itu membawa makanan dan di letakkan tepat di meja depan bara dan alya duduk.Bara mengambil piring itu lantas mengarahkan sendok berisi nasi dan lauk kemulut alya.
"Tuan...Saya tidak lapar.Lebih baik anda yang makan " Tolak alya sambil mengarahkan sendok itu kelain sisi.
"Jadi begitu,kau tak ingin makan.Kalau begitu saya pun sama"
Bara meletakkan kembali sendok berisi makanan itu.Tak lupa ia memang wajah cuek nya di depan alya.Melihat hal itu tentu alya merasa sangat bersalah.Ia kemudian membuka mulutnya pelan,bara dengan lembut menyuapi alya.Baru beberapa suapan alya mengelengkan kepalanya tak ingin makan kembali.Bara pun tak bisa memaksa,yang terpenting ada sedikit nasi yang bisa menjadi energi untuknya.
"Saya ngga mau kamu sakit hanya karena rasa khawatir terhadap sesuatu yang belum pasti"
"Bagaimana jika nanti hal itu benar-benar terjadi?Yang akan membuat saya terpisah dengan keluarga anda?"
"Tak akan....saya janji.Lebih baik sekarang kamu istirahat"
Bara mengarahkan alya untuk tidur di ranjang.Awalnya alya sama sekali tam bisa tidur,tapi bukan bara nama nya jika tak punya banyak cara.Lama setelah alya tertidur,bara pun baru keluar dari kamar milen.Bara juga merasa akan ada sesuatu yang terjadi dalam waktu dekat ini.
'Jangan kau buat dia seperti itu,membuat hatiku terluka.Jangan ada cobaan yang menguji nya sebelum aku bisa bersama nya.Lancarkan hubungan kami sebelum hari pernikahan.Hindarkan bahaya yang akan menjauhkan kami satu sama lain ya-rabb'Doa bara setelah selesai menunaikan sholat dzuhur,hatinya ikut cemas ketika melihat kondisi alya tadi.
Sebenarnya bara ingin sekali mengajari milen tentang keadaan alya saat ini.Tapi bara kembali berfikir jika ia memberitahu milen,tentu akan membuatnya khawatir dan mengamuk minta di pulang kan.Agaknya lebih baik ia saja yang boleh mengetahui semua hal ini.
__ADS_1
Setelah bergelut dengan pikiran nya,bara lantas menyelesaikan beberapa dokumen penting di meja kerjanya.
Bersambung