
Rian yang baru pulang dari bandung itu,lantas menemui bara di rumahnya.Karena bara sudah menunggu orang yang akan rian bawa.Rian di persilakan masuk oleh salah satu pembantu di rumah bara.Tak ingin membuang waktu,rian melangkahkan kakinya kekamar bara.Bara menyuruh rian yang baru sampai itu duduk di kursi yang memang di persiapkan di dalam kamar bara.
"Dimana dia?"Tanya Bara yang tak melihat kedatangan alya.
Rian di buat takut oleh bara.Bagaimana tidak,mata tajam itu ingin sesekali menerkam rian saat itu juga.
"Itu...."
"Itu apa,cepat katakan!"
"Sebenarnya saya tak bertemu dengan alya boss"
"Bagaimana bisa,bukankah kau kebandung?"
"Tentu....tapi saat saya datang,rumah pak husein tertutup seperti tak ada orang.Saya pun menanyakan pada tetangga di sana,mereka bilang alya sudah pergi dengan tuan ali dan yasmine"
"Itu tak mungkin,kau tak becus bekerja rian"
"Tapi itu yang saya dapatkan boss"
"Keluar..."Teriak bara yang mulai emosi.
Tak ingin kembali di marahi,rian melesat pergi dari kamar bara.Bara sangat frustasi yang kembali mengajukan seperti awal di tinggalkan oleh alya.Semua kamarnya berantakan.
Bara meraih ponsel nya mencari kontak ponsel bernama ali adhari.Ia kemudian menelpon ali tapi tak di angkat sekalipun.Tentu hal itu membuat bara semakin marah dan brutal.
Mitha yang mendengar kegaduhan dari kamr bara mulai cemas.Ia mengetuk beberapa kalian agar bara mau membuka kan pintu kamarnya,sayang nya ia gagal.Mitha kemudian memanggil supir yang di suruh untuk mendobrak kamar bara.Supir itu cukup kewalahan dengan pintu yang sangat kokoh dan kuat itu.Tapi usaha berhasil kala ia di bantu oleh pekerja kebun.Mitha melihat keadaan bara yang sangat kacau,ia lantas menyuruh para pembantu membersihkan kamar bara.Sedangkan ia menghampiri bara yang sedang menangis di dekat ranjang tidurnya.
"Apa lagi ini bara?"
__ADS_1
"Mah....alya pergi mah,bara ngga tau alya pergi kemana mah....Bara ngga bisa hidup tanpa alya mah"
"Bukannya kamu sudah bertemu dengan alya?"
"Iya...tapi dia tetap pergi dari sisi bara dan sekarang bara ngga tau keberadaan nya....lebih baik bara mati aja mah...bara ngga kuat kalau harus sendiri"
"Bara sadar sayang....mamah percaya kalau alya itu di takdirkan hanya untukmu.Jangan seperti ini,bangunlah....tegar,mungkin sekarang kamu berpisah,tapi nanti mamah yakin kalian bersatu kembali"
"Tetap aja,bara ngga bisa mah...sakit sekali rasanya jika tak ada alya"
"Mamah tau,tapi jika terus begini pun tak berguna"
Semenjak hari itu,bara bangkit kembali.Ia mencoba kuat dan kokoh seperti dulu dengan sifat yang dingin dan kejam nya.Banyak korban dari kemarahan bara.Dari mulai yang di pecat karena menumpahkan kopi pada sepatunya,tak masuk meeting penting, terlambat,sungguh masih banyak lagi.Banyak dari karyawan kantor nya yang mengundurkan diri,karena sikap kejam bara.Tak ada lagi senyuman yang terukir pada wajah bara.
Susan yang selalu menggangu bara pun tak lagi berulah, menghilang begitu saja.Terakhir ia bertemu dengan bara,pipi mulusnya merah karena tamparan yang di layangkan oleh bara.
Tiga bulan ini,waktu yang saat sulit bagi bara.Hidup tanpa kebahagiaan itu sangat menyakitkan,terlebih mamah dan adiknya pindah ke paris untuk mengelola bisnis.Pagi itu,rian juga kena semprot oleh bara.Padahal hanya salah ketik beberapa kata dalam sebuah dokumen.
"Sepengaruh apa perusahaan itu"
"Cukup berpengaruh di Singapore boss,perusahaan itu juga terkenal karena direktur nya yang memiliki kemampuan mengesankan.Terlebih dia adalah perempuan...."
Bara berharap jika itu adalah alya.Tapi karena masih ragu bara pun melupakan nya.Mana mungkin alya bisa kerja di Singapore dengan kan ia sendiri orang sederhana.
"Perempuan?...Siapa namanya?"
"Ah...Saya lupa,jadi bagaimana?"
"Baik"
__ADS_1
"Pertemuan akan di laksanakan di Singapore,dua hari lagi.Besok kita akan langsung pergi"
"Ini sudah malam,tidurlah di kamar yang berada di samping kamar milen"
"Thanks boss"
Rian pergi untuk istirahat.Hari ini ia tak kembali kerumah,karena sudah larut malam,bara pun menyuruh nya menginap.
Pagi hari nya,bara sudah siap dengan pakaian formal nya.Ia turun kemeja makan untuk sarapan pagi sebelum pemberangkatan nya ke Singapore.Rian yang juga baru selesai bersiap-siap itu mencoba menghubungi salah satu bawahan nya untuk membawa beberapa berkas kerumah bara.Rian ikut bergabung dengan bara yang lebih dulu menyantap makanan yang di sediakan pembantu nya.
Selesai dengan acara sarapan pagi,seorang karyawan mengantar berkas yang di minta oleh rian.Kemudian bara dan rian lantas masuk ke mobil menuju bandara.Penerbangan itu lebih cepat,dari perkiraan bara maupun rian.Memang Indonesia ke Singapore memiliki jarak yang cukup dekat.Mereka tiba tepat tengah hari di singapore waktu setempat.Cuaca yang panas membuat beberapa orang yang beraktivitas di luar ruangan berkeringat.
Sesegera mungkin rian menyewa sebuah mobil untuk mengantarkan mereka ke apartemen yang akan di tinggali oleh bara dan rian selama beberapa hari ini.
"Besok pagi kita bertemu dengan pemilik perusahaan H&A Company"
"Kau sudah urus semua nya?"
"Tentu..."
Sampai di sebuah apartemen mewah itu rian lantas membawa dua koper yang di bawa oleh bara dan dirinya.Mereka beristirahat satu hari penuh tanpa keluar rumah.
Bara melihat isi ponselnya.Entah kenapa ia tertarik membuka galeri,satu persatu bara lihat.Ia terdiam kala melihat foto alya yang sengaja di ambil saat alya membaca bersama nya di ruang baca.Ia senang memiliki sesuatu yang bisa menjadi menjadi penyemangat sejak tiga bulan lalu tak bertemu.
Sungguh aku sangat rindu denganmu,ucapan mungkin yang selalu mengatakan tuan padaku.Kebaikan mu,kesabaran, kecantikanmu,yang membuat candu untukku.Alya....cepat kembali padaku,rasanya aku ingin memeluk mu.
Batin bara yang tengah mengusap lembut foto alya di dalam ponsel milik nya.
__ADS_1
Bersambung