ANAK SULTAN SEASON 2 BABY TWINS.

ANAK SULTAN SEASON 2 BABY TWINS.
FLASHBACK KELUARGA PAK NAJIB.


__ADS_3

Setelah ayahnya pergi, Zamiri menutup pintu depan, dan membiarkan jendela samping terbuka. Untuk mendapatkan cahaya dari luar, karena memang, tak ada penerangan apa pun di dalam rumah tersebut.


Alex meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya, terutama di bagian kepala dan tangannya. Kemarin rasa sakit itu tak begitu terasa, tapi setelah di rumah ini..rasa sakit terasa berkali-kali lipat.


" Dek.. nama mu siapa?", tanya Alex dengan suara lemah sambil meringis menahan sakit.


" Nama ku Zamiri bang.", jawabnya sambil menunduk.


" Nama Abang Alex dek. Dek Abang bisa minta tolong gak?", tanya Alex sambil menatap kedalam manik hitam anak tersebut.


" Iya bang, boleh.", jawabnya.


" Pinjam handphone, Abang harus memberi kabar pada keluarga Abang.", ujar Alex sambil tersenyum lemah.


" Tak ada yang punya handphone Kat sini bang. Di pulau ini, tak boleh ada barang-barang macam tu.", jawabnya dengan logat Melayu yang cukup kental.


" Haaaah.. kenapa?", tanya Alex heran dan kaget.


" Entahlah bang. Kepala suku cakap, handphone tak baik buat Kami." jawabnya dengan suara lirih.


" Ya udahlah.. Tapi bisa tolong antar Abang ke Shafire Island?"tanya Alex lagi.


" Maaf bang, Abang tunggu ayah je.. nanti Abang tanya langsung sana ayah." jawab pemuda tersebut sambil kepala kembali merunduk.


Alex memandangi wajah anak di depannya ini. Zamiri berwajah tampan, berkulit sawo matang.. dan punya bola mata berwarna hitam pekat. Ia benar-benar tampan untuk ukuran anak yang tinggal di tempat yang terpencil dan tertinggal.


" Kamu sekolah kelas berapa?"tanya Alex lagi.


" Seharusnya SMP bang, tapi tak lanjut lagi. Orang tua saya, suruh saya balik dan tak boleh pergi lagi.", jawabnya dengan nada sendu.


" Emang Zam sekolah di mana dulu?", tanya Alex semakin penasaran.


" Di Anambas bang. Karena di pulau ini belum ada sekolahan." jawabnya lagi.


Alex mengerutkan dahinya. Sekali lagi matanya di buka, bahwa ketimpangan sosial itu benar-benar terjadi di negeri ini. Wilayah-wilayah pedalaman banyak yang tak tersentuh oleh program pemerintah. Jangankan untuk penyamarataan ekonomi, pendidikan yang menjadi hak setiap anak pun belum bisa mereka rasakan.


Pintu di ketuk dari luar, sontak hal tersebut membuyarkan lamunan Alex.


Zamiri segera bangkit, ia mengintip dari sela-sela lubang dinding. Setelah tau siapa yang mengetuk pintu, ia pun segera membukanya.


Ternyata yang datang adalah ayahnya.


Pak tua segera masuk kedalam rumah, tak lupa ia mengunci pintu rumah tersebut. Sebenarnya hal tersebut terlihat ganjil di mata Alex, tapi ia tak ingin bertanya.


" Emak mu mana?"tanya pak tua tersebut pada Zamiri.

__ADS_1


" Lagi masak Yah.. Kat dapur.", jawab Zam sambil duduk kembali di samping Alex.


Pak tua tersebut segera menuju dapur, memberikan seikat daun-daunan pada istrinya. Terdengar seseorang menumbuk sesuatu di dapur. Tak lama kemudian, pak tua datang kembali dengan semangkok ramuan obat-obatan yang telah di tumbuk halus.


" Maaf ya nak, bapak harus membalurkan obat ini di bagian luka mu.. biar luka-luka nya tak infeksi.", ujar pak tua tersebut pada Alex.


Alex hanya mengangguk, menuruti apa pun yang di katakan oleh orang tua tersebut.


Setelah selesai membaluri tubuh Alex dengan ramuan obat, orang tua tersebut berkata.


" Nak..jangan keluar rumah ya. Nanti kalau keadaan mu sudah membaik, aku akan mengantar mu jeluar dari pulau ini.",


" Kenapa gak boleh keluar rumah?", tanya Alex heran.


" Bapak tak bisa jelaskan..tapi turutilsh omongan bapak!!. ujar orang tua tersebut dengan mimik wajah serius.


Akhirnya Alex hanya bisa mengangguk, karena hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.


" Nama bapak, Najib. Dan ini istrinya saya Sutini.", terang pak Najib ketika istrinya membawa nadi dan lauk pauk di dekat Alex terbaring. Alex terbaring di ruang tengah. karena memang ruangan di rumah tersebut memang sangat kecil.


" Iya pak.. nama Saya Alexandre Mahardhika. Saya dari kota impian pak.", jawab Alex memperkenalkan diri. Alex mencoba untuk duduk, dengan di bantu oleh pak Najib.


" Nama mu bagus, seperti wajah mu.", timpal Bu Sutini sambil tersenyum.


Keluarga tersebut memang sangat baik dan ramah. Alex Tersenyum mendengar ucapan Bu Sutini.


" Gak papa Bu, ini juga udah mantap banget.", jawab Alex sambil balas tersenyum.


Di depan mereka ada satu panci nasi yang masih mengepul asap. Sotong masak hitam Ikan kakap steam dan sambal asam. Alex benar-benar ngiler di buatnya.


Pak Najib mengambil piring lalu mengudinya dengan nasi panas. Lalu ia memberikan pada Alex.


" Ni nak, lauknya ambil sendiri ya..", ujar nya sambil tersenyum.


" Makasih pak." jawab Alex.


Alex mengabil satu ekor Sotong masak hitam dan daging ikan kakap.. lalu sesendok sambal terasi.


Ia mulai menyuapkan nasi dan lauk ke mulutnya. Rasanya benar-benar nikmat. Sotong nya masih benar-benar fresh. Sepertinya baru saja di dapat. Begitu juga dengan ikan kakapnya.. di tambah dengan sambal terasi nya. Alex makan begitu lahap. Bu Sutini dan pak Najib tersenyum senang melihat Alex menyukai masakan mereka.


" Nak Alex suka?", tanya pak Najib.


" Iya pak, aku benar-benar suka. Apa lagi kalau ada istri ku, dia pasti bakalan ketagihan makan masakan ibu.", jawab Alex dengan mata berbinar.


" Nak Alex udah menikah?"tanya Bu Sutini sambil memandang wajah Alex.

__ADS_1


" Udah Bu.. saat ini istri sedang mengandung bayi kembar. Insya Allah kalau gak ada halangan, 5 bulan lagi lahiran.", jawab Alex sambil tersenyum.


" Istri bang Alex pasti cantik..?", tanya Zamiri.


" Alhamdulillah dek..tidak hanya wajahnya yang cantik, tapi ia juga mempunyai hati seperti malaikat.", jawab Alex sambil tersenyum. Di pejamkan matanya, srjekebat bayangan Ratu yang sedang tersenyum bermain di kepalanya.


Bu Sutini, pak Najib dan Zamiri ikut tersenyum melihat kebahagiaan di wajah Alex.


" Aku pengen banget ke kota impian.", ujar Zamiri setengah bergumam.


" Kamu bisa ikut aku pulang. kalau kamu mau", tawar Alex pada Zamiri.


Pak Najib dan Bu Sutini hanya tersenyum sambil mengangguk. Mata Zamiri berbinar bahagia.


" Beneran aku boleh ikut bang Alex pulang ke kota impian?", tegas Zamiri lagi seakan belum yakin.


" Boleh.. tapi biarkan bang Alex mu sembuh dahulu. Agar lebih mudah pulangnya nanti.", jawab pak Najib.


" Ayo selesaikan dulu makannya.. nanti cerita lagi.", ujar Bu Sutini. Yang sontak mbuat mereka menghentikan obrolan mereka dan melanjutkan acara makannya.


Selesai makan, Alex menyandarkan tubuhnya di dinding rumah tersebut. Lalu pak Najib menyerahkan segelas ramuan obat untuk di minum.


" Minumlah nak, agar luka di dalam yang tak kelihatan bisa cepat sembuh." ujar pak Najib.


Alex menerima gelas tersebut lalu mulai meminumnya. Alex mengernyitkan dahi nya serta dengan terburu-buru menutup hidungnya agar rasa dari ramuan tersebut tak terlalu berasa.


" Ahhhh..pahit banget pak.", keluh Alex dengan mimik yang seperti orang tang menahan muntah.


" Ya iyalah pahit, salah satu ramuannya adalah pasak bumi.", jawab pak Najib sambil tertawa yang di ikuti oleh Bu Sutini dan Zamiri.


" Pak.. kenapa Zamiri gak boleh melanjutkan ke SMP?", tanya Alex pada pak Najib.


" Kepala suku melarang anak-anak kami melanjutkan sekolah lebih tinggi. Ia tak mau, anak-anak tersebut kelak merusak tradisi dari leluhur pulau ini.", jawab pak Najib dengan wajah sedih.


" Peraturan dari mana seperti itu?", tanya Alex kesal.


" Tak ad seorang pun yang boleh menghalangi niat anak-anak untuk belajar dan sekolah. Apa lagi dengan alasan yang rak maduk akal.", lanjut Alex dengan nada emosi.


" Begitulah nak, kami tak punya keberanian untuk melawan.", timpal Bu Sutini dengan wajah pasrah.


Zamiri terlihat meneteskan air mata nya. Alex tau, keinginan anak tersebut untuk sekolah sangat tinggi.


" Tenang Lah dek, setelah keluar dari pulau ini..Aku akan berbicara dengan pemerintah setempat untuk menindaklanjuti masalah yang terjadi di pulau ini.


BERSAMBUNG

__ADS_1


.


__ADS_2