ANAK SULTAN SEASON 2 BABY TWINS.

ANAK SULTAN SEASON 2 BABY TWINS.
PANGGIL AKU MAMA.


__ADS_3

Setelah Richie dan Zevania pergi, kini tinggallah Jasmin dan neneknya bersama beberapa orang tetangga yang membantu Nenek Aminah dan Jasmin untuk beres-beres rumah.


Jasmin memandangi pakaian yang biasa jadi pakai almarhum ketika masih hidup. Tanpa terasa, air mata kembali mengalir di pipinya.


" Kek.. apa kakek udah tenang di sana sekarang? Gak merasakan sakit lagi dan gak merasakan beratnya hidup di dunia ini.


Kek.. apa yang harus kami lakukan kedepannya? Apa kami bisa melewati semuanya tanpa kakek lagi? Siapa yang akan menjaga dan melindungi aku lagi kalau kakek udah gak ada?"


Isak tangis Jasmin membuat nenek Aminah menghentikan kegiatannya. Di peluknya cucu kesayangannya tersebut.


" Jangan menangis lagi sayang. Kita berdua akan melewati semua ini dengan mudah. Percayalah.." hibur nenek Aminah.


"Andai mama dan papa masih ada, mungkin kita gak akan sesedih ini Nek." jawab Jasmin dengan suara parau.


" Allah punya rencana indah buat mu nak.. jangan putus aja. Tetap lah menjadi anak yang baik, dan jangan melalaikan ibadah mu." ujar nenek Aminah sambil tersenyum.


Jasmin membenamkan wajahnya di dada nenek Aminah. Merengkuh semua kekuatan yang ada di dalam tubuh ringkih nenek Aminah.


" Makasih nek... berjanjilah, bila nenek akan terus menemani ku hingga waktu itu tiba.", pinta Jasmin dengan suara pelan.


" Insya Allah, nenek janji!!!" jawab nenek Aminah sambil tersenyum.


Setelah Jasmin agak tenang, Mereka berdua kembali melanjutkan membereskan semua pakaian-pakaian almarhum. Memilah milih mana yang layak dan tak layak di pakai lagi. Membagikan pada orang yang membutuhkan.


Setelah selesai, Jasmin merebahkan tubuhnya di kasur tempat biasa almarhum Kakek Abdullah tidur. Ia mencoba untuk memejamkan matanya, terlihat.. ia begitu kelelahan.


Nenek Aminah tersenyum ketika melihat Jasmin tertidur. Ia lalu keluar dari kamar tersebut dan menemui tetangganya yang masih cukup banyak yang takziah.


🍀🍀🍀🍀🍀


Sementara itu, setelah mengantar Twins kembali ke rumah.. Ayu dan Ratu langsung menuju The Beach Cafe.


Mereka berdua terlihat cukup sibuk. Mengatur menu untuk tahlilan kakek Abdullah nanti malam. Memastikan agar semuanya terlihat sempurna.


" Ay.. kayaknya kita harus segera ke rumah Jasmin. Ngasih tau mereka untuk gak perlu bikin apa pun buat tahlilan kakek Abdullah nanti malam.", ujar Ratu pada Ayu.


" Ayolah.. ", jawab Ayu sambil langsung berdiri .


Ratu dan Ayu segera keluar dari Cafe, lalu menuju parkiran. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil.


Seperti biasa, Ayu lah yang menjadi supirnya. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


Hingga tak terasa, mobil tersebut telah berada di depan rumah pak RT tempat Nenek Aminah dan Jasmin tinggal.


Ayu dan Ratu bergegas turun dari mobil dan menuju rumah Nenek Aminah. Mereka berdua langsung di sambut oleh Nenek Aminah sendiri.


" Assalamualaikum..", sapa Ratu dan Ayu bersamaan sambil mencium tangan Nek Aminah bergantian.


" Wa'alaikum salam.", jawab Nenek Aminah sambil menyambut uluran tangan Ratu dan Ayu.


" Mari nak masuk", ujar Nek Aminah sambil mempersilahkan Ratu dan Ayu untuk masuk.


Sambil membungkukkan badannya, Ayu dan Ratu masuk kedalam rumah dan menyalami semua tamu yang sedang takziah.


Setelah itu mereka berdua segera duduk di samping Nek Aminah yang telah terlebih dahulu mendudukkan tubuhnya di dekat para tamu.


" Nek..kami kesini mau ngasih tau, untuk konsumsi orang yang tahlilan nanti malam, kita udah menyiapkan semuanya. Jadi nenek gak perlu bikin apa-apa lagi.",ujar Ayu sambil memegang jemari keriput milik nenek Aminah.


" Iya nek. Tinggal tempatnya aja lagi, mau di dalam rumah atau di depan rumah nenek..? kalau di depan rumah, berarti kita harus pasang tenda lebih besar dan menambah kursinya. Untuk antisipasi siapa tau hujan.", sambung Ratu.


" Kayaknya di depan rumah aja nak. Biar bisa banyak yang ikutan tahlilan. Tapi terima kasih banyak ya nak.. maaf udah merepotkan." jawab Nek Aminah sambil tersenyum memandang wajah Ayu dan Ratu bergantian.


" Ya Nek, sama-sama. Kami senang bisa melakukan ini semua.", jawab Ratu sambil tersenyum manis.


" Aku permisi dulu ya Nek..", Ayu berpamitan pada Nek Aminah.


" Oh ya Nak, silahkan.", jawab Nek Aminah sambil tersenyum.


" Mau kemana Ay..?", tanya Ratu sambil mengerutkan dahinya.

__ADS_1


" Jumpain pak RT, mau minta tolong untuk ngurus tenda sama kursinya.", jawab Ayu sambil mengedipkan sebelah matanya.


Ratu hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Setelah Ayu pergi, tinggal lah Ratu bersama Nek Aminah dan juga dengan para ibu-ibu yang sedang bertakziah.


" Jasmin kemana ya nek, kok aku gak lihat dari tadi?", tanya Ratu pada Nek Aminah.


" Oh dia ada di kamar Nak, tadi dia ketiduran stelah kelelahan menangis.", jawab Nek Aminah dengan wajah sendu.


" Haaahhh..ini pasti berat banget buat kalian ya Nek.", ujar Ratu sambil menghabiskan nafasnya dengan keras.


Dielusnya dengan lembut jari-jari Nek Aminah.


" Iya Nak. Kami tak hanya kehilangan belahan jiwa kami. Tapi kami juga kehilangan tempat untuk menggantungkan hidup.", jawab Nek Aminah dengan bibir bergetar.


Ratu merengkuh tubuh Nek Aminah kedalam pelukannya. Ia biarkan Nek Aminah menangis di pelukannya.. melepaskan semua kepedihan hatinya.


" Jangan takut Nek, seperti janji ku sebelumnya.. kalau akan bertanggung jawab terhadap kalian, sampai Jasmin menggapai cita-citanya.." ujar Ratu sambil tersenyum.


Air mata semakin deras membasahi wajah keriput Nek Aminah.


" Terima kasih Nak..semoga Allah membalas setiap kebaikan mu.", jawab Nek Aminah sambil mengelus wajah Ratu.


" Aamiin..", jawab Ratu sambil tersenyum.


Para ibu-ibu yang sedang takziah itu pun turut meneteskan air mata. Mereka merasa lega dan terharu.


Nek Aminah perlahan berhasil menguasai emosinya. Tangisnya pun telah terhenti. Ia mencoba untuk tersenyum.


" Nek..", rengek Jasmin dari depan pintu kamarnya.


" Eh udah bangun.. sini sayang.", panggil Nek Aminah pada cucunya tersebut.


Jasmin berjalan menghampiri Nek Aminah dan Ratu. Setelah dekat Jasmin segera mencium tangan Ratu, Ratu membalasnya dengan memeluk dan mencium kening Jasmin.


" Iya Tante..aku ngantuk banget tadi." jawab Jasmin dengan wajah malu-malu.


" Syukurlah Nak..", Ujar ratu sambil tersenyum.


Ratu lalu menarik Jasmin untuk duduk di pangkuannya. Jasmin hanya menurut, sambil menyamankan dirinya di pangkuan Ratu.


Sesungguhnya Jasmin sangat menyukai semua perlakuan Ratu pada nya. Ia bisa merasakan pelukan hangat seorang Mama.


" Tante kesini sama siapa? " tanya Jasmin sambil memiringkan kepalanya untuk melihat ke arah Ratu.


" Sama Aunty Ayu. Zevania sama Richie nanti malam kesini sekalian ikut yasinan..", jelas Ratu.


Jasmin manggut-manggut tanda mengerti. Ia lalu kembali duduk dengan tenang, sambil mendengarkan ibu-ibu yg sedang bercerita


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Ayu mondar mandir kesana kemari, mengatur meja prasmanan untuk jamuan para tamu setelah yasinan nanti malam. Total ada empat meja prasmanan.


Sementara tenda telah berdiri dengan sempurna, begitu juga dengan kursinya.


Menurut warga daerah sana, pak Soleh adalah orang baik.. sering membantu orang walau pun ia sendiri kekurangan.


Jadi Ayu memprediksi bahwa tamu yang tahlilan nanti malam pasti ramai.


" Gimana Ay, udah beres?", tanya Ratu sambil berdiri di samping Ayu.


" Beress..", jawab Ayu sambil mengedipkan matanya.


" Ya udah kalau begitu kita pulang dulu.. tolong pastiin sama orang Cafe, bahwa sesudah Maghrib semuanya udah tertata rapi di atas meja.", titah Ratu pada Ayu.


Ayu tak menjawab, hanya memberikan kode jempol pada Ratu. Ratu hanya mengedikkan bahunya sambil tersenyum.


Sambil menunggu Ayu telponan dengan orang Cafe, Ratu masuk kembali kedalam rumah untuk berpamitan sama nek Aminah dan juda para pentakziah.

__ADS_1


Jasmin dan Nek Aminah ikut mengantar Ratu ke mobil. Melihat Jasmin datang, Ayu segera menghampirinya.


" Halo cantik..", sapa Ayu sambil mengelus rambut Jasmin.


" Halo juga Aunty..", jawab Jasmin sambil mencium tangan Ayu.


" Panggil Aku Mama..", pinta Ayu.


" Haah..", Jasmin melongo kaget mendengar ucapan Ayu.


Begitu juga dengan Nek Aminah dan Ratu.


" Iya benaran, mulai sekarang aku akan menjadi Mama mu.", jawab Ayu sambil berjongkok di depan Jasmin.


Jasmin mengalihkan pandangannya pada Nek Aminah. Nek Aminah mengangguk, seakan menyetujui.


Air mata jatuh di pipi Jasmin dengan deras nya. Sungguh ia tak mampu membendung semua rasa yang ada di hatinya.


" Ma-mama..", panggil Jasmin terbata-bata.


" Iya sayang... aku Mama mu mulai sekarang.", jawab Ayu sambil menarik tubuh Jasmin kedalam pelukannya


Nek Aminah menangis haru. Sementara Ratu hanya tersenyum.


" Udah jangan nangis lagi. Mama gak mau anak Mama jadi jelek karena banyak nangis.", ujar Ayu sambil menghapus air mata di pipi chubby Jasmin.


Jasmin tertawa mendengar ucapan Ayu. Sungguh hatinya benar-benar Bahagia. Ia sekarang punya Mama yang akan slalu bersamanya dalam suka dan duku.


" Nek ... gak keberatan kalau Jasmin ku angkat menjadi anak ku?", tanya Ayu dengan nada hati-hati.


Nek Aminah tersenyum lembut.


" Gak sayang, buat ku.. kebahagiaan Jasmin adalah segala-galanya. Karena hanya dia yang ku punya di dunia ini.", jawab Nek Aminah dengan mata berkaca-kaca.


Sebenarnya kalau mau jujur, Nek Aminah sangat takut kehilangan Jasmin. Tapi ia sadar diri, bahwa ia tak akan mampu membahagiakan cucu satu-satunya tersebut.


" Baik lah.. nanti kita bahas lagi maslaah ini. Sekarang kami pulang dulu." ujar Ayu sambil berpamitan.


Ayu menciumi tangan Nek Aminah. Lalu ia mencium kedua belah pipi Jasmin dengan lembut.


" Mama pulang dulu ya nak.. nanti Mama balik lagi kesini", ujar Ayu sambil mengelus pucuk kepala Jasmin.


" Iya ma..", jawab Jasmin sambil tersenyum bahagia.


" Temani Nenek dulu ya nak.", ujar Ayu lagi.


" Siap ma..", jawab Jasmin.


Ratu hanya geleng-geleng melihat interaksi keduanya.


Ratu dan Ayu pun masuk ke dalam mobil. Melihat Ratu dan Ayu pergi, Jasmin lalu mengandeng tangannya Nek Aminah dan membawanya masuk kedalam rumah.


Rumah udah sepi, para ibu-ibu yang takziah juga udah pada pulang. Tinggallah bapak-bapak yang masih berada di depan rumah.. di bawah tenda.


" Nek.. nenek gak marah kalau Aunty Ayu jadi mamaku?", tanya Jasmin ketika ia hendak mandi.


" Gak nak, nenek gak marah. Nenek gak apa-apa hidup sendiri, asal kamu bahagia.", jawab Nek Aminah.


Walau sesungguhnya hatinya hancur, tapi ia tau..ia gak boleh egois.


" Aku gak akan kemana-mana Nek, tetap di sini nemanin Nenek.. Nenek jangan takut.", jawab Jasmin sambil tersenyum.


Nenek Aminah tersenyum mendengar ucapan Jasmin, Jasmin sang bunga Melur.


BERSAMBUNG.


HAI..AKU KEMBALI LAGI. INSYA ALLAH AKU AKAN KEMBALI AKTIF. MOHON DUKUNGANNYA YA. TOLONG BANTU VOTE, LIKE DAN JUGA KOMEN.


TERIMA KASIH 💜💜💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2