ANAK SULTAN SEASON 2 BABY TWINS.

ANAK SULTAN SEASON 2 BABY TWINS.
BERITA DUKA.


__ADS_3

" Zhafran.. udah sampai sayang.", ujar Ayu mengangetkan sang pemilik nama.


Zevania dan Jasmin pun terbangun karena Zhafran kaget.


" Eh maaf..kalian jadi terganggu karena aku kaget." ujar Zhafran sambil memandang dua orang bidadari cantik di kiri dan kanannya.


" Gak apa-apa. Justru kami yang minta maaf karena udah ketiduran di pundak mu. Makasih ya, udah pinjamkan pundaknya buat kami.", jawab Jasmin sambil tersenyum.


Zhafran mengangguk sambil tersenyum. Karena Zevania lanjut tidur, jadi Jasmin yang turun.. agar Zhafran bisa turun.


" Aunty.. Richie, makasih ya..", ucap Zhafran sambil berdiri di samping pintu Ayu.


Ayu mengangguk sambil mengacak-acak rambut Zhafran dengan gemes. Sementara Richie hanya mengangkat tangannya.


" Ya udah.. kami lanjut ya..", pamit Ayu pada Zhafran..


Zhafran mengangguk sambil melambaikan tangannya.. hingga mobil mereka hilang dari pandangan matanya.


🍀🍀🍀🍀🍀


Mereka kini telah berada di rumah sakit, tepatnya di kamar nenek Aminah di rawat. Karena nenek Aminah nya tidur dengan nyenyak, jadi Ayu segera menyuruh Jasmin untuk ganti baju tidur. Agar ia bisa langsung istirahat.


Setelah mengatakan hal tersebut, Ayu dan Zevania pun segera keluar dari kamar tersebut.


Setelah ganti baju dan sikat gigi, Jasmin langsung naik ke tempat tidur. Karena Richie menyuruhnya segera tidur.


Richie membantu Jasmin menarik selimut, dan menyelimutinya hingga sebatas dada.


" Good night Bunga Melur, sweet dreams" ucap Richie sambil mengelus kening Jasmin.


Jasmin mengangguk sambil tersenyum.


" Kami pulang ya..", ujar Richie sambil mengagumi senyuman manis Jasmin.


" Iya.. hati-hati. Terima kasih untuk semuanya.", jawab Jasmin. Senyum manis tak pernah hilang dari bibirnya.


" Sama-sama.", jawab Richie.


Richie langsung keluar dari ruangan tersebut, menemui Ayu dan Zevania yang duduk di kursi tunggu depan ruang kamar inap nenek Aminah.


Setelah melihat Richie keluar, Ayu dan Zevania langsung berdiri. Tanpa bicara, mereka langsung menuju lift.


Hanya beberapa saat mereka di lift kini telah berada di lobby Rumah Sakit. Para karyawan dan Dokter yang bertemu mereka slalu membungkuk dengan hormat. Mereka hanya membalas dengan senyuman.


Karena memang gak ada urusan lagi, mereka langsung menuju parkiran dan pulang.


Richie dan Zevania memilih duduk di belakang. Ayu hanya tersenyum melihatnya. Ia fokus ke jalan.. karena jalanan masih cukup ramai dengan kendaraan, tapi syukurnya gak macet. Jadi mereka bisa sampai di rumah tepat waktu.


Ketika mobil yang Ayu kendarai mendekati pintu gerbang, secara otomatis pintu gerbang rumah tersebut bergeser. Pintu gerbang tersebut menggunakan sensor infrared. Jadi tak perlu bantuan security untuk membuka gerbang.


Tapi tetap saja, pos security di gerbang tersebut tak pernah kosong. Mereka berjaga selama 24 jam bergiliran.

__ADS_1


Setelah sampai di teras rumah, Ayu segera turun dari mobil.. di ikutin oleh Twins. Zevania pun sepertinya udah ngantuk parah, sementara Richie walau udah mengantuk tapi masih bisa berjalan dengan sempurna.


" Assalamualaikum..", ucap mereka nyaris berbarengan.


" Wa'alaikum salam.", jawab suara dari ruang tamu.


Mereka segera masuk kedalam rumah, dan langsung menuju ruang tamu. Ada nenek Ningrum dan nenek Nancy yang sepertinya sedang ngobrol.


Ayu, Richie dan juga Zevania segera mencium tangan keduanya.


Ayu langsung duduk di sofa samping nenek Ningrum. Sementara Twins pamitan untuk langsung istirahat.


Setelah kedua bocah tersebut hilang dari balik pintu kamar mereka yang ada di lantai dua. Ayu segera merebahkan kepalanya di paha nenek Ningrum.


Nenek Ningrum mengelus rambut Ayu dengan lembut.


" Capek sayang?", ujar nenek Ningrum lembut.


" Eemmm..", jawab Ayu sambil menganggukkan kepalanya.


" Biar Twins di antar jemput oleh Bodyguard. Kamu udah cukup sibuk dengan urusan kantor.", nasehat nenek Ningrum tetap dengan suara lembut.


Ayu memejamkan matanya mendengar ucapan nenek Ningrum.


" Iya nak.. udah waktunya kamu menikah. Usia mu udah cukup matang untuk menikah.", sambung nenek Nancy.


Perlahan Ayu membenarkan posisinya yang tadinya tiduran kini menjadi duduk.


" Tenang saja nak.. semuanya akan baik-baik saja. Toh mereka juga bukan anak-anak biasa.", jawab nenek Ningrum berusaha menenangkan hati Ayu.


mm


" Kasihan Elang terlalu lama menunggu mu.", goda nenek Nancy sambil tertawa di ikuti oleh nenek Ningrum.


Wajah Ayu bersemu merah karena di goda oleh mereka. Tapi kemudian ia tercenung, memikirkan apa yang di katakan oleh nenek Nancy.


Ayu masih terdiam memikirkan ucapan nenek Nancy, ketika smartphone yang ada di dalam tasnya bergetar.


Ia mengerenyitkan alisnya ketika melihat nama yang melakukan panggilan telpon padanya.


" Assalamualaikum Dr Fino.", sapa Ayu. Terdengar suara tangisan dari seberang sana.


" Wa'alaikum salam mbak. Mbak mohon maaf menganggu, saya ingin mengabarkan pasien atas nama Abdullah telah menghembuskan nafas terakhirnya semenit yang lalu.", jawab Dr Fino yang sontak membuat Ayu terdiam.


" Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un..", ucap Ayu dengan nada gemetar.


Nenek Nancy dan bebek Ningrum sontak mengikuti ucapan Ayu.


" Mbak.. mbak..masih di sana?", terdengar kembali suara dr Fino.


" Iya Dok, terima kasih.. kami akan segera kesana.", jawab Ayu dengan gugup.

__ADS_1


" Baik lah mbak..", jawab Dr Fino langsung mengakhiri panggilannya.


Ayu segera berlari ke lantai dua rumah tersebut, untuk memberitahukan Ratu berita duka ini.


Ayu menggedor pintu kamar Ratu dengan terburu-buru. Hingga pintu kamar tersebut di buka dengan terburu-buru juga.


" Ada apa Ay.." tanya Ratu dengan wajah panik melihat Ayu telah menangis.


" Kakek Abdullah meninggal.", jawab Ayu sambil menangis.


" Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.." ucap Ratu. Tubuhnya nyaris terjatuh bila tidak segera di tangkap oleh Alex.


Mendengar ribut-ribut, twins pun segera keluar dari pintu kamar mereka masing-masing.


" Ada apa Mom.."Tanya Richie panik melihat Mommy nya nyaris pingsan.


" Kakek Abdullah meninggal dunia.", kali ini Alex lah yang menjawab.


" Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.."ucap keduanya. Kedua nya langsung menangis.


" Ayo kita berangkat ke rumah sakit sekarang.", ujar Alex.


Mereka semua akhirnya turun menuju lantai satu. Sementara Ratu di bimbing oleh Alex.


🍀🍀🍀🍀


Di sini mereka sekarang, di ruang ICU. kakek Abdullah belum di pindahkan ke ruang jenasah. Karena mereka menunggu Keluarga Diningrat terlebih dahulu.


Jasmin menangis sejadi-jadinya, sementara nenek Aminah hanya menangis tanpa suara. Ratu memeluk nenek Aminah, berusaha menguatkan beliau.


Tapi tak ada yang bisa menenangkan jasmin, sampai Richie tiba dan merengkuh tubuhnya kedalam pelukannya. Tangisan nya mulai mereda, ia mulai sedikit tenang.


Richie mengusap sisa air mata di sudut pipi Jasmin dengan lembut.


" Jangan bersedih, ini yang terbaik buat kakek. Doakan saja, semoga beliau Husnul khotimah.", ujar Richie lembut.


Jasmin hanya terdiam, karena sesungguhnya ia belum bisa ikhlas melepaskan orang yang sangat berjasa dalam hidupnya tersebut.


" Apa yang akan terjadi sama kami setelah ini.", ucap Jasmin lemah.


" Jangan khawatir, kami akan slalu ada di sisi kalian.", jawab Richie.


" Aku takut, siapa yang akan menjaga ku lagi


.", ujar Jasmin. Kembali tangisnya pecah.


Hati Richie terasa di remas, melihat Jasmin menangis tak berdaya.


" Aku akan menjaga mu.. aku janji.", jawab Richie sambil mengelus pundak Jasmin dengan lembut.


Berusaha meyakinkan Jasmin, bahwa ia tak sendiri.

__ADS_1


__ADS_2