
Stelah Satrio pergi, perasaan Richie masih saja gelisah dan tak tenang. Entahlah, perasaan nya benar-benar kacau.
" Kita pulang yuk..", ajaknya sambil menyentuh pundak Zhafran.
Zhafran yang dari tadi sangat memahami kegelisahan Richie pun segera mengiyakan ajakannya.
Mereka berpamitan pada anak-anak yang sedang main layangan.
Sementara Richie telah berjalan terlebih dahulu. Dengan sedikit berlari kecil, Zevania mensejajarkan langkahnya di samping Richie.
" Mas.. kamu kenapa?", tanya Zevania.
" Entahlah dek, aku kepikiran Jasmin. Perasaan ku mengatakan, kalau ada apa-apa sama dia.", jawab Richie sambil terus berjalan.
" Astaghfirullah.. mudah-mudahan itu hanya perasaan mu aja ya mas.", ucap Zevania yang kini ikut-ikutan gelisah.
Mendengar ucapan adiknya, Richie sejenak menghentikan langkahnya. Di tepuk nya pundak adik sambil tersenyum.
Tapi kemudian ia menyadari, bahwa Senja tertinggal di belakang.
" Nja'..", panggilnya sambil melambaikan tangan.
Mendengar namanya di panggil, Senja pun setengah berlari mendekati Richie. Di ikuti oleh Zhafran.
" Ada apa Rich?", tanya Senja sambil mengatur napasnya yang agak ngos-ngosan.
" Maaf ..aku ninggalin kamu.", ucap Richie sambil menggenggam tangan Senja.
Senja mengangguk sambil tersenyum. Hatinya menghangat, Richie masih tetap memperhatikan dia, walau pun ia terlihat sedang gelisah.
" Ayo kita jalan lagi.", ucap Zevania yang kini sudah di gandeng oleh Zhafran.
Mereka pun akhirnya melanjutkan langkah mereka lagi untuk pulang ke rumah Jasmin.
" Itu Om Satrio..", tunjuk Senja ke arah yang berlawanan.
" Kenapa dia sendiri, Jasmin mana?", tanya Richie yang terlihat semakin gelisah.
Mereka akhirnya berlari untuk mempercepat bertatap muka dengan Satrio.
" Mana Jasmin?", tanya Richie ketika mereka baru saja bertatap muka.
" Nenek bilang ia nyusul kita, setelah Gibran pulang.", jawab Satrio.
" Aaacchhh...cepat kalian berpencar, cari dia sampai ketemu.", teriak Richie sambil menarik rambutnya dengan kasar.
Semua bodyguard segera berpencar untuk mencari Jasmin. Kecuali Satrio dan Neka. mereka berdua masih tetap bersama Richie dan yang lain.
" Sebaiknya kalian tunggu di rumah Jasmin, kita nunggu di rumah.", ucap Neka.
Mereka semua mengangguk dan melanjutkan langkah ke rumah Jasmin.
Sesampainya di rumah Jasmin, Richie langsung berlari ke dalam untuk mencari nenek Aminah.
" Nek.. Jasmin pergi sama siapa?", tanya Richie.
" Tadi sehabis nganterin Gibran ke mobil, ia pamitan mau nyusul kalian main layangan.", jawab nenek Aminah.
" Tapi dia gak ada datang ke tempat kami nek.", ujar Richie .
" Terus dia kemana?", tanya nenek Aminah yang kini terlihat mulai ikut panik.
" Dia itu gak pernah main ke rumah teman. Justru teman-temannya yang sering main ke sini.", lanjut nenek Aminah dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Ayo nek, kita ke rumah teman nya yang biasa main kesini.", ujar Richie sambil menggenggam tangan Nek Aminah.
Nek Aminah pun mengangguk. Mereka akhirnya pergi ke rumah Nabila, teman yang biasanya main ke rumah Jasmin.
Sesampainya di sana, Nabila sedang duduk di teras rumahnya bersama Aini teman Jasmin juga. Tapi mereka tak melihat sosok Jasmin di sana.
" Eh Nek ada Aminah..", ucap Nabila sambil mencium tangan Nek Aminah.
" Nak.. Jasmin gak main ke sini?" tanya Nek Aminah.
" Gak ada nek.. dari tadi kami di rumah aja sepulang sekolah.", jawab Nabila.
"Ya Allah kemana anak ini.", ucap nek Aminah sambil meremas jari-jari nya.
" Emang Jasmin bilang mau kemana nek?", tanya Nabila.
__ADS_1
" Tadi dia bilang mau ke lapangan, mau menyusul teman-temannya main layangan.", jawab Nek Jasmin.
Nabila terdiam mendengar ucapan nek Aminah.
"Ayolah nek, kita cari Jasmin.", ujar Nabila sambil berdiri dan menutup pintu rumahnya. Membiarkan buku-bukunya berserakan di atas meja.
Mereka pun akhirnya mulai keliling mencari Jasmin. Bertanya pada siapa pun yang mereka temui. Menjumpai teman-teman yang Jasmin kenal. Tapi hasilnya nihil.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Tapi Jasmin belum juga di temukan. Mereka akhirnya pulang ke rumah, dengan tangisan nek Aminah sepanjang jalan.
Richie berinisiatif untuk menelpon Daddy nya. Meminta bantuan orangnya tuanya untuk mencari Jasmin.
Setelah panggilan tersambung, Richie pun menceritakan semua nya.
Alex terdiam, ia tau.. felling anaknya tak mungkin meleset.
" Baik, Daddy akan mengerahkan orang-orang untuk mencari Jasmin. Kamu jangan khawatir ya. Ingat, jangan jauh-jauh dari om Neka.", pesan Alex sambil mengakhiri panggilannya.
" Baik Dadd..", jawab Richie sambil mengakhiri panggilan telponnya.
Mereka telah sampai di rumah Nek Aminah. Para bodyguard yang ikutan mencari Jasmin pun udah ada di rumah. Mereka tak menemukan Jasmin. Jasmin seolah-olah hilang di telan bumi.
Nek Aminah menangis sejadi-jadinya. Ia benar-benar takut hal buruk menimpa harta satu-satunya yang ia punya di dunia ini.
" Richie.. tolong cari Jasmin, nenek takut hal buruk menimpa Jasmin.", ucap nek Aminah sambil memegang kedua pundak Richie.
Richie lalu memeluk nek Aminah.
" Nenek tenang aja, Daddy udah mengerahkan orang-orang nya untuk mencari Jasmin. Jasmin pasti akan kita temukan dalam keadaan baik-baik saja.
Nek Aminah mengangguk. Hanya percaya, itu yang bisa ia lakukan untuk saat ini.
☘️☘️☘️☘️
Sementara itu di kantor Alex. Ternyata Alex tidak sendirian, ada Ratu, Ayu dan juga Elang.
Mereka sedang membahas rencana pernikahan Ayu dan Elang.
Setelah menerima panggilan telpon, Alex terdiam.. ia seperti sedang berpikir keras.
" Ada apa yank?", tanya Ratu heran.
Mendengar jawaban Alex, Ayu sontak langsung berdiri.
" Hilang? hilang di mana?", tanya Ayu setengah berteriak.
Alex pun menceritakan apa yang telah di ceritakan oleh Richie. Mendengar hal tersebut, Ayu langsung menangis.
Elang membawa Ayu dalam pelukannya. Ia tau, gimana sayangnya calon istrinya tersebut pada Jasmin anak angkat nya.
"" Ayo kita ke rumah Jasmin sekarang.", titah Ratu sambil berdiri. Di ikuti oleh Alex dan juga Ayu dan Elang.
Dengan terburu-buru mereka menuju lift. Setelah sampai di lobby perusahaan, setengah berlari mereka menuju mobil.
Para Staff dan juga karyawan terlihat kebingungan melihat owner perusahaan tersebut terburu-buru. Tapi mereka hanya bisa melihat dengan kebingungan tanpa berani bertanya.
Sampai di mobil, Alex dan Elang langsung tancap gas menuju ke rumah Jasmin.
Karena jalan utama udah mulai padat, jadi mereka mengambil jalur alternatif.
Sementara Alex mengemudi, Ratu menelpon seseorang..ia memerintahkan orang tersebut mengerahkan orang sebanyak mungkin untuk mencari Jasmin.
Tak lupa Ratu mengirimkan photo Jasmin. Untuk di sebarkan ke pada anggota orang yang di perintahkan oleh Ratu.
Sambil menyandarkan tubuhnya, Ratu berkata." Perasaan ku gak enak yank.. aku merasa hal buruk akan menimpa Jasmin kalau kita telat menemukan nya.
" Iya, Richie pun berkata begitu.", jawab Alex sambil tetap fokus ke jalan.
" Kasihan anak itu..Dia terlalu berbahaya hidup di luar tanpa ada yang melindungi.", ucap Ratu sambil menarik napas panjang.
" Setelah ia di temukan, bawa mereka pindah ke Mansion kita.", saran Alex.
" Ayu pasti duluan yang akan lakukan itu.", jawab Ratu. Karena ia tau, gimana besarnya keinginan Ayu untuk mengadopsi Jasmin.
Alex terdiam, tak perduli di Mansion mereka atau pun di mansion Ayu.. setidaknya mereka masih bisa menjamin keselamatan Jasmin.
Tanpa terasa, kini mereka telah berada di rumah Jasmin. Karyawan dari The Beach Cafe sedang menata makanan dan juga kursi di bawah tenda. Malam ini ada malam terakhir tahlilan Kakek Abdullah.
Ayu dan Ratu langsung masuk kedalam rumah, di ikuti oleh Alex dan Elang.
__ADS_1
Richie dan juga Zevania langsung memeluk orang tua mereka ketika melihat mereka datang.
" Momm.. cari Jasmin.", ucap Richie sambil menangis.
Sungguh, ia bukan orang yang cengeng. Tapi untuk kali ini, ia benar-benar tak mampu menahan air matanya.
" Iya sayang.. kamu tenang ya, Mommy sama Daddy telah mengerahkan orang-orang terbaik kita untuk mencari Jasmin.", jawab Ratu mencoba untuk menenangkan anaknya.
Richie mengangguk kepalanya, ia percaya..orang tuanya akan lakukan yang terbaik untuk Jasmin.
Sementara nek Aminah telah menangis dalam pelukan Ayu.
" Anak mu hilang.. aku tak berguna, tak mampu menjaganya.", ratap nek Aminah.
" Sudah nek, jangan menyalahkan diri sendiri. Kita akan menemukan Jasmin.. berdoalah Nek.", jawab Ayu. Berusaha untuk menenangkan nek Aminah, walau ia sedang kalut dan ketakutan.
" Ayo kita coba telusuri jalan menuju kelapangan..mumpung masih siang.. siapa tau ada petunjuk.", ujar Ratu sambil berdiri. Dan di ikuti oleh yang lain.
Sebelum pergi Ratu berpesan.
" Jangan kemana-mana tunggu Mommy sama Daddy di sini.",
Richie dan juga Zevania mengangguk dengan cepat.
Ratu, Alex, Ayu dan juga Elang langsung keluar.. mereka berjalan di sepanjang jalan menuju lapangan. Berharap menemukan petunjuk.
Mata Ayu melihat sendal anak-anak terjatuh di pinggir jalan. Ia lalu mengambilnya.
" Apa ini sendal Jasmin?", tanya nya pada Ratu.
Ratu menggeleng." aku gak tau..tapi bawa aja, siapa tau itu bisa jadi petunjuk."
Mereka kini telah berada di lapangan. Lapangan tersebut telah sepi, tak terlihat anak-anak yang bermain.
Dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Sampai di rumah, anak-anak sedang duduk di bawah tenda bersama para bodyguard. Melihat kedatangan orang tua nya , Richie langsung berdiri.
" Gimana, ada petunjuk?", tanyanya.
Mereka semua menggeleng kepala. Richie kembali menghempaskan tubuhnya di kursi.
" Tapi apa kalian tau ini sendal Jasmin atau bukan?", tanya Ayu pada mereka. Mereka terdiam jujur mereka belum pernah melihat Jasmin memakai sendal tersebut.
" Itu sendal Jasmin, baru ku beli di pasar tadi.", jawab Nek Aminah. Nek Aminah langsung mengambil sendal tersebut sambil menangis .
Tubuh mereka semua menegang..mereka kini benar-benar yakin, telah terjadi hal buruk pada Jasmin.
Nek Aminah tiba-tiba roboh. Untunglah sebelum tubuhnya menghantam bumi, Alex segera menangkapnya.
Nek Aminah di gotong oleh Alex dan Elang menuju kedalam rumah.
Ayu berlari kedalam kamar untuk mengambil bantal. Setelah meletakkan bantal di lantai, nek Aminah pun di baringkan.
Zevania mengambil minyak kayu putih di dalam kamar Jasmin. Ia lalu memberikannya pada Ayu. Ayu segera membaluri tubuh Nek Aminah dengan minyak kayu putih.
Ratu dan Alex mengirimkan photo sebelah sendal yang mereka temukan pada orang-orang suruhan mereka.
Siapa tau itu bisa menjadi petunjuk untuk menemukan Jasmin.
Richie melamun, mencoba mengingat sesuatu. Tiba-tiba ia tersentak ketika mengingat sesuatu, mengingat tentang ucapan Jasmin Tetang seorang ibu-ibu yang pernah mengajak Jasmin untuk tinggal di rumahnya.
" Mom, Dad..ingat cerita ku tentang ibu-ibu yang mencurigakan itu hari?", tanya Richie.
" Oh iya, kenapa kita gak kepikiran ke sana.", jawab Ratu sambil memandang ke arah Alex.
Alex terdiam, ia membenarkan kecurigaan anak dan istrinya.
" Kita tunggu nek Aminah sadar, baru kita tanya tentang ibu itu.", jawab Alex.
Alex meminta Neka untuk menjumpai pak RT. Meminta pak RT untuk datang ke rumah Jasmin.
Karena pak RT pasti punya data-data tentang warganya.
BERSAMBUNG.
BANTU LIKE DAN KOMEN YA..
TERIMA KASIH.
MOHON MAAF BILA ADA TYPO.
__ADS_1
"