
Setelah kedua anaknya berangkat ke sekolah, Alex dan Ratu segera bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.
Tepatnya Alex lah yang memaksa. Ia tak pernah melihat kondisi istrinya se lemes ini.
Tadi nya ia akan menyuruh Dokter untuk datang ke Mansion mereka. Tapi karena ingin hasil yang maksimal, Alex akhirnya membawa Ratu ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Ratu langsung di tangani oleh Dokter. Setelah melewati beberapa saat pemeriksaan...akhirnya Dokter tersebut, mengarahkan Alex untuk ke dokter kandungan.
Dokter Tara Isabella SpOG yang tengah memeriksa Ratu terlihat tersenyum.
" Untuk memastikan hasilnya, kita harus melakukan USG..gak apa-apa kan nyonya?", ucap Dokter Tara sambil menatap wajah Ratu yang terlihat sedikit pucat.
" Ya Dok, gak apa-apa.. lakukan saja.", jawab Ratu balas tersenyum.
" Maaf Nyonya, bisa tolong di angkat dikit baju nya..", pinta Dokter Tara lembut.
Dengan sigap Alex membantu Ratu untuk mengangkat sedikit bajunya. Lalu dokter Tara mengoleskan gel Doppler di perut Ratu dengan lembut.
" lihat layar monitor nya Nyonya. Di sana ada dua titik. Itu tandanya nyonya sedang hamil anak kembar.", ucap Dokter Tara sambil terus mengerakkan alat transduser di atas kulit perut Ratu.
Ratu dan Alex langsung menatap ke arah layar monitor yang berada tepat di samping brankar pasien.
Tanpa sadar, air mata Alex menetes. Ia tak menyangka, Allah kembali menitipkan malaikat di kandungan istrinya.
" Alhamdulillah ya Allah..", ucap Alex sambil mencium tangan Ratu dengan lembut.
Ratu pun ikut menangis. Suasana haru melanda hati keduanya.
" Mulai sekarang, tolong jaga kondisi nyonya. Kandungannya masih sangat rawan, baru berusia tiga Minggu.", terang Dokter Tara sambil menutup perut Ratu kembali dengan menarik bajunya.
" Ya Dok, terima kasih ya.", ucap Ratu sambil tersenyum.
" Iya Nyonya, sama-sama.", jawab Dokter Tara sambil tersenyum.
Wajah haru dan bahagia Alex tak mampu ia sembunyikan. Di ciumnya kening Ratu dengan lembut, tanpa bisa ia cegah air mata jatuh membasahi kening Ratu.
" Terima kasih..", bisik Alex lirih.
Ratu hanya membalas dengan anggukan dan senyuman.
Setelah berhasil menguasai perasaannya, Alex membantu Ratu untuk duduk.
Mereka segera berpamitan untuk pulang, tentu saja setelah sang dokter menyerahkan kertas resep dan minta Alex dan Ratu untuk menebusnya di apotik.
" Dokter Arta, setelah kami pulang segera temuin Dokter Fino.", ujar Alex pada sang Dokter sebelum mereka keluar dari ruangan tersebut.
Dokter Arta hanya mampu terdiam, karena ia belum sempat bertanya, tapi Alex telah menutup pintu ruangan tersebut dari luar.
Dokter Arta tercenung, apa kira-kira yang telah ia lakukan hingga ia harus menjumpai orang nomer satu di rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Tak mau berfikiran terlalu menduga-duga, Dokter Arta segera keluar dari ruangannya dan menuju ruangan Dokter Fino.
Sesampai di depan ruangan Dokter Fino, Dokter Arta segera mengetuk pintu.
Setelah mendapat izin untuk masuk ia pun segera membuka pintu dan masuk kedalam ruangan Dokter Fino.
" Silahkan duduk Dok..", ujar Dokter Fino sambil tersenyum ke arah Dokter Arta.
" Terima kasih Dok.", jawab dokter Arta sambil tersenyum dan langsung duduk yang berhadapan langsung dengan meja Dokter Fino.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Dokter Fino menarik laci meja nya dan menyerahkan amplop berwarna coklat pada Dokter Arta.
Dokter Arta menerima surat tersebut dengan tatapan bingung dan kalut. Ia berfikir, kesalahan apa yang telah ia lakukan hingga ia di pecat.
" Maaf Dok, ini apa?", tanya Dokter Arta dengan suara bergetar.
Ia tak mampu menahan rasa sedihnya. Ia adalah harapan keluarganya. Dengan susah payah ia masuk ke rumah sakit ini, tapi baru beberapa bulan kerja ia sudah di pecat.
" Buka lah amplop itu.", jawab Dokter Fino sambil tersenyum.
Dengan tangan gemetaran, Dokter Arta membuka amplop tersebut. Di dalam amplop tersebut terdapat cek sebesar lima ratus juta.
Dokter Arta menatap dokter Fino dengan tatapan bingung.
" Ini cek untuk apa Dok?"tanya dokter Arta dengan perasaan gamang.
" Untuk mu.", jawab Dokter Fino lagi.
" Siapa yang memecat mu?", tanya Dokter Fino dengan dahi berkerut.
" Lalu ini cek untuk apa?", tanya Dokter Arta.
" Emmm... gini Dokter Arta, Bu Ratu dan Pak Alex memberikan cek tersebut untuk Dokter Arta.", jawab Dokter Fino dengan mimik wajah terlihat geli karena melihat wajah Dokter Arta yang kebingungan.
" Dalam rangka apa?", tanya Dokter Arta bingung.
" Sebagai ucapan terima kasih dan syukur karena Bu Ratu hamil lagi.", jawab Dokter Fino.
" Tapi nominalnya gak masuk akal Dok!", jawab Dokter Arta terlihat semakin bingung.
" Tak ada yang tak masuk akal bagi mereka.", jawab Dokter Fino dengan santainya.
" Tapi Dok...", belum sempat Dokter Arta menyangkal.
Dokter Fino telah memotong ucapannya." Udahlah Dokter Arta terima aja. Sebagai pemilik Rumah Sakit ini, itu adalah hal biasa buat mereka. Begitulah cara mereka meluapkan kebahagian.
" Pemilik Rumah Sakit ini?" seru Dokter akan Arta terkejut.
" Iya. Jangan bilang Dokter Arta gak tau kalau pasien mu tadi adalah pemilik rumah sakit ini..?
__ADS_1
Dokter Arta menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar shock. Untunglah yang tak melakukan kesalahan sedikit pun.
" Saya benaran gak tau Dok.", jawab dokter Arta sambil menutup wajahnya dengan kedua tapak tangan nya.
Dokter Fino terkekeh melihat reaksi Dokter Arta.
" Udah gak apa-apa, mereka puas dengan pelayanan mu.", ujar Dokter Fino berusaha menenangkan Dokter Arta.
Dokter Arta mengangguk.
" Dok.. cek ini beneran ya?", tanya Dokter Arta sambil membolak-balikkan cek tersebut dengan tatapan setengah ragu dan tak percaya
" Iya Dok... silahkan pergi ke Bank, dan cairkan cek tersebut jika kurang percaya.", jawab Dokter Fino sambil tersenyum.
" Dok.. kita bagi dua ya.." ujar Dokter Arta dengan wajah polosnya.
" Hahahaha.. gak usah Dokter Arta, itu buat mu. Dan itu rezeki buat mu dan keluarga mu.", jawab Dokter Fino sambil tertawa.
Dokter Arta tersenyum mendengar jawaban Dokter Fino.
" Kalau begitu baik lah Dok.. saya permisi dulu. Tolong sampaikan rasa terima kasih ku pada Bu Ratu dan Pak Alex ya Dok.", ujar Dokter Arta sambil tersenyum.
" Baiklah.. nanti akan saya sampaikan. Pergunakan lah uang itu sebaik mungkin.", pesan Dokter Fino pada Dokter Arta.
" Iya Dok, pasti. Saya mohon pamit mau kembali keruangan saya Dok.", ujar dokter Arta sambil mengulurkan tangannya pada Dokter Fino.
Sambil menyambut uluran tangan Dokter Arta, dokter Fino pun mengangguk sambil tersenyum.
Dokter Arta berlalu dari ruangan Dokter Fino sambil tersenyum. Hatinya benar-benar bahagia. Harapannya untuk memperbaiki rumah orangtuanya akan terwujud. Bahkan, ia juga bisa membuat usaha kecil-kecilan untuk kedua orang tuanya.
Tak lupa Dokter Arta bersyukur pada Allah, karena di berikan otak yang cerdas hingga ia bisa mendapatkan bea siswa untuk mencapai gelar Dokter nya.
Setelah Dokter Arta pergi, Dokter Fino pun meminta bagian keuangan untuk mengirim bonus kepada seluruh Dokter, perawat dan juga karyawan dan karyawati sebesar dua bulan gaji.
Tentu saja bagian keuangan menyambut berita tersebut dengan hati dan riang gembira.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu, Richie dan Zevania telah berada di kelasnya. Mereka sedang asik bercanda ria.
" Ze.. Jessy gak pindah ke sekolah kita?", tanya Senja pada Jasmin.
" Kalau Mama Ayu pasti maunya Jessy pindah sini. Tapi gak tau Jessy nya mau gak.", jawab Zevania sambil menatap kedalam manik Senja.
" Iya juga ya.. secara, dia juga udah punya banyak teman di sana.", ucap Senja sambil menopang dagu.
" Kalau dia gak mau pindah, kita kan masih bisa main ke rumah dia. Atau kita bisa jalan-jalan bersama.", ucap Zevania sambil mengelus pundak Senja.
Senja menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti.
__ADS_1
Gibran dan Richie hanya terdiam mendengar obrolan Senja dan Zevania.