
Tepat Adzan sholat Dhuhur, pesawat yang membawa mereka mendarat kembali di SHAFIRE ISLAND.
Mereka segera turun dari pesawat. Ratu mempersilahkan Atuk Soleh untuk menuju ke Villa. Di Villa tempat untuk Atuk Soleh telah di siapkan. Tentu saja setelah bersalaman dengan Cilla, Eva, Dimas dan juga semua bodyguard Ratu. Dan yang paling mengejutkan, laksamana muda Guntur Alam ternyata adalah cucunya.
" Atuk Soleh.", Seru Guntur kaget dengan mata terbelalak.
" Gak usah heran.", jawab Atuk Soleh dengan wajah datar.
" Atuk kenal sama Mbak Ratu..?", tanya Guntur lagi.
" Atuk kenal sama dia 6 tahun yang lalu. Sebelum nak Alex hilang. Ia telah menyumbangkan banyak hartanya untuk semua warga di tempat Atuk tinggal. Hingga kehidupan warga tempat Atuk sekarang sangat berkecukupan.", jawab Atuk Soleh pajang lebar.
" Oh begitu..", ujar Guntur sambil manggut-manggut.
" Atuk mau sholat dulu.", ujar Atuk Soleh.
" Ayo kita sholat berjamaah.", jawab Ratu sambil mengikuti Atuk Soleh ke mushola yang ada di villa tersebut.
Tanpa di komando, yang lain pun langsung m ngikuti.
Selesai sholat dhuhur, mereka segera segera berkumpul kembali di ruang tamu.
" Ayo kita berangkat sekarang aja. Aku takut masalahnya akan lebih rumit nantinya.", ujar Atuk Soleh pada Ratu setelah cukup
Ratu pun mengangguk setuju.
" Ayolah kita berangkat sekarang.
Mereka keluar dari Villa dan langsung menuju ke speed boat yang mesinnya telah di nyalakan oleh Dimas.
Atuk Soleh, Ratu, Cilla, Dewa, Guntur dan juga Pak Sarmidi segera naik ke speed boat dengan Dimas yang menjadi juru kemudinya.
Tak lama kemudian mereka telah tiba di Pulau Ujung. Atuk Soleh turun duluan menjejakkan kakinya di pasir.
Melihat kedatangan Speed boat, beberapa laki-laki segera datang dengan senjata di tangan.
Atuk Soleh terlihat tenang, tak ada rasa gentar sedikit pun.
" Panggil kepala suku kalian. Katanya padanya, Atuk Soleh datang berkunjung.", Ujar Atuk Soleh kepada laki-laki dengan senjata di tangan tersebut.
Salah satu dari mereka langsung berlari masuk kedalam Pulau. Sepertinya ia akan menyampaikan pesan dari Atuk Soleh.
Tak menunggu lama, kepala suku pulau tersebut datang ke tempat Atuk Soleh menunggu. Ia datang bersama anak dan istrinya.
" Atuk.. kenape tak bagi tau saye, Atuk nak datang bekunjung Kat sini." tanya Kapala suku tersebut dengan logat Melayu nya sambil mencium tangan Atuk Soleh yang di ikuti oleh istri dan anak perempuannya.
" Macam Mane saye nak bagi tau.. nak telpon pun tak boleh.", jawab Atuk Soleh dengan muka masam.
" Hehehehe.. Ye lah tu.", ujar kepala suku sambil tersenyum.
__ADS_1
Ia lalu mengajak Atuk Soleh dan yang lainnya untuk pergi ke rumahnya. Anak dari kepala suku tersebut semakin tidak menyukai Ratu. Tapi ia tak bisa berbuat apa pun, karena Ratu datang bersama Atuk Soleh.
" Sebenarnya Atuk Soleh ini siapa sih, kok orang di pulau ini kayaknya segan banget Ama beliau.", bisik Cilla sambil berjalan di samping Ratu.
" Entahlah, nanti kita akan cari jawabannya." jawab Ratu sambil tersenyum.
Mereka kini telah berada di teras rumah kepala suku. Rumah kepala suku berbentuk panggung setengah tiang. Rumah khas Melayu tempo dulu. Terasnya cukup luas, cukup untuk menampung banyak orang. Atuk Soleh duduk di samping kepala suku. Sementara Ratu duduk di samping Guntur.
" Sebenarnya, Atuk datang kemari Ade hal penting.", ujar Atuk Soleh membuka percakapan.
" Hal ape tu..?" tanya kepala suku dengan mimik serius.
" Sebelumnya perkenalkan dulu orang-orang yang datang bersama Atuk. Yang cantik di samping Guntur namanya Ratu. Ratu adalah donatur di pulau tempat kami tinggal. Hingga kehidupan di pulau kami sekarang sangat baik. Atuk dan seluruh keluarga yang tinggal di pulau tempat kami... berhutang Budi padanya. Nah, tujuan kami kesini, untuk mencari suaminya yang hilang 6 tahun yang lalu. dan Atuk tau, bila Alex suaminya ada di sini." terang Atuk Soleh tanpa basa basi.
Sang kepala suku tampak terkejut. Ia tak menyangka, bila kedatangan Ayuk Soleh adalah untuk mencari Alex.
" Jadi Atuk udah tau kalau dia ada di sini?" tanya kepala suku dengan nada agak gugup.
" Bahkan Atuk juga tau, bila anak mu lah yang menahannya.", sentak Atuk Soleh tegas.
" Aku tak akan membiarkan Alex pergi dari sini.", teriak anak kepala suku dengan keras.
" Tapi Alex tak akan pernah bisa kamu miliki. Karena hati dan cinta cuma buat Ratu.", bentak Atuk Soleh dengan wajah memerah menahan marah.
" Aku tak perduliiii..!!!!", jerit gadis tersebut seperti orang gila.
" Zubaidah..ayah telah ingatkan dari awal-awal lagi. Kau tak boleh paksa seseorang untuk suka sama engkau.", bentak kepala suku dengan keras.
" Dia milik ku, jangan sekali-kali kau bawa dia keluar dari pulau ini.", bentak Zubaidah pada Ratu.
" Diammmm.. jangan buat aku bertidak kelewatan pada mu.", Ratu balas membentak.
Muka Ratu memerah, kemarahan sudah tak bisa ia bendung lagi. Rasa khawatirnya akan keadaan Alex membuat ia sulit untuk mengendalikan diri.
" Dorr..dorr..dorr..
Suara tembakan terdengar beberapa kali di udara. Semua orang langsung memandang ke arah suara tembakan.
Tuan Diningrat dan Alvin asistennya berjalan bersama beberapa orang bodyguard ke arah rumah kepala suku.
" Papaaa...", seru Ratu sambil berlari ke arah tuan Diningrat. Tuan Diningrat menyambut dengan memeluk putrinya dengan erat.
Suasana benar-benar mencekam. Warga pulau tersebut terlihat bersiap-siap untuk menyerang tuan Diningrat dan yang lain.
" Jangan ada yang bertidak.. biarkan dia datang kesini.", teriak Atuk Soleh dengan keras.
Warga yang tadinya telah bersiap-siap untuk menyerang kini mulai mundur.
Tuan Diningrat kemudian melanjutkan langkahnya menuju rumah kepala suku.
__ADS_1
" Assalamualaikum.." sapa tuan Diningrat pada Atuk Soleh.
" Wa'alaikum salam.", jawab Atuk Soleh dan yang lain nyaris bersamaan.
" Perkenalkan, Aku Surya Diningrat, papa dari Ratu. Tujuan ku kesini untuk membantu putri ku dan juga membawa suaminya pulang.", terang Tuan Diningrat dengan tenang dan berwibawa. Wajahnya yang tampan membuat siapa pun terpana. Tapi nada suaranya dan tatapan nya mampu mengintimidasi siapa pun.
" Baiklah.. aku akan menyuruh orang untuk membawanya kesini.", ujar kepala suku sambil memberi isyarat pada salah seorang warga.
" Tidak.. kalian tidak boleh membawa Alex." teriak Zubaidah sambil melompat mengejar warga yang akan menjemput Alex.
Melihat hal tersebut, Ratu segera lompat dari tempat duduknya. Di kejar nya Zubaidah.. setelah dekat, baju Zubaidah di tariknya dengan keras.
" Udah ku bilang, jangan buat aku bertindak kelewatan.", bentak Ratu dengan wajah bengis.
Zubaidah kemudian memutar tubuhnya dengan cepat, sedikit lagi.. tinjunya akan mengenai pelipis Ratu. Secepat kilat Ratu mengirim tendangan ke arah tungkai Zubaidah. Terdengar jeritan Zubaidah, dengan di iringi bunyi gedebuk tubuhnya yang terpental.
Semua orang langsung lompat ke arah Zubaidah dan Ratu.
Ketika warga hendak menyerang Ratu, tuan Diningrat segera membentak.
" Kalau sampai Putri ku terluka sedikit pun.. akan ku ratakan pulau ini dengan tanah." bentak tuan Diningrat dengan keras. Warga yang hendak menyerang terlihat ketakutan dan mengurungkan niatnya.
" Tenanglah nak.." ujar Atuk Soleh pada Ratu.
Tuan Diningrat segera memeluk Ratu yang terlihat madih sangat emosi.
Sementara it u tubuh Zubaidah segera di angkat oleh kepada suku menuju rumah nya. Tak ada sepatah pun kata yang keluar dari bibirnya.
Tiba-tiba beberapa orang warga datang bersama seorang laki-laki yang di gotong menggunakan tandu. Laki-laki tersebut berkulit putih, bertubuh agak berisi dan berwajah tampan. Tapi sepertinya laki-laki tersebut sedang tertidur.
" Mas Alexxxxx..", teriak Ratu yang langsung mengenali wajah tersebut.
Semua orang mengerubungi laki-laki yang berada di dalam tandu tersebut.
Ratu memeluk tubuh Alex sambil menangis histeris. Ia bahagia ternyata suaminya baik-baik saja. Tapi ia bersedih karena belum tau kondisi psikis suaminya.
" Paaa... kenapa Alex tidur aja? Kenapa ia tak bangun?", tanya Ratu beruntun dengan air mata mengalir membasahi pipinya.
" Alex gak papa.. ia hanya di beri obat-obatan herbal, agar Alex slalu tertidur.", Atuk Soleh yang menjawab.
" Paa.. ayo bawa Alex ke rumah sakit." rengek Ratu pada papanya.
Tuan Diningrat mengangguk.
" Bawa Alex ke dalam Speed boat." perintah tuan Diningrat pada bodyguard nya.
Tubuh Alex langsung di angkat menuju Speed boat.
" Atuk Ayo kit pulang"ajak Ratu pada Atuk Soleh dan Atuk Soleh pun mengangguk. Ia pergi dari pulau itu tanpa berpamitan.
__ADS_1
BERSAMBUNG.