
Sepulangnya dari latihan beladiri, Richie meminta Neka untuk mengantarkan Senja pulang ke rumahnya. Tentu saja setelah mereka pulang ke Mansion terlebih dahulu untuk mengambil pakaian sekolah dan juga tas Senja.
Tadi di tempat latihan, Richie meminta coach yang biasa melatih mereka untuk memberikan latihan ekstra untuk Senja.
Karena Richie gak mau kejadian yang menimpa Jasmin, juga akan menimpa Senja.
Setidak-tidaknya, mereka tau gimana caranya menghadapi situasi yang paling sulit sekalipun.
Walau terlihat kecapekan, tapi wajah Senja terlihat sangat senang.
" Mulai besok, setiap pulang sekolah.. kamu ikut kita pulang ke Mansion. Setiap hari kamu akan ikut kita latihan. Bukan untuk berantem, tapi untuk mempertahankan diri.", ujar Richie sambil memutar tubuhnya menghadap ke kursi penumpang.
" Ia Rich, emg aku rencananya tiap pulang sekolah mau nemanin Zevania sampai Mama pulang.", jawab Senja sambil tersenyum manis.
" Iya mas, biar aku gak terlalu kesepian." timpal Zevania sambil ikut tersenyum.
" Baguslah kalau begitu", jawab Richie singkat.
" Kamu juga Ze, latihan lebih giat lagi. Tadi tendangan kaki depan mu atau Ap Chagi terlihat tak bertenaga. Kuda-kuda mu kurang kokoh. Sewaktu kalian sedang latihan tadi, salah satu coach ngomong sama aku. Dan pas aku lihat emang kayak gitu", ujar Richie sambil menatap Zevania tajam.
" Maaf mas.. Kita kan emang udah jarang latihan sekarang.", jawab Zevania sambil tertunduk.
" Oke..oke.. Berarti mulai besok lebih giat lagi ya. Kita akan latihan setiap hari.", putus Richie sambil merubah kembali posisi duduknya.
" Bagaimana kalian bisa hidup di luar dan berbaur dengan orang di luar sana kalau kalian tak cukup mumpuni untuk jaga diri.", ujar Richie sambil memiringkan tubuhnya agar bisa menatap adiknya.
Zevania dan Senja hanya terdiam sambil menunduk.
"Mommy kita dan juga Mama Ayu adalah contoh wanita hebat yang bisa menjaga diri sendiri. Itu lah sebabnya Eyang, Grandfha dan juga Grandma mengizinkan mommy untuk pisah dari mereka.", lanjut Richie sambil menunggu reaksi dari adiknya.
Benar saja, Zevania langsung mengangkat kepalanya seraya bertanya.
"Emang mas tau dari mana kalau Mommy di izinkan jauh dari mereka?",
" Grandfha yang cerita.", jawab Richie singkat.
Zevania terdiam mendengar penuturan Richie. Dia memang sangat mengangumi Mommy nya. Sosok wanita cantik, mandiri, tegas, disiplin dan juga baik hati.
Baginya, Mommy adalah sosok wanita sempurna.
" Iya mas, aku janji akan lebih giat lagi.", ucap Zevania sambil tersenyum manis.
" Kalian harus bisa saling melindungi saat aku tak berada di dekat kalian suatu hari nanti.", ucap Richie sambil menarik napas panjang.
" Kenapa kamu ngomong gitu!" tanya Senja.
" Aku ingin belajar lebih giat lagi. Aku ingin ikut Ekselerasi. Harapan ku, saat usia ku 20 tahun, aku udah mengantikan Mommy untuk memimpin perusahaan. Bisa aja di satukan dengan perusahaan Daddy, tapi kasihan Daddy.. akan menguras banyak waktunya untuk kita dan juga Mommy.", ucap Richie sambil menatap ke arah Senja dan juga Zevania.
" Berarti kamu akan duluan selesai sekolahnya dari pada kami?" tanya Senja.
Richie mengangguk tanda mengiyakan.
" Di sekolah kita juga ada program Ekselerasi. Kalau kalian mau coba ikut test.", jawab Richie.
" Aku gak mas.. bukan aku gak mampu. Aku ingin menikmati semuanya step by step.", jawab Zevania dengan santai.
" Aku juga..Aku masih ingin main sama Zevania.", jawab Senja sambil tertawa.
" Andai aku bukan anak laki-laki yang menjadi tumpuan dan juga harapan keluarga, mungkin aku juga mau kayak kalian.", jawab Richie sambil tersenyum.
" Aku udah bilang sama Mommy dan juga Daddy.. Aku gak ingin ikut campur masalah perusahaan. Aku ingin hidup dengan cara ku sendiri.", ujar Zevania.
Richie tak menjawab, ia hanya mengangguk. Karena ia juga mendengar saat adiknya berbicara seperti itu pada orang tuanya.
__ADS_1
Sementara Neka hanya terdiam mendengar percakapan orang-orang yang ia jaga dengan nyawanya tersebut.
Mereka memang baru berumur 6 tahun, tapi cara mereka berpikir udah seperti anak SMU. Gak heran bila mereka di juluki Genius Twins.
Tak terasa, mereka telah berada di depan rumah Senja. Rumah mungil yang terlihat apik dan cantik. Oh ya, Senja dan Bu Maria mamanya Senja udah pindah rumah. Mereka sekarang tinggal di perumahan untuk kelas menengah. Rumahnya gak besar, tapi nyaman.
Mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya, Bu Maria segera membuka pintu. Ia tersenyum ketika melihat yang turun dari mobil mewah tersebut adalah anaknya. Ia lalu berjalan menuju kearah mobil yang mengantar anaknya tersebut.
" Assalamualaikum.. ", ucap Senja sambil mencium tangan Mamanya.
" Wa'alaikum salam." jawab Bu Maria sambil mengelus rambut anaknya.
" Kalian gak mau mampir dulu?", tanya Bu Maria pada Richie dan juga Zevania.
" Gak Tante..kami mau langsung pulang, mau mandi. Gerah banget rasanya.", jawab Zevania sambil tersenyum.
" Iya Tante.. lain kali kami mampir.", sambung Richie sambil tersenyum.
" Baiklah.. terima kasih ya. Hati-hati di jalan", ucap Bu Maria sambil tersenyum.
" Baik Bu.. kami permisi.", ucap Neka sambil tersenyum.
Melihat mobil yang membawa Zevania dan Richie tersebut menghilang.. barulah keduanya masuk kedalam rumah.
Bu Maria sekarang terlihat cantik dan segar.
Wajahnya yang kini telah terawat terlihat semakin mempesona. Pakaian yang bungkus tubuhnya pun kini telah mengikuti dunia fashion.
Dan di depan rumahnya kini telah terparkir cantik sebuah mobil Honda jazz. Hadiah dari Ratu atas keberhasilan ia dan teamnya dalam menangani proyek mall yang berada di Batam.
Bahkan rumah yang ia tempati sekarang pun adalah pemberian Ratu untuk Senja. Agar Senja dan dia tak di ganggu lagi keluarga mantan suaminya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Di sinilah mereka sekarang, duduk di pinggir jalan menunggu sate kambing di bikin.
Tak hanya mereka bertiga, bodyguard yang lain pun ikut turun dari mobil. Jadi lah sekarang mereka memenuhi lapak sate tersebut.
Kedatangan para bodyguard tersebut menjadi pusat perhatian. Beruntunglah, para bodyguard tak duduk bersamaan dengan Richie, Zevania dan juga Neka.
Jadi setidak-tidaknya hanya para bodyguard yang menjadi perhatian pengunjung.. bukan Twins.
Richie meminta pelayan untuk membuatkan dua belas porsi sate kambing.
Tadi Neka maunya mereka makan di rumah, tapi Zevania ingin makan di sini. Karena Richie yang mengizinkan, jadi lah mereka duduk di sini sekarang.
Mata para bodyguard teliti melihat kiri dan kanan. Memindai takut ada yang berniat jahat pada anak kedua bocah tersebut. Mereka tak pernah lengah.
Setelah hampir tiga puluh menit menunggu, seluruh pesanan mereka telah siap untuk di nikmati. Segelas teh bunga melati menemani seporsi sate kambing dengan Sauce Kacang.
Ketika mereka baru saja menyantap makanan, tiga orang anak punk menghampiri mereka.
Mereka membawa gitar dan kecrekan. Mereka mulai menyanyi, suara mereka juga bagus.
Setelah selesai menyanyi, mereka menyodorkan kantong bekas Indomie ke semua pengunjung.
Sampai di meja Zevania, Richie dan juga Neka.. Para bodyguard mulai waspada. Termasuk Neka yang berdekatan langsung dengan Twins.
" Abang udah makan?", tanya Zevania.
" Nanti Non, kami makan di basecamp aja. biar bisa makan rame-rame." jawab yang paling banyak tindik dan tatto nya dengan sopan.
" Kalian mau makan sate kambing gak?", tanya Zevania kembali.
__ADS_1
Terlihat ragu-ragu ketika ia menganggukkan kepalanya.
" Pesan lah sebanyak yang kalian mau.", ujar Zevania sambil tersenyum.
" Se-serius Non..?", tanya dengan nada gugup dan sedikit gak percaya.
Zevania mengangguk sambil memanggil pelayan. Pelayan pun mendekati Zevania.
" Mas.. tolong bikin kan berapa porsi pun pesanan mereka.", ucap Zevania sambil menunjuk dengan ibu jarinya ke arah anak punk tersebut.
"Oh baik Mbak..", jawabnya sambil mendekati anak punk.
" Mau pesan berapa porsi mas?", tanya pelayan tersebut dengan nada sopan.
" Tiga aja mas.. tapi pake nasi ya.", jawab anak punk tersebut sambil tersenyum.
" Emang berapa orang yang di basecamp Bang?", kali ini Richie yang bertanya.
" Ada sepuluh orang Den." jawab nya sambil mengusap tengkuknya. Ia terlihat malu-malu ketika menjawab pertanyaan Richie.
" Mas.. pesan sepuluh porsi berikut nasinya sepuluh juga untuk Abang ini.", ujar Richie pada pelayan tersebut.
Si anak punk hanya terdiam.. ia terlihat tak enak hati.
" Sambil menunggu satenya di buat.. ini ada satu porsi.. silahkan di ambil pesan minumnya sekalian.", ucap Richie sambil menyodorkan sate kambing yang memang lebih satu porsi di depannya.
Si pelayan kembali menanyakan mereka mau minum apa, jawaban samain aja sama yang di minum Richie dan juga Zevania.
Setelah itu pelayan pun pergi untuk membuatkan pesanan anak punk tadi.
Neka mengambil sate kambing yang tadi di sodorkan oleh Richie dan memberikan nya pada anak punk. Mereka menerimanya dengan suka cita.
Mereka bertiga pun akhirnya duduk di meja yang masih kosong. Menikmati sate kambing, yang satu porsinya memang cukup banyak. Dengan daging kambing yang masih fresh dan juga potongan dagingnya besar-besar. Hingga dagingnya terasa manis.
Mereka bertiga menatap ke arah Zevania dan Richie dengan tatapan haru. Ketika mata mereka bertemu dengan mata Zevania.. Zevania tersenyum manis pada mereka. Mereka menundukkan wajahnya karena merasa malu.
Tiga puluh menit kemudian pesanan sate anak punk tersebut telah selesai di buat. Tiga bungkus kantong cukup besar kini teronggok di atas meja yang di duduki sama mereka.
Melihat pesanan mereka telah siap, Zevania berdiri sembari menggenggam beberapa lembar uang seratus ribuan.
Ia mendekati meja anak punk tersebut. Neka mengikuti langkah Zevania. Memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
" Pulanglah bang, makan dulu satenya sama teman-teman nya. Dan ini ada sedikit rezeki buat kalian.", ujar Zevania sambil menyerahkan uang yang di tangannya pada mereka.
Anak punk tersebut menerima uangnya dengan tangan gemetaran.
" Terima kasih Non.", ucapnya sambil membungkukkan sedikit kepalanya.
" Sama-sama bang.. udah pulanglah.", jawab Zevania sambil berjalan kembali menuju mejanya.
Anak punk kembali membungkukkan sedikit kepalanya ketika mata mereka bertemu dengan mata Richie.
Richie hanya tersenyum seraya melambaikan tangannya.
Mereka pun akhirnya pergi, dan Richie serta Zevania pun telah menyelesaikan makannya. Mereka pun akhirnya bersiap-siap untuk pulang. Tentu saja setelah Neka membayar makanan mereka.
Kenapa Neka yang membayar? Karena Neka mengantongi ATM untuk biaya Twins ketika mereka kemana-mana.
Itu atas permintaan Richie agar tak perlu minta di transfer saat akan menggunakan uang.
Sebenarnya ATM itu punya Richie, karena dia gak mau ribet akhirnya di serahkan sama Neka.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
MAAF SEMALAM GAK UPDATE.. SUAMI EIKE SAKIT CYIINN..REWEL BELIAU KALAU SAKIT. LELAH SAYA🤦🤦