
Beno maju di depan Ratu. Ia berdiri seolah-olah ingin melindungi Ratu. Ratu menyentuh pundak Beno dengan lembut, ia tersenyum dan mengangguk. Ia ingin meyakinkan Beno, bahwa ia bisa mengatasi semuanya.
Beno lalu kembali mundur. Ia bisa melihat keyakinan dalam diri bos nya tersebut.
Ratu perlahan maju, ke hadapan seorang laki-laki setengah baya. Ratu membungkukkan tubuhnya pada laki-laki tersebut.
" Permisi tuan..saya datang dengan baik. Tapi mohon maaf bila ini membuat tuan dan warga di sini merasa terganggu.", sapa Ratu pada laki-laki tersebut.
Laki-laki tersebut dan warganya hanya memandang wajah Ratu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mata mereka menatap liar dan bengis. Rasa curiga dan aura permusuhan terasa begitu ketara.
Dewa, Beno, Cilla, Guntur dan pak Sarmidi terlihat tegang. Mereka benar-benar takut akan keselamatan Ratu. Dewa kemudian maju dan berdiri di samping Ratu.
" Maaf Tuan... saudara ku ini mencari suaminya yang hilang beberapa tahun yang lalu. Suaminya hilang karena motor ski nya di hatam badai.", timpal dewa berusaha mencairkan suasana.
Sang kepala suku terlihat terdiam. Seperti nya ia sedang memikirkan sesuatu. Tapi belum sempat sang kepala suku menjawab seseorang telah menyela.
" Tidak ada siapa pun yang datang atau pun terdampar di sini." Celetuk seorang gadis dengan tiba-tiba. Gadis tersebut berdiri di samping kepala suku. Matanya menatap wajah Ratu dengan tajam. Ratu membalas tatapan perempuan tersebut tanpa rasa gentar sedikit pun. Entah mengapa, Ratu tak percaya dengan ucapan gadis tersebut.
" Tapi hanya pulau ini yang belum pernah di datangi oleh orang-orang kami", jawab Ratu dengan dengan tegas.
" Karena kami tak pernah mengizinkan orang asing datang kesini.", jawab gadis tersebut ketus.
Sebenarnya, gadis tersebut terlihat berbeda dari warga yang lain. Gadis tersebut mengunakan pakaian yang cukup bagus, dan memakai sendal sebagai alas kaki. Sementara yang lain, tak mengunakan alas kaki sama sekali.
" Sudahlah Hanum, biarkan mereka bertemu dengan dia.", ucap kepala suku kepada gadis tersebut yang di panggil dengan panggilan Hanum.
" Tidak Ayah.", sentak Hanum keras.
" Jadi benaran suami ada di sini..?", tanya Ratu dengan mata terbelalak.
" Udah ku bilang, tak ada siapa pun di sini.", jerit gadis bernama Hanum tersebut yang tiba-tiba menjadi histeris.
Ia tiba-tiba merebut arit yang ada di tangan salah satu warga. Ia menyerang Ratu dengan tiba-tiba dan ganas. Untung lah, Ratu telah waspada. Hingga ia dengan cepat bisa mengelak. Ratu membalas serangan tersebut dengan tangan kosong. Kaki nya dengan cepat menghantam dada Hanum. Hanum menjerit dengan keras. Melihat hal tersebut, Warga yang mengepung langsung menyerang dan mengeroyok Ratu.
" Hentikan." bentak sang kepala suku dengan keras. Sontak seluruh warga menghentikan serangannya. Mereka semua kembali mundur.
" Bawa Hanum ke rumah." perintahnya kepada warganya. Warganya segera membantu Hanum yang terlihat sedang kesakitan sambil memegang dadanya.
" Pulanglah..jangan pernah datang kembali.", usir sang kepala suku pada Ratu dan yang lain.
" Tapi kami hanya ingin membawa saudara kami pulang", jawab Guntur yang dari tadi hanya terdiam.
" Tak ada siapa pun di sini.", jawab sang kepala suku sambil berlalu.
Warga yang berdatangan semakin banyak.Tampang mereka semakin beringas.
__ADS_1
" Ayolah kita pergi dulu. Nanti kita pikirkan gimana caranya bisa datang lagi kesini.", bisik Dewa karena melihat situasi yang tak memungkinkan.
Sebenarnya bisa saja mengerahkan aparat ke pulau ini. Tapi itu akan memakan korban jiwa. Dan Ratu tak ingin itu terjadi.
" Baiklah.", jawab Ratu sambil berbalik kembali menuju speed boat. Yang lain segera mengikuti langkah Ratu.
Dewa segera menyalakan mesin speed boat. Speed boat tersebut melaju kembali ke Villa Shafire Island.
Di dalam speed boat, Ratu tak mampu membendung air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Ada rasa lega karena ada titik terang bahwa Alex masih hidup, tapi ia juga sedih.. karena belum tau kondisi Alex yang sebenarnya.
Sampai di pelataran, speed boat tersebut segera bersandar. Ratu segera lompat dari speed boat di ikuti oleh Cilla, Eva dan juga Beno.
Sementara Dewa, Guntur dan pak Sarmidi masih berada di dalam speed boat yang telah bersandar.
" Aku merasa Alex memang berada di sana. Tapi gimana caranya kita bisa masuk kesana?" ucap Dewa bingung.
" Nanti aku akan mengerahkan anggota yang telah berpengalaman untuk mengintai pulau tersebut pada malam hari.", jawab Guntur.
" Iya, mencari celah untuk masuk kesana.", timpal pak Sarmidi.
" Baiklah, kalau begitu.. nanti tolong kabarin kami hasilnya.", jawab Dewa sambil mengulurkan tangannya sebagai ucapan terima kasih kepada Guntur dan pak Sarmidi.
Guntur dan pak Sarmidi mengangguk nyaris berbarengan.
" Ayolah.. kita turun . Istirahat dan makan dulu kita.", ujar Dewa sambil melompat dari Speed boat.
ππππ
Sesampai di kamar, Ratu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia kembali menangis. Ia sedih memikirkan nasib Alex selama 6 tahun ini. Jika ia Alex terdampar di pulau itu, kenapa ia tak kembali? Apakah sesuatu yang buruk telah terjadi padanya? Berjuta pertanyaan memenuhi kepalanya.
Tiba-tiba Ratu mengingat nama seseorang. Atuk Soleh dan dan Nek Siti. Sepasang suami istri yang pernah di datanginya bersama Alex ketika mereka hendak pergi ke sini, ke Shafire Island.
Ratu mengambil handphone dari dalam tasnya. Di bukanya kotak telpon dari handphone canggihnya tersebut. Setelah ia menemukan nama Atuk Soleh, ia segera melakukan panggilan. Panggilannya langsung tersambung.
" Assalamualaikum..", suara lembut itu menyapa Ratu.
" Wa'alaikum salam Atuk.", jawab Ratu tak mampu lagi menahan tangisnya.
" Tenang nak, Semuanya akan baik-baik saja. Besok jemputlah Atuk sama Nek Siti kesini. Kami akan membantu mengatasi masalah mu.", ujar Atuk Soleh seolah-olah telah tau masalah yang Ratu hadapi.
" Baiklah Tuk.. pagi-pagi sekali kami akan segera kesana.", jawab Ratu dengan senang hati. Secercah harapan kembali ia dapatkan. Ia yaki, Atuk Soleh dan Nek Siti bisa mengatasi masalah ini.
" Hehehe.. baiklah nak.", jawab Atuk Soleh sambil tertawa.
" Aku tutup telponnya ya Tuk. Aku harus menghubungi pilotnya dulu, biar besok pagi ia bisa standby.", ujar Ratu dengan penuh semangat
__ADS_1
" Baiklah nak.", jawab Atuk Soleh.
Setelah mengakhiri panggilannya dengan Atuk Soleh. Ratu segera menghubungi Dewa.
" Mas.. besok pagi-pagi sekali kita ke Batam, jemput seseorang. Pastikan pesawatnya dalam keadaan baik.", titah Ratu pada Dewa.
" Siapppp..." jawab Dewa dari seberang telpon.
Ratu tertawa mendengar jawaban Dewa. lalu segera mengakhiri panggilannya.
πππππ
Sementara itu, setelah waktu pulang sekolah tiba.. Murid-murid segera berhamburan menuju pintu keluar.
Yang terlihat santai Richie, Zevania, Zhafran dan Senja. Mereka masih mengemasi buku-buku mereka dan meletakkannya kedalam tas.
" Ayo kita pulang.", ujar Zevania sambil berdiri dan menggendong tas ransel di pundaknya. Richie mengikuti Zevania, begitu juga Senja dan Zhafran.
" Kamu di jemput?", tanya Zevania pada Zhafran.
" Entahlah.. apa mereka sempat atau tidak.", jawab Zhafran sambil menarik nafas panjang.
" Bareng kami aja. Kamu juga ya Nja'?", ujar Zevania kemudian sambil memandang ke arah 2 orang temannya tersebut.
" Gak usah Zeze.. aku jalan aja.", jawab Senja sambil tersenyum.
" Iya Ze, Ga usah. Aku tunggu aja.", tolak Zhafran halus.
" Ada apa ini..?", tanya Ayu tiba-tiba telah berada di depan mereka.
" Zhafran gak ada yang jemput, sementara Senja ingin jalan kaki. Aku ajak mereka bareng, mereka menolak", terang Zevania sambil mengerucutkan bibirnya.
Ayu tersenyum mendengar jawaban Zevania.
" Ayolah semua naik ke mobil.. Aunty akan antar kalian satu-satu.", Titah Ratu pada ke empat bocah tersebut.
Senja dan Zhafran akhirnya mau masuk kedalam mobil. Mereka akhirnya di antar satu persatu sampai depan rumah. Setelah itu barulah mereka pulang ke rumah.
Baru saja mobil berhenti, kedua bocah tersebut udah keluar dari mobil dengan buru-buru. Mereka harus siap-siap, karena jam 3 nanti ada latihan ilmu beladiri. Kedua bocah kembar tersebut telah belajar ilmu beladiri dari umur 3 tahun. Jadi tidaklah heran, di usia yang baru menginjak 6 tahun.. gerakan mereka cukup gesit dan bertenaga. Di samping itu, mereka berdua juga tertarik untuk belajar mengunakan senjata api. Mereka akan latihan menembak 3 kali dalam seminggu. Dan habis magrib nanti mereka berdua juga ada belajar ngaji 3 kali juga dalam seminggu.
Mereka berdua melakukan semua itu tanpa di minta atau pun di suruh. Itulah yang membuat keluarga besar Diningrat dan Mahardhika bahagia.
BERSAMBUNG.
BANTU AUTHOR DENGAN LIKE, VOTE DAN KOMEN..
__ADS_1
SALAM SAYANGπππ€£π