
Ayu dan Bu Maria masih tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.
Mata Bu Maria menatap jauh ke bawah sana. Terlihat laut biru terbentang luas yang di bingkai oleh pasir putih yang indah, Berkilauan tertimpa sinar matahari.
" Sejujurnya, aku bukan istrinya lagi.. tepatnya aku cuma mantan mbak.", ujar Bu Maria pelan, sambil matanya menatap jauh di sana.
" Udah lama kalian berpisah?", tanya Ayu.
" Dari Senja berumur 2 bulan ia menjatuhkan talak pada ku. Lewat ancaman dari ibunya.", terang Bu Maria dengan mata berkaca-kaca.
" Sebenarnya ia dulu sangat mencintai aku. Tapi ketika ibunya mengancam akan menghapus ia dari daftar keluarga, pendirian nya goyah. Ia tak sanggup bila hidup menderita. Jadi ia memilih meninggalkan kami. Dulu ia masih datang sekali-kali untuk sekedar melihat Senja, tapi semuanya berubah ketika ia menemukan perempuan lain. Ia tak pernah datang lagi, hanya datang untuk menjatuhkan talak. Dan yang paling menyedihkan, aku tak bis bekerja di mana pun. Karena ibunya dan istrinya akan meminta perusahaan kepada tempat ku bekerja untuk memecat ku.", terang Bu Maria dengan terisak lirih.
Darah Ayu mendidih mendengarnya. Ia tak mengerti, kenapa ada manusia yang tak punya hati di dunia ini.
" Maa..", panggil Senja, yang telah berdiri di samping Bu Maria.
Bu Maria dengan terburu-buru mengusap air matanya. Ia tak ingin anaknya tau kesedihannya.
Senja memegang tangan Bu Maria yang sedang menghapus air matanya.
" Jangan di hapus ma..!! Menangis lah, bila itu akan membuat mama lega. Tapi setelah hari ini, mama gak boleh nangis lagi karena mereka. Mama boleh nangis karena bahagia aja.", ujar Senja sambil tersenyum.
Bu Maria mengangguk sambil memeluk putrinya. Ia tak menyangka bila putrinya setegar dan sekuat ini.
" Iya nak, mama janji.", jawab Bu Maria sambil menciumi pipi Senja.
Ayu terharu melihat bertapa kuat dan tegar ya Senja. Di usianya yang masih dini, ia sudah punya prinsip yang begitu hebat.
" Dia memang cocok menjadi pendamping Richie. Karena Richie butuh orang yang kuat dan tegar." gumam Ayu dalam hati.
🍀🍀🍀🍀🍀
Siska dan Rangga membawa pesanan mereka. Setelah menatanya di atas meja, mereka pun mohon pamit.
" Terima kasih ya.. kalian mau gabung?", ujar Ayu sambil memandang keduanya.
" Gak usah mbak.. kami juga udah masak di bawah, buat kami makan bersama.", tolak Siska halus.
" Baiklah kalau begitu.", ujar Ayu sambil tersenyum.
Setelah membungkukkan tubuhnya, kedua orang tersebut segera menghilang.
__ADS_1
Anak-anak telah duduk mengelilingi meja. Zevania udah gak sabaran untuk makan udang. Tapi masalahnya, ia tak pernah mengupas udang.
Melihat adiknya kebingungan, Richie mengulurkan tangannya lalu mengambil udang dari piring Zevania.. ia mulai mengupas udang satu-persatu dan memberikan nya kepada Zevania. Zevania menerimanya sambil tertawa senang. Ia tau, mas nya tersebut sangat paham kelemahannya. Yang hanya tau makan tanpa tau proses nya.
Senja melihat ke arah Richie, memperhatikan tangan Richie yang sangat terampil mengupas udang. Menyadari bahwa ia sedang di perhatikan.. Richie lalu meletakan udang yang telah ia kupas di piring Senja. Senja kaget di perhatikan seperti itu.
" Makanlah..", ujar Richie pada Senja.
Senja mengangguk sambil memasukan udang tersebut kedalam mulutnya.
" Terima kasih.." ucap Senja sambil tersenyum.
Richie tak menjawab, hanya mengangguk sambil tersenyum.
Semua itu tak luput dari perhatian Bu Maria dan Ayu. Mereka berdua saling berpandangan, lalu akhirnya sama-sama tersenyum.
" Rich.. kamu kupas buat Senja, buat Zevania biar aku yang kupas... agar kamu juga bisa sambil makan .", ujar Zhafran yang kasihan melihat Richie tak sempat makan karena terus mengupas udang.
" Baiklah..", jawab Richie sambil tersenyum.
Richie mengambil makan makanan dan meletakkannya di dalam piringnya. Ia juga mengambil 1 piring kecil udang, sambil mengunyah makanan ia dengan telaten terus mengupas udang.
Matanya berbinar bahagia ketika melihat Senja makan dengan lahapnya.
" Itu apa namanya?", tanya Senja tampak aneh dengan makanan tersebut.
" Ini namanya Abalon. Sejenis kerang-kerangan juga. Tapi ini jauh lebih enak dan manis.", terang Richie sambil mengambil satu keping Abalon lalu menyuapkannya ke mulut Senja.
Senja mengunyah Abalon dengan pelan. Matanya langsung berbinar gembira ketika tau, Rasa Abalon begitu enak.
" Wahh...rasanya enak banget.", seru Senja dengan gembira.
" Maa..mamaa harus nyobain, rasanya enak banget.", seru Senja pada mamanya.
Bu Maria tersenyum lalu membuka mulutnya, ketika Senja menyuapkan satu keping Abalon pada mamanya.
" Iya nak,enak banget. Maaf ya nak, mama gak pernah beliin makanan enak begini buat kamu."ujar Bu Maria dengan lirih. Hatinya terasa sedih, perasaan nya terasa hancur.
Senja tersenyum manis sambil memandang wajah mamanya.
" Tak ada satu pun manusia di dunia ini mau hidup susah. Ini udh jalan takdir kita ma. Jadi bersabarlah.*, jawab Senja sambil tersenyum.
__ADS_1
Semua mata memandang ke arah Senja. Jawaban Senja lugas dan tegas. Ia benar-benar bijak dalam menyikapi segala sesuatu.
Richie tersenyum ketika mendengar jawaban Senja. Ia semakin mengagumi gadis kecil di sampingnya ini. Tampak nya ia tak salah memilih Senja.
" Ayo anak-anak di lanjut makannya. Makanan nya masih banyak banget.", Seru Ayu.
Mereka semua pun kembali melanjutkan makannya.
🍀🍀🍀🍀🍀
Mereka bertiga baru saja sampai di rumah. Setelah selesai makan, Ayu segera mengantar mereka pulang ke rumah mereka masing-masing. Baru lah setelah itu mereka pulang ke rumah.
Baru saja mereka sampai ke rumah, dari pintu depan terdengar seseorang mengucapkan salam.
Ternyata yang datang adalah Sabahat-sahabat Ayu dan Ratu.
Rumah tersebut jadi ramai oleh canda dan gelak tawa mereka.
Baby Twins telah pergi ke kamar mereka masing-masing untuk istirahat.
" Jam berapa mau berangkat ke Batam besok?", tanya Dimas sambil mengambil cemilan yang di sajikan oleh pelayan rumah di atas meja.
" Kayaknya agak siang. Soalnya baby Twins ikut juga.", jawab Ayu.
" Kenapa mau ngajak mereka, kan bukan mau liburan?" tanya Eva heran.
" Mereka ingin bertemu dengan orang yang telah menyelamatkan papanya.", jawab Ayu sambil tersenyum.
Semua orang terdiam mendengar penjelasan Ayu.
Mereka tau, kedua anak tersebut istimewa. Sangat pintar dan dewasa di usia yang masih anak-anak. Mereka juga tau, bila Richie sering ikut Mommy nya meeting, dan terkadang di mintain pendapat untuk memutuskan suatu masalah.
"Ahhh.. anak-anak ini emang hebat banget.", puji Eva.
" Sepertinya 4 tahun lagi, Richie udah bisa mengambil alih Richie Company.", lanjut Eva sambil tersenyum. Di sambut tawa oleh yang lain.
" Sepertinya begitu..", jawab Ayu bangga.
Mereka terus mengobrol sambil membahas rencana keberangkatan besok.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
.