ANAK SULTAN SEASON 2 BABY TWINS.

ANAK SULTAN SEASON 2 BABY TWINS.
NENEK AMINAH


__ADS_3

Lampu dari ruang ICU mati, dan pintu nya pun di buka. Seorang Dokter keluar bersama dengan seorang perawat.


Dokter tersebut tampak terkejut ketika melihat siapa yang berada di kursi tunggu ruang ICU.


" Mbak Ratu dan Mas Alex..",sapa nya sambil membungkukkan badan.


Ratu dan Alex mengangguk sambil tersenyum.


" Bagaimana keadaan pasiennya Om Dok?", tanya Richie yang tampaknya tak sabaran.


" Ada benturan di kepala si kakek. Sekarang beliau belum sadarkan diri. Sementara si nenek cuma lecet-lecet saja.. mungkin karena dia terlempar dari motor.", jelas sang Dokter sambil memandang wajah Richie dengan senyuman.


"Anak ini masih sangat kecil, tapi pertanyaannya seperti orang dewasa. Siapa sebenarnya dia ini?", Dokter tersebut bergumam dalam hati.


Sang Dokter memandang wajah Richie, Zevania, kemudian berpindah ke Ratu dan Alex.


" Mereka berdua anak kami Dok.. mereka kembar.", jelas Ratu sambil tersenyum.. seakan tau apa yang ada di benak sang Dokter.


Dan Dokter tersebut tersenyum dan bernapas dengan lega. Dia sempat khawatir karena anak tersebut begitu berani menyela pembicaraan mereka.


" Oh ya kalau begitu, si nenek langsung pindahkan saja ke ruangan rawat inap. Biar ia bisa beristirahat dengan tenang.", ujar Ratu pada dokter tersebut.


" Baiklah mbak.. saya akan mengaturnya.", jawab dokter tersebut seraya mohon pamit.


Setelah Dokter tersebut pergi, Richie kembali duduk di kursi ruang tunggu. Di ikuti oleh Ratu dan Alex. Sementara Zevania duduk di pangkuan Alex.


" Kapan kita bisa lihat neneknya Dad?", tanya Zevania pada Alex.


" Nanti, kalau neneknya udah di pindahkan ke ruang rawat inap.", jawab Alex sambil mengelus Surai anaknya dengan lembut.


" Dad..kasih kamar yang besar aja, biar neneknya nyaman. Terus kalau kita mau besuk nenek tinggal datang aja.", ujar Zevania lagi.


" Iya nak.. udah di atur sama dokternya. Tanpa di minta mereka udah tau apa yang harus di lakukan.", jawab Alex sambil memencet hidung Zevania yang Bangir dengan gemas.


Zevania tertawa mendengar jawaban Daddy nya.


Tak lama kemudian, pintu ruang ICU di buka. Beberapa orang perawat sedang mendorong brankar, yang ada neneknya sedang terbaring. Mata nenek tersebut tertutup rapat, sepertinya ia sedang tertidur.


" Daddy.. kenapa mata neneknya tertutup? Nenek itu gak apa-apa kan Daddy", tanya Zevania terlihat panik.


" Ia sedang tertidur nak. Sepertinya dia habis minum obat.", jawab Alex sambil mengelus rambut Zevania.


Zevania bernafas lega. Tadi dia sempat berpikir bahwa nenek itu sudah meninggal.


🍀🍀🍀🍀


Ratu mengambil handphone dari dalam tasnya. Kemudian ia menghubungi seseorang.


Tak butuh waktu lama, panggilan telponnya telah tersambung.


" Assalamualaikum mbak Ratu.", sapa dari seberang sana.


" Wa'alaikum salam Dr Fino. Bisa kesini sebentar, kami di ruang ICU.", jawab Ratu yang ternyata sedang menghubungi direktur rumah sakit tersebut.


" Baik mbak.. Saya akan segera datang.", jawab Dr Fino dengan sopan.


Mendengar jawaban tersebut, Ratu segera mengakhiri panggilan telponnya.


Hanya berkisar tiga menit, Dr Fino telah sampai di depan ruang ICU.

__ADS_1


Ia segera menyalami Alex dan juga Ratu.


" Maaf mbak, siapa yang sakit?", tanya Dr Fino.


" Anak-anak yang hendak pergi latihan taekwondo, menemukan nenek dan kakek ini sedang tergeletak di pinggir jalan karena di tabrak orang yang tidak bertanggung jawab." Terang Ratu pada Dr Fino.


" Oh begitu.. kirain ada keluarga mbak Ratu yang terkena musibah.", ujar Dr Fino sambil tersenyum.


" Hei ada Baby Twins..maaf ya, om Dokter tak nampak.", sapa Dr Fino pada Richie dan Zevania.


Kedua bocah tersebut segera menyalami dan mencium tangan Dokter kepercayaan Mommy nya tersebut.


" Kalian benar-benar anak yang baik. Mau menolong orang lain. Padahal, kalian sendiri mengerti, nyawa kalian bisa saja dalam bahaya.", ujar Dr Fino dengan bangga.


" Kami hanya mengikuti jejak Mommy dan Daddy Om Dokter.", jawab Zevania sambil tersenyum manis.


Dr Fino mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Ratu dan Alex hanya tersenyum.


Saat mereka sedang berbincang, handphone Tio berdering cukup nyaring, hingga membuat semua mata beralih menatap nya.


Tio merasa tak enak hati, karena udah mengganggu bosnya. Tapi melihat nama seseorang yang tertera di handphone nya, ia segera menerima panggilan telepon tersebut.


" Halo Neka.. gimana?" tanya nya dengan rasa penasaran.


" Kami mendapatkan nya bang, sekarang mereka udah kami giring ke kantor polisi.", jelas Neka.


" Bagus.. aku akan segera kesana.", jawab Tio puas.


Tio tersenyum setelah mengakhiri panggilan tersebut.


" Maaf.. permisi mas Alex dan mbak Ratu. Pelaku tabrak larinya udah berhasil di amankan oleh anggota kita ke kantor polisi.", lapor Tio pada kedua bosnya tersebut.


" Syukurlah.. cepat urus mereka.", titah Alex pada Tio.


Richie dan Zevania saling berpandangan, kemudian mereka langsung tos.. karena usaha mereka tak sia-sia.


" Permisi mbak Ratu.. pasiennya udah bisa di besuk sekarang. Nenek Aminah menempati kamar VVIP lantai 3 no 2", ujar salah seorang perawat yang memang sengaja menghampiri mereka .


" Oke... terima kasih Sus.", jawab Ratu sambil tersenyum.


Perawat tersebut mengangguk seraya permisi untuk melanjutkan kembali pekerjaan nya.


" Ayo anak-anak kita besuk nenek Aminah", ajak Ratu pada kedua anaknya


Zevania langsung berlari ke arah Alex, dan menggandeng tangan Alex.. sementara Richie mendekati Ratu dan menggandeng tangan Ratu sambil tersenyum.


Dokter Fino tertawa melihat tingkah lucu Baby Twins.


Mereka berlima segera berjalan menuju lantai 3 tempat nenek Aminah tersebut di rawat.


lift yang mereka pakai adalah lift khusus dokter dan para petinggi rumah sakit.


Tak berapa lama mereka telah tiba di lantai 3. Hanya beberapa langkah, telah tiba di kamar nenek Aminah tersebut.


Dr Fino mendorong pintu kamar nenek Aminah. Mempersilahkan Ratu, Alex, Richie dan juga Zevania untuk masuk.


Nenek Aminah masih terbaring, tapi ia telah terbangun.


Mereka mendekati tempat tidur nenek Aminah.

__ADS_1


" Assalamualaikum nek...", Sapa Ratu dengan lembut.


" Wa'alaikum salam..maaf, kalian siapa?" tanya nenek Aminah terlihat bingung.


" Aku Ratu nek, dan ini suami ku Alex... dan ini kedua anak kembar ku, nama Richie dan Zevania. Mereka berdua lah yang telah membantu nenek ke rumah sakit ini.", jawab Ratu dengan lembut.


" Ya Allah.. terima kasih ya nak, kalian berdua udah membantu nenek dan kakek.", ujar nenek Aminah dengan mata berkaca-kaca.


" Kalau gak ada kalian, nenek gak tau apa yang akan terjadi pada kami..", sambung nenek Aminah terlihat semakin sedih.


" Sama-sama nek.. kami senang bisa membantu nenek. Nenek cepat sembuh ya..", jawab Zevania dengan senyum manis.


Nenek Aminah terlihat ingin duduk, Dr Fino segera membantunya untuk meninggikan sandaran tempat tidurnya.


Richie hanya tersenyum pada nenek Aminah, tak ada kata yang terucap dari bibirnya.


Zevania mengelus punggung tangan nenek Aminah dengan lembut. Tangan yang terlihat mulai keriput di usia senjanya.


" Kamu cantik banget.. secantik hati mu.", ucap nenek Aminah sambil mengelus pipi Zevania.


" Dan kamu juga tampan, setampan ketulusan hati mu.",sambung nenek Aminah dengan wajah haru.


Richie mendekati nenek Aminah dari sisi sebelah kanan. Di ambilnya tangan nenek Aminah.. lalu di ciumnya.


" Cepat sembuh ya nek..",ujar Richie sambil tersenyum manis.. manis sekali.


" Terima kasih cah Bagus..", jawab nenek Aminah sambil tersenyum.


" Oh ya.. gimana kondisi kakek Abdullah?", tanya nenek Aminah pada Dr Fino.


" Beliau masih di rawat di ICU. Doakan saja semoga kakek cepat sadar ya nek..", jawab Dr Fino dengan nada lembut.


" Tega sekali mereka menabrak kami.", ujar nenek Aminah dengan air mata berlinang.


' Sabar nek.. mereka akan mendapatkan ganjaran yang setimpal.", Richie sambil berusaha untuk tersenyum.


Nenek Aminah mengangguk dengan air mata masih berlinang.


Sambil menangis nenek Aminah mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia tersentak kaget, ketika menyadari tempat ia di rawat.


" Ya Allah.. ruangan ini besar sekali, kami tak akan sanggup untuk membayarnya. Dok, lepas aja infusnya, aku gak apa-apa. Yang penting rawat saja kakek, biar dia cepat sembuh.", ujar nenek Aminah panik. Ia sedang berusaha melepaskan infus yang berada di tangan kanannya.


" Nek stop.. nenek tenang aja, semua ini gratis.", jawab Richie sambil menghentikan tangan nenek Aminah yang sedang berusaha mencabut slang infusnya.


" Rumah sakit ini begitu mewah nak.. nenek cuma orang miskin. Dan lagian mana mungkin gratis nak.", jawab nenek Ningrum putus asa.


" Rumah sakit ini milik keluarga kami nek..jadi nenek jangan khawatir.", kali ini Zevania yang menjelaskan.


Mulut nenek Aminah menganga mendengar penjelasan Zevania. Matanya langsung menatap ke arah Dr Fino, Dr Fino mengangguk. Beralih ke arah Ratu dan Alex secara bergantian.. mereka berdua pun mengangguk.


" Ya Allah.. terima kasih. Semoga keluarga yang membantu ku ini di jauhkan dari musibah.. Aamiin.", Dia nenek Aminah sambil menangis.


Ratu mendekati nenek Aminah sambil tersenyum.


" Gak usah pikirkan apa pun nek.. yang penting nenek cepat sembuh.", ujar Ratu sambil tersenyum.


Nenek Aminah tersenyum mendengar ucapan Ratu.


" Oh ya nek.. apa gak memberi kabar pada orang di rumah, agar mereka tak khawatir.", lanjut Ratu lagi.

__ADS_1


" Ya Allah.. Jasmin sendirian di rumah.", seru nenek Aminah dengan wajah panik.


BERSAMBUNG.


__ADS_2