ANAK SULTAN SEASON 2 BABY TWINS.

ANAK SULTAN SEASON 2 BABY TWINS.
ANDAI AKU HARUS PERGI..


__ADS_3

" Oh ya anak-anak, kalian tunggu di sini ya. Aku mau keluar sebentar..", Ujar Ayu mereka semua.


" Aunty mau kemana?" tanya Zevania.


" Minta tolong Om Tio untuk ambil baju kalian di mobil. Gak mungkin kan kalian mau pakai baju sekolah seharian kan?" jawab Ayu sambil tersenyum.


" Oke lah Aunty yang paling cantik sejagat raya..", jawab Zevania sambil memajukan bibirnya seolah-olah sedang ingin mencium.


" Genittt...", ujar Ayu sambil mencubit gemes pipi Zevania.


Semua orang tertawa mendengar celotehan Ayu dan Zevania.


Ayu pun keluar dari kamar tempat nenek Aminah di rawat. Melihat Ayu keluar, Richie pun mengikuti dari belakang.


" Aunty..", panggilannya.


" Eh Richie.. ada apa nak?", tanya Ayu sambil menghentikan langkahnya.


" Aunty mau kemana?", tanya Richie sambil mendekati Ayu.


" Aunty mau jumpa Dr Fino. Ingin tanya kondisi kakek Abdullah.", jawab Ayu jujur. Karena ia tau, percuma membohongi Richie.


" Ayolah.. aku ikut.", ujar Richie sambil mendahului Ayu ke ruangan Dr Fino.


Ayu mengedikkan bahunya. Ia mengikuti langkah Richie tanpa membantah.


Sesampainya di depan pintu ruangan Dr Fino, Richie segera mengetuknya. Setelah ada sahutan menyuruh masuk, Richie pun mendorong pintu tersebut. Ia pun masuk di ikuti oleh Ayu.


Melihat yang datang Richie dan Ayu, Dr Fino pun segera berdiri dari kursinya.


" Assalamualaikum..", ucap Richie sambil mencium tangan Dr Fino.


" Wa'alaikum salam.", jawab Dr fino sambil mengulurkan tangannya pada Richie.


Ayu pun turut menyalami Dr Fino. Setelah itu, Dr Fino mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa.


" Maaf Dok, tujuan aku kemari ingin tau kondisi kakek Abdullah. Bagaimana perkembangan nya.", tanya Ayu tanpa basa basi.


Dr Fino tercenung sejenak, lalu kemudian menarik napas dalam-dalam.


" Kondisi nya belum membaik. Bahkan tadi pagi sempat drop, sewaktu nenek Aminah membesuknya. Tangisan nenek Aminah memperburuk keadaannya.", jelas dr Fino.


" Terus gimana keadaannya sekarang Om Dok?", tanya Richie kaget.


" Beliau belum sadarkan diri. Kemungkinan beliau untuk sembuh sangat kecil.", jawab Dr Fino.


" Dok.. lakukan yang terbaik untuk beliau.", pinta Ayu dengan mimik wajah sangat sedih.


" Pasti mbak.. Segala upaya akan kami lakukan, tapi pada akhirnya akan kembali pada takdir dari sang khalik.", jawab Dr Fino sambil tersenyum.


Richie terdiam mendengar ucapan Dr Fino. Seandainya kakek Abdullah pergi, Jasmin pasti akan sangat kehilangan. Richie takut Jasmin terpuruk.

__ADS_1


" Sayang..jangan khawatir, kita akan menjaga Jasmin dan neneknya bersama-sama. Andai memang Allah memanggil kakek Abdullah.", ujar Ayu sambil mengelus rambut Richie dengan lembut.


" Iya Aunty.. ", jawab Richie sambil menyandarkan tubuh kecilnya di pelukan Ayu.


Ayu mengecup pucuk rambut Richie dengan lembut. Ia baru menyadari, bahwa Richie punya perhatian lebih pada Jasmin.


Ia bisa melihat hal itu ketika Jasmin keluar dari kamar mandi. Jasmin memang sangat cantik. Kulitnya putih, rambutnya panjang dan lebat. Dan yang lebih penting ia mempunyai mata seperti bintang kejora.


Akankah pada akhirnya Richie memilih Jasmin dan meninggalkan Senja? Entahlah, biar lah waktu yang akan menjawabnya.


" Aunty lagi mikirin apa?", tanya Richie sambil menyipitkan matanya.


" Gak ada.." jawab Ayu kaget.


" Pasti Aunty lagi mikirin aku pilih Jasmin atau Senja kan?", tebak Richie dengan jidat berkerut dan alis menyatu.


Mata ayu melotot mendengar tebakan Richie.


" Hehehe.. lama-lama kamu kayak cenayang.", ujar Ayu sambil mendorong tubuh Richie agar menjauh dari dirinya.


" Apa itu cenayang?", tanya Richie dengan muka masam.


" Dukun.. kamu kayak dukun.", jawab Ayu sambil tersenyum geli.


" Ya elah Auntyyyy.. ganteng kayak gini di bilang kayak dukun, gak elite banget sih.", sentak Richie kesal.


Dr Fino dan Ayu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Richie.


" Baik lah mbak..", jawab Dr Fino sambil mengangguk.


Richie dan Ayu segera berpamitan. Dan Dr Fino mengantarkan mereka hingga di depan ruangannya.


Sebelum kembali ke kamar tempat nenek Aminah di rawat, Ayu dan Richie turun ke lantai satu. Mereka menuju parkiran, untuk mengambil sendiri pakaian buat Richie, Zevania, Senja dan juga Zhafran di bagasi mobil.


" Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya Tio ketika melihat Ayu dan Richie membuka bagasi mobil.


" Oh gak usah mas..terima kasih.", jawab Ayu sambil tersenyum.


Setelah mengambil pakaian, Ayu dan Richie segera kembali ke tempat nenek Aminah di rawat.


" Lama banget ngambil pakaiannya Aunty.", tanya Zevania ketika mereka udah sampai di kamar.


" Iya sayang, macet.", jawab Ayu sekenanya.


" Macet? Tapi katanya mau minta tolong Om Tio untuk ambil pakaian di bagasi mobil", tanya Zevania heran.


" Cerewetnya anak satu ni ya..tadi Aunty ada urusan sebentar.", jawab Ayu dengan gemas.


" Ooohh gituuu..", jawab Zevania sambil membulatkan mata dan bibirnya.


Ayu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Zevania yang semakin hari semakin menggemaskan.

__ADS_1


" Udah.. kalian di sana aja. Aunty mau bicara sama nenek Aminah.", titah Ayu pada semuanya sambil menunjuk ke arah sofa.


Mereka segera menuruti perintah Ayu berjalan ke arah sofa sambil menenteng buah anggur dan leccy.


Sementara Zevania masuk ke kamar mandi untuk ganti pakaian. Setelah ia memberikan satu buah dress dan sandal buat Senja.


" Nek.. tadi pagi nenek membesuk kakek Abdullah? Apa yang terjadi sebenarnya.", tanya Ayu.


" Iya nak.. tadi pagi aku melihat kakek. Aku rindu sama kakek. Keadaan kakek sangat mengkhawatirkan. Ia belum bangun juga. Jadi nenek menangis sambil bilang, kek.. bangunlah, jangan tinggalkan kami. Kalau kakek pergi, kami juga ikut pergi. Eh di luar dugaan.. tiba-tiba kakek kejang-kejang. Untung berbarengan dengan dokter Fino yang hendak mengecek keadaan kakek. Jadi langsung di tangani oleh beliau.", terang nenek Aminah dengan mata berkaca-kaca.


" Iya nek, tadi Dr Fino pun udah mengatakan kemungkinan terburuk pada beliau. Nek.. andai kakek memang harus pergi, nenek harus tetap kuat.. karena Jasmin sangat membutuhkan nenek.", pinta Ayu pada nenek Aminah.


Nenek Aminah menangis. Sungguh ini adalah hal yang paling menyedihkan dalam hidupnya.


" Insya Allah nak.. semoga Allah memberikan ku kekuatan.", jawab nenek Aminah sambil menyusut air mata yang jatuh di sudut bibirnya.


" Tapi andai aku juga harus pergi, aku titip kan Jasmin pada mu nak.",pinta nenek Aminah dengan wajah sendu.


" Gak nek, nenek pasti kuat. Kita akan membesarkan Jasmin bersama-sama.", jawab Ayu sambil memeluk nenek Aminah.


Tangis nenek Aminah pecah. Sungguh, hatinya hancur berkeping-keping mendengar keadaan suaminya yang semakin drop. Dan yang paling membuatnya sedih, adalah memikirkan kehidupan Jasmin yang akan datang.


" Ya Allah.. andai waktu ku pun telah habis di dunia ini. Ku titipkan cucu ku pada mu. Aku yakin, engkau akan mengirimkan seseorang yang akan menjaganya. Orang yang akan memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus buatnya.", bisik nenek Aminah dalam hati.


🍀🍀🍀🍀


Di sana, di samping tempat tidur.. Jasmin sedang memandang ke arah nenek dan Ayu yang sedang berpelukan.


Ia tak tau apa yang mereka bicarakan, tapi ia tau.. ia akan kehilangan orang-orang yang mencintai dia selama ini.


Tanpa ia sadari, air mata mengucur deras dari pipinya. Isak tangisnya berusaha untuk ia tahan. Zhafran, Senja dan Zevania sedang bercanda sambil makan buah.


Tapi Richie, sedari tadi.. ia hanya tertegun melihat ke arah Jasmin yang sedang menatap ke arah Ayu dan nenek Aminah sedang berpelukan.


Ia langsung tersentak ketika melihat Jasmin menangis. Ia bangkit dari tempat duduknya, dan langsung menghampiri Jasmin. Di hapus nya air mata Jasmin yang mengalirkan bagaikan anak sungai dengan ujung jarinya.


Di raihnya tubuh Jasmin kedalam pelukannya. Tangis Jasmin pun pecah di dalam pelukan Richie.


" Jangan menangis, semuanya akan baik-baik saja.", ucap Richie pelan.


Mendengar Jasmin menangis, sontak Senja, Zevania dan juga Zhafran mendekat.


Zevania ikut memeluk Jasmin. Hatinya benar-benar sedih melihat keadaan Jasmin seperti ini.


Senja mengelus pundak Jasmin dengan lembut.


Sementara Zhafran hanya terdiam, ia bingung apa yang harus ia lakukan.


BERSAMBUNG.


KASIHAN BANGET YA JASMIN ANDAI NENEKNYA PERGI JUGA..😭😭🌽

__ADS_1


__ADS_2