
" Tenang lah Jessy, semuanya akan baik-baik saja. Apa pun yang terjadi, Allah punya rencana indah untuk mu.", hibur Zevania sambil mengelus pundak Jasmin.
Jasmin melonggarkan pelukannya pada Richie. Di susutnya air mata yang membasahi pipinya.
Iya, dia harus kuat, harus tegar. Agar nenek dan kakeknya bangga pada dirinya.
" Terima kasih Zeze, Senja, dan juga Richie.. aku janji, akan menerima dengan ikhlas apa pun yang terjadi. Tapi berjanjilah, bahwa kalian akan slalu menyayangi aku.", ujar Jasmin sambil tersenyum.
" Ya..kami berjanji.", jawab mereka kompak.
Mereka kemudian duduk kembali, kesedihan masih membayangi wajah cantik Jasmin, walau dia berusaha untuk tegar.
Mereka semua maklum, menjalani nya lebih sulit dari pada berucap. Tapi setidak-tidaknya, Jasmin telah berhenti menangis. Ia kini terlihat lebih tegar.
" Anak-anak..kita pergi makan dulu yuk, jam makan siang udah lewat ni." ujar Ayu sambil nyengir. Sesungguhnya ia merasa bersalah kepada anak-anak itu. Karena terlalu fokus dengan nenek Aminah ia jadi mengabaikan anak-anak tersebut.
" Yeyy...kita makan enak?" Seru Zevania dengan riang.
Jasmin berpamitan dengan nenek Aminah, meminta izin untuk ikut pergi bersama Aunty Ayu dan yang lain.
Tentu saja nenek Aminah mengizinkan. Tak ada alasan untuk dia menolak dan khawatir. Toh cucu nya bersama orang-orang yang tepat.
🍀🍀🍀🍀
" Kita mau makan apa ni?", tanya Ayu sambil memasang sabuk pengaman.
" Makan Seafood.", jawab Zevania dari kursi penumpang.
" Kamu nak?", tanya Ayu pada Richie yang duduk di sampingnya.
" Aku ngikut aja.", jawab Richie sambil ikut memasang sabuk pengaman.
" Kalian mau makan seafood juga?", tanya Ayu pada Zhafran, Senja dan juga Jasmin.
" Iya Aunty.", jawab Senja dan Jasmin kompak.
" Aku ikut aja Aunty.", jawab Zhafran ketika sadar Ayu memandang padanya.
" Okelah.. kalo begitu kita makan di The Beach Cafe aja.", ujar Ayu kemudian.
Zevania bersorak kegirangan. Ia benar-benar senang ketika membayangkan makan seafood sepuasnya di The Beach Cafe.
Ayu mulai menjalankan kendaraan nya dan para Bodyguard slalu setia mengawal mereka selama mereka ada di luar rumah.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan ada-ada saja pembicaraan yang membuat mereka tertawa.
Hingga tak terasa, mereka telah beda di parkiran The Beach Cafe. Richie duluan yang membuka pintu mobil, sebelum pintunya di buka oleh Bodyguard.
Kemudian di susul oleh Zevania dan yang lain. Terakhir baru lah Ayu yang keluar.
Mereka langsung masuk kedalam The Beach Cafe. Semua mata pengunjung dan karyawan langsung tertuju ke arah mereka.
Richie diam saja tanpa menunjukkan ekspresi apa pun, sementara Zevania, Senja, Jasmin dan Zhafran akan tersenyum ramah pada semua orang yang sedang menatap mereka.
Mereka langsung mengikuti Richie yang berjalan menuju Office yang berhubungan langsung dengan tangga menuju lantai dua Cafe tersebut. Meninggalkan Ayu yang sedang menyapukan matanya ke setiap sudut Cafe.
Melihat kedatangan Ayu, Siska dan juga Rangga langsung menghampiri.
" Selamat sore Mbak Ayu.", sama mereka berdua.
Ayu tak menjawab, ia hanya mengangguk dan tersenyum.
" Gimana keadaan Cafe?", tanya Ayu.
" Alhamdulillah ramai Mbak, ramai banget malahan..?", jawab Siska sambil tersenyum.
" Syukurlah. Apa ada masalah?", tanya Ayu lagi sambil balas tersenyum.
" Baiklah kalau begitu.. kami mau makan di atas. Dan Mas-mas itu silahkan di tanya mau makan apa.", ujar Ayu sambil menunjuk ke para Bodyguard yang hendak masuk kedalam Cafe.
" Siap Mbak..", jawab Rangga sambil tersenyum.
" Oh ya Rangga, gimana kabar ibu mu?", tanya Ayu sebelum ia berlalu.
" Syukurlah Alhamdulillah ibu ku sehat wal'afiat. Warungnya pun rame banget. Jadi ibu meminta anak-anak tetangga yang udah bisa kerja untuk membantu beliau. Dari pada ia ngasih gaji ke orang lain, lebih baik membantu tetangga... itu kata ibu.", jawab Rangga sambil tersenyum kecut.
Ayu tertawa mendengar cerita Rangga.
" Aku senang mendengarnya. Kapan-kapan kami mampir kesana.", ujar Ayu sambil menepuk pundak Rangga dan berjalan menuju ruang Office.
" Kami tunggu Mbak.", jawab Rangga sambil tersenyum.
Ayu hanya menjawab dengan melambaikan tangannya.
Rangga kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Siska mengikuti Ayu menuju ruang Office.
Mereka berdua langsung menuju lantai dua. Menyusul anak-anak yang duluan ke sana.
__ADS_1
"Akhirnya.. Aunty nongol juga.", ujar Zevania sambil menarik nafas lega.
Ayu tersenyum mendengar ucapan Zevania, ia tau.. gadis nakalnya tersebut udah lapar.
Ayu membawa mereka untuk duduk di balkon. Agar bisa memandang laut lepas.
" Ayo anak-anak, mau pesan apa?" ujar Ayu sambil menyerahkan buku menu ke anak-anak tersebut.
Mereka mulai ribut menyebutkan menu yang akan mereka makan. Dan Siska mulai mencatatnya.
Setelah di rasa cukup, dan menanyakan ingin tambahan apa pada Ayu.. Siska pun mohon pamit untuk menyerahkan orderan mereka pada orang Kitchen.
Sambil menunggu orderan mereka tiba, Ayu meninggalkan mereka di balkon.. membiarkan mereka untuk melakukan apa pun.
Tapi ternyata mereka tetap duduk di tempat mereka sambil bercerita.
Zevania meminta Jasmin untuk bercerita tentang sekolahnya.
" Aku sekolah di SD Bunga bangsa. Dan sekolah ku termasuk sekolah favorit dan bagus. Aku gratis sekolah di sana, karena aku masuk sekolah tersebut di bantu oleh papa teman ku. Teman ku itu sangat baik. Dia telah banyak membantu ku. Entah dengan apa aku bisa membalasnya.", Cerita Jasmin sambil tersenyum.
" Wahh.. teman mu baik banget.", seru Zevania.
" Tak hanya itu, dia slalu melindungi aku ketika aku di bully di sekolah.", lanjut Jasmin sambil tersenyum manis.
" Di sekolah mu ada yang suka ngebully juga?", tanya Senja kaget.
" Iya.. bahkan sangat banyak. Mereka sering marah kalau aku masuk kelas.. karena kelasnya kotor. Maklum lah, jalan di dekat rumah ku becek.", jawab Jasmin sambil tersenyum masam.
" Pernah suatu hari, teman yang biasa membantu aku gak masuk sekolah..karena ia pergi tempat neneknya di Jakarta. Jadilah satu hari itu aku menjadi bulan-bulanan. Tas ku di buang, sepatu ku di sepak kesana kemari.. dan yang paling sedihnya, bekal ku di buang ke tong sampah." lanjut Jasmin dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya kenangan itu benar-benar membekas di hatinya.
Semua terdiam mendengar cerita Jasmin. Air mata Zevania telah mengalir membasahi pipinya. Ia sedih membayangkan Jasmin teraniaya.
Senja kemudian berdiri, ia lalu merangkul pundak Jasmin.
" Dulu aku begitu.. aku slalu di ganggu dan di hina di kelas ku. Tapi Alhamdulillah, aku di pertemukan dengan mereka bertiga. Tak ada lagi yang berani mengganggu ku.", ujar Senja .
" Ya Alhamdulillah..kita di pertemukan dengan orang-orang baik.", jawab Jasmin sambil tersenyum.
" Maaf, kalau boleh tau teman mu laki-laki atau perempuan?", tanya Zhafran tiba-tiba.
Semua memandang ke arah Zhafran, kaget dengan pertanyaan Zhafran.
BERSAMBUNG.
__ADS_1