Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 10 - Izinkan Aku


__ADS_3

Herjuno merebahkan tubuh lelahnya. Sudah lama sejak ia hidup dengan benar. Makan dan tidur tidak teratur, Tidak pernah berolahraga. Yang dia lakukan hanya bekerja , dan melamun sembari membakar ber batang batang rokoknya. Seperti sekarang, lagi-lagi ia melamun setelah tadi menidurkan Haidar di kamarnya.


“Tidak , aku tidak mau.”


Herjuno teringat kembali percakapannya siang tadi dengan Aurorae. Saat ia bertamu, mengatakan ingin menikahinya.


“Rae , aku bersungguh-sungguh.”


“Apa aku tidak? Aku juga bersungguh-sungguh.”


“Menikahlah denganku. Aku mohon.”


“Tidak.”


“Jangan menolakku Rae.. Aku bisa gila. Kau yang paling tahu, sedalam apa aku mencintaimu.”


“Dan kau yang paling tahu, sejauh apa kau menipuku.”


“Maafkan aku tentang itu. Sungguh, maafkan aku. Aku bersalah. Izinkan aku menebus kesalahanku.”


“Hiduplah dengan baik bersama keluargamu. Jangan mengacau hidupku lagi , kumohon. Aku juga ingin hidup dengan baik.”


“Aku tidak bisa. Membayangkanmu bersama pria lain saja aku tidak bisa Rae. Aku mohon. Mari kita menikah. Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan sangat baik, aku berjanji. Aku pastikan tidak akan pernah melukaimu Rae.”


Herjuno mulai menahan tangisnya. Bagaimanapun ini adalah kesempatan terakhirnya. Jadi dia harus mengerahkan segalanya untuk mendapatkan Aurorae kembali. Karena jika dia gagal kali ini , tidak ada lagi yang tersisa. Dia mungkin akan benar-benar gila.


Aurorae bergeming.


“Rae tolong.. jangan menolakku. Aku tahu kau juga mencintaiku. Selama hubungan kita , apa aku pernah menyakitimu selain aku berbohong tentang Megumi? Percayalah Rae, aku melakukan itu hanya karena sangat takut kehilanganmu. Aku mohon Rae , tetaplah disisiku. Aku benar-benar bisa gila. “


Satu bulir air mata lolos juga di pipi Herjuno. Air mata yang sejak tadi ia tahan, demi harga dirinya sebagai laki-laki.


Herjuno berlutut , terisak. Membuat pertahanan Aurorae runtuh. Ikut menangis bersama Herjuno.


“Bangunlah Mas. Jangan begini.”


“Tidak , aku tidak tahu lagi bagaimana bisa meyakinkanmu. Aku berjanji tidak akan menyakitimu Rae. Aku berjanji.”


“Aku tidak bisa menerimamu bukan karena meragukanmu Mas . Hanya saja , ini terlalu sulit.”


Herjuno mengangkat kepalanya.


“Tetaplah disisiku Rae , akan aku pastikan kita bisa melalui semuanya. Aku hanya butuh kau tetap disisiku.” Herjuno memohon.


Aurorae mendesah pelan.


“Kembalilah nanti bersama jawaban dari Megumi.”


Herjuno menatap Aurorae tak percaya. Perasaannya berkecamuk. Bukankah ini selangkah lebih baik.


“Aku ingin tahu apa pendapatnya atas rencanamu. Setelah itu, akan ku berikan jawabanku.”


Herjuno mendesah kasar. Bayangan pertemuannya dengan Aurorae tadi membuat hatinya gundah. Dia takut salah langkah. Takut kalau-kalau jawaban Megumi nanti membuat Aurorae semakin menjauh. Terlebih Herjuno tidak tahu, jawaban seperti apa yang ingin Aurorae dengar.


Herjuno menoleh saat didengarnya seseorang membuka pintu kamar. Dia tahu, itu pasti Megumi.


“Dari mana kau?”


“Kenapa kau peduli?”


“Kau masih istriku.”


“Cih. Kau memuakkan.”


“Bersihkan dirimu. Tidurlah , besok pagi pastikan kau bangun dengan keadaan yang lebih baik. Jangan biarkan Haidar melihat dirimu yang seperti ini.”

__ADS_1


“Seperti apa maksudmu?”


“Lihatlah dirimu. Rok mini dan baju terbuka. Ditambah bau alkohol dari mulutmu. Aku tidak ingin putraku melihatnya.”


Megumi tertawa , dengan jalan sempoyongan.


“Putramu? Dia putraku.” Gumamnya pelan sambil berjalan menuju ranjangnya. Dia benar-benar mabuk.


Dan Herjuno, sama sekali tidak peduli. Meninggalkannya sendiri.


**


Farhan menatap Aurorae tak percaya. Telinganya tidak salah dengar, baru saja Aurorae berkata akan memberikan kesempatan terakhir pada hubungannya dengan Herjuno.


“Apa kau bodoh?”


“Katakanlah begitu, Han.”


Aurorae menunduk. Menatap mata Farhan hanya akan membuatnya semakin merasa bersalah. Setelah apa yang dilakukan pria itu, menunggunya dengan sabar, menemaninya dengan lapang, berharap ia suatu hari bisa berpaling melihatnya.


“Apa yang Herjuno punya, dan aku tidak Rae?”


“Tidak Han, kau laki-laki paling baik sepanjang hidupku. Aku harap kau menemukan seseorang yang setara denganmu. Sama baiknya , sama pengertiannya sepertimu.”


“Dirimu saja cukup untukku.”


“Maafkan aku.”


“Untuk apa?”


“Karena mengecewakanmu. Maafkan aku.”


Farhan menarik nafas panjang. Lalu bangkit memeluk Aurorae.


“Pastikan kau bahagia , jika tidak , aku tidak akan memaafkanmu.”


**


“Menikahi Aurorae? Kau bercanda.” Megumi terperangah. Apa yang baru saja ia dengar? Herjuno meminta izin menikah dengan Aurorae? Ah tidak, bahkan itu bukan permintaan izin, terdengar seperti pemberitahuan.


“Aku serius.”


“Apa kau gila?”


“Kau boleh menganggapnya begitu.” Herjuno masih acuh, berbicara tanpa menatap Megumi. Hanya kedua tangannya yang terus menyendokkan sarapan ke mulutnya.


Megumi tertawa pelan.


“Aku tidak akan mengizinkan.”


“Aku tidak sedang memohon izinmu.”


“Apa kau bodoh? Kau hanya bisa menikah dengannya jika aku mengizinkan. Pengadilan tidak akan bisa meresmikan pernikahanmu tanpa izin dariku.”


“Kalau begitu, aku akan menceraikanmu.”


“Herjuno Ardhi!” Megumi berteriak , menatap Herjuno tak percaya. Sedangkan Herjuno tidak terpengaruh. Matanya masih lekat menatap sarapan di depannya.


“Jaga bicaramu. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa kau permainkan. Lima tahun aku mendampingimu. Menemanimu bahkan saat kau masih merangkak sebagai staff biasa. Dan sekarang kau ingin membuangku? Demi wanita itu?” Megumi berteriak menahan kesal.


“Terimalah dia. Maka aku tidak akan membuangmu.”


“Wah.. kau benar-benar luar biasa Herjuno.” Megumi menatapnya tidak percaya.


“Apa kau sudah menemukannya? Apa dia setuju menikah denganmu? Apa ****** itu akhirnya bersedia menjatuhkan diri di ranjangmu? Perempuan ****** tidak tahu diri. Buka matamu, entah sudah berapa pria yang menyentuhnya sebelum dirimu.”

__ADS_1


Praaaannngg!!! Piring di hadapan Herjuno berhamburan ke lantai. Mengejutkan Megumi yang bahkan belum menyelesaikan kalimatnya. Herjuno menatapnya tajam, dengan kedua telapak tangan mengepal erat.


“Tutup mulutmu Megumi selagi aku masih bersabar padamu. Jangan berani-berani mencaci wanitaku. Atau aku tidak akan lagi berdiskusi denganmu tentang apapun. Terima dia , buatlah surat pernyataan bermaterai atau beritahu aku jika kau lebih memilih kita bercerai.”


**


Herjuno melangkahkan kakinya masuk kedalam kantor dengan wajah kesal yang masih terlihat. Mengingat kembali bagaimana Megumi menghina Aurorae membuatnya sangat marah. Selama ini Herjuno selalu bisa menahan diri, menghindari pertengkaran dengan Megumi. Tapi menyangkut Aurorae, Ia tidak tahan lagi.


Bug.


Farhan mendorong Herjuno ke dinding. Mencengkeram kerah bajunya dan menarik laki-laki itu menjauh dari depan lift ke tempat yang lebih tersembunyi. Herjuno diam saja bahkan sampai mereka tiba di samping tangga darurat. Ia belum bisa mencerna apa yang terjadi , Farhan tiba-tiba menariknya saat dia sedang melamun.


Farhan kembali mendorong Herjuno ke dinding.


“Apa kau tidak waras? Menikah? Belum cukup kau mengacaukan hidupnya?”


“Ah..” Herjuno perlahan memahami.


“Ah? Sudah ku bilang , carilah mangsa yang lain jika kau bosan, jangan mengacaukan hidup Aurorae.”


Herjuno menghentakkan tangan Farhan di kerah bajunya.


“Dengar, jangan biarkan cinta sepihakmu itu membuatmu melewati batas. Jaga jarakmu dari Aurorae , dia akan segera menjadi istriku.” Herjuno melangkah pergi.


“Ceraikan istrimu.”


“Apa?”


“Apa kau akan menjadikannya istri kedua? Melabelinya sebagai perempuan perebut suami orang? Membuatnya menerima cibiran seumur hidupnya? Kau sebut itu cinta? Menjijikkan.”


Herjuno terdiam. Menatap Farhan.


“Sadarlah. Pada akhirnya cintamu dan juga keegoisanmu lah yang akan membuatnya menderita seumur hidup.”


“Aku akan memperlakukan nya dengan baik.”


“Kau fikir itu cukup? Bagaimana dengan orang lain? Apa mereka juga akan memperlakukan nya dengan baik? Setelah menjadi istri kedua? Jangan mimpi Herjuno, tidak ada istri kedua yang di pandang sebagai wanita baik-baik. Ceraikan istrimu, jadikan Aurorae satu-satunya.”


“Aku tidak bisa.”


“Kenapa? Bukankah kau sudah bosan dengannya karena itu kau mencari yang baru?” Farhan mencebik.


“Kau tahu aku memiliki seorang putra, berhentilah menghakimiku. Kau tidak tahu apapun.”


“Maka lepaskanlah Aurorae.”


“Itu juga aku tidak bisa.”


“Artinya seperti itulah dirimu. Ketahuilah. Egois dan Tamak. Hanya memikirkan kebahagiaan dan keinginanmu sendiri. Sayang sekali, wanita sebaik Aurorae akhirnya jatuh pada lelaki seperti dirimu.”


Farhan berlalu. Meninggalkan Herjuno seorang diri yang masih terpaku.


Tanpa mereka sadari, di ujung atas tangga darurat, beberapa orang mendengar percakapan mereka.


“Kau dengar? Menikah? Pak Juno dan Aurorae?”


“Itu Aurorae yang kita kenal bukan?


“Wah.. apa Aurorae berhenti karena akan menikah?


“Pak Juno sudah memiliki istri dan seorang putra? Aurorae benar-benar tidak terduga.”


“Aku bahkan tidak tahu mereka berkencan.”


“Aku pernah mendengarnya dari staff divisi Marketing, tapi tidak ada yang benar-benar memastikannya. Ternyata itu bukan rumor.”

__ADS_1


Beberapa orang itu tertawa pelan. Menikmati aib seseorang.


**


__ADS_2