Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 74 - Di Mataku, Kau Yang Paling Sempurna


__ADS_3

Kini Herjuno yang gelisah. Ia menatap Aurorae lekat. Wanita itu masih menunduk menatapi segelas es coklat yang isinya hanya tinggal setengah.


Ku mohon.


Katakan hal lain.


Jangan minta maaf.


Herjuno terus bicara sendiri di dalam hatinya. Ia tidak ingin menginterupsi. Jika Aurorae meminta maaf, apakah dia akan mendengar hal yang mengecewakan hari ini?


"Aku minta maaf , kau pasti sering terluka karena aku."


Herjuno masih diam, tidak ingin menyela.


"Seharusnya aku menolakmu dengan tegas , atau menerimamu dengan benar."


Baik. Masih ada kesempatan. Tentu saja.


Herjuno membuang napas lega , setelah hampir saja jantungnya copot.


"Dengan tidak langsung, aku menghalangimu mencari kebahagiaan." kali ini Aurorae mendongak , menatap manik mata Herjuno yang sejak tadi memandanginya.


"Setelah ini, jangan ragu untuk mendekati wanita lain Mas. Aku ingin kau menemukan kebahagiaanmu. Jangan hidup sendiri lebih lama lagi, itu membuatku merasa bersalah."


"Ini penolakan?"


Aurorae mengangguk. "Maafkan aku."


Herjuno tersenyum. "Tidak perlu meminta maaf. Menunggumu adalah keputusanku, dan aku tidak pernah menyesal."


"Jangan lagi merasa bersalah atas apa yang terjadi di masa lalu, Mas. Aku tahu itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Seperti pernikahan kita , perceraian kita juga adalah takdir. Jadi lepaskan bebanmu, dan berbahagialah. Hiduplah dengan bahagia."

__ADS_1


"Aku menunggumu karena aku mencintaimu. Bukan karena aku merasa bersalah atas perceraian kita."


Aurorae mengerjap. Jantungnya berdebar sepuluh kali lipat lebih cepat. Astaga , pria ini bahkan menatapnya tanpa berkedip membuat Aurorae salah tingkah.


"Aku mencintaimu. Sangat. Tidak pernah sedetikpun aku berpikir mencari wanita lain. Untuk apa , kau saja lebih dari cukup."


"Mas , aku--"


"Apa aku membebanimu? Kau.." Herjuno menjeda sejenak kalimatnya. "Punya kekasih?" Sejujurnya menanyakan ini membuat hatinya terasa di remas.


Aurorae menggeleng cepat. "Tentu saja tidak!"


Cih. Aurorae merutuki kebodohannya. Apa terlihat jelas ia tidak ingin Herjuno salah paham?


Herjuno bisa bernapas lega. Baiklah, selagi Aurorae mengajaknya bicara , mari manfaatkan ini sebaik-baiknya. Belum tentu ia akan mendapatkan kesempatan ini lagi, mengingat Aurorae selalu memasang tembok tinggi diantara mereka.


"Kenapa kau tidak ingin kembali padaku? Kau, tidak lagi mencintaiku?"


"Aku..." Aurorae terdiam , tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Padahal jawab saja Benar, aku tidak mencintaimu lagi. Apa susahnya.


"Apa tidak ada sedikit saja perasaanmu padaku yang tersisa, Rae?"


Sial. Herjuno seperti sedang memojokkannya.


"Bukan seperti itu, Mas. Hanya saja--"


"Ah, jadi kau masih mencintaiku?" Herjuno tidak lagi bisa menyembunyikan senyumannya.


Aurorae mendelik. Senyuman sumringah Herjuno yang pertama tertangkap pandangannya. Ah , sudah lama ia tidak melihat senyuman itu ketika mereka hanya berdua. Herjuno akan terlihat se bahagia itu hanya jika bersama anak-anaknya.


"Cih. Kau menjebakku." Aurorae mendecakkan lidahnya keras.

__ADS_1


Herjuno tersenyum semakin lebar. Ia memberanikan diri menggenggam tangan Aurorae, membuat wanita itu sedikit terkejut tapi tidak memberontak.


"Aku sangat bahagia. Kau masih mencintaiku, itu sudah cukup. Tidak apa-apa jika kau belum bisa menerimaku kembali di hidupmu, tapi mengetahui ada aku di dalam hatimu membuatku sangat bahagia." Kali ini Herjuno menatap dalam kedua mata Aurorae.


Aurorae tahu, Herjuno tulus mengatakannya.


"Mas. Maksudku , kau pasti bisa menemukan wanita lain yang lebih dari pada aku." Aurorae ingin menarik tangannya , tapi Herjuno tidak melepaskannya.


"Aku tidak mau."


"Mas! Kau pria, bahkan jika menginginkan wanita dibawah tiga puluhan kau masih bisa!" Astaga, Aurorae tidak percaya dia mengatakan itu. Apa dia tidak tahu, rasa tidak percaya dirinya terlihat dengan jelas.


"Aku hanya mau dirimu." Herjuno masih terus menatapi Aurorae tanpa berkedip, genggaman tangannya semakin erat.


"Lagipula , apa kau tidak pernah bercermin? Siapa yang akan percaya usiamu empat puluh satu?" lanjutnya lagi.


"Kau sangat cantik. Aku tidak ingin yang lain."


Pria ini tidak habis-habis membuat Aurorae salah tingkah. Apa dia tidak tahu kalau detak jantung Aurorae sekarang tidak aman.


"Mas , aku--"


"Cukup katakan kau ingin aku lebih berjuang lagi mendapatkanmu. Tidak apa-apa, aku akan lebih berusaha. Hum?"


"Aku.. takut mengecewakanmu." Aurorae menunduk , terlalu lama menatap Herjuno tidak bagus untuk kesehatannya.


Herjuno mengernyit. "Sudah ku katakan--"


"Kau tahu , aku tidak muda lagi. Banyak yang berubah dalam diriku , dalam tubuhku. Aku takut, aku tidak lagi seperti aku di dalam ingatanmu sembilan belas tahun yang lalu."


Herjuno mengulum senyumnya. "Di mataku, di hatiku, dirimu yang paling indah. Tubuhmu yang paling sempurna." Ia berdiri, sedikit membungkukkan tubuhnya mendekat kepada Aurorae yang terhalang meja. "Ingin membuktikannya?"

__ADS_1


**


__ADS_2