Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 70 - Jangan Merasa Bersalah


__ADS_3

"Kenapa aku harus keberatan , Mas?" Aurorae mengernyitkan keningnya.


"Aku takut melihat Haidar membuatmu mengingat lagi lukamu di masa lalu. Aku takut menyakitimu lagi."


Aurorae menghela napas. "Mas , Haidar tidak tahu apapun. Tidak adil jika aku juga membencinya."


Aurorae pernah sangat marah , pernah sangat terluka hingga bersumpah akan membalas Megumi sekuat tenaga. Tapi seiring berjalannya waktu , rasa sakit itu memudar. Aurorae tidak lagi mengingat semua itu sebagai hal yang menyakitkan. Sudah lama, sejak Aurorae tidak lagi mengungkit lukanya meski hanya di dalam hati.


Terlebih tadi, Haidar menjawab rasa penasaran Aurorae. Ia bercerita bagaimana Megumi memberitahunya tentang apa yang terjadi belasan tahun lalu. Tentang Herjuno yang menikah lagi, tentang kenapa mereka bercerai, dan tentang Satya yang merupakan Ayah kandung Haidar.


Aurorae sedikit terkejut. Selama ini ia tidak pernah bertanya apapun kepada Herjuno tentang Megumi dan Haidar. Aurorae fikir , Herjuno masih rutin bertemu dengan Haidar seperti ia rutin mengunjungi Ryan dan Ryana. Fakta bahwa Haidar bukan putra kandung Herjuno, cukup membuat sudut hati Aurorae terasa sesak. Tiba-tiba ia terbayang bagaimana terlukanya perasaan Herjuno. Selama ini, ia hanya peduli dengan hatinya sendiri.


"Aku membersamainya hingga usia tujuh tahun sampai Megumi bebas dari penjara. Di salah satu sudut hatiku , aku menyayangi anak itu meski bukan darah dagingku. Itulah kenapa aku masih sering menemuinya diam-diam. Hingga saat Haidar memasuki universitas, aku mulai menjaga jarak. Aku sedikit tenang, ku pikir karena dia sudah dewasa jadi bisa menjaga dirinya sendiri." Herjuno memijit pelipisnya.


"Tanyakan kabarnya lebih sering , dia pasti kesepian." Aurorae mencoba menenangkan.


**


Hingga larut malam, Aurorae belum juga mengantuk. Entah apa yang menganggu pikirannya , sudah sejak tiga puluh menit lalu memadamkan lampu , tapi ia belum tertidur juga.


Aurorae bangkit , melangkah menuju kamar Ryan. Memandangi putranya itu sebentar lalu beralih masuk ke dalam kamar Ryana.


Melakukan hal yang sama seperti di kamar Ryan tadi, Aurorae juga memandangi wajah putrinya.


Ia menghela napas. Anak-anaknya tumbuh dengan baik. Meski ia dan Herjuno bercerai , tapi mereka bekerja sama dengan baik untuk kepentingan anak-anak.

__ADS_1


Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak , mengingat bagaimana Haidar menjalani hidupnya setelah perceraian Herjuno dengan Megumi.


Ada sedikit rasa bersalah yang menyeruak. Dia kah penyebab penderitaan anak itu?


Aurorae beranjak keluar, bukannya kembali ke kamarnya ia malah menuruni tangga dan berakhir di halaman belakang rumahnya. Berdiri mematung dengan kedua tangan bersedekap di dada dan wajah yang mendongak menatap langit malam yang kebetulan.. gelap. Tidak ada bintang satupun yang terlihat.


"Semuanya baik-baik saja?" suara Gumilar membuat Aurorae menoleh.


"Ayah melihatmu sendirian dari jendela kamar, jadi Ayah turun. Ada masalah apa?" tanyanya lagi sebelum Aurorae sempat menjawab.


Aurorae memeluk Gumilar. Menenggelamkan wajahnya di dada pria yang sudah renta itu.


"Tadi siang , kami bertemu Haidar. Dia guru olahraga di sekolah anak-anak."


Gumilar mengernyit. Sedang berpikir , kira-kira siapa Haidar yang di maksud putrinya.


"Saat kami bercerai dulu, mungkin usianya sekitar lima tahun." lanjutnya lagi. "Anak itu tumbuh dengan sangat baik."


"Apa dia menyebabkan masalah?" tanya Gumilar akhirnya.


Aurorae lekas menggeleng, lalu melepaskan pelukannya. "Tidak, Ayah. Kami makan siang bersama."


Gumilar menarik Aurorae menuju kursi di sana. "Apa yang mengganggu pikiranmu?"


"Anak itu tumbuh dengan baik. Tapi jalan sulit yang dilaluinya , membuatku sedikit merasa bersalah."

__ADS_1


Gumilar diam. Dia tidak ingin memotong ucapan putrinya , membiarkan Aurorae menyelesaikan ceritanya.


Aurorae menghela napas. "Haidar ternyata.. bukan putra kandung Mas Juno." ia menunduk , mengeratkan kedua tangannya.


Gumilar tetap diam , hanya menatap Aurorae lembut.


Tidak mendapati respon terkejut dari Ayahnya , Aurorae penasaran satu hal.


"Apa Ayah tahu itu?"


Gumilar mengangguk. "Hal itu masuk dalam gugatan cerai Herjuno kepada Megumi. Jeffrey memberi tahu Ayah."


Jeffrey adalah pengacara Aurorae saat bercerai dengan Herjuno dulu. Tidak lama setelah itu, Herjuno juga memakai jasanya untuk menggugat cerai Megumi.


"Herjuno murka , dia sudah berbesar hati membesarkan putra orang lain , tapi Megumi membuatnya berpisah dengan anak-anak kandungnya. Herjuno mengetahui itu jauh sebelum dia mengenalmu , tapi baru membukanya saat perceraian kalian."


Aurorae tidak bisa menutupi keterkejutannya. Selama pernikahan mereka , Herjuno tidak pernah sekalipun mengungkit tentang Haidar. Herjuno sama sekali tidak pernah mencari-cari alasan tentang kenapa ia menikah lagi dan menduakan Megumi. Ia tutup rapat sendiri apa yang terjadi.


Aurorae menghela napasnya. Merapatkan kedua sisi cardigannya untuk menutupi rasa sesak di dada.


"Jangan menyalahkan diri sendiri. Semua sudah berlalu, lagipula katamu Haidar tumbuh dengan baik, kan? Gumilar mengusap pelan rambut Aurorae.


Aurorae mengangguk. "Dia tumbuh dengan sangat baik. Meski dulu Mas Juno sering menemuinya, ia tidak pernah mengeluh apapun. Termasuk tentang banyak kesulitan hingga rumah yang mereka tempati terjual dan harus hidup di rumah kontrakan." Aurorae menghela napas untuk menjeda sejenak kalimatnya.


"Bahkan saat Megumi meninggal pun , ia tidak menghubungi Mas Juno untuk meminta bantuan. Anak itu, entah bagaimana perasaannya. Dia pasti sangat terluka."

__ADS_1


**


__ADS_2