
Megumi mengepalkan tangannya kuat. Ingatannya kembali ke beberapa bulan lalu, saat ia bersandiwara sakit dan berujung pada Herjuno yang batal mengantar Aurorae ke dokter kandungan.
Saat itu ia puas karena berhasil membuat Herjuno lebih memilihnya. Tapi sekarang, ia kesal karena kejadian berbulan bulan lalu kembali diungkit sampai membuatnya tidak bisa membantah.
Megumi menyambar tas di dalam kamarnya , berpapasan dengan Bi Lilis yang baru saja memasuki rumah , setelah mengantar Haidar tadi.
"Bi nanti tolong Bibi juga yang jemput Haidar ya." ucapnya tanpa menunggu jawaban , langsung keluar dan melajukan mobilnya.
**
Herjuno melangkah cepat menyusuri koridor kantornya. Ia mengangguk pelan saat beberapa orang yang berpapasan menyapanya.
Dari jauh dilihatnya Tita yang sedang merenggangkan pinggangnya , lalu memijat pelan tengkuknya sendiri.
"Tita , ke ruangan saya sepuluh menit lagi. Bawa juga berkas yang kemarin belum sempat saya periksa." ucap Herjuno saat sudah lebih dekat.
"Baik Pak." Tita mengangguk sambil memperhatikan atasannya itu berlalu memasuki ruangannya.
"Minum ini dulu." Dea mengulurkan sebutir vitamin tablet pada Tita.
Tita menerima vitamin itu dan langsung menelannya.
"Terima kasih. Aku bahkan tidak makan dengan benar astaga." Ia kembali memijat tengkuknya sendiri.
"Han , apa Rama belum sehat?" Kali ini Tita menoleh pada Farhan. "Kapan bocah itu kembali ke kantor? Haiissh pekerjaannya banyak sekali." lanjutnya lagi menggerutu.
Farhan dan Dea terkekeh.
"Sudah. Dia bahkan bermain game sepanjang hari. Pak Juno memberinya waktu libur sampai tanggal dua puluh." Farhan menjawab dengan kekehan yang belum habis.
Tita mendelik sebal. "Bermain game? Aku akan ke rumahnya weekend besok. Akan ku buat dia menyesal karena mengambil libur." omelnya lagi.
"Aku dan Tania juga akan mengunjunginya besok. Pekerjaan kami jadi banyak sekali." Farhan ikut mengomel , tapi tetap dengan tersenyum.
__ADS_1
**
Sore itu Herjuno pulang dengan setengah hati, belum dua puluh empat jam ia tidak melihat Aurorae dan si kembar tapi sudah sangat merindukan mereka.
Ditambah lagi, pertengkarannya dengan Megumi tadi pagi. Sudah bisa dibayangkan , suasana rumah malam ini tidak akan nyaman.
"Papa pulang? Apa pekerjaannya sudah selesai?" Haidar menyambut Herjuno yang baru saja memasuki rumah.
"Hum , pekerjaan Papa sedang tidak banyak. Haidar ingin jalan-jalan tidak?" Herjuno berjongkok menyamakan tinggi badannya denga sang anak.
Haidar menggeleng. "Haidar ingin makan pizza nanti malam. Mama sudah berjanji akan beli saat pulang nanti."
"Baiklah. Papa akan mandi sebentar. Haidar main dulu dengan Abang Zhafran ya." Herjuno mengendus wangi tubuh Haidar yang sudah mandi.
Anak itu mengangguk riang lalu berlari ke arah taman belakang, menemui Zhafran dan Nadia.
"Apa Ibu keluar?" Herjuno bertanya pada Bi Lilis.
"Iya Pak." jawabnya mengangguk.
"Saat saya pulang mengantar Haidar, Pak. Ibu berpesan agar saya juga yang menjemput Haidar. Tapi tadi siang sempat menelepon dan menanyakan Haidar ingin apa untuk makan malam."
Herjuno mengangguk dan berlalu masuk ke dalam kamarnya. Niatnya ingin mandi , tapi urung. Ia merogoh ponsel di dalam sakunya dan menghubungi Megumi.
Sekali , tidak diangkat.
Kedua kali , baru diangkat setelah mungkin sepuluh detik.
"Ya , Mas?"
"Sedang dimana? Kenapa belum pulang juga?"
Megumi terdiam beberapa detik. Hingga Herjuno mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
"Me , kau dengar aku tidak? Sedang dimana?"
"Di rumah Monica. Ada apa?" jawabnya pelan.
"Ada apa? Sebenarnya apa yang kau lakukan dengan teman-temanmu itu? Pulang , atau aku akan menyeretmu dari sana!" Herjuno memekik kesal lalu memutus sepihak sambungan telepon.
Ia melempar ponselnya ke atas ranjang. Berkacak pinggang, lalu mendengus kesal.
**
Megumi pulang tepat sebelum jam makan malam. Sesuai janjinya , membawa pizza pesanan Haidar.
Herjuno menahan diri untuk tidak menampakkan kemarahannya sampai makan malam selesai. Bahkan ia masih sempat menemani Haidar dan Zhafran bermain di kamarnya.
"Tehmu , Mas." Megumi meletakkan gelas di meja ruang tengah saat Herjuno baru saja menjatuhkan bokongnya di sofa.
"Kita bicara di kamar." Herjuno sama sekali tidak melirik gelas di atas meja , ia berlalu masuk ke dalam kamar setelah menatap tajam istrinya.
"Ada apa?" tanya Megumi setelah menutup pintu kamar.
Herjuno membelakanginya sambil berkacak pinggang. Terlihat jelas laki-laki itu sedang menahan kesal.
"Apa yang kau lakukan seharian ini?" tanya Herjuno, masih membelakangi Megumi.
"Aku di rumah Monica bukankah aku sudah bilang tadi."
"Seharian? Sejak pagi? Apa yang kau lakukan disana hingga lupa waktu?" Kali ini Herjuno berbalik , menatap tajam Megumi.
"Mas! Aku butuh udara segar. Rumah ini, pernikahan kita , membuatku sesak. Setelah kau mengkhianatiku apa aku bahkan tidak boleh bertemu teman-temanku?" suaranya bergetar, Megumi sudah hampir menangis.
Herjuno memijat keningnya sendiri. "Aku tidak melarangmu melakukan apa yang kau suka. Tapi kau ini seorang Ibu , Haidar masih sangat membutuhkanmu. Bisa tidak mengakhiri pertemuan mu dengan teman-temanmu itu saat jam makan siang? Temani Haidar dirumah , kau ini."
"Jangan menuntutku menjadi sempurna seperti yang kau mau , ingat kau lah yang membuatku seperti ini , Mas. Sejak kau mengkhianatiku dengan wanita it--"
__ADS_1
"Tidak, Megumi." Herjuno terkekeh sumbang. "Kau sudah seperti ini bahkan sebelum aku mengenal Aurorae, hanya sekarang kau jauh lebih terang-terangan. Jangan kau pikir aku tidak pernah tahu."
**