Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 79 - Restu Si Kembar


__ADS_3

Aurorae duduk seorang diri di halaman belakang rumahnya. Beralasan tidak mengantuk karena segelas kopi yang ia minum setelah makan malam tadi, saat Ryana bertanya kenapa Ibunya itu belum tidur.


Aurorae menghela napas. Kepalanya mendongak menatap langit malam diatas sana , ah entah sejak kapan ia senang sekali memandangi langit malam dari bawah sini.


Puas menelisik langit gelap tanpa satupun bintang disana , Aurorae mengalihkan pandangannya pada sebuah jendela di lantai dua rumahnya. Kamar Ryana. Dari bawah sini , hanya bisa melihat kamar Ryana di sebelah kiri , dan kamar Gumilar di sebelah kanan. Sedangkan kamar Ryan, ada di sisi seberang dengan jendela menghadap halaman depan rumah.


Aurorae menghela napas lagi, Ryana --putrinya itu-- entah sejak kapan tumbuh begitu dewasa --Ryan juga-- . Saat tadi Herjuno menceritakan pembicaraannya dengan anak-anak Aurorae kaget luar biasa.


Tidak ingin Aurorae terpaksa menjalani suatu hubungan hanya untuk membahagiakan mereka? Astaga dari mana datangnya pemikiran seperti itu , Aurorae tidak habis pikir.


Tapi , ada satu bagian di sudut hatinya yang menghangat. Mengetahui betapa besar anak-anak menyayanginya membuat Aurorae sangat bahagia.


Sekali lagi, Aurorae mendongak menatap jendela kamar putrinya sebelum ia masuk ke dalam rumah.


**


Ryana mengaduk-ngaduk makanan di piringnya. Beberapa saat lalu , Ibunya berkata ingin bicara dengannya dan juga Ryan setelah mereka menyelesaikan sarapan.


Pasti Ayah sudah bicara. Apa Ibu marah?


Hatinya gelisah , menerka-nerka kira-kira apa yang akan dibicarakan Ibunya. Ia belum siap , andai harus melihat Ibunya sedih atau kecewa. Jadi dia hanya memperlambat makannya untuk mengulur waktu.


Ryan mengedikkan dagu seolah tahu adiknya sedang gelisah. Tatapannya ke arah Ryana mengandung pertanyaan ada apa , tapi gadis itu hanya menggeleng samar lalu kembali menunduk menatap makanannya.

__ADS_1


Setelah benar-benar menyelesaikan sarapannya, Ryan dan Ryana duduk di halaman belakang menunggu Ibunya yang sedang menerima panggilan --sepertinya Tante Dea--.


"Abang , apa Ayah sudah mengatakannya pada Ibu?" tanya Ryana setengah berbisik.


"Apa?"


"Tentang apa yang kita katakan waktu itu. Apa Ibu marah?"


Ryan mengernyit. "Kenapa Ibu marah? Memangnya kita melakukan kesalahan?"


"Entahlah. Aku takut, perasaanku mengatakan Ibu akan marah."


"Ck. Perasaanmu tidak pernah benar!" Ryan berdecak lalu memalingkan wajah , tidak lagi meladeni adiknya.


Suara derap langkah yang mendekat , membuat Ryana terdiam. Jantungnya semakin kencang berdebar , seolah-olah sudah pasti Ibunya akan marah.


"Ada apa, Bu? Kenapa tiba-tiba ingin bicara?" Ryan bertanya lebih dulu , sedangkan Ryana hanya menunduk dan sesekali kedua tangannya saling meremat.


"Ada yang membuat Ibu penasaran." Aurorae menatap kedua anaknya bergantian.


"Apa Abang dan Adik tidak senang jika Ibu dan Ayah kembali bersama?"


Ryan mengerjap cepat. Otaknya langsung berpikir kira-kira apa jawaban yang tepat.

__ADS_1


"Apa Ibu senang?" Bukannya menjawab , Ryan malah balik bertanya.


"Tentu saja. Kita akan jadi keluarga yang bahagia , kan?" Aurorae tersenyum.


"Apa karena kami? Apa kami pernah tanpa sadar meminta Ibu kembali pada Ayah?" Ryana yang sejak tadi menunduk , langsung mengangkat wajahnya.


Aurorae terkekeh. "Apa kalian berpikir Ibu menerima Ayah kembali hanya karena kalian?"


Ryan dan Ryana kompak mengangguk.


"Jika begitu, Ibu pasti sudah menerima Ayah sejak kalian masih kecil." Aurorae menghela napas sejenak. "Kalian tahu, Ayah tidak pernah bosan meminta Ibu kembali. Tapi baru sekarang Ibu mempertimbangkannya. Jadi ini bukan karena Ibu terpaksa." Aurorae tersenyum lagi. Membawa lagi ke belakang telinga anak rambut Ryana yang menjuntai.


"Benar?" Mata Ryana tiba-tiba berbinar , dan itu terlihat jelas di penglihatan Aurorae.


"Ibu tidak bohong? Jangan hanya memikirkan kami , Bu. Kami ingin Ibu juga bahagia." Ryan menyahut dan diikuti anggukan oleh Ryana.


Ah , ternyata anak-anaknya memang semanis itu. Aurorae lagi-lagi terharu, menarik kedua anaknya ke pelukan, ia mengusap pelan punggung Ryan dan Ryana.


"Terima kasih karena menyayangi Ibu sebesar ini."


"Kami juga sayang Ayah , tapi jika salah satu dari kalian tidak bahagia , jangan memaksakan kembali bersama hanya untuk kami." Ryan menahan tangisnya. Jauh di dalam hatinya , tentu ia ingin Ayah dan Ibunya kembali bersama.


"Aku akan mengatakan pada Ayah untuk tidak menyakiti Ibu lagi!" Ryana sudah terisak. Anak itu benar-benar tidak bisa menutupi perasaannya.

__ADS_1


Aurorae terkekeh. "Terima kasih. Kalian tumbuh jadi anak-anak yang baik."


**


__ADS_2