
"Apa dia masih mengganggumu?" Maudy kembali bertanya karena Aurorae tidak lekas menjawab.
Aurorae menggeleng. "Semuanya sudah selesai."
"Ku harap juga begitu. Wanita itu benar-benar mengerikan."
"Tidak perlu mengungkitnya. Dia sudah mendapatkan hukuman. Itu sudah cukup."
Megumi dihukum dua tahun penjara saat itu, lebih ringan dari tuntutan karena pertimbangan memiliki balita dan itu adalah pelanggaran pertamanya.
"Semoga dia tidak lagi mengejar-ngejar Herjuno." Maudy terdengar menggerutu. Sejak keluar dari perusahaan lima tahun lalu, Maudy memang hanya memanggil Herjuno dengan namanya. Terlebih, dua tahun lalu Farhan mendapat promosi sebagai Manager keuangan, posisi yang setara dengan Herjuno.
Aurorae terkekeh.
"Jangan tertawa! Kau tidak melihatnya saat ia datang ke kantor membuat keributan."
"Dia datang ke kantor?"
Maudy mengangguk. "Hum." Ia mengernyitkan keningnya terlihat sedikit berpikir. "Kira-kira lima atau enam tahun yang lalu, sebelum aku keluar dari perusahaan."
Enam tahun lalu, artinya sesaat setelah dia dibebaskan dari penjara.
"Dia berteriak mengamuk seperti orang gila karena security tidak mengizinkan dia masuk, sedang Herjuno tidak ingin keluar menemuinya."
Aurorae terdiam. Herjuno maupun Dea tidak pernah menceritakan ini.
"Semoga itu pertama dan terakhir kalinya dia mengusik lagi kalian. Aku tidak pernah mendengar apapun lagi setelah itu."
Aurorae mengangguk membenarkan. Mungkin saja saat itu Megumi hanya ingin meminta maaf.
Aurorae dan Maudy berbincang agak lama siang itu. Aurorae bahkan menyempatkan diri mengantar Maudy ke hotel tempatnya menginap sebelum pulang ke rumah.
**
"Wow , apa ini masakan Ibu?" Ryana memekik senang saat mendatangi meja makan untuk makan malam.
__ADS_1
"Hum, spesial untuk anak-anak Ibu." Aurorae menoel sedikit hidung putrinya.
Semua orang makan dengan lahap malam itu. Aurorae memang sudah lama tidak memasak. Jika ingin makan sesuatu, ia akan meminta secara khusus kepada Bi Izza. Toh sama saja , masakan Bi Izza juga tak kalah enak.
"Ibu , apa boleh Ryana telepon Ayah?" Ryana merengek di lengan Ibunya sesaat setelah makan malam.
Aurorae mendongak , menatap jam dinding yang tergantung diatas sana.
"Hum. Tanyakan dulu apa Ayah sibuk? Jika Ayah masih di kantor, jangan mengganggu." ucap Aurorae sembari mengulurkan ponselnya.
"Baik." Ryana lekas turun dari kursi dan setengah berlari menuju ke ruang tengah.
"Ya , Rae?" Jawab Herjuno di seberang sana.
"Ayah , ini Ryana."
"Ada apa, sayang?"
"Apa Ayah sibuk? Masih bekerja? Ibu bilang , jika Ayah sibuk Ryana tidak boleh mengganggu."
Ryan yang sedari tadi mengekori adiknya , memutar bola matanya malas lalu mendengus kesal menatap adiknya.
"Kau bodoh? Jika seperti itu caramu bertanya , tentu saja Ayah akan menjawab tidak meski pekerjaannya sebanyak ini." Ryan menggerakkan tangannya membentuk lingkaran sangat besar.
Herjuno terperanjat.
Tapi belum sempat ia bicara , sudah terdengar suara Aurorae menginterupsi.
"Abang, kemari!"
Ryan berdecak menatap Ryana yang mengerucutkan bibirnya , kemudian ia beranjak menghampiri Aurorae.
"Kenapa mengatai Adik bodoh, hum?" Aurorae mengelus sayang kepala putranya.
"Ryana sangat tidak peka , jika bicara selalu tanpa berfikir." Dia masih menggerutu.
__ADS_1
"Tapi apa baik mengatai seperti itu?" Aurorae masih tersenyum, tidak ada raut kesal atau marah di wajahnya.
"Maaf, Ibu. Abang hanya sebal, tidak benar-benar menganggap Ryana bodoh. Dia sangat pintar." Mulai tampak raut bersalah di wajahnya.
"Abang memang jauh lebih peka dibanding Adik, Abang bisa berpikir dengan cepat. Tapi Adik tidak bodoh, dia hanya sangat jujur. Ibu tahu Abang tidak benar-benar menganggap Adik bodoh , Abang hanya gemas iya? Tapi lain kali, tidak boleh sampai mengatai orang lain , baik?"
Ryan mengangguk. "Ya , Ibu. Maafkan Abang."
Aurorae menarik pelan hidung Ryan. "Anak baik. Minta maaf pada adik juga , iya?"
Ryan mengangguk lalu menghampiri kembali Ryana di ruang tengah.
"Maaf, Abang salah karena mengatai Adik bodoh." ia mengulurkan tangannya ke arah Ryana.
"Kau memanggilku Adik hanya jika bersalah." Ryana melempar tatapan permusuhan.
"Ryana!" Suara Herjuno menginterupsi.
Ryana terkikik. "Maaf, Ryana hanya bercanda." ia menerima uluran tangan kakaknya.
"Duduk disini , Abang. Ayah bilang nanti Ayah yang akan mengambil raport di sekolah." gadis itu bercerita dengan semangat.
"Benar, Ayah?" Ryan menatap Herjuno di layar ponselnya. Wajahnya berbinar-binar.
Ah apa sebahagia itu hanya karena raport mereka akan diambilkan Herjuno? Herjuno sama sekali tidak menyangka.
"Hum , Abang senang?"
"Tentu saja , akan Abang pamerkan Ayah ke teman-teman."
Herjuno terkekeh. "Baiklah, nanti Ayah datang."
Anak-anak menemani Herjuno di sepanjang perjalanan pulang dari kantornya yang malam itu sedikit lebih macet dari biasanya. Panggilan baru dimatikan saat Herjuno sampai di rumahnya.
"Abang , kenapa Ayah tidak tinggal disini?" tanya Ryana sesaat setelah panggilan diputus.
__ADS_1
"Ayah dan Ibu sudah bercerai." jawab Ryan enteng.
**