Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 34 - Akan Melahirkan


__ADS_3

Sudah dua bulan berlalu sejak kemarahan Aurorae.


Selama itu pula , Aurorae tidak berubah. Sikapnya masih dingin , bahkan saat ia tersenyum bukan bahagia yang tampak, melainkan rasa sakit dan kecewa yang semakin terlihat jelas.


Herjuno menyadari itu.


Entah sudah berapa puluh kali ia meminta maaf , berjanji tidak akan mengulangi lagi, tapi Aurorae bergeming.


Aurorae sudah tidak pernah lagi meminta apapun pada Herjuno.


Pernah suatu kali , Herjuno melupakan tanggal gajiannya. Sudah lewat dua hari, tapi Aurorae tidak pernah bertanya tentang uang bulanannya. Jika bukan karena Megumi yang mengingatkan , Herjuno sama sekali tidak ingat.


Dan saat Herjuno mengatakan sudah mengirim uang bulanan ke rekening Aurorae, istri keduanya itu hanya menjawab Terima kasih. Tidak seperti bulan-bulan sebelumnya yang selalu ada rentetan doa yang ia ucapkan.


Terima kasih ya Mas. Semoga rezeki kamu berlimpah berkah. Semoga kamu sehat selalu lahir dan batin. Aku juga berdoa kamu selalu bahagia.


Dan juga semoga aku bisa mengelola uang pemberian kamu dengan baik.


Begitulah yang selalu Aurorae ucapkan tiap bulan. Tapi tidak dengan dua bulan terakhir.


Aurorae juga tidak pernah meminta Herjuno menemaninya ke dokter kandungan. Herjuno harus benar-benar mengingat jadwal kunjungan dokter istrinya itu jika tidak ingin di tinggalkan. Aurorae akan memilih pergi sendiri , jika Herjuno tidak datang.


"Berhenti bersikap kekanakan Rae. Apa kau tidak lelah?" Herjuno menaikkan nada bicaranya.


Hari ini lagi-lagi Aurorae memilih pergi sendiri ke dokter kandungan , beruntung Herjuno menyusul dan tiba tepat sesaat sebelum Aurorae mendapat giliran masuk.


"Jika kau lelah pulanglah , tidak ada yang memaksamu datang Mas." tatapannya datar , tidak ada senyum atau rengekan.


Aurorae segera membuka pintu mobilnya , tapi ditahan oleh Herjuno.


"Kau tidak dengar tadi dokter bilang apa? Waktu untuk melahirkan semakin dekat , kau bisa sewaktu-waktu mengalami kontraksi. Dan kontrol kandunganmu harus seminggu sekali sekarang. Berhentilah marah-marah, supaya aku bisa mengurusmu dengan benar." Herjuno memarahi Aurorae dengan sedikit bentakan. Sesungguhnya ia mulai lelah, sampai kapan harus memaklumi sikap kekanakan Aurorae.


Aurorae membanting pintu mobil yang tadi sempat dibukanya.


"Aku marah-marah? Bagian mana yang kau sebut aku marah-marah?" Aurorae menatap tak kalah tajam.


Herjuno terkesiap. "Aku sudah berkali-kali meminta maaf ta--"

__ADS_1


"BAGIAN MANA YANG KAU SEBUT AKU MARAH-MARAH?" Aurorae mengulangi lagi pertanyaannya , dengan nada bicara lebih tinggi.


"Sudah bagus aku hanya diam menjaga jarak darimu. Apa kau ingin aku merengek-rengek bermanja-manja padamu saat kau telah sangat melukaiku? Yang benar saja!" Aurorae membuang napasnya kasar.


"Bersyukurlah aku hanya diam daripada memakimu habis-habisan. Dengar Tuan , dunia ini bukan milikmu yang jika kau menyakiti orang lain lalu kau ingin orang itu serta merta memaafkanmu dan melupakan rasa sakitnya." Aurorae menurunkan nada suaranya. Pelan , tapi penuh penekanan.


"Aku meminta maaf padamu berkali-kali, bagaimana lagi ag--"


"Untuk kesalahan yang mana kau meminta maaf?" Potong Aurorae lagi.


"Karena tidak mengantarku ke dokter? Atau karena tidak memberiku kabar hingga malam? Atau karena lebih memprioritaskan istri pertamamu yang sedang sekarat? Apa dia sakit parah? Sampai-sampai kau bahkan tidak ingat menelponku. Untuk yang mana , Tuan?" suara Aurorae mulai bergetar.


Dan Herjuno membisu. Benar , sebenarnya mana yang membuatnya merasa bersalah. Dan mana , yang paling menyakiti Aurorae.


Ia menelisik wajah Aurorae , terlihat jelas wanita itu sedang menahan tangisnya. Berkedip sekali saja , maka air pasti tumpah dari kedua matanya.


"Kau bahkan lupa dengan janjimu akan meminta seseorang memindahkan barang-barangku ke kamar di lantai bawah." Aurorae tertawa pelan. Bukan tawa bahagia , banyak kecewa yang terlihat disana.


Herjuno terkesiap lagi. Benar , dia melupakannya.


"Jika bisa , aku ingin pergi meninggalkanmu. Sejujurnya , semua itu membuatku muak. Dan sekarang kau bilang aku kekanakan?" Aurorae mencebik. Membuka kasar pintu mobilnya dan berlalu dari sana tanpa menunggu Herjuno menjawab semua pertanyaannya.


**


Ia menggigit pelan bibir menahan rasa sakit.


Ingin memanggil Bi Izza --adik dari Bi Ita-- tapi rasa sakit membuat lidahnya kelu.


Aurorae mengulurkan tangannya , menyenggol pelan gelas yang ada di atas meja kecil.


Prangg.


Benar saja , suara jatuhnya gelas itu membuat Bi Izza tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Rae , ada apa?" Dengan berjingkit menghindari pecahan gelas Bi Izza mendekati Aurorae.


Aurorae hanya meringis. Dengan tangan tetap memegangi perutnya dan meremas sprei.

__ADS_1


"Tunggu sebentar." Wanita empat puluh tahun itu berlari keluar , meminta bantuan pada tetangga sebelah rumah yang kebetulan beberapa kali pernah menyapanya.


Aurorae dipapah keluar oleh Bu Widya , sedang Bi Izza menyambar sebuah tas yang memang sudah di persiapkan dari jauh-jauh hari untuk dibawa ke rumah sakit.


Tidak lupa dompet dan ponsel milik Aurorae yang tergeletak di meja rias.


**


"Za , bagaimana?" Gumilar datang dengan setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit.


"Rae di dalam Pak , sudah bukaan tujuh." Bi Izza menyampaikan.


Bi Ita , kakak dari Bi Izza adalah wanita yang belasan tahun membantu pekerjaan rumah tangga kediaman Gumilar saat masih di Bandung. Lalu saat Gumilar dan Aurorae memutuskan pindah ke pinggiran kabupaten Garut , Bi Ita tidak segan-segan untuk ikut karena kebetulan itu adalah kampung halamannya. Karena sudah lama bekerja dengan keluarga Gumilar , Aurorae sangat dekat dengan Bi Ita dan keluarganya.


Dan sekarang , adiknya yang membantu di kediaman Aurorae dan Herjuno.


"Dimana Herjuno?"


Bi Izza menggeleng. "Saya tidak tahu nomor ponselnya Pak. Dan ini, ponsel Rae dikunci."


"Herjuno juga tidak menelepon selama tiga jam ini?" ya , sudah tiga jam lalu sejak Aurorae dibawa ke rumah sakit.


Lagi-lagi Bi Izza menggeleng.


Raut wajah Gumilar berubah kasar. Ia merogoh ponsel di sakunya.


"Halo , Ayah." Suara Herjuno di seberang sana, sesaat setelah panggilannya diangkat.


"Kau dimana?"


"Di kantor , Yah. Apa Ayah butuh sesuatu?"


"Apa kau sibuk?"


"Tidak , aku baru saja selesai makan siang."


Gumilar mengeraskan rahangnya. "Aurorae di rumah sakit. Sudah sejak tiga jam yang lalu. Bi Izza tidak bisa menghubungimu , jadi dia hanya memegang ponsel Aurorae berjaga-jaga jika kau menelepon tapi ternyata tidak."

__ADS_1


**


__ADS_2