
Gumilar menghela napas lalu memijit pelipisnya pelan.
"Tidak perlu khawatir. Ayah akan menemui Herjuno agar kesalahpahaman ini bisa di luruskan." ia menelisik raut wajah putrinya.
"Bagaimanapun, sikap Herjuno bisa kita maklumi. Siapapun pasti akan sangat marah dan kecewa menemukan hasil tes seperti itu , terlebih ada di dalam tas milikmu." Gumilar mencoba memberi pengertian.
Aurorae menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Meremat kuat surat panggilan sidang perceraian dari pengadilan.
"Kesalahpahaman ini memang harus di luruskan. Tapi tidak sekarang, Yah. Aku akan bercerai saja."
Semua orang mendelik kaget. Menatap Aurorae serempak , meminta penjelasan.
"Rae , dengar." Dea sudah akan angkat bicara.
"Sudah aku pikirkan matang-matang, Mbak. Ini memang bukan kesalahan Mas Juno, bukan juga kesalahanku. Tapi sebagai suami , jika bukan dia yang percaya kepadaku lalu siapa?" Aurorae memotong cepat.
"Rae , bercerai tidak sesederhana itu. Apalagi ada anak-anak diantara kalian." Dira menggengggam kuat pergelangan tangan Aurorae.
"Aku tahu. Tapi Megumi tidak akan menyerah , dan Mas Juno juga tidak akan melepaskan wanita itu." Aurorae menunduk. Menarik napasnya dalam-dalam. "Aku tidak tahu apalagi yang akan dilakukan Megumi di masa depan." ucapnya menahan tangis.
"Aku lelah. Ayah , Ayah pernah bilang kan aku boleh berhenti jika lelah? Ayah akan menerimaku kembali kan?" kali ini ia mendongak menatap Gumilar dengan mata berkaca-kaca.
Gumilar beranjak , mendekati Aurorae yang duduk di seberang meja.
Memeluk putrinya itu erat dengan cengkeraman lembut di belakang kepalanya.
"Berhentilah. Tidak perlu dipaksakan. Dan tidak usah khawatir tentang si kembar, hanya pikirkan kebahagiaanmu sendiri. Kau boleh egois." Tidak ada keraguan sama sekali dalam ucapan Gumilar, membuat Aurorae juga semakin yakin dengan keputusannya.
Dea dan Dira tidak bisa berkata-kata lagi. Aurorae juga meminta mereka merahasiakan dulu tentang bukti-bukti yang dikumpulkan oleh Gumilar.
Kakak beradik itu hanya bisa mendukung dan mendoakan semoga keputusan inilah yang terbaik.
Megumi. Lagi-lagi wanita itu.
__ADS_1
Gumam Dira dalam hati.
**
Megumi menginjak pedal gas nya dengan kasar. Sudah beberapa hari ini dia menahan amarahnya , tapi kali ini Herjuno sudah melewati batas.
Megumi memarkirkan mobilnya tepat di depan gedung kantor Herjuno.
Ia menghela napas dalam-dalam lalu meraih ponselnya. Menghubungi Herjuno mengatakan jika ia ada di luar.
Herjuno berjalan keluar gedung dengan tergesa. Dia tahu Megumi sedang kesal. Dan Herjuno paling tidak suka jika Megumi membawa bawa kekesalannya dengan menghampirinya di kantor seperti ini. Ia tidak ingin menjadi bahan gunjingan orang-orang yang melihat kedatangan istrinya.
"Apa yang sangat penting sampai kau datang kesini?" Herjuno bertanya kesal setelah masuk ke dalam mobil di bangku samping kemudi.
"Jika tidak ingin aku datang, maka pulanglah!" Megumi memekik kesal.
"Kau benar-benar keterlaluan , Mas. Tidak mencintaiku tidak apa-apa. Cukup aku yang kau perlakukan tidak adil, Haidar tolong jangan. Meski kau sudah punya dua anak dari Aurorae, jangan lupakan Haidar! Aku mohon." Megumi sudah terisak di tempatnya.
Herjuno memijit pelipisnya. "Aku akan pulang nanti. Menyetir dengan hati-hati!" ucapnya sembari keluar dari mobil dan berlalu masuk ke dalam gedung kantornya.
Sejak menjatuhkan talak pada Aurorae, dia pulang ke rumah Megumi dan mengemasi beberapa potong pakaiannya lalu pergi menginap di hotel selama beberapa hari.
Sepertinya hingga hari ini, Megumi tidak tahu apapun tentang ia yang mengajukan gugatan cerai pada Aurorae. Istri pertamanya itu kesal karena Herjuno tidak pulang lebih dari satu minggu, mengira suaminya sibuk dengan istri muda dan kedua bayinya.
Saat keluar dari lift ia berpapasan dengan Dea yang entah akan kemana. Wanita itu hanya meliriknya sekilas dan berlalu melewatinya begitu saja. Dea bahkan tidak berusaha menyembunyikan raut kesalnya sama sekali. Herjuno melihatnya dengan jelas.
"Dea." Herjuno akhirnya berbalik, memanggil Dea sebelum staffnya itu semakin jauh.
Dea menoleh , tanpa menjawab. Hanya menatap Herjuno dari tempatnya berdiri.
Herjuno mendengus pelan. "Jika tidak ada pekerjaan yang mendesak, datang ke ruangan saya."
Setelah mengatakan itu , Herjuno berlalu tanpa menunggu jawaban dari Dea. Itu perintah , bukan permintaan.
__ADS_1
Dea mengekori Herjuno yang masuk ke ruangannya. Ketika lelaki itu duduk di balik meja kerjanya , Dea memilih berdiri saja.
"Apa Aurorae menceritakan semuanya kepadamu?" tanya Herjuno tanpa basa-basi.
"Maaf , Pak. Tentang apa?" Suaranya lembut dan sopan sekali, tapi tatapan tajamnya sama sekali tidak melunak.
"Tentang kami yang bercerai." Herjuno menjawabnya santai.
Terdengar tanpa beban. Membuat rasa kesal Dea meluap-luap ingin dilampiaskan.
"Ah, ya."
Herjuno mengernyit.
Ah, ya?
Wanita ini benar-benar.
"Apa yang kau tahu?" Herjuno mulai kesal.
"Semuanya. Tentang Anda yang menceraikan Aurorae tanpa mendengar penjelasan apapun , dan tentang hasil tes DNA itu. Saya tahu semuanya." jawabnya tegas.
Herjuno tertawa sesak. "Baguslah jika kau tahu semua tentang kebenaran dua bayi itu. Jadi jangan menyebarkan rumor bahwa saya adalah pria jahat yang telah membuang mereka."
Sejujurnya Herjuno takut jika semua orang mendengar apa yang terjadi. Istrinya melahirkan putra pria lain? Ah , harga dirinya terluka.
"Dua bayi itu?" Dea tertawa sinis. "Syukurlah Anda melepaskan mereka, lebih baik memang tidak memiliki Ayah ketimbang tumbuh dengan Ayah seperti Anda."
Herjuno mendelik. Bibirnya sudah terbuka ingin bicara , tapi Dea lekas memotong kasar.
"Jika tidak ada hal mendesak tentang pekerjaan, tolong jangan berbicara dengan saya." Dea sedikit menunduk sebentar sebelum benar-benar keluar dari sana.
Meninggalkan Herjuno yang melotot penuh amarah dan tangan mengepal kuat.
__ADS_1
**