Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 42 - Kunjungan Dokter


__ADS_3

"Papa terima kasih , Haidar suka sekali spaghetti." Haidar tersenyum cerah memamerkan deretan gigi putihnya.


"Enak kan Bang?" kali ini ia menoleh pada Zhafran yang duduk di depannya.


"Hum!" Zhafran pun terlihat menikmati makanannya.


Herjuno terkekeh melihat interaksi dua bocah itu.


"Makanlah yang banyak , Nad." Herjuno menegur Nadia yang sejak tadi hanya diam.


"Iya , Pak." Gadis itu hanya mengangguk, lalu meneruskan makannya.


Setelah dua jam berkeliling mall mereka kini duduk di sebuah restoran khas Italia. Tentu saja , Haidar yang memilih.


"Ada lagi yang mau kalian beli?" Herjuno bertanya lagi, menatap bergantian pada ketiga anak yang sedang mengunyah masing-masing makananya.


Nadia dan Zhafran serempak menggeleng. Tidak lama , Haidar juga menggeleng.


"Sudah , Pa." Anak itu memekik riang , terlihat sangat gembira setelah mendapatkan sebuah mobil-mobilan yang diinginkannya.


Zhafran pun membeli satu mainan yang ia pilih sendiri, sedang Nadia yang tidak enak menolak tawaran Herjuno hanya memilih sebuah buku pelajaran yang memang belum mampu ia beli sendiri.


"Baiklah. Lain kali, jika Papa sibuk , Haidar boleh pergi dengan Mama untuk jalan-jalan." Tiba-tiba Herjuno teringat perkataan Haidar tadi pagi yang menanyakan apa mamanya ada urusan penting. Seolah-olah setiap harinya Megumi sangat sibuk.


"Mama sangat sibuk, banyak sekali urusan penting." Nah , benar kan. Di mata Haidar, Megumi adalah Ibu yang sibuk.


Herjuno mengernyit. Pasalnya , istrinya itu Ibu rumah tangga penuh, tidak bekerja dan tidak pula punya bisnis yang dijalankan. "Mama selalu sibuk?"


"Hum! Papa dan Mama sangat sibuk. Tapi Mama selalu pulang saat makan malam , Papa kadang-kadang tidak pulang." Haidar masih terus mengunyah dengan riang.


Herjuno menghentikan pertanyaannya. Tidak ingin Nadia merasa tidak nyaman , bagaimanapun gadis itu sudah remaja , sudah bisa menerka-nerka situasi di sekitarnya.

__ADS_1


Hari itu Herjuno benar-benar menghabiskan waktu dengan Haidar. Setelah pulang dari mall, ia masih menemani putranya bermain dirumah hingga petang. Bahkan Herjuno pula yang memandikan Haidar.


Begitu pula keesokan harinya , di hari minggu pagi yang cerah Herjuno membawa Haidar berjalan kaki keliling komplek pagi-pagi sekali. Membeli sarapan diluar , lalu pulang saat matahari mulai meninggi. Dan lagi-lagi bermain seharian hingga petang.


Kehadiran Megumi seperti tidak terlihat oleh mata suaminya.


Baru di malam hari, saat Haidar sudah tidur , Megumi mengambil kesempatan untuk bicara.


"Mas , ayo kita bicara." ucapnya setelah Herjuno masuk ke dalam kamar.


"Ada apa?" laki-laki itu masih saja ketus tidak bersahabat.


Megumi berderap mendekat lalu memeluk erat suaminya.


"Maafkan aku tentang kemarin, Mas. Aku tidak bermaksud menyakitimu ataupun merendahkan Nadia. Aku hanya cemburu , kau tahu, berbagi suami sangat menyakitkan. Aku tidak akan sanggup jika ada yang lain lagi. Maafkan aku." ucapnya panjang dengan sendu.


Herjuno mengusap kepala istrinya. "Jangan diulangi lagi, hum? Jika hal itu di dengar Bi LiLis , beliau pasti kecewa. Jangan menyakiti orang lain tanpa alasan , Me."


Malam itu Megumi bisa sedikit bernafas lega. Bagaimanapun dia harus bisa mengambil lagi hati suaminya. Kini Aurorae sudah memiliki apa yang sebelumnya hanya dimiliki Megumi, seorang anak. Herjuno tidak akan dengan mudah melepaskan Aurorae dan anaknya.


Satu-satunya cara adalah dengan memastikan perhatian Herjuno hanya lebih banyak kepadanya.


**


Aurorae menatap ponselnya lama. Menimbang-nimbang apa harus menghubungi Herjuno atau tidak.


Semalam ia sudah mengirim pesan , mengingatkan tentang jadwal kontrol pasca melahirkan, dan juga jadwal kunjungan ke dokter anak.


Tapi hingga siang ini, tidak kunjung dibalas.


"Sudah , pergi saja. Ditemani Bi Izza. Herjuno mungkin sibuk." Gumilar memutuskan.

__ADS_1


Aurorae mengangguk , lalu meraih ponselnya untuk menghubungi suaminya.


"Ya , sayang. Kau butuh sesuatu?" Herjuno langsung menjawab panggilan.


"Apa kau sibuk, Mas?" tanya Aurorae ragu-ragu.


"Hum. Perusahaan kedatangan Tuan Thomas hari ini. Aku sedang bersiap-siap untuk meeting sepuluh menit lagi. Ada yang kau inginkan, sayang?"


"Ah tidak , hanya jangan lupa makan." Aurorae memutuskan untuk tidak meminta Herjuno menemaninya.


Thomas adalah pemilik perusahaan yang jarang sekali datang ke kantor cabang. Jadi saat beliau datang, kantor pasti menjadi sangat sibuk.


Aurorae akan memberi tahu hasil nya saja nanti setelah pulang dari Dokter agar Herjuno tidak bimbang dan merasa bersalah.


Herjuno terkekeh. "Baiklah. Nanti malam aku pulang ya. Aku sudah sangat merindukanmu dan anak-anak."


"Baiklah , aku tutup ya." Aurorae memutus sambungan telepon lalu meminta Bi Izza untuk bersiap-siap menemaninya ke rumah sakit.


**


Braakkk.


Seorang perawat tidak sengaja menyenggol tas Aurorae yang di letakkan di bangku ruang tunggu.


"Maaf , maafkan saya." Perawat itu membungkuk lalu berjongkok ingin memunguti barang-barang Aurorae yang berhamburan dari dalam tasnya.


"Tidak apa-apa. Maaf ya , saya tidak bisa berjongkok." Aurorae membiarkan perawat itu membereskan barang-barangnya, ia merasa sungkan tidak bisa membantu karena sedang menggendong Ryan , dan Bi Izza menggendong Ryana.


"Saya yang tidak berhati-hati. Maafkan saya." Perawat itu meletakkan tas di tempat semula dan melangkah pergi setelah berkali-kali meminta maaf.


**

__ADS_1


__ADS_2