Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 15 - Izin Menginap


__ADS_3

Semua orang di sana memandangnya tidak percaya.


“Kau tidak bercanda?” Herjuno menikah lagi?” tanya Adam penasaran.


“Jangan hanya mencurigainya. Cari buktinya lebih dulu Me.” Delisha mengingatkan.


“Delisha benar, tenanglah. Herjuno tidak mungkin menikah lagi tanpa izin darimu.” Anjas menimpali


“Aku... memberinya izin.” Jawab Megumi pelan. Masih dengan isak tangisnya.


Yang lain saling memandang tidak percaya.


“Aku memberinya izin di atas surat pernyataan bermaterai.” Lanjutnya lagi.


“Apa kau bodoh?” teriak Monica tidak dapat menyembunyikan kekesalannya.


Megumi semakin terisak.


“Katakan. Apa yang sebenarnya terjadi?” Anjas menengahi.


“Siapa perempuan itu? Ceritakan.” Monica benar-benar tidak dapat menahan emosinya.


Mereka berteman sejak duduk di bangku SMA , dua belas tahun yang lalu. Pada mereka lah Megumi terbiasa berkeluh kesah menceritakan segalanya. Tapi tentang perselingkuhan Herjuno dengan Aurorae yang ia ketahui sejak lima bulan lalu, Megumi menutupnya rapat-rapat. Ia terlalu malu membagi itu pada teman-teman nya. Menyimpannya sendiri, berharap suaminya akan kembali dan melupakan Aurorae.


Sekarang akhirnya ia tidak tahan lagi. Membuka semua yang terjadi di dalam rumah tangga nya.


“Namanya Aurorae. Staff Mas Juno di kantor. Lima bulan lalu dia menghubungiku, mengakui hubungannya dengan Mas Juno.” Megumi membuka kisahnya.


“Dia menghubungimu? Dasar perempuan gila.” Delisha memotong.


“Mas Juno mengatakan padanya bahwa kami sedang dalam proses perceraian, jadi wanita itu ingin memastikan.”


“Artinya suamimu lebih gila.” Potong Adam tidak terima.


“Setelah dia tahu rumah tangga kami baik-baik saja , wanita itu pergi meninggalkan Mas Juno. Dia bahkan berhenti dari pekerjaannya dan pindah ke pinggiran kota demi menghindari Mas Juno.”


“Lalu?” Monica tak sabar.


“Mas Juno benar-benar berantakan. Hidupnya hancur selama beberapa bulan. Hingga akhirnya dia mencari wanita itu dengan berbagai cara, entah bagaimana tiba-tiba dia datang meminta izin padaku untuk menikahinya.” Megumi kembali terisak.


Monica memeluknya erat. Membiarkan Megumi menangis di pundaknya.


Hari itu, di habiskan Megumi dengan berbagi kesedihan bersama teman-temannya.


**


Megumi memandang rumahnya dari dalam mobil. Sudah lima menit ia sampai, tapi tak kunjung keluar dari mobilnya. Menatap lama ke arah pintu utama rumahnya.


“Rumah ini, kita membelinya dengan penuh perjuangan Mas.” Ia mendesah pelan.


Ingatannya kembali pada siang tadi, saat tanpa sengaja melihat Herjuno dan Aurorae di cluster tempat Delisha tinggal.


“Baru sehari menikah, kau sudah akan membelikannya sebuah rumah.” Batinnya lagi.


“Cih. Kenapa nasibnya baik sekali.” Umpatnya pelan setelah memorinya memutar lagi wajah Aurorae yang tampak sumringah.


Megumi membuka pintu mobil saat di lihatnya Haidar terpaku di depan pintu utama dan memandang ke arah mobilnya.


“Haidar mau kemana?” tanyanya setelah sampai di hadapan putranya.


“Mama kenapa lama sekali? Haidar ingin tidur dengan Mama.”


“Kan ada Abang Zhafran.” Jawabnya setelah mensejajarkan tingginya dengan tinggi putranya.


“Iya dengan Abang Zhafran juga.”

__ADS_1


“Bertiga? Mama dengan Haidar dengan Abang Zhafran?”


Haidar mengangguk.


“Baiklah. Ayo Mama akan menemani Haidar tidur.” Jawabnya menuntun masuk Haidar ke dalam rumah.


“Bi tolong buatkan susu hangat untuk Haidar dan Zhafran. Saya akan menemani mereka sampai tertidur.” Titahnya saat berpapasan dengan Bi Lilis di ruang keluarga.


“Biar Zhafran tidur dengan saya saja di kamar belakang Bu.”


“Tidak apa-apa Bi. Saya akan pindah saat anak-anak sudah tertidur.”


Bi Lilis tidak menjawab lagi. Hanya mengangguk pelan dan berlalu menuju dapur untuk membuatkan dua gelas susu hangat.


“Haidar sekarang cuci tangan dan cuci kaki dulu. Mama berganti pakaian lalu nanti menyusul Haidar ke kamar.” Ucapnya mengelus puncak kepala Haidar.


Haidar mengangguk berlalu dengan senyum yang mengembang.


**


“Bi istirahat saja , anak-anak sudah tidur. Di cek dulu semua pintu dan jendela ya.” ucap Megumi yang baru saja keluar dari kamar Haidar.


Bi Lilis mengangguk.


“Ibu apa butuh sesuatu?”


“Tidak Bi, istirahat saja.”


“Bu tadi Bapak telepon, bertanya kenapa ponsel Ibu tidak aktif.”


Megumi menoleh.


“Jam berapa Bapak telepon?”


“Dua jam yang lalu Bu , saat Mas Haidar makan malam.”


“Ya sudah, nanti saya telepon Bapak. Bibi istirahat saja.”


Megumi melangkahkan kaki menuju kamarnya. Meninggalkan Bi Lilis yang menatapnya iba. Entah sebenarnya wanita itu tahu atau tidak apa yang sedang terjadi dalam rumah tangga majikannya. Tapi dari tatapan matanya Megumi bisa menangkap belas kasihan yang coba di sembunyikan.


Ah , dia tidak suka dikasihani.


18.35 Hubungi aku kalau kau sudah baca pesanku.


18.50 Ponselmu belum aktif juga , dan kau belum kembali ke rumah. Sedang dimana?


20.15 Telepon aku saat sudah dirumah.


Megumi membaca beberapa pesan yang baru saja masuk sesaat setelah ia mengisi daya ponselnya.


Ada apa?


Megumi membalas pesan suaminya.


Tidak lama ponselnya berdering.


“Apa kau sudah di rumah?”


“Hem..”


“Haidar sudah tidur?”


“Hem, baru saja.”


Herjuno terdengar mendesah pelan.

__ADS_1


“Me maafkan aku , tapi bisakah kau batasi kegiatanmu di luar rumah?”


“Apa maksudmu Mas?”


“Jika aku sedang tidak di rumah, bisakah kau pulang lebih cepat? Jangan biarkan Haidar makan malam seorang diri.”


“Ada Bi Lilis dan Zhafran tadi yang menemani.”


“Aku tahu, tapi Bi Lilis tidak bisa setiap hari menginap di rumah kita , tolong batasi kegiatanmu , aku tidak melarang kau bertemu teman-teman mu, tapi tidak harus setiap hari kan? Prioritaskan Haidar.”


Megumi terkekeh.


“Bagaimana denganmu Mas?” Apa kau bisa membatasi kegiatanmu di luar sana?”


“Megumi, dengar..”


“Kalau kau sangat khawatir pada putramu, pulang saja. Tidak bisa bukan? Kau lebih memilih bersenang-senang dengan jaalangmu itu.” Megumi memotong sebelum Herjuno menyelesaikan kalimatnya.


“Jaga bicaramu, Aurorae itu istriku.”


“Cih. Sudah malam begini lebih baik nikmati tubuh perempuan itu, kenapa malah berdebat denganku.”


“MEGUMI !”


“Ingat Mas , kau membayar mahal demi tubuh itu, jadi jangan kau sia-siakan.”


Megumi mematikan sepihak sambungan telepon. Hatinya sakit, lagi-lagi Herjuno menggores luka di tempat yang sama.


**


Aurorae mendesah pelan. Sudah lima menit ia berdiri di depan pintu kamarnya. Tadi ia meninggalkan Herjuno untuk mengambil air minum di dapur, saat kembali ia mendengar Herjuno sedang bicara dengan seseorang, jadi ia mengurungkan niatnya untuk masuk.


“Aku harus bersiap. Hal-hal seperti ini pasti akan sering terjadi. Tidak apa-apa , ini adalah resiko atas keputusanku.” Aurorae menguatkan dirinya sendiri, menarik napas pelan, lalu perlahan membuka pintu kamarnya.


“Kenapa lama sekali?” tanya Herjuno saat di lihatnya Aurorae masuk dengan sebuah teko kaca dan gelas di tangannya.


“Aku memeriksa dulu semua pintu dan jendela di bawah Mas.” Jawabnya tersenyum, meletakkan gelas di atas meja.


“Kemarilah , ada yang ingin aku bicarakan.”


“Ada apa?” Aurorae menjatuhkan bokongnya di sisi Herjuno dengan bersandar di tepi ranjang.


“Rae aku besok sudah mulai bekerja.”


“Hem , aku tahu. Ada apa?”


“Besok aku akan menginap di rumah Megumi. Jadi sepulang dari kantor , aku akan langsung ke rumah Megumi.” Herjuno mengambil jeda sejenak, menelisik ekspresi wajah Aurorae.


“Apa tidak apa-apa?” lanjutnya lagi.


“Iya. Tidak apa-apa.”


Herjuno menarik Aurorae ke dalam pelukannya.


“Maafkan aku Rae , tidak bisa memberi rumah tangga yang normal seperti orang kebanyakan. Maafkan aku.”


“Aku mengerti Mas , kita sudah pernah membahas ini sebelumnya.”


Aurorae memaksakan senyumnya. Sejujurnya , sejak kemarin dia sangat bahagia , seolah lupa kalau ia hanya istri kedua.


Baru saja Herjuno menyadarkannya , bahwa dia tidak bisa memiliki suaminya sepenuhnya. Ia harus berbagi tentang segalanya. Waktu, perhatian , ranjang, uang. Semuanya.


“Tidurlah Mas , kamu pasti lelah.” Aurorae mematikan lampu kamarnya.


“Kemarilah.” Herjuno merentangkan tangan kirinya , menarik Aurorae ke dalam pelukannya.

__ADS_1


“Ternyata sakit sekali , Ayah bagaimana jika aku tidak sanggup menjalani ini?” batin Aurorae sebelum benar-benar terlelap.


**


__ADS_2