
Aurorae menatap kesal pada Dea. "Berhenti menggodaku!"
Dea terkekeh. "Herjuno banyak berubah. Dia juga pasti sangat menyesal. Tidak ada salahnya ji--"
"Mbak!" Aurorae memelototinya membuat Dea semakin tertawa.
"Baiklah , Baik. Aku tidak akan mengungkitnya lagi. Tapi pertimbangkan perkataanku, hum?"
Aurorae hanya memutar bola matanya malas.
"Memangnya aku tidak tahu kenapa sampai sekarang kau masih betah jadi jomblo?" ujarnya sambil terkekeh dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Aurorae memelototi punggung Dea sambil menggerutu. Wanita itu tidak habis-habis menggodanya. Padahal dulu, Dea lah yang paling murka dengan kelakuan Herjuno.
**
Ryana paling suka jika Dea atau Dira sedang berkunjung. Keluarga mereka akan makan bersama di halaman belakang, karena meja bar di dalam tidak cukup menampung semua orang.
"Kakak , mau tidak jadi kakakku?" Ryana menatap Shasa dengan pertanyaan absurdnya.
"Aku memang kakakmu." Lihat , betapa bijak Sasha padahal usianya baru sebelas tahun.
"Maksudku , kakak sungguhan." Ryana menopang dagunya dengan kedua tangan. "Tante , mau tidak Kakak Shasa ditukar dengan Abang Ryan?" gadis itu berteriak menatap Dea.
Dea terkekeh. "Kalau Ryana tidak suka , biar Abang Ryan untuk Tante."
"Ya , tapi tukar dengan Kakak Shasa."
Dea hanya tertawa , tidak menanggapi lagi. Ia tahu, anak itu hanya bercanda.
Ryan yang mendengar itu hanya mencebik, tidak berniat juga untuk menanggapi.
"Kalian ini seperti kucing dengan anjing." Gumilar menggerutu.
"Biasa anak-anak Om." Dea yang lagi-lagi keluar membawa makanan menimpali.
"Padahal saat Ryan sakit minggu lalu, Ryana menangis meraung-raung ingin ikut menginap di rumah sakit." Gumilar menatap Ryana mengejek.
Ryana melotot lalu melirik Ryan sekilas. "Ryana tidak begitu!"
"Tidak mengaku, huh?" Aurorae yang tiba-tiba muncul ikut mengejeknya.
"Ryana juga telepon Shasa sambil menangis , kenapa dia tidak sakit juga katanya." Shasa memamerkan deretan gigi putihnya.
__ADS_1
Semua orang tertawa, kecuali Ryana. Gadis itu mencebik kesal.
Dan Ryan, acuh sekali. Entahlah anak itu sebenarnya dengar atau tidak dirinya sedang dibicarakan.
**
Sudah delapan tahun berlalu sejak percerainnya dengan kedua istrinya , Aurorae dan Megumi. Kini Herjuno tinggal sendiri , di rumah yang dulu ia tempati bersama Aurorae.
Saat meninggalkan rumah , Aurorae juga meninggalkan sertifikatnya disana.
Beberapa bulan kemudian ketika hubungan mereka membaik dan sudah saling memaafkan , Herjuno pernah menyinggung tentang rumah itu. Meminta izin agar tetap bisa tinggal disana.
Aurorae tidak keberatan , toh itu memang dibeli dengan uang mantan suaminya.
Herjuno menjatuhkan bokongnya di sofa ruang tengah. Ia menyandarkan punggungnya , lalu memejamkan mata dengan lengannya yang menutupi.
Ia bertahan seperti itu selama beberapa menit. Hingga kemudian , air matanya jatuh. Ia menangis sendirian , tanpa suara.
Kesalahan-kesalahan di masa lalu yang selalu membayanginya selama ini, belum juga pergi.
Disaat-saat seperti ini, duduk sendiri di dalam rumah. Herjuno seringkali berandai-andai.
...Ah , andai saat itu ia mempercayai Aurorae....
Andai ia bisa berfikir lebih jernih.
Andai ia tidak terlambat menyadari bagaimana Megumi.
Andai ini , andai itu.
Herjuno menghela napas , lalu mengusap wajahnya kasar.
Aurorae memang sudah memaafkannya , hubungan mereka jauh lebih baik. Tapi untuk meminta lebih, Herjuno tidak berani.
Sudah bagus Aurorae tidak memisahkannya dari anak-anak.
Wanita itu, entah terbuat dari apa hatinya.
Herjuno menegakkan punggungnya, meraih ponsel lalu menghubungi Aurorae.
"Rae , maaf aku menelpon tiba-tiba." ucapnya saat panggilannya tersambung.
"Ada apa Mas?"
__ADS_1
"Apa anak-anak tidur? Aku merindukan mereka."
"Belum. Akan aku panggilkan."
Bahkan Herjuno masih berdebar meski hanya mendengar suaranya. Wanita itu , dulu sangat mencintainya ia tahu. Tapi ia menyia-nyiakan perasaan dan kepercayaannya.
"Ayah." Suara Ryan.
"Ayahku sayang." Ryana menyahut.
Herjuno terkekeh dan kemudian panggilan berubah menjadi mode video.
"Ck. Kau ini." Ryan menggerutu.
"Aku ingin melihat wajah Ayahku." Ryana terdengar kesal juga.
Herjuno menjauhkan ponselnya. Mendengar suara Ryan dan Ryana, hatinya terasa diremat-remat. Ia mengusap lagi air matanya. Andai mereka tahu apa yang telah dilakukan Ayahnya di masa lalu.
Herjuno menarik napas panjang, mengedip-ngedipkan matanya agar tidak lagi ada air mata yang jatuh.
Dengan tersenyum, Herjuno kembali menatap ponselnya.
Ada wajah Ryan dan Ryana disana.
"Ayah rindu sekali, kalian rindu Ayah tidak?"
"Hum, Ryana ingin sekolah diantar Ayah. Kapan Ayah pulang?" anak itu terlihat bersemangat.
Herjuno tertegun. Pulang? Disana bahkan bukan rumahnya. Ia hanya datang sebagai Ayah yang mengunjungi anak-anaknya.
Herjuno berdehem pelan. "Awal bulan depan ya , Ryana sabar?"
"Ya , tidak apa-apa."
"Abang tidak rindu Ayah?" Herjuno mengalihkan perhatiannya pada Ryan.
"Rindu. Tapi tidak apa-apa karena Ayah disana harus bekerja."
Mata Herjuno berkaca-kaca. Anak-anak ini kenapa bisa semanis ini. Ia semakin merasa bersalah mengingat dulu meragukan mereka.
"Ayah , kenapa tidak tinggal bersama kami? Ryana ingin setiap hari makan bersama Ayah."
**
__ADS_1