Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 23 - Mari Berpisah


__ADS_3

“Sudah ku bilang , jangan menguji kesabaranku Rae !” Herjuno berteriak.


Aurorae menoleh , urung meski tinggal selangkah lagi kakinya keluar dari kamar.


“Aku ini suamimu , bersikaplah selayaknya seorang istri!” ia berteriak lagi.


“Hah. Bukan hanya dirimu yang ingin di perlakukan dengan layak Mas. Apa kau sudah bersikap selayaknya seorang suami?” Aurorae tersenyum tipis.


“Apa maksudmu? Langsung saja , tidak perlu bertele-tele.”


“Berapa kali kau datang dalam seminggu?”


“Ah baik, kau memiliki seorang istri yang aku sudah ku ketahui sejak awal. Jadi aku tidak berhak bertanya kenapa kau tidak bisa sering datang begitu?”


Aurorae menatap Herjuno sinis.


“Kau benar-benar kekanakan , hanya karena..”


“Tidak ! Bukan hanya karena itu !” potong Aurorae cepat.


“Istri pertamamu mengadu , lalu kau telan mentah-mentah ucapannya? Apa kau bertanya padaku tentang kebenarannya? Hah? Kau langsung menuduhku. Bahkan saat aku menyangkalnya , kau tidak mempercayaiku.”


Herjuno menatap wanita di hadapannya. Wanita lembut itu berubah. Tidak terlihat lagi senyum teduhnya , berganti dengan amarah dan kecewa yang terlihat jelas dari tatapan matanya.


“Dan kau sekarang bicara tentang kewajibanku sebagai istri? Tau malu lah sedikit saja!”


“Pergilah Mas. Sejujurnya , melihat wajahmu membuatku muak.”


Aurorae bergegas keluar. Meninggalkan Herjuno yang masih termenung seorang diri.


Apa aku melakukan kesalahan?


Apa yang sebenarnya terjadi?


Aurorae mendorong Megumi atau tidak?


Jika tidak, dari mana luka itu dia dapat?


Herjuno memijat pelipisnya pelan. Tidak tahu harus bagaimana. Ia melangkah keluar, mengetuk pelan pintu kamar tamu yang beberapa menit lalu sudah di kunci Aurorae dari dalam.


“Rae , aku akan pulang. Mari kita bicara besok, saat emosimu mereda. Jaga dirimu.”


Ia mendesah pelan saat beberapa detik Aurorae tidak juga menjawab.


“Maafkan aku. Aku akan datang besok , hem?” ucapnya lagi sebelum benar-benar pergi dari sana.


Sedang Aurorae , terisak pelan.

__ADS_1


**


Pagi ini Megumi tersenyum riang. Sejak semalam suasana hatinya sedang sangat baik.


Dimulai dengan Herjuno yang tiba-tiba pulang setelah sejak sore mengatakan akan menginap di rumah Aurorae.


Megumi sudah bisa menerka , hubungan Herjuno dengan Aurorae sedang tidak baik-baik saja.


Ia hanya harus bersabar , tidak akan butuh waktu lama hingga Herjuno dan Aurorae berpisah. Begitulah yang Megumi pikirkan.


**


Herjuno termenung di ruangannya. Siang ini ia memilih layanan pesan antar untuk makan siangnya. Ia gelisah , mengingat-ingat bagaimana Megumi sangat kesakitan, mengatakan Aurorae mendorongnya dari tangga di halaman. Mengingat juga bagaimana tatapan terluka di mata Aurorae , ia menyangkal, mengatakan bahkan tidak tahu Megumi terluka.


Hah. Ada apa ini. Siapa yang mengatakan kebenaran dan siapa yang berbohong.


Herjuno mendesah pelan. Menoleh menatap ponselnya. Memutuskan untuk menghubungi Aurorae lebih dulu.


“Rae kau sudah makan siang?” tanya nya sesaat setelah panggilan di angkat.


“Sudah.”


“Kau masih marah?”


“Tidak.”


“Seperti itulah jika seseorang kecewa.”


Hhh. Herjuno mendesah pelan. Menarik napasnya dalam-dalam.


“Maafkan aku. Sudah hampir satu minggu kita begini, mari berbaikan , hem?”


Kali ini Aurorae yang terdengar menarik napasnya dalam-dalam.


“Mas..” ia menjeda sejenak kalimatnya.


“Mari kita berpisah.”


...


...


Herjuno termenung. Menjauhkan ponsel dari telinganya perlahan.


Apa dia tidak salah dengar , Aurorae meminta bercerai.


Tidak. Ia menggeleng. Bahkan belum genap sebulan mereka menikah.

__ADS_1


Ia bergegas meraih kunci mobilnya dan keluar.


“Jika ada yang mendesak , hubungi ponselku.” Ucapnya ketika melewati deretan kubikel milik staf divisi yang di pimpinnya.


Membuat semua yang ada disana terkejut, dengan pandangan mengikuti langkah atasan mereka yang tergesa-gesa.


**


Herjuno terduduk lemas di sofa ruang tamu. Sudah berusaha secepat mungkin sampai di rumah , berteriak memanggil-manggil istrinya, membuka semua pintu yang ada di rumah itu, tapi tidak juga menemukan Aurorae disana.


Kemana istrinya itu pergi. Ia teringat akan kalimat terakhir Aurorae di telepon tadi.


Mari kita berpisah.


Herjuno menarik napas kasar. Meremas kuat rambutnya. Berdiri dengan gelisah, lalu menendang kuat ke sembarang arah sambil berteriak.


Apa mungkin Aurorae ke rumah Ayah.


Herjuno mengambil ponsel dari saku celananya , dan lekas menghubungi Gumilar.


“Ayah..” ucapnya tertahan, saat mendengar panggilannya diangkat di ujung sana.


“Juno , ada apa?”


“Ayah apa kabar?”


“Kabar Ayah baik, ada apa menelepon?”


Jelas saja Ayah mertuanya itu bertanya, sejak ia menikahi Aurorae, belum sekalipun ia menelepon Gumilar.


“Ng...” Herjuno mengambil jeda sejenak , menimbang-nimbang bagaimana caranya bertanya kepada Gumilar. “Apa Rae pergi menemui Ayah?”


“Iya , dia datang pagi tadi.”


“Juno akan kesana, Yah. Tolong minta Rae untuk menunggu.”


Herjuno segera melesat dengan mobilnya. Menuju pinggiran kota dimana Gumilar tinggal. Semenjak Aurorae berhenti dari perusahaan , mereka memutuskan pindah ke pinggiran kota dan menjual rumah yang sudah lebih dari lima belas tahun mereka huni. Tapi belum sempat rumah itu terjual, Aurorae menikah dengan Herjuno, dan tinggal disana.


**


Gumilar menatap Herjuno datar. Tidak ada senyum di wajahnya , tidak juga keluar kalimat basa-basi dari bibirnya.


Herjuno menunduk. Ia tahu, Ayah mertuanya pasti kesal saat putri satu-satunya mungkin terluka.


“Juno ingin bicara dengan Rae , Yah..” ucapnya dengan sedikit menahan diri.


“Apa yang terjadi?”

__ADS_1


**


__ADS_2