
“Mas , kau pulang?”
Megumi tersenyum cerah , sudah dua hari Herjuno tidak pulang. Padahal dia pikir , hubungan Herjuno dengan Aurorae memburuk.
“Hem.”
Herjuno merangkul pinggang Megumi membawanya masuk ke dalam.
“Dimana Haidar?”
“Ada di kamarnya, bersama Zhafran.” Megumi menggandeng mesra lengan suaminya. “Mandilah dulu Mas , aku siapkan makan malam.” Lanjutnya lagi.
Herjuno mengangguk dan berlalu dari sana menuju kamar mereka.
Hati Megumi membuncah. Melihat sikap Herjuno, sepertinya Aurorae tidak mengadu macam-macam. Ia tahu persis karakter suaminya, Herjuno tidak akan diam saja jika ada yang mengganggu pikirannya.
Cih. Wanita licik itu. Lakukan apapun untuk menguasai hati Mas Juno , termasuk berpura-pura polos dan baik. Kau tidak akan pernah berhasil merebutnya dariku, Aurorae.
**
“Jika sudah dapat persetujuan dari bagian keuangan , segera jalankan rencana promosinya.” Ucap Herjuno di sela-sela keseriusannya menandatangani beberapa berkas yang baru saja dibawa Tita ke dalam ruangannya.
“Baik Pak..”
“Jangan lupa umumkan tentang reward bulan ini.” Ucapnya lagi sambil menyodorkan beberapa berkas yang sudah selesai ia tanda tangani.
Tita mengangguk, menerima setumpuk kertas dari uluran tangan Herjuno , lalu berbalik bersiap untuk keluar.
“Oh ya Tita..”
Tita kembali menoleh.
“Minta Farhan ke ruangan saya.”
Tita mengangguk lalu benar-benar keluar dari ruangan itu.
Ia menghela nafas pelan saat sudah tiba di meja kerjanya.
“Muka kenapa? Masih pagi ini.” Rama yang tiba-tiba datang dengan mode keponya , mengagetkan.
“Iya ini emang masih pagi, tapi pekerjaanku udah setinggi langit di angkasa.” Tita memaksakan senyumnya yang absurd.
Rama terkekeh.
“Besok gajian , saldo rekening juga pasti setinggi langit.” Farhan yang sedang memeriksa laporan mingguannya , menimpali.
“Oh iya hampir aja aku lupa , kau di panggil Pak Juno ke ruangannya.” Ucap Tita menatap Farhan.
“Aku?”
__ADS_1
Tita mengangkat alis sembari mengangguk.
Ada apa lagi?
Rama bertanya tanpa suara. Dan Farhan hanya mengedikkan bahu tanda ia juga tidak tahu.
“Apa kau masih berhubungan dengan istriku?” tanya Herjuno setelah Farhan sampai di hadapannya.
Farhan mengerutkan keningnya.
“Aurorae. Apa kau masih berhubungan dengannya?”
“Tidak.”
Kali ini kening Herjuno yang berkerut, dengan tatapan menyelidik.
“Meski lewat telepon?” Herjuno masih berusaha mengorek informasi.
Hhhh. Farhan memutar bola matanya malas.
“Sebenarnya apa yang Bapak curigai ? Saya tidak segila itu hingga nekat dekat-dekat dengan perempuan yang sudah menikah.”
“Jangan salah paham. Saya tidak sama sekali mencurigaimu. Hanya saja... “ Herjuno menggantung kalimatnya. Menimbang-nimbang apa perlu dia ceritakan semuanya pada Farhan.
Kali ini Farhan yang memberikan tatapan menyelidik.
“Baiklah. Terima kasih.” Herjuno mempersilahkan Farhan keluar.
**
Tujuh bulan sudah berlalu , hubungan Aurorae dan Herjuno semakin membaik. Mereka sudah menempati rumah yang baru saja dibeli dan di renovasi sesuai dengan selera Aurorae.
Dan kini, usia kehamilan Aurorae memasuki bulan ke enam.
Beberapa bulan ini Aurorae hanya fokus dengan kehamilannya. Mual muntah sepanjang hari di tiga bulan pertama, makan yang dipaksa , dan mood yang bisa berubah tiba-tiba.
Perlahan ia melupakan pertengkarannya dengan Megumi.
Aurorae terlalu bahagia dengan kehamilannya , hingga ia sepertinya tidak mengingat kebenciannya yang tujuh bulan lalu begitu besar.
Begitu pula Megumi, sikap baik dan manis Herjuno seolah memalingkannya dari rasa benci terhadap Aurorae. Dia yakin rumah tangga nya baik-baik saja , cepat atau lambat Herjuno akan kembali kepadanya. Hanya menjadi miliknya.
Tapi kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Kedua wanita itu saling berhadapan. Diam tidak bergerak, hanya sama-sama saling menatap. Tidak seperti beberapa bulan lalu yang pertemuan tidak sengaja mereka di warnai dengan perdebatan.
Hingga akhirnya Aurorae yang lebih dulu memutus tatapan. Berlalu pergi melewati Megumi begitu saja, sambil terus mengelus pelan perut buncitnya. Gerakan yang dilihat Megumi sebagai cemoohan untuknya.
Megumi hanya terus memandangi Aurorae yang perlahan menjauh , dengan tangan kanan memegang beberapa paper bag , dan tangan kiri yang meremat kuat kain dress di bagian paha.
__ADS_1
“Aurorae !” Megumi tidak tahan lagi. Setengah berteriak ia memanggil Aurorae.
Saat Aurorae menoleh , Megumi menyusulnya dengan langkah cepat.
“Apa itu anak Mas Juno?” Todongnya tanpa basi-basi.
“Ya.” Aurorae menatapnya datar. Tanpa basa basi.
“Berapa bulan usia kandunganmu?”
“Enam.”
Megumi tersentak. Bukan karena usia kandungan Aurorae, tapi karena wanita itu menjawabnya dengan datar. Hanya menjawab apa yang dia tanyakan. Tidak berusaha memprovokasi , juga tidak berusaha menutupi nya.
Megumi mulai kesal.
“Kenapa kau diam saja?” tanyanya lagi, dengan tatapan mencemooh.
“Aku menjawab semua pertanyaan mu.” Jawab Aurorae, lagi-lagi tanpa ekspresi.
“Bukankah kau sangat membenciku? Aku yakin kau sangat ingin menjambakku, lakukanlah.” Megumi terus memprovokasi , mencondongkan kepalanya sedikit mendekat ke wajah Aurorae.
“Kenapa aku harus?”
Tatapan itu Megumi sangat membencinya. Hanya menatapnya datar , tanpa ekspresi. Seolah-olah bertemu dengan Megumi bukan sesuatu yang penting.
“Tidak perlu berpura-pura tenang, kau pasti masih mendendam karena saat itu luka di wajah dan tubuhku membuatmu dimarahi Mas Juno habis-habisan.” Megumi terkekeh pelan.
“Maaf. Aku hanya bercanda. Sekarang kau boleh membalasku. Lihatlah , aku tidak akan menghindar. Bagian mana yang ingin kau pukul?” Lagi-lagi Megumi mencondongkan wajahnya mendekati Aurorae, tidak lupa senyum mengejek yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
“Tidak apa-apa. Jangan merasa bersalah begitu. Lagipula Mas Juno tidak terlalu marah padaku.” Kali ini Aurorae tersenyum.
“Aku pergi, ada teman yang harus ku temui. Permisi.” Sebelum benar-benar berbalik , lagi-lagi Aurorae tersenyum. Senyum lembut yang terlihat mengejek dimata Megumi.
“Wanita murahan.” Geram Megumi sembari berlalu dari sana. Menahan kesal sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang.
Megumi melemparkan semua paper bag yang ia bawa ke bangku tengah mobilnya.
Ia memukul setir kemudi dengan kuat berkali-kali.
Wajah Aurorae yang terlihat bahagia membuatnya terluka.
Ekspresi datar wanita itu juga membuatnya marah.
Terlebih senyum yang sengaja dia tunjukan, membuat Megumi ingin mencakar wajahnya.
Setelah sedikit tenang dan napasnya mulai teratur, Megumi melajukan mobilnya keluar dari pelataran parkir mall untuk menuju pulang kerumahnya.
**
__ADS_1