Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 32 - Semakin Menjauh


__ADS_3

Herjuno melepas kacamatanya lalu memijit tengkuknya perlahan.


Ia mendesah kasar. Sudah seminggu sejak kemarahan Aurorae, tapi wanita itu bergeming. Saat itu , Herjuno memilih pulang , berharap esok hari kemarahan Aurorae mereda.


Ternyata ia salah.


Tidak ada lagi tawa riang saat menjawab panggilan Herjuno, pun pesan yang ia kirimkan , hanya dijawab singkat oleh istrinya itu.


Jika Herjuno berkunjung, Aurorae tetap melayani semua kebutuhannya dengan baik.


Meja makan tidak pernah kosong, pun pakaian Herjuno yang selalu siap dikenakan.


Hanya saja , tidak ada lagi senyum manja atau malu-malu yang Aurorae pamerkan.


Bahkan saat Herjuno membujuknya untuk ke dokter kandungan , Aurorae menolak.


Sudah pergi dengan Dea dia bilang.


Herjuno mendongak. Ah , benar. Dea.


Ia lekas menekan tombol interkom yang tersambung ke meja Tita di luar sana.


"Tita, minta Dea ke ruangan saya."


Ia akan bertanya saja pada Dea , sejak Aurorae dan Dea membuka usaha kecil bersama , istrinya itu memang menjadi sangat dekat dengan Dea dan keluarganya.


"Mbak , duduklah." jika hanya berdua , Herjuno memang lebih nyaman memanggil Mbak karena memang Dea lebih tua.


Herjuno berdehem pelan saat Dea mengambil duduk di hadapannya.


"Maaf , saya ingin bertanya hal pribadi."


Herjuno melirik Dea sebentar, wanita itu hanya ber ekspresi datar. Sudah jelas , Aurorae menceritakan segalanya.


"Apa istri saya mengatakan sesuatu?"

__ADS_1


"Istri Anda?" Dea balik bertanya.


Membuat Herjuno berdehem kikuk. Wanita ini seperti sengaja menyindirnya di kalimat pertama.


"Aurorae. Apa Aurorae mengatakan sesuatu?"


"Ya , kami membicarakan banyak hal. Hal seperti apa persisnya yang Anda ingin tahu?" Dea masih mempertahankan ekspresi tidak ramahnya.


Sudah kepalang tanggung. Tidak mungkin Herjuno mundur lagi. Peduli apa dengan harga dirinya sebagai atasan.


"Maaf , saya dan Aurorae bertengkar beberapa hari lalu. Sampai sekarang, sepertinya moodnya belum membaik."


Dea terkekeh. "Bukan moodnya yang terluka , tapi hatinya. Butuh waktu agar hatinya membaik." kali ini ia menatap sinis.


Lelaki dihadapannya ia anggap adalah suami dari adiknya , bukan lagi atasannya.


Sesaat Herjuno terdiam. "Bisakah Mbak membantu saya menjelaskan pada Aurorae? Hari itu Megumi sakit. Dan saya tidak sempat membuka ponsel karena harus ke rumah sakit."


"Maaf , saya tidak bisa."


Herjuno mengernyit.


"Jangan sampai di masa depan Anda menyesal. Tentang Aurorae dan Megumi , saya lah yang paling tahu seperti apa mereka." lanjutnya lagi, dengan menatap Herjuno tajam.


Herjuno terperangah. Ia tidak bisa menjawab bahkan sampai Dea benar-benar keluar dari ruangannya.


Apa-apaan wanita itu. Dia masih atasannya bukan?


Kesal sekali rasanya. Tapi tunggu, Herjuno mengernyit.


Dea mengenal Megumi? Kenapa dia bicara seolah-olah sangat mengenal Megumi.


Ingatan Herjuno kembali lagi pada beberapa hari lalu. Saat Dea bercengkrama dengan Maudy dan Tania. Dia bilang , Aurorae sering menangis. Dan hari ini Dea menatapnya tajam seperti siap menelannya hidup-hidup.


Sepertinya dia harus bicarakan semuanya dengan Aurorae.

__ADS_1


**


Megumi menatap keluar jendela dengan sumringah. Mobil Herjuno baru saja memasuki halaman.


Akhir-akhir ini , suaminya itu lebih sering menghabiskan waktu dirumahnya.


Sudah bisa di tebak , hubungan Herjuno dengan Aurorae memburuk.


Pasti karena kejadian beberapa hari lalu saat Megumi berpura-pura sakit.


Malam itu ia lihat Herjuno mengirim pesan pada seseorang. Dan saat suaminya itu masuk ke dalam kamar mandi , Megumi memeriksa ponselnya.


Ternyata Aurorae mengirim pesan mengingatkan jadwal kunjungan ke dokter kandungan esok hari, dan Herjuno menyanggupi.


Keesokan paginya , ketika mereka sarapan , Megumi tidak banyak bicara. Hanya menanggapi sedikit saat Herjuno membahas Haidar yang ingin Zhafran pindah ke kamarnya. Tidak lama ia berlari ke kamar mandi , dan mengunci pintunya. Saat Herjuno menyusul , ia berpura-pura sedang memuntahkan semua isi perutnya.


"Apa perlu ke dokter?" tanya Herjuno saat ia membuka pintu kamar mandi.


"Tidak perlu Mas , perutku hanya sedikit tidak enak." Megumi menolak.


Rencana pertama berhasil. Setidaknya Herjuno tahu , Megumi sedang tidak enak badan hari ini.


Siang harinya ia berpura-pura muntah kembali dan pingsan. Bi Lilis yang panik lekas menelepon Herjuno.


Dan seperti yang terjadi , Herjuno pulang siang itu dengan panik membawa Megumi ke rumah sakit.


"Mas , kau pulang?" Megumi menyambut Herjuno di depan pintu.


"Aku sedikit lelah. Bisa tolong buatkan aku air jahe?" jawabnya lemah lalu masuk ke dalam kamarnya.


Herjuno merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Percakapannya dengan Dea tadi masih terngiang-ngiang di kepala. Bingung sekali harus bagaimana membicarakan ini dengan Aurorae, istri keduanya itu seperti terus menjaga jarak dan menghindari pembicaraan apapun.


"Minumlah dulu , Mas." Megumi meletakkan se cangkir jahe hangat di atas meja. Ia lalu beranjak mengambil kaus dan celana yang lebih santai untuk suaminya.


"Gantilah bajumu. Setelah itu istirahat." ucapnya lagi , setelah dilihat Herjuno menyesap jahe hangatnya.

__ADS_1


"Aku akan mandi saja." Herjuno mencium sekilas pipi Megumi sebelum masuk ke kamar mandi.


**


__ADS_2