
Herjuno bangkit dari duduknya hendak keluar dari kamarnya melewati Megumi begitu saja yang mematung tak bisa menjawab apapun.
"Andai aku mengetahui tentang Haidar lebih awal , aku juga pasti menceraikanmu. Tapi terlambat, aku terlanjur sangat menyayanginya. Dan kini , aku tidak ingin mengulanginya lagi. Membesarkan anak pria lain berpura-pura seperti darah dagingku sendiri. Itu menyakitkan. Sebelum aku semakin terikat dengan kedua bayi itu, aku memutuskan melepaskan Ibunya." ucapnya dari balik punggung Megumi sebelum benar-benar keluar dari kamar itu.
Megumi luruh ke lantai saat terdengar suara pintu dibelakangnya tertutup.
Dirinya masih sibuk mencerna apa yang baru saja diucapkan Herjuno.
Tidak mungkin.
Sejak kapan Herjuno tahu jika Haidar bukan anak kandungnya.
Tidak kan?
Ini tidak benar, kan?
Tubuhnya bergetar. Detak jantungnya berpacu lebih kencang. Tentang masa depan rumah tangganya , terbayang jelas di hadapannya.
Entah apa yang bisa ia lakukan kali ini.
Sepanjang malam Megumi terus berpikir , ia tidak berani keluar untuk mencari tahu dimana Herjuno tidur. Mungkin di kamar Haidar , karena suaminya itu tidak kembali sampai pagi hari.
Pagi ini Megumi yang meminta Bi Lilis untuk mengantar Haidar. Menahan Herjuno dirumah lebih lama.
__ADS_1
"Mas , ayo kita bicara." ucap Megumi setelah Bi Lilis dan anak-anak berangkat ke sekolah.
"Apa lagi?" Herjuno masih sibuk mengemas beberapa berkas yang akan ia bawa ke kantor.
"Sepanjang malam aku berpikir apa maksud ucapanmu semalam, kau tidak sedang menuduhku kan?"
Persetan dengan kemungkinan terburuk , Megumi sedang bertaruh kalau-kalau Herjuno hanya sedang mengalami krisis kepercayaan setelah 'pengkhianatan Aurorae'.
Herjuno menghela napasnya kasar. Ia berbalik.
"Kau benar-benar tidak tahu malu." Ia menatap tajam Megumi di hadapannya.
"Aku sangat menyayangi Haidar meski dia bukan darah dagingku."
"Mas!" potong Megumi cepat. "Tega sekali kau."
"Aku menyayangimu? Tentu saja , kita keluarga. Tapi mencintaimu? Sudah lama aku tidak."
Air mata Megumi sudah menganak sungai.
"Kau pikir kenapa aku tidak lagi mencintaimu? Karena kau tidak cantik? Berkacalah Megumi, bahkan aku jamin tidak ada laki-laki yang akan berani menolak dirimu. Kenapa aku sangat tergila-gila dengan Aurorae padahal sudah memiliki istri secantik dirimu? Kau sempurna. Semua orang pasti menganggapku gila karena menduakanmu."
Herjuno mundur beberapa langkah. Menyandarkan punggungnya di tembok, sambil terus menatap Megumi. Sedangkan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celananya.
__ADS_1
"Sejak awal kau lah yang paling tahu Haidar bukan darah dagingku. Karena itu kan kau langsung melakukan tes DNA padaku begitu Haidar lahir?"
Megumi membuang pandangannya. Tubuhnya sudah gemetar. Enam tahun yang lalu , beberapa hari setelah Haidar lahir Megumi memang melakukan tes DNA antara Herjuno dan Haidar. Seperti yang Megumi duga , Haidar bukanlah putra kandung suaminya. Saat mereka menikah, sudah ada janin di perutnya meski ia sendiri tidak menyadari.
"Sama seperti sekarang, Aurorae juga melakukan tes DNA tidak lama setelah melahirkan." Herjuno tertawa sumbang. Ia mendongak , menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Tapi kali ini sepertinya Tuhan kasihan pada diriku yang malang. Satu-satunya keberuntunganku adalah mengetahuinya lebih awal , hanya dalam enam bulan. Sebelum aku benar-benar terikat lebih dalam lagi dengan anak-anak itu. Seperti yang terjadi padaku dan Haidar. Aku terlambat mengetahuinya, saat itu usia Haidar sudah menginjak tiga tahun." suaranya mulai bergetar.
Herjuno teringat lagi, tiga tahun lalu saat tanpa sengaja ia menemukan selembar kertas lusuh di laci paling bawah lemari di kamar yang sekarang ditempati Bi Lilis dan Nadia.
Saat itu , Bi Lilis belum tinggal di rumah ini, jadi kamar itu memang kosong. Hanya ada beberapa pakaian Haidar yang sudah tidak terpakai.
"Kau pasti mengingat dengan jelas kan aku pernah mengatakan bahwa aku akan menceraikanmu asalkan kau memberikan hak asuh Haidar padaku. Jika tidak , maka nikmatilah hidupmu yang memuakkan sebagai istriku." Herjuno melirik sinis Megumi. Wanita itu tidak sedikitpun mengangkat wajahnya.
"Aku bertahan denganmu hanya karena tidak ingin berpisah dengan Haidar. Apa kau akan membawanya pada Ayah kandungnya jika kita bercerai?" kali ini suara Herjuno sedikit serak. Ada rasa sakit yang terdengar disana.
"Kau tahu, itu sangat menyakitkan. Berpura-pura tidak mengetahui apapun , berpura-pura bahagia di dalam pernikahan sialann ini, itu sangat menyakitkan." Herjuno memekik. Setetes air matanya jatuh.
Tubuh Megumi merosot ke lantai.
"Siapa sangka , aku akan mengalami ini sekali lagi." Herjuno terkekeh pelan.
"Mas , aku--" Megumi bersimpuh. Lututnya bahkan sudah lemas tidak berdaya.
__ADS_1
"Kau ingin minta maaf padaku? Jangan menjadi sangat tidak tahu malu, Megumi. Untuk apa meminta maaf , jika kau tidak menyesali perbuatanmu? Kau masih saja menemui pria itu, bukan?"
**